
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Satya, Alena, Denis serta Rere sampai di kantor polisi. Merekapun segera masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Dirga yang sudah terlebih dahulu di sini.
Satya dan Alena mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menemukan keberadaan laki-laki itu, sesaat mereka melihat seorang laki-laki mengenakan kemeja biru dengan jaket hitam duduk di kursi tidak jauh dari area pintu masuk. Dengan segera mereka berempat menghampiri pria itu.
"Kak Dirga," panggil Alena sambil berjalan menghampiri laki-laki itu.
"Syukurlah kalian udah datang. Al, Lo ikut gue ke dalam." Pria itu menarik tangan Alena membuat semua orang heran.
"Dirga lo mau ngapain bawa Alena ke dalem," cegah Satya.
Laki-laki itu menoleh ke arah sahabatnya dan kemudian tersadar jika dia mereka tidak sendirian ada dua orang lagi dibelakang Satya yang saat ini juga tengah menatapnya. Satu pria dan satu orang lagi perempuan mengenakan baju seperti seragam.
"Tenang aja mereka baik kok," ujar Alena seakan tahu pemikiran Dirga.
"Huftt baiklah. Gue akan jelasin."
"Sorry, Sat gue kemarin bohong sama Lo. Sebenarnya gue ketemuan sama orang kepercayaan gue yang selama ini nyelidikin kasus adek Lo. Kemarin dia baru kasih kabar kalau mereka ada di sini dan semua bukti-buktinya sudah lengkap ada di sini," terang Dirga lalu menunjukkan map yang dia bawa.
"Thanks, Ga. Lo udah bantuin gue, orang-orang yang gue suruh juga barusan ngabarin yang sama dan sekarang kita bisa jeblosin mereka ke penjara."
"Kalian berdua masih terus cari mereka?" Tanya Alena terkesiap.
Alena tidak pernah menyangka jika mereka akan terus mencari pelaku itu, padahal dia sudah meminta untuk menghentikannya karena merasa membuang-buang waktu. Terlebih juga dia sudah seperti ini kalau mereka dipenjara tidak akan merubah kenyataan yang sebenarnya.
Satya dan dirga menatap Alena secara bersamaan, mereka tahu jika gadis itu tidak menginginkan hal ini tapi baik satya maupun dirga tidak akan pernah tinggal diam melihat alena yang terus-menerus bersedih dan menyalahkan diri.
Dirga memegang dagu Alena lalu mengangkatnya supaya dia bisa melihat matanya, Alena secara alami mendongak lalu tatapan mata mereka bertubrukan.
"Al, denger gue gak mungkin ngebiarin mereka bebas sementara Lo hancur. Gue gak mau Lo kaya seira, yang terus kesiksa karena ini sampe dia mutusin ngakhiri hidupnya," tutur Dirga.
"Ga, Lo ceritain Seira ke Alena?" Tanya Satya. Pasalnya dia tahu benar bagaimana perjuangan Dirga keluar dari rasa bersalahnya akibat tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
"Biarin, Sat. Gue gak mau kalian juga ngerasain apa yang gue rasain, semoga dengan bantuin Alena bisa nebus rasa bersalah gue ke Seira," tutur Dirga.
Satya menepuk pundak Dirga untuk memberikan kekuatan sahabatnya, dia yakin saat ini laki-laki itu sedang berusaha menutupi kesedihannya atas kepergian adiknya Seira. Satya beralih menatap mata adiknya yang sudah meredup, lalu merangkulnya untuk menenangkan Alena yang kembali bersedih.
Alena terisak dalam pelukan kakaknya, ingatannya kembali ke hari kelam itu.
__ADS_1
"Dek, kakak tahu kamu masih belum bisa menerima soal peristiwa itu. Sama, kakak juga tidak terima dengan perbuatan mereka. Jadi, kakak mohon jangan halangin kakak buat cari keadilan untuk kamu. Kakak sayang banget sama kamu, Dek. Maafin kakak udah gagal jagain kamu." Satya memeluk erat adiknya.
Satya seperti kembali ke masa itu, masa di mana dia menemukan sang adik dalam keadaan penuh luka memar. Saat itu Satya benar-benar merasa hancur dan marah, dia tidak terima adiknya masa depannya direnggut oleh orang-orang bejat seperti mereka, Satya merasa marah dengan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Alena seperti janjinya kepada almarhum ayahnya.
