
Hari ini Irfan akan bertemu dengan kliennya. Ia mengajak Arum ikut serta agar tidak meninggalkannya sendirian di hotel.
Mereka sudah membuat janji sebelumnya. Kini mereka sedang menuju restoran milik orang tersebut untuk membahas masalah kerjasama.
Sampailah mereka di sebuah restoran bintang lima, restoran yang terkenal dengan masakannya yang sangat spesial. Tidak ada yang bisa menandingi rasa khas dari restoran ini.
Saat memasuki restoran, sudah ada yang menyambut kedatangan Irfan dan Arum. Rupanya orang tersebut sudah membuat persiapan yang sangat matang.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan tempat orang itu sudah menunggu. "Silahkan masuk, Tuan dan Nona. Tuan ku sudah menunggu kedatangan kalian," Ucap orang yang mengantar tadi.
Irfan hanya menjawab dengan anggukan lalu orang tadi pun pamit undur diri.
Irfan hendak memegang handel pintu, namun sudah ada yang membukanya dari dalam. Sontak itu membuat Irfan terkejut begitu juga Arum.
"Mari masuk, Tuan dan Nona," Ada suara yang sangat familiar terdengar di telinga Irfan.
Irfan pun heran, padahal mereka belum masuk namun orang itu sudah mengetahui bahwa ia datang bersama istrinya.
Tak menunggu lama, Irfan masuk ke dalam ruangan itu. Ternyata ada pelayan yang berjaga disana yang memang di tugaskan untuk menyambut tamu spesial bagi tuan nya.
Dan benar saja, orang yang akan bekerjasama dengan Irfan hari ini adalah orang yang sangat di kenalinya.
"Doni. Ternyata itu kamu," Irfan tidak menyangka bahwa kliennya adalah temannya sendiri.
Doni pun tersenyum lalu segera mempersilahkan Irfan dan Arum untuk duduk. Doni memperkenalkan wanita yang sedang bersamanya saat ini yaitu sekertaris di kantornya.
"Oh, iya Fan. Aku juga bekerjasama dengan orang lain selain dirimu. Karena memang saat ini, cabang restoran kami sedang dalam masa kesulitan. Jadi kami butuh lebih banyak pemasok, ya setidaknya untuk menunjang di saat seperti ini," Jelas Doni kepada Irfan dan membuatnya mengerti kenapa semua ini di lakukannya.
"Ehm, aku mengerti Don. Jika aku tidak salah tebak, restoran yang ada di bandara itu juga milik mu bukan?" Irfan mengatakan hal itu yang membuat Doni tertawa mendengarnya.
"Hahaha, benar. Kamu memang tidak salah tebak Fan."
Irfan hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban dari klien sekaligus temannya ini. Doni pun menjelaskan kalau ia tidak mau menyombongkan dirinya. Jadi saat itu, ia sengaja mengatakan kalau ia hanya sebagai karyawan disana. Namun sekarang semuanya sudah terbongkar.
Meraka pun sekarang melakukan kerjasama, jadi tentu Doni sudah lebih tau mengenai bagaimana Irfan dalam pekerjaannya.
__ADS_1
Tak berapa lama orang yang di tunggu oleh Doni pun tiba. Dan yang mengejutkan Irfan dan Arum adalah sosok dari orang tersebut yang ternyata Nadia dan Alfian. Sungguh dunia sangat sempit pikir keduanya.
"Selamat siang Pak Doni. Aku tidak menyangka, Anda juga bekerjasama dengan sepupu tersayang ku ini," Sapa Nadia dan dengan sengaja menyebut Irfan sepupu tersayangnya.
Doni pun terkejut karena tak menyangka kalau Irfan dan Nadia adalah sepupu. Dan ia baru tahu sekarang. Ia pun menyuruh Nadia dan Alfian untuk duduk.
Tak lupa Nadia memperkenalkan Alfian sebagai asisten sekaligus tangan kanannya.
Setelah berbasa-basi, Doni mengajak mereka untuk makan siang terlebih dahulu. Karena sajian makanan pun sudah datang, mau tak mau mereka harus menghargai apa yang sudah di siapkan oleh tuan rumah.
Mereka makan dengan khidmat dan sesekali bercanda. Ya, walau sebenarnya yang banyak mengoceh disini adalah Nadia. Karena ia duduk bersebelahan dengan Irfan, jadi ia sengaja berusaha menarik perhatian Irfan padanya.
Kadang kala ia akan mengambilkan sesuatu untuk di makan oleh Irfan. Irfan hanya bisa tersenyum paksa mendapat perlakuan seperti itu. Sementara Arum diam saja, ia makan dengan tenang. Namun siapa yang tahu, apa yang sebenarnya Arum rasakan saat ini.
