
Irfan memang jarang meluangkan waktunya untuk Arum, namun yang tidak di ketahui Arum adalah Irfan diam-diam menyuruh bodyguardnya untuk melindungi Arum dari jauh.
Tak ada yg tahu, hanya Hans seorang yang tahu mengenai hal itu.
"Yasudah, nanti gimana kamu aja deh Fan"
"Udah selesai nih?"
"Udah, pulang sono kelonin tuh bini, masih jam segini paling belum tidur dia."
"Elah males banget, main aja yok!"
"Astaga! Ikut aja deh apa kata pak bos."
Mereka pun bermain game online yang sedang marak-maraknya di kalangan anak muda sekarang. Bukan hanya anak muda, para bocil dan orang tua pun tak mau kalah.
Mobile Legend, game yang membuat orang tercandu-candu di buatnya.
Setelah login mereka memutuskan untuk bermain dalam mode rank, ada salah satu wanita di dalam tim mereka yang merupakan orang yang mereka kenali di dunia nyata, namun tidak di dunia game.
"Hans pake Layla ni cewek njir, paling beban nanti!"
"Heleh, palingan juga kamu yang beban Fan!"
Mereka pun memilih hero masing-masing untuk di gunakan saat push nanti.
Sementara di tempat lain.
"Ehhh, ini kan Abang! Huhuu aku satu tim sama dia!"
"Abang? Irfan maksud kamu?"
"Iya loh kak, semoga dia ga ngenalin aku hahahah."
Mereka adalah Arum dan kakaknya, mereka juga pemain mobile legend. Sebenarnya sudah lama mereka tidak main, hanya karena bosan akhirnya mereka memutuskan untuk login kembali.
Saat ini mereka sedang mabar dan melakukan panggilan telfon, jadi bisa lancar berkomunikasi tanpa harus on mic di dalam game.
Arum memilih hero andalannya, Layla. Mitha, kakaknya, memakai hero Esmeralda. Sementara itu di sisi lain Irfan pakai Zilong dan Hans, Gusion.
Satu tim terdiri dari lima orang, teman mereka lainnya memakai hero Wanwan. Selesai semua memilih hero, meraka langsung masuk ke dalam game.
Menit awal permainan, Layla sudah mati lima kali dan kill nol. Begitupun dengan Esmeralda.
"Tuh kan, beban si Layla ini Hans!" Irfan berkata dengan kesalnya.
__ADS_1
"Sama aja nih, si Esmeralda." Hans menimpali.
Mereka berdua masing-masing sudah mendapat kill enam dan mati satu kali.
Irfan yang sudah kesal, Ia pun typing di dalam game "Huuu, Layla sama Esmeralda beban!"
Hans hanya geleng kepala melihat kelakuan temannya itu.
"Wahh kakak, ngeremehin si Abang nih! Yuk gass lah, kita ratakan!"
Arum pun tersulut emosi, semangatnya untuk menunjukkan skill miliknya pun semakin menggebu.
"Baiklah, mari kita tunjukkan siapa kita dek!" Jawab Mitha dengan senyum smirk.
Mereka berdua mengambil jalur tengah yang kebetulan ada tiga lawan sedang menghancurkan turet.
Dua musuh langsung tumbang, satu lagi sudah sekarat dan ingin kabur, namun segera di berikan ulti oleh Layla.
Lanjut mereka ke jalur atas, ada Zilong dan Gusion yang sedang melawan musuh. Esmeralda dan Layla langsung saja ikut menyerang dan lagi mereka mendapat tambahan kill.
Sementara teman mereka yang satu lagi sedang push di jalur bawah, aman tanpa gangguan.
Permainan terus berlanjut, detik berikutnya semakin panas. Mereka mulai bermain serius dan saling memperebutkan kill.
Tak hanya kill, mereka juga berusaha mempertahankan base dan melumpuhkan musuhnya.
Dengan hasil akhir, skor tim Irfan tujuh puluh lima dan skor lawan dua puluh lima.
"Wehh gila! Salah orang kamu Fan!" Ujar Hans dengan hebohnya.
