
"Saya terima nikah dan kawinnya Ningrum Wulandari binti Sulkhan Hady dengan seperangkat alat shalat di bayar tunai."
Terdengar suara mempelai pria sedang mengucapkan kalimat sakral, yang artinya hidup baru mereka menjadi sepasang suami istri telah resmi.
Riuhnya para saksi dan tamu undangan menjawab "sah" di lanjutkan dengan pembacaan doa setelah ijab qabul berlangsung.
"Aku sudah menjadi istrinya, bahagia sekali rasanya. Akhirnya Aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai."
Batin mempelai wanita dengan senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah cantiknya.
Selanjutnya adalah sesi acara sebagaimana mestinya yang terjadi di pernikahan pada umumnya.
Semuanya terlihat berjalan dengan lancar dan juga terpancar wajah kebahagiaan dari setiap orang yang berada disana.
Acara berlangsung kurang lebih dua jam lamanya, hingga akhirnya para tamu undangan menyalami kedua mempelai beserta orang tua mereka yang berarti seluruh rangkaian acara sudah selesai.
Kini kedua mempelai sudah berada di kamar mereka, yang terlihat sangat indah dan menampilkan kesan romantis di malam pertama mereka yang telah sah menjadi suami istri.
"Abang capek ga?" Arum membuka percakapan terlebih dahulu, setelah sekian lama mereka berdua berdiam diri dan duduk di tepi ranjang.
"Hmm, capek dong" Sangat singkat, jelas dan padat jawaban dari suaminya itu.
"Yasudah, Abang mandi duluan aja, biar nanti Arum mandi setelah Abang selesai."
"Iyaa," Hanya itu yang terucap dari bibir suaminya.
Irfan pun berlalu menuju kamar mandi dan melanjutkan ritual mandinya.
"Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi Tuhan," Ucap Arum pelan dan tersenyum tipis.
Karena tidak tahu ingin berbuat apa, Arum pun mencoba untuk membuka gaun pengantinnya terlebih dahulu, agar nanti tinggal langsung mandi saja.
Tetapi sepertinya membuka gaun pengantin tidak semudah yang di bayangkan oleh Arum.
Ia dengan sangat susah payah meraih resleting yang ada di gaun belakangnya, namun usahanya sia-sia saja, tangan mungilnya tidak bisa menggapai resleting tersebut.
Beberapa kali pun Ia mencoba, tetapi tidak bisa meraih resleting gaunnya.
Hingga tiba-tiba ada tangan seseorang yang membantunya untuk membuka resleting gaun miliknya.
Arum terperanjat kaget, namun Ia dengan cepat bisa mengendalikan emosinya karena ingat bahwa sekarang Ia sudah memiliki suami.
"Kalau kesusahan gini, ngomong aja sayang. Jangan di paksa, dasar si mungil," Seru Irfan sambil membantu membuka resleting gaun Arum.
"Hehehe i-iya Bang, lain kali ga gini lagi deh."
Pipi Arum langsung bersemu merah bak kepiting rebus karena malu dan senang dengan perlakuan dari suaminya itu.
__ADS_1
Tapi tidak dengan Irfan, setelah membuka resleting gaun milik Arum. Ia melihat penampakkan yang baru pertama kali di nikmati oleh matanya.
Punggung mulus nan putih tanpa ada goresan sedikitpun, hanya menampilkan sebuah keindahan bagi pemilik mata itu.
Irfan berusaha mengendalikan dirinya, dan menahan rasa karena ada sesuatu yang sempat bersemangat akibat dari pemandangan itu.
Irfan segera memalingkan wajahnya yang terlihat agak memerah setelah melihat itu semua.
"Su-sudah mandi sana, nanti keburu malem. Ga baik mandi malem-malem."
"Iyaa Bang."
Arum pun berlalu pergi meninggalkan Irfan yang masih berusaha mengendalikan dirinya.
"Astaga, apa-apaan ini. Kok bisa aku bereaksi secepat ini," Kesal dan agak bingung dengan dirinya malam ini.
"Untung saja Arum tidak melihat wajahku barusan, huh!"
Irfan pun berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya dengan serta bermain ponsel miliknya.
Tentu saja Ia juga sedang menenangkan 𝘢𝘥𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 miliknya yang sempat bangun.
