
Arum dan Irfan sudah tiba di Bali. Kini mereka menaiki sebuah taksi untuk menuju ke arah hotel milik keluarga Wijaya.
Sesampainya di hotel, para karyawan pun terkejut melihat tamu besar alias bos mereka yang datang secara tiba-tiba.
Mereka pun menyambut dengan ramah sekaligus bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah wanita yang sedang bersama dengan bos ini. Untuk pertama kalinya bos membawa wanita bukan Hans!
Seseorang datang entah dari mana dengan tergesa-gesa menuju ke arah Irfan dan Arum. Ia langsung saja menyambut kedatangan Tuan Muda nya itu.
"Selamat datang Tuan Muda dan Nona Muda," Ucapnya seraya membungkukkan badan.
Para karyawan yang ada disana pun terkejut mendengar panggilan "nona muda" dari orang ini. Akhirnya mereka mengerti siapa yang sedang bersama bos mereka ini.
"Selamat datang Nona Muda," Seru mereka kembali, karena merasa bersalah tidak dapat mengenali Nona muda nya.
"Ahh, tidak apa-apa. Wajar kalian tidak mengenaliku." Jawab Arum dengan tersenyum manis kepada para karyawan ini.
Para karyawan pun merasa seperti ada hujan yang mengguyur bumi di kala panasnya terik matahari. Sangat menyejukkan!
Salah satu karyawan yang berada disana pun bersuara "Ehm, Manager... Bagaimana biar saya saja yang mengantar Tuan dan Nona Muda?" Ucapnya kepada seorang pria yang baru saja datang tadi yang ternyata dia adalah manager di hotel ini.
"Tidak perlu. Biar aku saja," Jawab manager dengan cepat.
"Kalian semua lanjutkan pekerjaan kalian. Lihat Tuan dan Nona Muda, jangan membuat ku malu!" Sambung sang manager dengan tegas.
"Baik!" Jawab seluruh karyawan yang ada disana. Mereka pun kembali pada aktivitas masing-masing.
"Maafkan para karyawan ini Tuan dan Nona. Sungguh membuat ku malu," Seru manager dengan sangat merasa bersalah.
"Sudahlah, Arman. Lagipula kedatangan kami ini mendadak, tentu saja mereka terkejut seperti tadi," Jelas Irfan seraya menepuk pundak Arman.
"Baiklah, Tuan Muda. Mari saya antarkan ke kamar kalian," Arman membawa Irfan dan Arum menuju lantai paling atas hotel ini.
Kamar ini di desain dengan sangat romantis. Ranjang king size, banyak bunga yang bertebaran dengan wangi semerbak mawar yang menggoda indra penciuman.
Irfan yang melihat ini semua sangat terkejut, Ia pun tahu siapa dalang dari ini semua. Rupanya sang mama sengaja menyiapkan kamar yang di desain untuk pasangan yang sedang berbulan madu.
Arum pun sama, Ia tak menyangka jika sang mama sudah sangat mantap dalam mempersiapkan semuanya.
Setelah menunjukkan kamar, Arman pun pamit untuk kembali bekerja.
Irfan dan Arum memasuki kamar. Arum yang melihat pemandangan kamar itu pun menjadi tak karuan perasaannya.
__ADS_1
"Dek, mau mandi ga?" Irfan bertanya dan itu menyadarkan Arum dari lamunannya.
"Iya Bang. Abang mandi aja duluan, nanti Arum belakangan."
"Yakin?" Tanya kembali Irfan seraya tersenyum smirk.
"Iyaaa, Abang duluan aja," Arum menjawab tanpa curiga sama sekali. Sementara Ia tak memperhatikan raut wajah Irfan karena sibuk melihat pemandangan kamar.
"Yakin ga mau mandi bareng?" Tanya kembali Irfan.
"Engga Abang."
"Ehhh!" Arum pun tersadar dengan pertanyaan Irfan barusan, Ia lalu melihat di mana Irfan berdiri tadi namun rupanya Irfan sudah tidak disana, Ia sudah melarikan diri ke kamar mandi setelah menggoda istrinya.
Arum pun tidak menyangka, entah sejak kapan Irfan berubah seratus sembilan puluh derajat. Tidak seperti biasanya.
Sementara Irfan di kamar mandi cekikikan karena telah berhasil dalam langkah pertamanya.
(Ekhem, langkah pertama apa nihhh 🤫)
Malam harinya. Irfan dan Arum sedang makan malam di restoran yang ada di hotel. Karena masih lumayan lelah, jadi mereka hanya beristirahat dan belum kemana-mana.
