Air Mata Alena

Air Mata Alena
10. Bertemu


__ADS_3

"Dek, hari ini kakak ada kerjaan kamu di rumah saja." Sambil menuruni anak tangga.


Alena yang sedang menonton tv menoleh, dia melihat Satya sudah rapi dengan kemeja putihnya celana panjang hitam serta rambut yang sudah tertata dengan rapih tangannya menenteng tas hitam.


Untuk sejenak Alena sempat tersihir dengan ketampanannya, namun dengan cepat dia menepisnya.


"Dek, denger gak?" sambil melambaikan tangan tepat didepan wajahnya.


"Eum iya kak kenapa?"


"Kakak mau pergi sebentar ada kerjaan kamu di rumah saja," ulangnya.


"Sendirian?" Alena menatap sekelilingnya dengan gemetar.


Semenjak kejadian itu Alena takut ditinggal sendiri maka dari itu Satya selalu menemaninya dan tidak pernah pergi meninggalkannya sendirian. Hanya saja hari ini ada pekerjaan yang harus di selesaikan secepatnya dengan terpaksa dia meninggalkan Alena sendirian di rumah.


Satya berfikir sejenak tidak mungkin dia mengajak Alena yang ada nanti adiknya itu tidak nyaman berada di lingkungan luar dan itu bisa memicu traumanya datang kembali.


Setelah sekian lama berfikir akhirnya dia menelpon Dirga dan memintanya untuk datang kemari menemani Alena karena hanya dia yang dia percayai saat ini. Beruntungnya Dirga sedang tidak sibuk dan bersedia menemani Alena membuat Satya lebih tenang meninggalkan adiknya.


"Kak Dirga sebentar lagi akan datang nemenin kamu. Kakak tinggal sebentar ya, kamu baik-baik di rumah," ujarnya.


"Baik kak. Kakak gak usah khawatir Alena baik-baik saja kok," tuturnya menenangkan.


Satya mengacak-acak rambut Alena. "Yasudah kakak berangkat dulu."

__ADS_1


Alena hanya tersenyum melihat kelakuan kakaknya itu. Dibalik musibah yang dia alami satu hal yang dia syukuri yakni bisa bertemu kembali dengan kakaknya yang seperti dulu lagi.


Setelah beberapa saat terdengar suara bel pintu berbunyi. Alena yang saat itu masih di depan televisi bergegas keluar melihat siapa yang datang.


"Hallo manis, makin cantik aja nih," goda Dirga.


"Apaan sih kak. Masuk dulu aku mau bikinin minum dulu." Alena melangkahkan kaki menuju dapur.


"Gak usah repot-repot. Kita keluar saja yuk gue yang traktir." Sambil mencekal lengan Alena.


"Tapi...."


"Tenang saja gue temenin sekalian refreshing loe pasti bosen di rumah terus. Sana siap siap," ujar Dirga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Anak itu pergi kemana sih, dari kemarin gak pulang-pulang. Awas saja kalau ketemu."


Terlihat seorang wanita berceloteh di jalan tidak memperdulikan pengendara lain yang memandangnya aneh, wanita berambut ikal serta berkacamata itu mengendarai motor dengan raut wajah kesal.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh namun Alena belum dia temukan dan hal tersebut membuatnya semakin kesal. Dia bertekad akan memberikan pelajaran kepada anak itu jika nanti sudah ditemukan.


Ibu Amira mengusap keringatnya, dia masih berusaha mencari keberadaan Alena sudah beberapa hari ini dia tidak pulang dan hal tersebut membuatnya khawatir.


Tenggorokannya merasa kering dia berhenti di supermarket yang terletak di ujung jalan membeli minuman.

__ADS_1


Kakinya melangkah untuk mencari rak minuman, matanya tanpa sengaja menangkap siluet seorang perempuan berjalan berduaan sambil bergandengan tangan matanya membola sempurna tatkala mengetahui siapa gadis tersebut.


"Alena, kurang ajar ternyata dia malah bersenang-senang dengan lelaki." gumamnya marah.


"Oh jadi begini kelakuanmu? Dicari-cari ternyata malah enak-enakan pacaran di sini." Ibu Amira berjalan menghampiri Alena.


Alena terkejut mengetahui ibunya berada di sini. Pasalnya ini cukup jauh dari rumah mereka dan apa itu tadi mencarinya dia tidak salah dengar bukan? Ibunya itu mencarinya.


Alena hampir saja senang mengetahui ibunya mengkhawatirkan dirinya, namun kesenangan itu menguap begitu saja ketika tangan ibunya itu melayang tepat di pipinya.


Plakkk


"Dasar tidak tahu malu. Sudah dibesarkan susah-susah begini caramu membalas budi hah! Dasar ja*ang murahan."


Plakkk


Ucapan sarkas itu sontak membuat semua mata memandang ke arah seorang gadis yang saat ini tengah memegangi pipinya yang memerah.


Terdengar bisikan-bisikan merendahkan yang ditujukan kepada Alena. Hati Alena merasa hancur dirinya merasa tidak punya harga diri di hadapan ibunya.


"Kak aku takut, kita pulang aja," lirihnya.


"Stttt gak usah khawatir ada gue disini. Tunggu sebentar," ujarnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2