
Di belahan bumi yang lain.
Meski mereka tidak tinggal di Bandung, tapi mereka selalu saja mendapat kabar terbaru mengenai apapun yang terjadi disana. Apalagi yang menyangkut keluarga Wijaya, mereka tak pernah ketinggalan berita sekecil apapun itu.
Termasuk pesta kejutan saat ini, yang sudah di redam beritanya pun mereka dapat informasinya.
"Jadi, apa rencana mu selanjutnya Nisa?"
"Sudah saatnya kita pulang Bar. Lagipula, aku sudah cukup pulih. Dokter juga bilang aku sudah boleh melihat dunia luar kan. Kau tahu, aku sudah bosan terkurung terus di rumah ini. No, bukan rumah. Tapi penjara bagi ku. Apa kau mengerti bagaimana perasaan ku selama ini Bar? Lantas aku bisa apa? Ini semua juga demi kebaikan ku. Aku pun sudah berjanji pada diriku sendiri, agar bisa cepat pulih dan bisa berkumpul kembali bersama mereka. Ini waktu yang tepat Bar. Mari kita kembali ke tanah air," Nisa meneteskan air matanya saat mengatakan itu semua.
Akbar menghapus air mata yang menetes di pipi gadis cantik ini.
"Kamu wanita yang hebat, Nisa. Aku salut padamu. Karena sudah waktunya, jadi mari kita kembali," Akbar tersenyum dan menerima keputusan Nisa.
Nisa juga ikut tersenyum mendengar itu semua. Tanpa sadar, ia memeluk Akbar sebagai ucapan terimakasih darinya.
Akbar tertegun, ini pertama kalinya Nisa memeluk dirinya. Ia pun membalas pelukan Nisa.
"Terimakasih banyak, Bar. Kamu juga pria yang hebat. Selama ini, kamu yang selalu ada untuk ku. Kamu juga mengorbankan semuanya. Aku pun merasakan kasih sayang seorang kakak dari mu," Ucap Nisa pada Akbar.
"Kakak?" Akbar berkata dalam hati. Ia hanya bisa tersenyum kecut.
"Hanya untuk mu, Nisa ku," Jawab Akbar dengan senyum paksa.
Akbar melerai pelukannya, "Baiklah. Mari kita bersiap. Waktu kita tidak banyak," setelah mengatakan itu, Akbar mengusap pucuk kepala Nisa dan berlalu pergi.
Nisa yang melihat kepergian Akbar hanya bisa tersenyum getir.
"Aku tau tentang perasaan mu padaku, Bar. Tapi aku belum siap. Aku tidak ingin menyakiti orang lain lagi, setelah aku menyakiti keluarga ku. Ku harap, kamu bisa mengerti," Gumam Nisa yang kemudian kembali ke kamarnya untuk mengemasi semua barang miliknya.
***
Tiga hari kemudian.
Irfan dan Arum sudah kembali ke Bandung. Mereka baru saja tiba di bandara, sudah ada Hans yang menunggu kedatangan mereka.
Sepanjang perjalanan pulang, Irfan bertanya mengenai situasi disini selama ia pergi. Hans menjawab semuanya dengan tenang.
Irfan tidak curiga sama sekali, karena memang Hans sangat pandai dalam berakting. Namun, bukan Irfan namanya jika ia begitu mudah untuk di kelabui.
__ADS_1
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dari ku Hans?" Tanya Irfan penuh selidik dan menyipitkan matanya ketika melihat ke arah Hans.
"Kamu Nanya? Kamu bertanya-tanya??" Jawaban dari Hans yang membuat Irfan melotot tak percaya.
"Pffttt. Hahahaha," Arum yang sedari tadi diam dan menyimak pembicaraan Irfan dan Hans akhirnya jadi tertawa terbahak-bahak mendengar itu.
"ASTAGA!!!" Irfan berteriak frustasi.
Bagaimana tidak, sudah di buat kesal oleh Hans. Di tambah lagi istrinya yang malah ikut-ikutan menertawakan dirinya.
Irfan pun menendang kursi depan dengan kakinya sekuat tenaga. Hans hanya bisa pasrah dan meminta maaf pada tuannya itu karena kelakuannya yang begitu tydak manuk akal.
Arum pun sama, ia merasa berdosa sudah menertawakan suaminya. Ia berusaha meminta maaf namun hanya jawaban "Hmm" yang Arum dapatkan dari suaminya.
Akhirnya suasana kembali hening dan mencekam. Hans fokus menyetir. Irfan sibuk memainkan laptopnya, entah apa yang sedang di kerjakan olehnya.
