
Dirga menatap perempuan itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Kakinya melangkah mendekati perempuan paruh baya itu.
"Kak Dirga mau ngapain?" Tanya seorang gadis dengan suara yang tertahan.
Dia menatap takut ke arah perempuan paruh baya itu.
"Kak kita pulang saja yuk. Aku gak mau disini." Gadis tersebut menarik jaket yang dikenakan oleh Dirga.
"Gue mau beri pelajaran ibu-ibu itu. Beraninya dia ngomong kayak gitu sama kamu."
"Tapi, kak... dia itu ibuku," ujarnya lirih.
Dirga terkejut mendengar ucapan Alena dia mengangkat wajah Alena demi mencari kebohongan lewat matanya. Namun, nihil lelaki itu tidak menemukan jejak kebohongan dibalik mata sendu itu. Dirga masih tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan ibunya Alena ditempat ini.
Sekelebat bayangan Alena yang berurai air mata hadir di kepalanya. Bayangan saat gadis rapuh itu menceritakan kehidupan berat yang dialaminya selama ini.
Pada saat itu Satya kembali mencoba membujuk Alena agar mau diajak pulang dan menemui ibunya. Tapi, lagi-lagi gadis itu menolak bahkan mengamuk. Dalam keadaan mengamuk itu Alena menceritakan semuanya tanpa terkecuali, persis dengan apa yang dia ceritakan kepada atasannya dahulu.
Saat ini Dirga menatap tajam perempuan dihadapannya tidak perduli siapapun itu dia tidak akan pernah bisa menerima jika ada seorangpun yang merendahkan harga diri orang lain.
__ADS_1
"Sudah selesai bisik-bisik nya," ujarnya kesal.
"Peduli apa ibu sama Alena? Toh semua yang Alena lakukan tidak ada harganya di mata ibu."
"Alena kamu jangan bikin malu keluarga dengan keluyuran tidak jelas bersama pria yang tidak jelas asal-usulnya ini." Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Dirga.
"Laki-laki seperti itu tidak pantas bersanding dengan keluarga Wijaya, laki-laki sampah!"
"Ibu!!" Alena berteriak keras tak perduli dengan orang-orang yang sudah mengerumuninya.
"Ibu boleh saja hina Alena, mencaci maki Alena. Bahkan kalau ibu mau Alena ikhlas menyerahkan nyawa yang tidak ada artinya ini kepada kalian, biar kalian senang karena orang yang kalian bilang jal*ng ini sudah m*ti. Tapi, perlu ibu ketahui Alena sangat-sangat tidak terima jika ibu mengolok-olok kak Dirga yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Cukup pak Yoga saja yang kalian olok-olok jangan ada lagi orang sebaik beliau yang harus menanggung malu atas tuduhan itu."
Dirga merengkuh tubuh rapuh Alena ibu Amira semakin menajamkan matanya. Alena tidak menolak bahkan mengeratkan pelukannya, dia menangis terisak-isak.
"Kak maaf aku membuatmu dalam masalah," ujar Alena disela-sela tangisannya.
"Sudah gak usah dipikirin kakak gak apa-apa."
Bukannya tenang justru Alena semakin menangis.
__ADS_1
Dirga mengeraskan rahangnya ketika mendengar tangisan dari perempuan didekapnya. Entah kenapa hatinya ikut sakit ketika melihatnya menangis seperti ini.
Dia memejamkan mata sejenak untuk mengurangi gejolak dihatinya lalu mengalihkan pandangan ke arah perempuan paruh baya itu.
"Mohon maaf semuanya bukannya saya mau ikut campur antara kalian. Tapi, kalian sudah membuat keributan ditempat ini, lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman," ujar seseorang laki-laki.
Laki-laki tersebut merasa jika pertengkaran mereka tidak ada ujungnya hingga dia berinisiatif untuk melerainya.
"Tidak perlu pak, saya sudah muak ditempat ini bersama orang yang tidak menghargai orang lain terlebih lagi dengan anaknya sendiri," ujar Dirga sarkas.
"Hei apa maksudmu?" teriak Ibu Amira.
"Anda pasti tahu maksudku tanpa saya jelaskan maksudnya. Saya pamit dulu, permisi pak maaf sudah membuat kekacauan." Dirga berlalu dengan merangkul Alena.
"Hei kalian jangan lari! Arghhhh s*al."
Ibu Amira berteriak dan mengumpat untuk menyalurkan kekesalannya.
Bersambung....
__ADS_1