Air Mata Alena

Air Mata Alena
6. Menemukan


__ADS_3

"Dirga stop."


Ucapan Satya mengagetkannya sehingga membuat menginjak rem secara tiba-tiba.


"Kenapa, Sat?"


Satya keluar dari mobil menghiraukan pertanyaan Dirga.


Satya menghampiri sebuah tas yang tergeletak di jalanan dia tampak familiar dengan tas ransel tersebut. Untuk sesaat dia termangu pikiran-pikiran buruk mulai melintas di benaknya.


"Ada apa Sat?"


Satya menunjukkan tas ransel yang ditemukannya.


"Jangan-jangan ini punya adik loe," terka Dirga.


"Ini emang punya adek gue Dir. Gue sendiri yang beliin tanpa sepengetahuannya."


Tas berwarna coklat tersebut dia belikan ketika ulang tahun Alena ke-17 tahun. Satya memberikannya melalui orang suruhannya dan memintanya mengantar ke alamat Alena.


Mereka menelusuri jalanan tersebut melanjutkan pencariannya. Semua tempat telah mereka periksa akan tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan Alena hingga disaat sudah hampir putus asa, samar samar terdengar suara teriakan seorang perempuan diiringi dengan suara barang terjatuh.


"Lo denger itu Sat?" tanya Dirga.


"Denger, perasaan gue makin gak enak, Dir."


"Jangan jangan adek lo...."


"Gak usah nakut-nakutin gue lo Dir," Kesal Satya.


Mendengar ucapan Dirga yang seperti itu membuat perasaannya semakin tidak enak, dia takut jika mimpinya itu menjadi kenyataan.


Dirga hanya bisa nyengir kuda menanggapi kekesalan sahabatnya itu.


"Nyengir loe gue beri juga nih." Satya ancang-ancang ingin memukul Dirga.


"Woi santai bro gue cuma bercanda."


"Bercandaan loe gak lucu," ketus Satya.


Karena kesal Satya pergi meninggalkan Dirga sendirian di sana. Perbuatan Satya itu membuat laki-laki tersebut kesal, disepanjang jalan Dirga terus mengumpat untuk menyalurkan kekesalannya.


Sedangkan disisi Satya melangkahkan kakinya tak tentu arah dia hanya mengikuti apa kata hatinya. Dia percaya jika ikatan persaudaraan mereka bisa membawanya ke tempat adiknya berada.


Pandangan matanya menangkap sesuatu di pinggir jalan terlihat sebuah jaket dan beberapa meter dari sana ada sebuah handphone yang tergeletak di jalan. Satya memungut jaket serta handphone tersebut untuk memastikan jika itu bukan milik Alena.


Saat mengetahui kebenaran pemilik benda-benda tersebut tubuh Satya menjadi kaku, jantungnya berdegup kencang, pikirannya bermain dengan kemungkinan terburuk yang dialami oleh adik nya saat ini.


Tak lama kemudian Dirga menyusul dia terheran melihat sahabatnya itu termenung dia melihat tangannya memegang sebuah jaket berwarna biru muda. Dilihat dari ukurannya itu terlihat seperti milik perempuan.


"Sat loe gak apa-apa?"

__ADS_1


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Dirga sontak membuatnya terkejut dan barang-barang ditangannya terjatuh.


"Eum ya, gue gak apa-apa kok." Sambil mengambil barang yang terjatuh.


Dirga melirik temannya dengan tatapan menelisik. Dia tau jika laki-laki itu menyembunyikan sesuatu darinya.


"Beneran?" Tanya Durga memastikan.


"Iya beneran, yaudah kita lanjutin lagi."


Dirga mengangguk.


Mereka menghampiri sebuah bangunan yang disinyalir tempat Alena berada saat ini. Bangunan tua yang masih kokoh berdiri, bangunan tersebut tampak kotor namun ketika mereka masuk kedalam akan terasa perbedaanya, tempat itu di beberapa sudut ruangan ada yang terlihat wajar dari sekelilingnya.


"Argh."


Lagi-lagi mereka mendengar dengan jelas suara teriakan tersebut.


Untuk sepersekian detik mereka saling memandang, seolah-olah satu pemikiran tanpa basa-basi Satya dan Dirga melangkahkan kaki mereka menuju sumber suara. Suara gaduh semakin intens terdengar membuatnya semakin mempercepat jalan mereka.


Disaat sudah sampai mereka dibuat terkejut dengan keberadaan Alena. Keadaan gadis tersebut begitu mengenaskan dengan pipi yang lebam-lebam kedua lutut yang berdarah.


Melihat keadaan sang adik yang jauh dari kata baik-baik saja membuat hatinya sakit. Gadis kecil kesayangannya menderita karena perbuatan orang yang tidak bertanggungjawab.


"Dek," panggil Satya dengan suara bergetar.


Mendengar seseorang memanggilnya gadis tersebut mengangkat kepalanya, air mata gadis tersebut kembali menetes dia tidak menyangka jika dia bisa mendengar suara itu lagi. Suara lembut penuh kasih sayang dari kakaknya yang telah lama pergi meninggalkan rumah.


Dia seperti bermimpi akhirnya Alena bisa bertemu kembali dengan kakaknya. Awalnya dia tidak begitu yakin jika kakaknya mau menyelamatkannya.


Selama ini dia selalu merasa hidup sendirian, meskipun dia memiliki atasan yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, namun hati kecil Alena masih berharap jika suatu saat nanti akan tiba suatu masa yang mana akan ada salah seorang keluarga yang datang merangkulnya.


"Iya, dek. Kakak datang buat jemput kamu kita pulang ya," ujar Satya.


Mendengar kata pulang Alena menjadi histeris dia tidak mau kembali lagi ke tempat itu, terlebih lagi setelah dia seperti ini dia bisa menjadi bulan-bulanan warga disana.


