Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Gagal Lagi


__ADS_3

Sinar rembulan menyinari bumi. Malam yang cerah, seindah suasana hati sepasang pengantin baru ini.


Mereka berjalan beriringan di bawah langit yang cerah dengan bulan yang bersinar terang serta banyaknya bintang-bintang yang berkelipan.


Seolah langit mengatakan bahwa, malam ini adalah malam milik mereka berdua. Hanya mereka yang bisa menikmatinya. Inilah saat yang tepat untuk menjalin kasih yang belum teruraikan.


Hotel tempat mereka menginap, tidak jauh dari sana terdapat sebuah taman. Irfan mengajak Arum untuk kesana, dengan menyusuri jalan setapak.


Arum hanya mengekori di belakang sang suami, namun Irfan memperlambat langkahnya sampai kini Arum berjalan di sampingnya.


"Istri itu harusnya berada di samping suaminya, bukan di belakangnya," Irfan membuka percakapan.


"Ehh, i-iya Bang," Arum pun tersentuh mendengar penuturan dari suaminya itu.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di taman yang mereka tuju.


Taman bunga. Penuh dengan berbagai macam bunga yang bermekaran disana. Dengan sinar lampu yang remang-remang, menambah kesan romantis bagi para pasangan yang berada disana ketika malam hari.


Mereka kembali berkeliling, melihat berbagai bunga yang tersedia untuk di pandang.


Sampai di sebuah kursi, Irfan mengajak Arum untuk duduk disana. Kebetulan dekat kursi itu ada bunga mawar, jadi harumnya bunga mawar itu mengingatkan mereka akan kamar yang sudah di siapkan oleh sang mama.


Irfan pun mengatakan ingin pergi ke toilet yang ada di sudut taman dan menyuruh Arum untuk tidak kemana-mana selama Ia pergi. Arum pun mengangguk tanda mengerti.


Seperginya Irfan, Arum membuka ponselnya, bukan untuk melihat sosial media miliknya. Melainkan ingin mengabadikan kenangan dirinya selama berada di sini.


Ia mengambil beberapa pose dan tak lupa dengan bunga-bunga indah yang ada di taman itu.


Sepuluh menit kemudian, Irfan kembali menghampiri Arum. Ia langsung berlutut di depannya, sontak Arum terkejut dan hampir menjatuhkan ponsel dari tangannya. Untung saja Irfan dengan sigap menangkapnya.


"Abang ngapain? Bangun ihh, ga enak tau diliat."


"Bentar."


Irfan mengeluarkan sesuatu yang di pegangnya, Ia sembunyikan sejak tadi di belakang punggungnya.


Sebuket bunga dengan berbagai macam bunga yang tersusun rapi dan sangat manis saat di lihat.


"Untuk mu, istriku," Irfan memberikan buket bunga itu pada Arum, tak lupa Ia mengambil gambar saat menyerahkannya.


"Ehm, foto yuk Bang," Ucap Arum pelan.


"Boleh. Yukk!"


Akhirnya mereka bisa mengambil foto romantis setelah sekian lama bersama. Tak ingin menyiakan kesempatan, Arum mengambil banyak sekali foto dengan gaya dan pose yang bermacam-macam.

__ADS_1


Namanya juga selebgram, tau lah yaa gimana cara foto yang sangat aesthetic. Namun suaminya emang agak kaku jika soal foto.


(Bukan soal foto aja sih, emang Irfan kaku dalam segala halπŸ‘€)


Setelah puas berfoto ria, sepertinya tenaga mereka sudah terkuras habis akibat terlalu banyak berganti gaya. Jadi mereka memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat.


Entah kena angin apa, di perjalanan kembali ke hotel ini, mereka berdua berjalan beriringan sambil berpegangan tangan. Sungguh dunia serasa milik berdua.


Mereka tidak memperdulikan semua mata yang memperhatikan. Meski tidak berbicara satu sama lain, namun bisa di lihat raut wajah bahagia yang terpancar dari keduanya.


Kasih sayang dapat di tunjukkan bukan hanya melalui ucapan saja, namun kita bisa melihat dari bagaimana kita di perlakukan dan bagaimana Ia menjadikan kita sebagai ratu di dalam hidupnya.


Di pintu masuk hotel, satpam yang melihat kedatangan tuan muda nya dan sang istri yang entah datang dari mana dan saling berpegangan tangan.


"Shift malam?" Tanya Irfan yang sudah berada di depan pintu masuk.


"Iya Tuan, baru saja beberapa menit yang lalu kami berganti," Jawabnya.


Irfan mengambil sesuatu dari kantung celananya lalu menyerahkan beberapa lembar uang seratusan pada satpam itu. "Untukmu. Semangat ya!" Hanya itu yang di ucapkan.


Irfan kembali menggandeng tangan sang istri dan berlalu masuk meninggalkan satpam yang melongo tak percaya.


Setelah tersadar, Ia membungguk sebagai tanda hormatnya kepada Irfan seraya mengucapkan banyak terimakasih meski Irfan sudah jauh dan tak merespon ucapannya.