"Udah diem kamu! Btw siapa mereka yaa, Haruka dan Miyabi. Kayak player old gitu ga sih Hans."
"Entahlah, jangan lupa di follow Fan."
"Dah beres itu, nanti coba kita ajak ngobrol."
"Njir ni anak, inget istri cuyy!"
"Yaelah, cuman game gini Hans, otak lu emang rada-rada yaa!"
Di tempat lain.
Terlihat Arum dan Mitha yang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membungkam Irfan yang memang agak meremehkan teman setimnya.
"Hahaha kapok kan suami kamu itu Dek, main-main aja sama kita. Ga tau dia udah salah orang!"
__ADS_1
"Hihihi iya Kak, penasaran sama ekspresi kesalnya," Arum hanya terkekeh memikirkan reaksi dari suaminya itu.
"Ehh, eh! Kita di follow Dek. Follback ga nih."
"Follback aja deh, mungkin mereka penasaran sama kita Kak, wkwkwkw."
Mereka berempat pun sudah saling follow akun game, yang para pria tidak mengetahui siapa sebenarnya pemilik akun yang mereka follow itu. ðŸ¤
Di belahan bumi yang lain.
"Hahahaha! Kan, kakak udah salah orang. Udah kebiasaan dia tuh buat ngeremehin temen satu tim, akhirnya apa? Liat kan hasilnya."
Nisa sedang menertawakan kakaknya dengan begitu bahagia, Ia dapat membayangkan bagaimana ekspresi wajah dari sang kakak yang kesal.
"Kamu kenapa Nisa? Ga biasanya seperti ini," Tanya Akbar yang muncul entah dari mana, karena sekarang Ia sudah berdiri di samping Nisa.
"Ini loh Bar, aku login ML, eh malah ketemu sama empat orang yang ku kenal," Ujar Nisa menjelaskan.
"Emangnya siapa aja itu Nis?" Akbar pun duduk di sofa di hadapan Nisa untuk menyimak.
Nisa berusaha mengontrol dirinya yang masih saja tertawa sebab pertandingan tadi.
"Jadi gini Bar, kamu tahu kan kalau kakak tuh suka ngeremehin orang kalo di game. Nah tadi ini kebetulan aku dan kakak di tim yang sama," Nisa menjeda kalimatnya.
"Iyaa, terus?"
"Nah tiga orang lainnya itu, biasalah si kak Hans yang satunya. Terus yang dua lagi tuh kakak ipar sama kakak online nya."
"Hah? Kok kamu bisa tau itu dia? Dan si kakak siapa? Kakak online?" Akbar agak terkejut mendengar penuturan dari Nisa.
"Iyaa Akbar. Kamu lupa siapa aku? Aku kan bisa jadi hacker juga!" Ujar Nisa dengan bangganya.
"Astaga Nisa, kamu nih yaa, bisa-bisanya," Akbar hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Nisa.
"Ohh iya Bar, dari foto kakak ipar, ku liat dia mirip seseorang. Tapi aku lupa siapa orang itu."
"Seseorang? Siapa? Ga usah ngadi-ngadi lagi deh kamu Nisa!"
"Beneran loh, coba aku inget lagi yaa. Dia itu kayak ... kayak ... ahhh sshh!" Nisa tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba saja Ia menjerit kesakitan dan memegangi kepalanya.
Akbar yang kaget pun segera memanggil salah satu maid disana dan memintanya untuk memanggil dokter yang biasanya memeriksa Nisa.
Akbar menggendong Nisa dan membawanya masuk ke kamar lalu merebahkan Nisa dengan perlahan, tak lupa untuk menyelimutinya.
"Kamu kenapa lagi Nisa? Setelah sekian lama, kamu kembali kambuh. Apa ini ada hubungannya dengan Arum dan teman mu dulu? Tapi, apa hubungan Arum dan Lidia? Sepertinya memang harus kembali menyelidiki sesuatu."
__ADS_1
Akbar duduk di tepi ranjang lalu menguhungi seseorang, Ia memberikan beberapa pekerjaan untuk orang kepercayaannya.
Setelah selesai menutup telepon, terdengar suara pintu di ketuk, rupanya sang dokter telah tiba.