Sementara Arum, Ia sudah lelah juga meminta maaf. Karena Irfan ngambek dan tidak memberinya ampun. Akhirnya Arum memilih diam dan menatap keluar jendela.
Saat memasuki mansion, Arum menjadi sangat shock dan melongo tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Mansion berubah seratus sembilan puluh derajat. Bukan seperti mansion, tapi lebih mirip istana kerajaan yang ada di dunia peri.
Dari depan, samping, belakang, tak terkecuali rumah mereka, seluruh mansion berubah total.
"Ada ap-aa..." Irfan tak melanjutkan ucapannya, Ia juga shock saat melihat ke arah depan, mansion yang telah berubah.
Hans hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat ekspresi keterkejutan dari pasangan suami istri ini.
"A-apa yang terjadi disini Hans?" Tanya Irfan dengan terbata-bata.
"Sebentar lagi sampai. Nanti juga kamu akan tau, Fan," Hanya itu jawaban Hans.
Akhirnya mobil berhenti di depan rumah utama. Di luar sangat sepi, tidak ada siapapun. Bahkan para maid pun tidak ada yang nampak batang hidungnya.
Namun suara dari dalam rumah sangat ramai. Banyak yang sedang bercengkrama dan menanti kedatangan pasangan suami istri ini.
Tak ingin berlama-lama penasaran, Irfan segera mengajak Arum untuk masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum," Ucap mereka berdua ketika memasuki rumah.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," Jawab semua orang yang ada di dalam.
Irfan dan Arum tidak percaya siapa yang mereka lihat. Terlebih Arum, ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi ketika melihat ada kedua orang tuanya disana.
"Mama, Papa!" Arum berlari menghampiri kedua orang tuanya dan langsung saja mencium punggung tangan mereka.
Arum segera memeluk mamanya, ia sudah sangat merindukan sang mama.
"Hey, kamu ini. Sudah punya suami masih saja seperti ini," Canda sang mama seraya mengusap punggung anak cantiknya.
"Namanya juga anak perempuan, Mbak. Ya begitulah. Kita juga sama aja kan, dulu ya begini juga," Mama Gita menimpali ucapan mama Leni.
Akhirnya semua orang yang ada disana tertawa di buatnya.
Irfan pun menyalami semua orang. Ia lalu duduk di samping Hans. Tak mengatakan apapun, ia hanya memukul lengan Hans. Sementara Hans hanya tertawa sebagai balasan.
"Sudah-sudah. Bangun, ayo duduk sini. Ga malu tuh sama suami kamu, sayang," Ledek mama Leni pada Arum yang masih betah berada di pelukan sang mama.
Arum pun menuruti sang mama, ia melerai pelukannya dan duduk di samping mamanya.
"Sebenarnya ada apa ini, Mah, Pah?" Tanya Irfan yang sudah tak sabaran.
"Ini adalah kejutan dari kami untuk kalian berdua. Besok adalah acara resepsi pernikahan kalian." - papa Fadel.
"Iya benar, sayang. Kami sengaja merahasiakan ini dari kalian. Bahkan berita yang sudah tersebar luas, berusaha kami tekan agar tidak bocor kemanapun." - mama Gita.
"Pantas saja aku tidak tau apa-apa, ternyata begitu." - Irfan.
"Apa kamu keberatan, nak Irfan?" - papa Sul.
"Ahh, tentu saja tidak, Pah. Irfan malah senang mendapat kejutan sebesar ini. Irfan tak menyangka, kalian semua sampai membuat acara semewah ini."
"Yaa bisa dong, Kak. Ini kan buat kakak tersayang," Fira yang sedari tadi diam menjawab ucapan Irfan.
"Dasar kamu. Udah ada yang di samping, masih aja manja. Ga malu apa?!" Ledek Irfan pada Fira sambil menunjuk Rio yang ada di samping Fira dengan matanya.
"Ihh, apaan sih, Kak!" Fira mendengus kesal, padahal ia tersipu malu mendengar jawaban kakaknya.
"Sudah-sudah. Kalian baru saja tiba, sebaiknya istirahat dan pulihkan tenaga kalian untuk besok. Masih ada waktu lagi nanti untuk mengobrol. Besok adalah hari yang penting untuk kalian berdua dan untuk kita semua juga. Jadi mari beristirahat saja. Arum, nanti lagi yaa temu kangen nya. Masih ada hari esok sayang."
__ADS_1
Karena sang ibu negara sudah memberi titah, semua orang dengan patuh menjalankan perintahnya. Karena memang benar semua apa yang di katakan oleh beliau.
Akhirnya semua orang beristirahat dan menyiapkan diri untuk acara besok.