Air Mata Alena

Air Mata Alena
5. Terlambat


__ADS_3

"Dir tukeran, biar gue yang nyetir."


"Oke tapi inget jangan ngebut," peringat Dirga.


Sudah cukup lama mereka berteman tentu Dirga hapal dengan tabiat temannya itu yang suka kebut-kebutan di jalan entah itu menyetir mobil maupun motor. Terlebih lagi jika sedang panik seperti ini, kecepatannya bisa bertambah.


"Gue gak janji."


"Dasar bang Sat!!" Teriak Dirga kesal.


"Bodo amat, buruan pindah," desak Satya.


Dirga terpaksa mengangguk karena percuma juga membantah laki-laki itu seperti batu susah sekali dikasih tahu. Dengan segera Satya mengambil alih kemudi.


Setelah mereka memakai seat belt nya kemudian Satya memacu mobil dengan kencang tak peduli Dirga sudah berteriak memakinya yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana caranya agar dia bisa menyelamatkan adiknya dengan cepat.


"Bang Sat si*lan, loe mau nyelametin orang atau mau bun*h orang hah!"


"Bodo amat yang penting adek gue selamat."


************


Sedangkan disisi lain Parjo merebut paksa hape dari tangan Alena dan membantingnya.


Prakkk


"Gadis, Jangan coba-coba minta bantuan ya loe!" Bentak Parjo.


"Hape ku," lirihnya.


Parjo melepaskan jaket yang dikenakan Alena secara paksa. Kulit mulus Alena terlihat dengan jelas, lelaki itu menelan ludah melihat pemandangan dihadapannya. Adik kecilnya semakin mendesak menuntut bersarang di tubuh gadis cantik itu. Mengetahui pandangan mata bajingan itu Alena berteriak meminta pertolongan. Tapi sia-sia tidak akan ada orang yang mendengar teriakan nya, suara Alena seperti ditelan angin yang berhembus.


"Berisik!!"


"Cungkring, Narto kalian pegang tangannya. Jangan biarkan dia lepas, cepat!!" Perintah Parjo.


Tanpa banyak bicara Cungkring dan Narto melangkah mendekati Alena. Mereka langsung mengunci pergerakannya.


"Tolong!!"


"Aku mohon siapapun tolong aku!"


Plakkk


Parjo menampar pipi gadis itu. Alena mendesis merasakan perih, hari ini sudah dua kali ditampar dengan orang yang berbeda.


"Br*ngs*k!! Berani sekali kamu menamparku," teriak Alena.


"Diam lah gadis kecil!! Hari ini loe akan jadi mainan kita. Jika tidak, kami akan berbuat lebih dari sekedar tamparan itu."


Jaja yang sedari tadi diam akhirnya buka suara, menurutnya gadis itu terlalu merepotkan. Dirinya juga sudah tidak sabar mencoba perempuan itu.


"Jo, buruan emang loe doang yang mau gue juga!"


"Woii bukan loe doang, gue sama Cungkring juga gak sabar sama nih cewek. Jo buru ih atau gue duluan?"


"Iya bentar, lepasin dulu dia biar gue bisa leluasa."


Cungkring dan Narto melepaskan kuncian nya.


"Mendingan dibawa ke markas aja Jo biar puas gak takut kalo tiba-tiba ada yang lewat," saran Jaja.


Parjo menggendong Alena dengan kasar ke sebuah rumah tua yang tidak jauh dari sisi mereka saat ini tempat itu sudah lama kosong ditinggalkan pemiliknya dan mereka menjadikan markas mereka untuk sekedar nongkrong ataupun mencari mangsa buruan.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah itu, Parjo dengan kasar mendorong tubuh mungil gadis malang itu membuatnya berteriak kesakitan.


Alena mengamati sekitarnya penerangan yang minim perabotan tampak usang membuatnya bergidik ngeri akan tetapi, yang patut diwaspadai sekarang bukan tempat nya melainkan mahkluk setengah setan eh ralat makhluk yang dikuasai oleh bisikan setan dihadapannya.


"Bang aku mohon jangan lakuin itu bang," mohon Alena.


Air mata gadis itu tak berhenti mengalir bak air terjun yang turun dari ketinggian, dia berharap preman itu mengurungkan niatnya. Akan tetapi Parjo seakan-akan tuli, bisikan setan sudah mempengaruhi akal sehat.


"Aku tidak perduli."


Parjo melepaskan pakaian yang melekat di tubuh gadis itu dengan paksa tak perduli dengan teriakan dan tangisan gadis itu.


