Air Mata Alena

Air Mata Alena
9.


__ADS_3

Saat ini Satya berada di kamar Dirga setelah tadi membopong Alena kekamarnya.


Mereka saat ini sama-sama terdiam dengan Satya yang menopang dagunya diatas meja pikirannya masih melayang memikirkan kejadian yang dialami oleh adiknya.


Beberapa kali dia menghela nafas panjang, dia tidak menyangka adiknya yang sangat dia sayangi hatus menjadi korban kebejatan orang yang tidak bertanggungjawab.


Dirga menatap sahabatnya dengan rumit. Dia merasa prihatin dengan kejadian yang menimpa adik Satya.


"Sat," panggil Dirga lirih.


Satya menoleh matanya menatap sayu kearah sahabatnya.


"Sekarang rencana loe gimana? Apa mau kasih tahu ibu loe soal Alena?"


Satya menghela nafas panjang, "Entahlah, Dir."


"Melihat betapa takutnya Alena jika pulang ke rumah bikin gue khawatir kalo maksa dia bawa pulang semakin bikin ketakutan, dan gue paling takut adek gue jadi depresi."


Dirga mengangguk membenarkan ucapan Satya dilihat dari keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk membawanya pulang.


Mereka kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Ruangan itu terasa semakin sunyi Satya berkutat dengan telepon genggam ditangannya. Jari-jarinya semakin lincah berselancar di internet dia sedang mencari solusi untuk permasalahan yang dihadapi oleh adiknya saat ini.


Sedangkan di kamar Alena membuka matanya, dia terkejut melihat tempatnya berada saat ini. Sebuah ruangan yang asing baginya, pikirannya yang masih kacau membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Mendadak bayangan saat dirinya di aniaya serta di lecehkan oleh preman itu datang kembali.


"Dimana aku? Kenapa ruangan ini terasa asing?"


"Jangan-jangan aku diculik oleh mereka." Batinnya.


Memikirkan hal tersebut membuat tubuh Alena bergetar ketakutan matanya menyapu pemandangn asing dihadapannya saat ini. Dia merasa seperti kembali ke rumah kosong itu, bayangan orang-orang bejat itu kembali hadir dihadapannya.


Bayangan-bayangan itu membuat Alena ketakutan, dia berteriak-teriak histeris dalam penglihatannya saat ini dia seolah-olah kembali berada di markas para preman itu.

__ADS_1


"Tidak! Tolong ... Siapapun tolong aku!"


Teriakan Alena itu membuat Satya dan Dirga terkejut, dengan segera mereka menghampiri kamarnya.


Karena rasa khawatirnya tanpa basa-basi Satya membuka pintu secara kasar. Dia terkejut melihat Alena meringkuk di kasur.


"Dek kamu kenapa?" Tanya Satya.


"Pergi! Jangan dekati aku."


Alena semakin histeris melihat kedatangan Satya. Dalam pikirannya saat ini yang dihadapannya adalah salah satu bagian dari komplotan preman itu.


Satya semakin sedih mengetahui adiknya seperti itu. Benar dugaannya Alena memiliki trauma terhadap orang lain.


Dengan perlahan Satya menghampiri Alena, dia mencoba menenangkan adiknya itu.


Alena semakin memberontak, dia takut jika orang dihadapannya ini akan menyakitinya.


"Dek ini kakak. Sadarlah, kakak tidak akan menyakitimu," ujar Satya.


Mendengar kalimat kakak menbuat Alena tersadar, dia pandangi wajah yang selama ini dirindukan. Air matanya kembali meleleh dia tidak menyangka jika kakaknya kembali hadir dihidupnya.


"Aku tidak bermimpi 'kan? Kakak benar-benar disini?" Ujarnya lirih.


Satya senang setelah melihat adiknya menjadi lebih tenang. Dia memeluk adiknya dengan erat menyalurkan rasa rindu yang selama ini dia pendam.


"Kakak maafkan Alena. Alena tidak bisa menjaga diri," ujarnya.


Air matanya kembali meleleh Alena dilanda rasa bersalah dia takut jika kakaknya akan kecewa dengan dirinya. Dia semakin mengeratkan pelukannya dengan isakan tangis yang mengiris hati Satya.


"Sttt sudah jangan bersedih, semuanya sudah terlanjur terjadi. Kakak tidak marah, seharusnya kakak yang minta maaf jika saja kakak tidak pergi dari rumah pasti kamu tidak mengalami hal seperti ini."


Satya memejamkan matanya mengurangi rasa sesak di dadanya, dia tidak marah dengan adiknya justru dia marah dengan dirinya sendiri yang telah lalai menjaga adiknya.

__ADS_1


"Maafkan Satya, yah. Satya sudah gagal menjaga Alena," batinnya.


Satya mengurai pelukannya dia usap air mata adiknya yang masih mengalir.


"Kamu tidak usah khawatir ada kakak di sini. Kakak janji akan ada disampingmu, kita akan jalani semuanya bersama-sama," ujarnya lembut.


"Kakak Alena takut," lirihnya.


Alena masih ketakutan membuat Satya kembali memeluk tubuh Alena untuk menenangkan adiknya.


***********


"Yah, apa kita cari kak Alena juga?" Tanya Denis.


"Tidak perlu mencarinya, ayah yakin dia baik-baik saja bersama kakaknya," jawab laki-laki paruh baya tersebut.


Denis mengangguk, di seruput nya kembali kopi di hadapannya dengan tenang. Dalam hati laki-laki tersebut berdoa untuk keselamatan kakak angkatnya itu. Meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi Denis sudah menganggap Alena seperti kakaknya sendiri.


Sebelumnya Denis sangat membenci Alena karena dialah penyebab ayahnya menjadi bahan gunjingan orang lain, namun setelah di jelaskan oleh Pak Yoga bagaimana kehidupan keras yang dijalani oleh gadis yang dibencinya itu membuatnya menjadi bersimpati terhadap Alena dan mulai mengerti alasan ayahnya perhatian kepadanya.


Semenjak saat itu rasa bencinya berubah menjadi rasa sayang Denis berusaha menerima kehadirannya ditengah-tengah mereka dan berjanji akan selalu melindungi kakak angkatnya itu.


"Yah," panggil Denis pelan.


"Kenapa ayah rela mengorbankan nama baik ayah demi melindungi kak Alena?"


"Kamu tahu den ... bagi ayah nama baik itu tidak lebih penting dari kakakmu," ujarnya lirih.


"Sebenarnya sudah lama mengetahui hal tersebut jauh sebelum kamu, namun ayah tidak bisa berbuat apa-apa untuk membungkam mereka semua."


"Sekarang kita hanya bisa berharap semoga saja gadis itu hidup dengan baik di luar sana."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2