Sementara di kamar mandi, Arum sedang melakukan ritual mandinya.
Ia juga sedang memikirkan perlakuan dari Irfan padanya tadi, "ternyata kamu bisa sesweet ini ya Bang, hihihi" Arum senang bukan main dengan tindakan dari Irfan padanya tadi.
Dilihatnya sang suami yang telah tertidur dengan begitu lelapnya.
Arum menghampiri Irfan dan memandangi wajah lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya itu.
"Terimakasih ganteng."
Hanya itu yang terucap dari bibir Arum, Ia tersenyum tipis dan berlalu pergi ke ruang ganti.
Tanpa Arum sadari, ternyata Irfan tahu mengenai hal yang di lakukan oleh Arum barusan.
Irfan hanya tersenyum tipis dan melanjutkan tidurnya, karena memang dia sangat kelelahan.
Arum sudah berada di ruang ganti, Ia memandangi wajah serta tubuhnya di depan cermin.
Ia sedang memikirkan sesuatu, "Apakah malam ini hal itu akan terjadi?" Gumamnya masih dengan memandangi seluruh tubuhnya.
"Ahh sudahlah, aku juga sudah sah menjadi istrinya. Apapun yang terjadi, aku harus siap"
Akhirnya Arum memutuskan untuk memakai baju tidur yang agak sedikit terbuka dan menampilkan bentuk tubuhnya.
Arum keluar dari ruang ganti, di lihatnya sang suami yang masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Arum berjalan menuju ranjang dan ikut merebahkan diri di samping suami nya lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Arum sedikit melirik ke arah Irfan namun tak berani menatap lama karena takut sang empunya tersadar akan kelakuannya.
Karena lelah dan mengantuk, Arum pun ikut memejamkan matanya dengan tidur membelakangi suaminya.
Setelah di rasa Arum sudah tertidur pulas, Irfan pun membuka matanya. Yaa ternyata Irfan tidak benar-benar tidur dari tadi, Ia hanya memejamkan mata saja.
Irfan berbalik menghadap ke arah Arum yang sedang tidur namun membelakanginya, cukup lama Ia memandangnya dan entah apa yang ada di dalam pikiran Irfan saat ini.
Arum tiba-tiba membuat pergerakan dan mengakibatkan baju tidur miliknya sedikit terbuka dengan posisi Arum yang terlentang, sehingga menampilkan lagi keindahan lainnya dari tubuh milik Arum.
Irfan yang melihatnya sangat syok, Ia menjadi panas dingin dengan pemandangan itu.
Dan lagi, adik kecil yang susah payah di tenangkan kembali terbangun akibat pemandangan yang sangat nyata itu.
Irfan jadi salah tingkah di buatnya, ingin sekali Ia menerkam Arum sampai habis saat ini juga. Namun egonya sangat besar, Ia gengsi untuk mengakui reaksi dari tubuhnya.
Akhirnya Ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan menuju ke arah balkon.
Suasana malam yang tenang dan semilir angin yang berhembus perlahan-lahan mampu membuat Irfan serta adik kecilnya bisa tenang kembali.
"Jika setiap malam seperti ini, apakah aku bisa melewatinya, huhh!"
Irfan membuang nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Sungguh malam pertama yang sangat aneh bagi sepasang kekasih yang baru saja menjadi suami istri ini.
Satu jam lamanya Irfan berada di luar.
Setelah merasa dingin mulai menyeruak ke dalam tubuhnya, Irfan pun memutuskan untuk masuk kembali kedalam kamar.
Di lihatnya sang istri yang tertidur dengan sangat pulas dan wajah yang sangat polos seperti bayi.
Namun sekarang posisi tidur Arum memang sudah normal dan tidak meresahkan bagi Irfan seperti sebelumnya.
Irfan pun naik keranjang, sebelum tidur Ia sempat mencium kening istrinya.
Dan malam pertama pun berlalu begitu saja.
🫢🫢🤭🤭
Hai hai, Kia mencoba buat novel dengan tema pernikahan.
Semoga kalian suka yaa, karena Kia emang belum ada pengalaman mengenai rumah tangga🫣
Tapi kalau di ajak berumah tangga, Sabi lah yaa awkawkk. Eh enggak Ding canda✌🏻
__ADS_1
Oke cukup sekian papay🤗