Seperti kerasukan setan Parjo menerjang bibir gadis tersebut dengan buas Alena menggelengkan kepalanya tatkala Parjo memaksa melahap bibirnya. Karena geram dia menggigit bibir bawah Alena membuat gadis itu reflek membuka bibirnya.


Bagaikan tersengat listrik Parjo semakin menjadi-jadi, dia semakin berani menjajah seluruh tubuhnya, untuk Alena jangan ditanyakan gadis itu saat ini sudah pasrah dengan perlakuan pria bajingan dihadapannya ini, mau teriak sampai putus pun tidak akan ada orang yang datang menolongnya. Meskipun begitu dia tetap tidak terima jika para bajingan itu menjamah tubuhnya.


Sesaat Parjo terdiam pandangan matanya melihat ke arah sensitif yang akan menjadi sarangnya, adiknya lagi-lagi menegang, nafsunya semakin meningkat ketika pandangan indah terpampang begitu jelas dihadapannya saat ini.


"Tenang son sebentar lagi kamu akan pulang." ujarnya sambil memegang adik kecilnya.


Parjo berkata layaknya seorang ayah yang membujuk anaknya untuk tidak rewel.


Parjo kembali ******* bibir gadis tersebut dia memasukkan adiknya ke sarang goa. Mulut goa yang kecil membuatnya sedikit kesusahan.


"Ternyata masih perawan, beruntung sekali aku menjadi yang pertama untuk mu gadis kecil," ujarnya di sela-sela usahanya membobol gawang gadis dibawahnya ini.


Alena tidak memperdulikan ucapan pria itu, yang pasti saat ini dia merasa kesakitan terlihat matanya berkaca-kaca. Dia merasakan sesuatu mendobrak paksa kedalam.


"Stttt jangan menangis gadis kecil, sakit ini hanya sementara setelah itu kau akan menikmati surga yang sesungguhnya."


Parjo kembali melakukan percobaan pembobolan ke gawang lawan pertama masih gagal, tidak menyerah untuk yang kedua ini dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya membobol gawang lawan.


Tepat saat benda itu berhasil masuk Alena berteriak sekencang-kencangnya membuat Parjo membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Tulang bawahnya terasa dipatahkan secara paksa, darah mengalir dari sela-sela kakinya membuktikan jika omongan orang lain tentang dirinya itu salah besar. Tapi, yang dia sayangkan adalah dia melakukan itu bukan dengan orang yang dicintainya melainkan dengan preman yang tidak dia ketahui mereka siapa.


Sedangkan di luar ke-tiga rekan Parjo tidak masuk ke dalam, mereka menunggu dengan sabar, sambil menunggu mereka memainkan kartu karena mereka tahu jika Parjo sudah memiliki keinginan pasti dia akan meminta terus hingga merasa terpuaskan tak perduli korbannya nanti hamil atau tidak yang penting kepuasan batin.


"Masih gadis sob," ujar Narto.


"Beruntung banget si Parjo dapet yang masih segel," timpal yang lainnya.


Kembali ke Alena saat ini gadis itu merasa sakit luar biasa di bagian bawahnya ketika Parjo berhasil membobol gawangnya tak hanya itu lelaki tersebut bahkan melakukannya berulang-ulang sampai merasa puas, tentunya yang terpuaskan disini hanya Parjo bukan Alena.


Parjo melakukannya bukan hanya sekali melainkan berkali-kali sampai Alena merasakan sakit yang luar biasa di areanya karena lelaki itu melakukannya dengan kasar.


Gadis itu melihat ke arah laki-laki itu dengan benci, merasa ditatap Parjo menghentikan kegiatannya.


Bukannya marah justru Parjo malah tertawa. "Kenapa, mau lagi? Tenang saja sayang masih ada tiga orang lagi yang akan memuaskanmu malam ini. Jadi, jangan sedih okey." Parjo mencolek gadis itu membuatnya mendesis.


Setelah selesai menjajah gadis itu Parjo pergi begitu saja meninggalkan Alena tanpa memperdulikan gadis itu.


Cungkring yang pertamakali menyadari kedatangan Parjo, dengan semangat lelaki bertubuh kurus tersebut mencecarnya.


"Gimana Jo enak, gak?" tanya Cungkring saat melihat Parjo keluar dengan senyum cerahnya.


"Masih gadis bro tentu saja mantep. Sono gih lu coba sendiri biar ngerasain barengan aja biar cepet," kelakar Parjo.


Mereka semua saling tatap, benar dugannya jika gadis yang mereka temukan itu masih tersegel rapi.