Merekapun berpelukan saling menguatkan satu sama lain, Denis dan Rere yang tidak tahu duduk permasalahannya pun bisa sedikit menyimpulkan jika telah terjadi sesuatu dengan Alena yang membuatnya harus berurusan di kantor polisi.
"Sudah nangisnya. Sebaiknya sekarang kita masuk bikin laporan, terus nanti kalau ditanyain sama penyidik jangan sungkan buat cerita semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi," terang Dirga.
"Bismillah, Dek. Kamu pasti bisa lewatin ini semua," tutur Satya.
Mereka pun lantas beranjak dari tempat itu menuju ruangan khusus yang biasanya dijadikan sebagai tempat menerima keluhan masyarakat. Di tempat itu ada beberapa petugas yang berjaga serta ada beberapa orang yang kemungkinan sedang menjenguk kerabatnya yang ada di sana.
Dirga meminta Alena duduk di depan seorang petugas yang sedang bertugas disampingnya ada pengacara yang sebelumnya sudah dia hubungi untuk mengurus masalah ini.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang petugas ramah.
"Jadi, begini pak saya mewakili adik sahabat saya ingin melaporkan kasus penganiayaan serta pelecehan terhadap saudari Alena," ujar Dirga mewakili.
Deg
Denis serta Rere yang tidak mengetahui kebenaran itu terkejut. Mereka memandang Alena dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Alena, kenapa nasib Lo kaya gini."
Mereka berdua hanya bisa membatin, tidak berani bersuara.
Sedangkan Alena jangan ditanyakan bagaimana saat ini, bahkan gadis itu tidak berani memandang ke petugas. Jujur gadis itu masih takut jika dengan pandangan orang lain mengenai dia.
Petugas tersebut tersenyum memandangi Alena, dia maklum ketakutan gadis itu. Karena sudah banyak korban yang ditanganinya.
"Baik, kami akan coba bantu. Apakah ada bukti visum sebelumnya serta bukti-bukti lainnya?"
"Semua sudah siap di sini, Pak."
Pengacara tersebut menyerahkan semua berkas-berkas yang diperlukan, lalu diperiksa.
"Bagaimana, Pak? Apakah sudah lengkap?" Tanya Dirga.
__ADS_1
"Iya, Pak bagaimana?" Tanya Satya.
Pak polisi meletakkan berkas yang diterima dari sang pengacara, lalu menatap sang pelapor.
"Di sini diceritakan bahwa saudari Alena sempat depresi, apakah betul?"
"Be benar, Pak." Alena menjawab dengan tergugu.
"Bisa diceritakan kronologis kejadian waktu itu," pinta petugas.
Sumpah demi apapun saat ini Alena sedang berkeringat dingin, suaranya tercekat tatkala peristiwa kelam itu diungkit kembali.
Satya mengetahui keadaan sang adik menyentuh pelan pundaknya memberikan kekuatan, dia cukup tahu bagaimana keadaan Alena saat ini pasti traumanya kembali lagi.
"Dek, kakak percaya kamu kuat," bisiknya.
Alena mengangguk mendengar ucapan kakaknya, "Terimakasih, Kak."
Alena menghela nafas panjang menguatkan hatinya untuk mengorek kembali luka lama tersebut.
"Bisa, Pak. Jadi begini, waktu itu sepulang dari tempat kerja saya sama ibu bertengkar hebat. Saya tahu ini juga salah saya karena pulang larut malam, namun ibu saya terus menyalahkan saya dan mengatakan bahwa saya anak pembawa sial, ibu bilang bahwa sudah bikin keluarga malu karena anak seperti saya."
Alena menjeda kalimatnya dadanya kembali sesak ketika mengingat itu semua, semua orang mendengarkan cerita tersebut dengan seksama.
Satya merengkuh pundak adiknya, seandainya saja dia ada mungkin ibunya tidak akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan itu untuk Alena.
"Dek, maafin kakak," ujarnya menyesal.
Alena mengusap air matanya yang keluar tidak mau berhenti, dia menoleh ke arah kakaknya.
"Kak Satya gak salah, ini murni salah Alena. Seandainya saja gak ada kakak mungkin mereka sudah memb*n*h Alena," ujarnya terisak.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung....