Air Mata Alena

Air Mata Alena
Part. 19


__ADS_3

Alena menghentikan tawanya lalu menatap mereka serius. Setelah semua reda Alena pun berkata;


"Kak Dirga, kak Satya terimakasih untuk semuanya. Maaf kalau Alena ngerepotin kalian terus," ujar Alena membuka percakapan.


"Gak perlu makasih, Al. Gue ikhlas bantuin Lo, gak pernah ngerasa direpotin juga. Janji sama gue, jangan pernah ngucapin hal kaya gitu lagi," ujar Dirga.


"Al, gue suka lihat Lo ketawa kaya gitu. Bahagia terus yah, jangan sedih-sedih lagi," sambungnya.


Laki-laki itu menatap intens bola mata Alena, wajahnya yang sembab membuatnya merasakan entahlah dia sendiri susah menjabarkan yang jelas dia tidak suka melihat gadis itu menangis seperti ini. Ingin sekali dia memeluk Alena untuk menenangkan gadis itu tapi dia sadar kalau dia bukan siapa-siapanya dan tidak berhak melakukan itu.


Satya memerhatikan Dirga lamat-lamat, entah ini hanya perasaan nya saja atau bagaimana yang pasti dia seperti merasa kalau sahabatnya itu menyukai adiknya, namun berusaha untuk menyembunyikannya.


Alena mendongak menatap ke arah Dirga, pasti saat ini pria itu kembali membayangkan adiknya yang sudah meninggal mungkin hatinya saat ini sedang hancur mengingat Seira.


"Kak Dira, boleh peluk?" Tanya Alena lirih.


"Kenapa tidak."


Dirga merentangkan tangannya lalu Alena pun berhambur memeluk Dirga bahkan dia menangis di pelukan pria itu.


"Kak maafin Alena sudah ingetin kakak terus soal Seira, pasti sekarang kakak hancur banget. Terimakasih banget udah belain Alena di depan ibu kemarin."


"Sttt udah, ya. Kakak gak apa-apa ini sudah takdir kakak jadi gak usah ngerasa bersalah. Kakak cuma pengen kamu bahagia gak sedih-sedih lagi." Dirga mengusap lembut punggung Alena.


"Mungkin kakak akan jadi orang paling jahat jika nyuruh ngelupain semuanya, karena kakak tahu gak semudah itu memaafkan, namun kakak hanya minta untuk mengikhlaskan serta menerima keadaan secara pelan-pelan. Jangan khawatir pandangan orang, mereka tidak tahu kejadian sebenarnya seperti apa yang menjalani itu kamu sendiri mereka gak tahu bagaimana hancur serta tersiksanya kamu saat ini."


Dirga pun melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata gadis tersebut pelan.


Alena beralih ke kakaknya yang sedang memperhatikan mereka berdua, dengan segara dia menubruk dada bidang kakaknya. Satya mengelus surai panjang adiknya dengan sayang, dia tidak peduli bagaimana adiknya saat ini yang terpenting dia senang bisa melihat adiknya lagi bahkan karena dirinya adiknya itu mengalami hal mengerikan itu.


Satya tidak berkata banyak dia hanya mengeratkan pelukannya memberikan Alena ruang untuk meluapkan kesedihannya.


Seperti itulah saudara yang sebenarnya, tidak menghakimi ataupun menyalahkan atas apa yang terjadi melainkan saling menguatkan serta membantunya bangkit dari keterpurukan bukan menambah kesedihan dengan menyalahkannya.


Denis bersyukur melihat kakaknya mempunyai saudara seperti Satya yang begitu menyayangi sang kakak. Setidaknya ada Satya yang akan selalu menghibur Alena terpelas dari pertikaiannya dengan ibu Amira.


"Terlepas dari apapun aku bersyukur bisa melihat kak Alena bertemu kakaknya," batin Denis.

__ADS_1


Laki-laki tersebut memejamkan matanya menghalau air mata yang hendak menetes.


Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan sore hari dan Denis belum mengabari ayahnya soal ini, bahkan Rere sendiri hari ini bisa dikatakan bolos kerja.


"Kak, denis pamit pulang dulu kasihan ayah dirumah sendirian," ujar Denis.


"Iya, Denis titip salam sama bapak maaf gak bisa lama-lama mampirnya dan untuk kejadian ini tolong jangan bilang bapak dulu, biar nanti kakak yang langsung cerita," ujar Alena.


Denis pun beranjak keluar menuju motornya yang terparkir di depan. Alena memperhatikan Rere yang masih duduk manis memperhatikan kakaknya tanpa menyadari jika Denis sudah keluar diapun lalu menegurnya.


"Re, udah lihatin kak Satya nya. Kamu gak mau pulang, tuh denis udah di depan."


Mendengar perkataan Alena gadis itu sontak berpamitan lalu lari mengejar Denis yang sudah menyalakan motornya.


Sedangkan di luar Denis yang ingin melajukan motornya terkejut saat sebuah teriakan yang tidak asing terdengar memanggilnya, Denis menepuk dahinya menyadari jika Rere tertinggal di dalam untung saja dia belum jalan.


Terlihat Rere berlari menghampirinya dengan wajah kesal di ikuti oleh Alena, Satya serta Dirga dibelakangnya.


"Kenapa bapak ninggalin aku?" tanya Rere dengan nafas memburu.


"Maaf, habisnya kamu dari tadi gak ada suaranya aku kira udah pulang," ujar Denis sekenanya.


"Mana ada anggun yang sekali tereak bisa rubuhin bangunan," timpal Denis tak mau kalah.


Mereka berdua pun saling berdebat tidak mau ada yang mengalah, Rere bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Denis dengan kesal sepertinya dia lupa siapa orang dihadapannya itu.


Alena hanya menggeleng melihat perdebatan keduanya, jika biasanya Denis terlihat anteng ketika bersama cewek kali ini bisa terlihat kesal ketika bersama Rere, sepertinya ada yang terlewatkan selama dia menghilang dari mereka.


Alena pun maju mendekati mereka berdua yang sedang perang seperti Tom and Jerry.


"Sudah-sudah katanya mau pulang, balik gih udah sore ntar keburu gelap nyampe nya kalian tau sendiri 'kan gimana macetnya jam jam segini," lerai Alena.


"Astaga! Gue lupa kalau nyokap gue mau dateng ke rumah mana gue belum beres-beres pula. Mampus dah gue bisa di geprek sama mamak tercinta nih," racau Rere. Bahkan gadis itu berjalan heboh sendiri.


Tanpa memperdulikan semua orang gadis itu naik ke boncengan Denis bahkan si empunya belum nyuruh dia naik. Denis hanya berdecak sebal dengan tingkah karyawannya.


"Ayok pak bos kita jalan," perintah Rere.

__ADS_1


"Ck dasar berasa ojek gue."


"Kak kita pamit dulu."


Denis pun melajukan motornya meninggalkan rumah bercat putih tersebut meninggalkan mereka bertiga yang masih berdiri di teras rumah. Tak lama kemudian Dirga pun berpamitan kepada mereka berdua,


"Gue mau cabut juga udah sore. Al, istirahat jangan macem-macem," peringat Dirga.


"Sat, jagain adek Lo benar-benar. Inget! Jangan biarin dia sendirian."


"Iya iya kok Lo rese banget sih, Ga?" sahut Satya.


"Biarin, rese rese gini gue sayang sama kalian," celetuk Dirga.


"Jadi, Lo beneran sayang sama adek gue?" tebak Satya dengan senyuman yang agak menyebalkan.


Dirga membola mendengar ucapan ngawur sahabatnya itu, dia tidak pernah mengira jika Satya akan berkata seperti itu. Dia mendadak gugup, jantungnya agak tidak beraturan.


Satya memperhatikan gestur pria itu yang terlihat sangat terkejut dengan ucapannya barusan, padahal dia hanya asal bicara saja tidak benar-benar serius. Namun, siapa sangka jika responnya sangat berlebihan seperti itu.


Alena hanya memperhatikan mereka berdua tidak berniat menanggapinya.


Menyukainya? Hah siapa juga yang mau dengan gadis seperti dirinya yang sudah terenggut kehormatannya, tidak mungkin pria seperti Dirga menyukainya masih banyak perempuan baik-baik yang lebih pantas untuknya dan itu bukan dia. Alena menggeleng mengusir pikiran tersebut.


"Kenapa, Dek?" tanya Satya saat melihat adiknya menggeleng.


"Gak apa-apa, Kak. Cuma agak pusing dikit," elaknya.


"Yaudah, Al Lo istirahat gih jangan macem-macem. Kalau pusing jangan lupa minum obatnya," ujar Dirga.


Setelah berkata seperti itu Dirga pamit pulang meninggalkan ke dua kakak beradik tersebut. Tak lama setelah itu Satya pun meminta adiknya beristirahat terlebih dahulu sementara dia mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


Rumah yang tadinya ramai dengan gelak tawa kembali sunyi senyap seperti tidak pernah tersentuh keramaian sebelumnya.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung ….


__ADS_2