Saat sedang asik menyantap makanan, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Irfan. Sontak saja itu membuat mereka berhenti dan menoleh ke asal suara.
"Hai Fan. Apa kabar? Lama tidak berjumpa." Sapa wanita itu lalu langsung saja Ia dengan tidak tahu malunya bergelayut manja di lengan Irfan.
Irfan dan Arum yang melihat itu sangat terkejut dengan apa yang dilakukannya.
Sementara pria yang bersama dengan wanita ini hanya menggelengkan kepalanya.
"Nadia! Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku!" Seru Irfan lalu melepaskan Nadia dari dirinya.
"Aduh Irfan. Sakit tau. Aku kan cuman kangen saja, sudah lama loh sejak terakhir kali kita bertemu. Kalau ga salah waktu masih sekolah dulu deh." Jawab wanita yang ternyata adalah Nadia.
"Ya aku tahu. Tapi meski begitu, ini di depan umum dan sangat tidak sopan. Lagipula disini juga ada istri ku," Irfan menatap Arum yang hanya makan dengan tenang.
"Ah! Istri! Kenapa ga bilang-bilang sih kamu Fan. Masa sepupu sendiri ga di undang!"
"Bukan begitu. Memang belum banyak yang tahu tentang pernikahan kami ini. Karena aku pun masih sibuk dengan pekerjaan di kantor yang sudah menumpuk."
Arum hanya makan dengan tenang, padahal telinganya Ia pasang dengan tajam dan menyimak percakapan kedua orang ini.
__ADS_1
Nadia berada disini karena ada urusan pekerjaan juga, tentu saja pria yang bersamanya adalah Alfian. Pria yang waktu itu menghabiskan malam bersamanya.
Setelah beberapa saat berbincang, Nadia pun pamit untuk beristirahat. Ia mengatakan tidak mau mengganggu pasangan pengantin baru ini.
Namanya wanita, tentu saja Ia tahu apa yang sedang di pikirkan oleh wanita lainnya. Apalagi menyangkut pasangan mereka. Dalam artian hubungannya akan terancam.
Arum memperhatikan gerak-gerik dari Nadia dan melihat bagaimana tatapan Nadia pada suaminya. Ia pun bergumam "Tidak tahu malu!" Namun masih dapat di dengar oleh ketiga orang tersebut.
"Kenapa Dek?" Tanya Irfan yang memang tidak peka.
"Gapapa Bang. Arum cuman ngantuk aja hehehe," Arum beralasan lain.
"Baiklah kalau gitu, kami duluan yaa Fan. Bye Arum," Nadia pun langsung pergi dari sana. Arum hanya membalas dengan senyuman.
"Mau istirahat lagi Dek?" Tanya Irfan yang melihat raut wajah Arum yang berbeda dari sebelumnya, setelah kepergian Nadia.
"Ehm, mau jalan-jalan aja boleh ga Bang? Kan masih jam segini, bisa keliling deket-deket sini aja hehe."
"Yaudah boleh deh. Udah selesai makannya kan? Yuk kita keliling aja."
"Abang ga makan lagi? Kan makanannya masih ada, baru dimakan sedikit pun."
"Udah kenyang Abang, Dek. Gapapa, yuk jalan," Irfan segera bangkit dari duduknya lalu Arum pun mengikuti kemana Ia akan di bawa oleh sang suami tercinta.
Setelah Irfan dan Arum keluar dari restoran, terlihat di sudut ruangan ada yang memperhatikan mereka.
"Ini baru permulaan. Tunggu saja kejutan selanjutnya," Ucap seorang wanita dengan tersenyum smirk.
"Sepertinya wanita itu tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan Nad!"
"Ya, kau benar Al. Aku melihat itu dari tatapan matanya ketika melihat ku. Lawan yang sepadan! Tapi bukan Nadia namanya, jika tidak bisa menyingkirkan seseorang yang menghalangi jalan ku!"
"Baiklah. Setelah ini apalagi?"
"Biarkan mereka berbahagia dulu, nanti akan ada waktunya mereka bersedih. Sekarang, mari kita juga bersenang-senang sayang," Nadia pun bergelayut pada lengan Alfian seraya mengelus dada milik prianya itu.
"Of course, honey," Langsung paham apa yang di maksud bersenang-senang oleh Nadia.
Mereka pun meninggalkan restoran menuju ke kamar mereka.
---
__ADS_1
Ehm, sepertinya pelakor mulai merajalele ygy 👀 ehh merajalela maksudnya 🤫
Belum juga harmonis rumah tangganya, udah ada aja orang yang syirik😌☝🏼