Air Mata Alena

Air Mata Alena
2. Kabur


__ADS_3

Di dalam kamar Alena menangis meratapi nasibnya. Dia tahu jika yang diucapkan ini tidak dibenarkan, akan tetapi rasa sakit hati atas perkataan mereka lah yang membuatnya menjadi seperti ini.


"Argh!"


Alena menumpahkan segala rasa sakit dan kecewa yang selama ini bersarang dihatinya dengan menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Dia tidak perduli jika suaranya terdengar sampai keluar. Persetan dengan omongan orang toh kalau dia mati pasti mereka akan pesta tujuh hari tujuh malam.


Suara teriakan Alena tersebut terdengar begitu keras tak lama kemudian terdengar suara benda berjatuhan.


Ibu Amira yang masih berada dibawah terkejut mendengar suara gaduh di kamar Alena. Dalam hati dia ingin sekali menghampiri anak tersebut dan menenangkannya, tapi ego-nya lebih besar ketimbang rasa penasaran nya hingga dia memilih kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya yang tertunda


Kembali ke Alena.


Keadaan gadis itu terlihat kacau, matanya bengkak air mata yang tidak berhenti mengalir membuat gadis tersebut tampak memprihatinkan. Kamar yang biasanya terlihat rapi kini sudah berantakan layaknya kapal pecah peralatan make up serta buku berhamburan kemana-mana.


"Apa salahku tuhan! Kenapa mereka membenciku!" Racau Alena.


Gadis itu duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya. Mulut gadis tersebut tak henti-hentinya meracau. Seketika gadis itu terdiam, mendadak setan dalam dirinya meracuni pikirannya untuk melakukan bunuh diri.


"Sepertinya mati lebih baik, daripada hidup tapi seperti terbuang begini," ujarnya.


Alena menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa sesak dihatinya.


Dia merasa sendirian hidup di dunia ini. Tidak ada yang perduli dengannya termasuk keluarganya sendiri. Orang yang selama ini perduli dengannya pun pergi meninggalkannya sendirian di rumah berjuluk neraka itu tanpa tahu bagaimana keadaannya.


Alena sudah mencoba sabar selama ini, dia hidup diantara orang yang tidak menginginkan keberadaannya jujur itu berat sekali.


Rasa kesepian lah yang membuat pikiran-pikiran jahat itu selalu hadir dalam benaknya tatkala Alena sedang terpuruk.


Jujur dalam hati Alena iri melihat keluarga yang didalamnya sangat harmonis penuh kasih sayang dan anak yang selalu bermanja-manja dengan orang tua mereka.


Setelah tangisannya reda Alena berjalan menuju lemari baju, dia buka perlahan didalam sana ada beberapa baju yang dia miliki pandangannya terpaku pada sebuah tas ransel di sudut lemari, tanpa pikir panjang dia ambil tas ransel tersebut lalu memasukkan barang barang pribadinya seperti baju, hp, dan dompet dimasukkan ke dalam tas tersebut.


Tak lupa juga barang-barang yang di banting tadi dia rapihkan seolah-olah tidak pernah terjadi kekacauan.


Setelah semua rapi tiba-tiba pandangannya terpaku pada sebuah foto yang terletak di atas meja, sebuah potret keluarga nya. Di dalam foto itu mereka semua tersenyum cerah yang menandakan kebahagiaan dalam keluarga mereka.


Alena kecil terlihat memeluk boneka Teddy bear kesayangannya, di sampingnya ada kakak tertuanya bernama Satya yang berpose merangkulnya, di samping Satya ada Vano, Cynthia dan juga adiknya Bella tak lupa juga ada ayah dan ibu mereka.

__ADS_1


Foto itu tampak sederhana namun Alena merindukan momen itu dimana dia bisa bermain sepuasnya tanpa beban apapun.


Alena menyentuh benda itu dengan perasaan sedih, lagi-lagi air mata Alena kembali mengalir tanpa permisi.


"Jangan cengeng Alena ... Sekarang bukan waktunya menangisi mereka. Ingat Alena kamu harus bisa keluar dari rumah neraka ini. Kalau tidak kamu benar-benar bisa gila karena mereka," ucap Alena menyemangati diri.


Setelah berkata seperti itu dia melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang pria tengah berkutat dengan pekerjaannya, berteman dengan suara jarum jam yang berdetak serta dinginnya angin malam yang berhembus melalui jendela tidak melunturkan semangatnya dalam mencari pundi-pundi rupiah.