Arum yang menyaksikan itu merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Irfan. Meski terkenal cuek dan dingin, namun Ia masih punya rasa peduli terhadap orang di sekitarnya.


Sungguh manusia, lupa bahwa di atas langit masih ada langit.


πŸ’πŸ’πŸ’


Sesampainya di kamar, Irfan masih nyaman menggandeng tangan istrinya. Arum pun begitu, tak ada yang mau saling melepaskan.


"Dek..." Irfan menatap wajah Arum.


"Iyaa..." Jawab Arum dengan lembut.


Mata mereka bertemu dan saling menatap. Waktu terasa berhenti berputar. Detak jantung pun menjadi berdegup kencang. Perasaan mulai tak karuan.


Hawa di sekitar ruangan pun menjadi panas. Padahal ini sudah malam, di tambah lagi ada AC yang menyala. Dinginnya pun kalah oleh suasana yang terjadi sekarang ini.


"Udah siap?" Tanya Irfan lembut namun suaranya terdengar berat di telinga Arum.


Arum pun merinding di buatnya. Di lihatnya raut wajah sang suami yang sudah berubah, sangat berbeda dari sebelumnya.


"Si-siap apa Bang?" Arum pun menjadi panik seketika, Ia gugup. Irfan merasakan hawa dingin dari tangan Arum yang masih di genggam olehnya.

__ADS_1


Irfan tersenyum smirk, Ia pun berbisik di telinga istrinya, "Abang mau kamu, malam ini."


Setelah mengatakan itu, Irfan berlalu masuk ke kamar mandi, meninggalkan Arum yang masih shock dengan apa yang baru saja di katakan oleh suaminya.


"A-apa ini nyata? Ya Allah, mungkin ini waktunya bagi ku. Hamba sudah siap dalam menjalankan ibadah mu Ya Allah."


Siap tidak siap, ketika kita sudah menikah, maka harus siap untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri.


Arum pasrah dan ikhlas jika memang ini saatnya. Ia juga tak perlu repot dengan cara yang mama Gita berikan. Tapi, masih ada beberapa pelajaran yang berguna juga pikirnya.


Arum duduk di ranjang sambil menunggu sang suami selesai mandi. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Ia merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.


Arum pun berpikir, mungkin dia salah makan sesuatu. Namun, ada sesuatu yang mengganjal yang di rasakan nya dan rasa yang sangat nyeri pada area mahkota kepunyaannya.


Ia memegangi perutnya dan menahan sakit. Irfan yang baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Arum seperti itu pun segera menghampirinya, Ia menanyakan apa yang terjadi pada istri kecilnya itu.


Arum terkejut dengan kedatangan Irfan yang secara tiba-tiba itu. Ia melihat sang suami yang hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang, bertelanjang dada tanpa memakai baju apapun.


Rambut yang basah, badan kekar dan memiliki bulu halus di sekitar dadanya. Perut sixpack yang menyerupai roti sobek. Menambah keseksian dan kejantanan suaminya.


Arum menelan ludah kala melihat pemandangan yang luar biasa memanjakan matanya. Seketika Ia membeku, melupakan rasa sakit yang baru saja dirasakannya.


Irfan mengibaskan tangannya di depan wajah Arum dan beberapa kali bertanya apa yang terjadi, namun rupanya Arum masih sangat speechless dengan pemandangan yang ada di depan matanya ini.


Irfan pun menepuk pelan pipi Arum yang membuatnya segera tersadar, "Kamu kenapa Dek?" Tanya kembali Irfan.


Pipi Arum pun memerah karena malu dengan apa yang baru saja terjadi. Ia kembali merasakan sakit itu, "Ehm, maaf Bang. Sepertinya Arum sedang datang bulan," Ujarnya.


"Apa?! Sekarang?" Irfan terkejut bukan main dengan penjelasan istrinya.


"I-iya, maaf ya Bang," Arum merasa sangat bersalah dan berdosa tidak bisa mematuhi kehendak suaminya.


"Yaudah, gapapa. Ini juga kan bukan kemauan mu, Dek," Irfan mengelus pucuk kepala Arum, membantu menenangkan istrinya.


"Sekali lagi, maafin Arum ya, Bang."


"Iyaa, gapapa sayang. Udah sana ganti. Mau gendong?" Tanpa menunggu jawaban sang istri, Irfan langsung saja mengangkat tubuh mungil Arum dan membawanya ke kamar mandi. Arum yang masih merasa bersalah hanya pasrah dengan perlakuan Irfan padanya.


Setelah menurunkan Arum, Irfan pun keluar dari kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang dan menghela nafasnya.


"Hadeh. Gagal lagi, gagal lagi."


Irfan langsung memakai celana boxer lalu nyungsep di bawah selimut. Menghilangkan rasa frustasi yang terbaik adalah tidur.


Β 

__ADS_1


Duh kasian ya si Irfan, gagal deh buat begadang malam ini🀣🀣😬


__ADS_2