Mereka semua masuk ke dalam untuk unboxing gadis itu secara bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di dalam mobil perasaan Satya semakin tidak enak, pikirannya terus dipenuhi oleh adiknya yang saat ini tidak dia ketahui bagaimana keadaannya terlebih lagi setelah pembicaraan mereka ditelepon tadi.

__ADS_1


Samar-samar Satya mendengar suara tawa beberapa orang dan mereka laki-laki.


"Satya bang sat pelan-pelan woi! Lu punya dendam apa sama gue."


Satya seakan menulikan pendengarannya tidak peduli dengan teriakan Dirga.


"Woi Sat gue tahu elo panik. Tapi jangan kayak gini dengan kebut-kebutan loe bisa bikin nyawa kita berakhir malam ini juga ngerti kagak loe!!"


Citttttt


Satya mengerem mendadak membuat kepala dirga kepentok dashboard mobil.


"Dasar bang Sat," umpat Dirga.


"Udah tukeran tempat biar gue yang nyetir. Gue gak mau mati muda gara-gara loe."


Tanpa banyak bicara lagi Dirga keluar dari mobil dan berpindah tempat duduk. Satya membiarkan Dirga yang menyetir karena dia juga tidak ingin terjadi apa-apa, lagi pula pikirannya saat ini sedang kacau.


Dirga melajukan mobilnya dengan perlahan tidak seperti Satya yang ugal-ugalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hai gadis, bagaiman dengan Parjo. Apa dia bisa memuaskanmu?"


"Brengs*k keluar kalian!" Teriak Alena.


Alena mengusir mereka dia berusaha menutupi aset-asetnya dengan pakaian miliknya. Alena memakai bajunya dengan cepat.


Mereka tergelak mendengar pengusiran gadis tersebut.


"Ingin mengusir kita dari markas sendiri? Hmm, jangan bermimpi gadis manis," bisik Narto.


Mereka semua mengepung Alena hingga gadis itu terpojok didinding.


"Ka... kalian mau apa?"


"Mau apa? Tentu saja untuk memuaskan mu atau lebih tepatnya kita yang menuntut minta jatah nona, masa hanya Parjo yang dapet kita semua enggak."


Mereka semua semakin menipiskan jarak dengan Alena membuat gadis itu semakin merasa terpojokkan. Mereka terlihat melepaskan pakaian yang mereka kenakan, membuatnya mau tidak mau mengusirnya meskipun tau kalo itu semua sia-sia.


"Tidak, pergi kalian semua!"


Alena tidak mau menjadi budak nafsu pria bejat dihadapannya ini, meskipun dia tahu mahkotanya telah direnggut secara paksa oleh Parjo setidaknya dia masih punya harga diri.


Mereka semua kembali menggagahi gadis malang itu tanpa belas kasihan. Suara teriakan tangisan serta lenguhan kenikmatan bercampur menjadi satu sebagai bukti kebejatan mereka.


Hari ini rembulan malam yang bersinar dengan terang menjadi saksi bagaimana kebejatan mereka menggagahi seorang gadis yang ingin mencari kebebasan. Takdir seolah-olah tidak rela membiarkan gadis malang tersebut hidup bahagia barang sedikitpun.


Mereka tidak membiarkan gadis tersebut bernafas barang sekejap pun. Mereka terlalu asik dengan fantasi di kepala mereka. Setelah puas dengan pertempuran itu lagi dan lagi Alena ditinggalkan begitu saja oleh mereka.


"Selanjutnya bagaimana kita tinggalin dia atau apa?" tanya Jaja saat mereka berkumpul di depan.


"Tinggalin aja sebelum pagi, gue yakin gadis itu bentar lagi gila. Dia gak akan ngadu ke siapapun," terang Parjo.


Mereka semua setuju dengan ucapan Parjo tanpa menunggu lama mereka melenggang pergi begitu saja meninggalkan gadis tersebut.


Alena berjalan tertatih-tatih mengambil pakaian yang di lemparkan oleh Narto, saat ini dia hanya bisa meratapi nasibnya sendiri, dia seperti dipermainkan oleh takdir. Gadis itu meraung-raung dengan keras mengutuk takdir.


"Argh!!!"


"Kenapa harus aku, kenapa tuhan!!"


Alena membanting semua perkakas yang bisa dia banting untuk melampiaskan amarah serta kesedihannya.

__ADS_1


Bayangan wajah para manusia biadab itu berputar-putar di kepalanya membuat gadis itu berteriak-teriak.


Bersambung....


__ADS_2