Pria tersebut adalah Satya, dia merupakan putra pertama dari Amira dan Wijaya, menjadi anak sulung membuatnya menjadi bertanggung jawab penuh atas ekonomi keluarganya terlebih lagi setelah ayahnya meninggal beberapa tahun lalu karena serangan jantung.


Pekerjaan yang banyak serta tuntutan ekonomi membuat Satya jarang berada dirumah dan lebih memilih tinggal di kost-kostan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja. Dalam hati dia ingin sekali berkumpul dengan keluarganya layaknya orang lain yang selalu mempunyai waktu untuk keluarganya. Hanya saja pekerjaannya tidak memungkinkan untuk pulang setiap hari.


Dia menghela napas panjang merasa lelah, pandangan matanya beralih ke foto keluarga yang terpajang di meja kerjanya. Dia meraih benda tersebut lalu berjalan menuju jendela tidak jauh dari tempatnya saat ini. Satya termenung dia ingat dengan betul foto itu diambil beberapa bulan sebelum ayahnya meninggal akibat penyakit yang dideritanya.


Kriett


"Lo belum tidur Sat?" ujar seseorang.


"Belum ngantuk, Dir. Masih tanggung," jawabannya.


Laki-laki bernama Dirga tersebut berjalan mendekat kearah Satya dia menghela nafas panjang, seperti dugaannya laki-laki yang dikenal penyayang keluarga itu pasti masih begadang.


"Sat, emang lo gak kangen sama keluarga apa? Setiap hari gue perhatiin lo gak pernah pulang ke rumah."


Menghela nafas panjang Satya mendongakkan kepalanya menatap langit-langit. Bukan kali pertama Dirga berbicara seperti itu hanya saja dia masih belum memiliki keberanian untuk pulang ke rumah mengingat janjinya pada almarhum sang ayah.


"Lo tau sendiri 'kan gue belum bisa memenuhi janji ke almarhum bokap dan lo paling tau kalo gue itu orangnya pantang ingkar janji," jelas Satya.


Dirga mengangguk membenarkan ucapan Satya. Mereka mengenal bukan hanya satu atau dua hari melainkan sudah bertahun-tahun. Jadi, mereka sudah mengenal karakter masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jalanan tampak sepi dari lalu lalang kendaraan yang melintas. Terlihat bintang-bintang bertabur di atas langit menemani sang rembulan yang bersinar dengan cerahnya.

__ADS_1


Seorang gadis menyusuri jalanan dengan ransel di punggungnya dia berjalan kaki, rasa lelah yang menghampirinya tidak dihiraukan, wajahnya terlihat sembab.


Gadis tersebut mendongak ke atas melihat pemandangan di atas membuatnya tersenyum getir.


"Bahkan bulan pun ada yang menemani," gumamnya.


Alena merasa miris bahkan dia iri dengan rembulan malam dan juga bintang yang bersinar di angkasa.


"Huft ... Mungkin ini memang nasibku yang selalu hidup dalam kesepian." Terdengar helaan dari bibir gadis itu.


Halte bus sudah terlihat dengan jelas, gadis yang ternyata Alena itu mempercepat langkahnya mendekat kearah halte itu berada. Ya, gadis tersebut adalah Alena dia berniat kabur dari rumah untuk mencari ketenangan batin. Dia berpikir untuk menjauh dari orang-orang yang membuatnya tertekan.


Cukup lama sekali Alena duduk menunggu bus yang lewat sampai dia merasa bosan sendiri, dirogohnya jaketnya untuk mencari benda pipih miliknya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan dia mencoba menghubungi seseorang akan tetapi ditolak.


Beberapa kali Alena mencoba akhirnya tersambung.


"Halo, ini siapa?"


Alena senang sekali akhirnya telponnya diangkat oleh sang kakak.


"Akhirnya diangkat juga," ujarnya lega.


"Iya, ini siapa ya?"


"Halo kak, akhirnya bisa hubungin kakak. Ini Al ..."


Tuttt tuttt tuttt.


"Halo kak ... Kak Satya halo!!"


"Sial!"


Alena mengumpat kesal tatkala telepon mereka terputus tanpa sebab Alena mencoba menghubunginya sekali lagi akan tetapi tidak bisa.


Dia memasukkan handphone nya kedalam saku jaket yang dia kenakan.


"Masa aku nge gembel di sini sih," gumam Alena.

__ADS_1


Bersambung....


Terimakasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejaknya. See u dada babay.


__ADS_2