Lala, sekertaris Doni, ia memperhatikan semuanya dan hanya tersenyum kecut melihat drama antar pria dan wanita yang berkedok sepupu ini.
Ia juga merasa kasihan terhadap Arum. Arum yang di tatap Lala dengan tatapan seperti itu pun hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah beberapa waktu berlalu, melalui drama ikan terbang. Makan siang pun telah selesai. Kini mereka akan membahas masalah kerjasama.
Doni menyerahkan beberapa berkas kepada Irfan dan Nadia. Setelah melalui beberapa kesepakatan, akhirnya mereka telah resmi menjalin hubungan kerjasama.
Melalui tanda tangan kontrak kerja, yang artinya jika salah satu pihak ada yang melanggar peraturan yang ada, maka ia harus siap menanggung akibat dari perbuatannya.
Tiba-tiba saja Arum pamitan untuk pergi ke toilet, mendengar itu Lala ingin ikut menunjukkan sekalian menemani Arum. Namun Arum menolak dan mengatakan ia bisa sendiri. Akhirnya Lala pun mengurungkan niatnya.
Beberapa saat setelah kepergian Arum, Nadia pun mengatakan ingin pergi ke toilet. Akhirnya hanya tersisa Lala seorang wanita yang berada di ruangan itu.
Karena merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia ingin ikut menyusul ke toilet namun Doni melarangnya. Lala pun kembali mengurungkan niatnya. Ia akhirnya ikut saja dalam pembicaraan para pria.
Di toilet, Arum yang baru saja keluar terkejut melihat Nadia yang rupanya memang sengaja menunggu Arum keluar.
"Ada apa?" Ucap Arum to the point.
"Kau cukup pintar. Sepertinya kau tahu apa niat ku yang sebenarnya bukan?" Nadia memegang dagu Arum namun segera di tepis olehnya.
__ADS_1
"Lalu kenapa? Kau pikir aku selemah itu? Silahkan saja, jika kau mampu!" Arum tersenyum sinis menanggapi ucapan Nadia. Ia tidak takut sama sekali.
"Hahaha. Lawan yang sepadan. Aku suka itu, menantang!" Nadia tertawa keras.
"Sudah selesai menghalunya, Nona?" Seru Arum dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Nadia yang mendapat perlakuan seperti itu pun menjadi naik pitam.
Nadia mengangkat tangan kanannya, hendak melayangkan sebuah tamparan pada Arum. Namun belum sempat tangan itu mendarat, ada sebuah tangan yang menghalangi.
"Jangan berani macam-macam dan berulah disini. Ini tempat ku, bukan tempat mu yang bisa berlaku seenaknya saja. Dasar pembuat ulah!"
"Kau! Beraninya kau, yang hanya seorang sekertaris berbicara seperti itu padaku!" Emosi Nadia sudah sampai di ubun-ubun.
"Lala, terimakasih. Sebenarnya aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, tapi yaa kamu datang cepat juga hehe," Ucap Arum masih bisa tertawa di situasi seperti ini.
"Kalian berdua sama saja! Wanita yang tidak tahu malu!" Ucap kembali Nadia.
Plakkk...
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Nadia. Lala sangat terkejut melihat pemandangan itu.
"Sudah cukup! Kau terlalu banyak mengoceh dari tadi. Dengarkan ini. Irfan adalah milik ku. Ingat, DIA MILIK KU! Meskipun hubungan kami terlihat biasa saja dan tidak se harmonis kebanyakan orang di luaran sana, tapi aku adalah istrinya. Tidak ada seorang pun yang bisa merebutnya dari ku. Jika kau mampu, coba saja! Maka akan ku pastikan, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kau inginkan. Camkan itu! Ayo Lala, kita pergi dari sini."
Arum menarik tangan Lala untuk segera keluar, sementara Lala masih shock dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tidak menyangka jika Arum tidak selemah yang di pikirannya.
Nadia sudah sangat kesal dengan semua ini. Ia berteriak frustasi, "DASAR WANITA JAL*NG."
Ia pun menjadi sangat marah, ia sudah bertekad kuat untuk segera merebut Irfan dari Arum sebelum mereka menjalin hubungan lebih jauh lagi.
Aduhh, pelakor yang terdzolimi ini mahh🤭
Arum juga kayaknya berbeda dari biasanya yaa, apa karena hormon PMS nya ia jadi gitu🤔
Ehm iya bener sih, kepanjangan lain dari PMS itu kan [Perempuan Menjadi Singa] nah jadi jangan coba macam² sama cewek yang lagi PMS kalau kalian ga mau di terkam... Rawrr 🦁🤣
__ADS_1