Satya melangkahkan kaki mendekati adiknya direngkuhnya tubuh rapuh sang adik, air matanya ikut menetes tatkala mendengar tangisan pilu Alena. Gadis tersebut menumpahkan segala rasa sesak di hati serta rasa takutnya ketika berhadapan dengan para manusia berwatak binatang tersebut dan juga rasa sakit yang dialaminya selama ini atas semua gunjingan serta tuduhan tidak berdasar tetangganya.


"Kakak please jangan bawa aku pulang. Aku pengen sama kakak, mereka semua jahat kak setiap hari semua orang mengejekku dan menuduhku wanita malam hiks hiks," ujar Alena sesenggukan.


"Bahkan ibu sendiri lebih percaya dengan omongan mereka daripada Lena," sambungnya.


"Sat mendingan kita bawa pulang adek loe biarin dia tinggal sama kita, untuk masalah orang-orang itu gampang bisa diurus nanti yang terpenting sekarang adek loe biar lebih tenang dulu. Kayaknya dia terguncang banget dengan peristiwa itu."


Benar saja setelah Dirga berkata seperti itu Alena berteriak ketakutan, bayangan kekejaman Parjo cs kembali menghantuinya dia melihat laki-laki disamping kakaknya itu dengan ketakutan.


"Siapa kamu! Pergi dari sini pergi. Tolong jangan sakiti aku," racau Alena.


Gadis itu beringsut mundur tubuhnya bergetar hebat air matanya terus mengalir bak bendungan.


"Dek sadar itu temen kakak," ujar Satya.

__ADS_1


"Bukan, dia pasti bagian dari mereka. Iya, pasti bagian dari manusia biadab itu. Haha apa belum puas kalian merampas mahkotaku hah?"


Alena sudah melantur dimatanya saat ini yang di depannya adalah Parjo yang sedang menatapnya mesum.


Baik Dirga maupun Satya mereka terkejut mendengar pengakuan gadis tersebut. Mata mereka membola sempurna meskipun Alena seperti ngelantur tapi dapat dilihat dengan mimik wajahnya saat ini yang terlihat tertekan sangat mustahil jika gadis itu berbohong.


"Dek, kita pulang yuk. Nanti ceritain semuanya sama kakak," bujuk Satya.


"Enggak jangan aku gak mau! Tolong jangan pukul aku."


Alena semakin histeris mental gadis tersebut sudah sangat terguncang sekali. Dikucilkan semua orang, dikasari oleh ibunya dan yang paling parah dirinya menjadi korban pelecehan seksual oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Saking terpukulnya gadis itu sampai pingsan.


Melihat adiknya pingsan Satya dengan sigap menangkapnya agar tidak terjatuh ke lantai.


"Dek bangun dek," ujar Satya.


"Dek bangun, jangan bikin kakak khawatir." Lelaki tersebut mengguncang tubuh Alena berusaha membangunkannya.


"Udah Sat biarin adek loe gitu dulu. Mungkin dengan dia pingsan bisa bikin lebih tenang pas bangun," cegah Dirga ketika melihat Satya mengguncang tubuh Alena.


"Sekarang kita bawa adek pergi dari sini gue yakin bentar lagi mereka balik kesini."


Satya langsung membopong tubuh adiknya setelah dia pakaikan jaket yang dia temukan tadi untuk menutupi pakiannya yang berantakan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Dirga yang mengambil alih kemudi dia tidak tega jika harus menyuruh Satya menyetir laki-laki itu juga mengerti bagaimana kondisinya yang sedang kalut.


"Sat loe gak ada niat mau bawa periksa adek loe gitu atau setidaknya divisum supaya bisa dapet keadilan. Kasihan gue Sat sama Alena, masih muda tapi masa depannya sudah direnggut oleh para bajingan itu."


Mendengar kalimat Dirga Satya mengepalkan tangannya, darahnya seakan-akan mendidih. Dia tidak akan tinggal diam begitu saja setelah mengetahui apa yang dialami oleh adiknya.


"Pengen banget Dir, tahu kalo adek gue dilecehin kaya gini siapa yang bisa terima. Gue bersumpah akan bikin siapa pun yang telah menyakiti Alena menderita, bahkan penjara pun tidak akan pernah cukup untuk membayar atas penderitaan adek gue," ujar Satya dingin.


Satya mengalihkan pandangannya kearah Alena yang masih terpejam. Tangannya mengusap ujung kepala adiknya secara perlahan, dalam hati Satya menyalahkan dirinya sendiri dia merasa telah gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk adiknya.


"Maafin kakak dek. Seandainya saja tidak pergi dari rumah dan memilih tinggal di rumah itu kamu pasti gak akan mengalami kejadian ini," ujarnya lirih.


"Kakak janji mulai hari ini akan selalu ada di sampingmu, dek." Sambil mengecup keningnya.


Perlahan air mata Satya menetes, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana adiknya melewari hal mengerikan malam ini tanpa ada satu orangpun yang menolongnya.


Dirga melihat perilaku Satya dari kaca spion didepannya, pria itu memilih untuk tidak mengganggunya dia tau laki-laki tersebut pasti sedang hancur saat mengetahui keadaan adiknya yang memprihatinkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di rumah kosong yang menjadi saksi kebiadaban mereka semua. Muncul lah seseorang berpakaian serba hitam, tidak terlihat dengan jelas apa yang tersembunyi dibalik masker yang menempel diwajahnya tapi yang jelas dia seperti menikmati apa yang terjadi di tempat itu.


Dia melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam sana, dan juga apa yang terjadi dengan gadis itu. Laki-laki tersebut tidak berniat untuk membantu gadis tersebut melainkan tersenyum penuh kemenangan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2