Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Keluarga Baru


__ADS_3

Pagi menjelang, sinarnya memasuki kamar pengantin baru ini melalui celah jendela yang sedikit terbuka.


Arum mengerjapkan matanya karena silau mentari yang mengarah ke arah wajahnya.


Arum membuka mata dan sedikit terkejut karena posisi tidur mereka berdua saat ini.


Arum berada di dalam pelukan Irfan dan Irfan yang sedang mendekap Arum dengan begitu posesifnya.


Karena terganggu akan pergerakan dari Arum, Irfan pun ikut membuka matanya. Saat ini mereka berdua sedang bertatap tatapan.


Deg deg...


Suara detak jantung mereka seperti sehabis lari maraton saja, tanpa sadar Irfan mendekatkan wajahnya pada Arum.


Arum yang merasakan ada sesuatu yang mengeras dari bagian tubuh Irfan pun mulai gelisah dan ketar ketir.


Arum hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya, saat hampir saja bibir mereka saling menyentuh tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dan langsung menyadarkan Irfan.


Irfan terkejut dan langsung membuka mata lalu melepaskan pelukannya pada Arum.


Wajah mereka berdua memerah, antara malu dan menahan sesuatu yang lagi-lagi tertunda.


"Arum, nak Irfan ayo bangun sarapan dulu. Nanti banyak yang akan bertemu kalian berdua."


"Baik Ma."


Mereka berdua menjawab bersamaan. Ternyata yang mengganggu adalah mama mereka sendiri.


Setelah mendengar jawaban dari kedua anaknya, Mama pun turun kembali ke bawah.


Arum dan Irfan saling pandang kemudian kembali membuang muka masing-masing.


"Ma-maaf," Hanya itu yang keluar dari bibir Irfan kemudian Ia bangun dan menuju ke kamar mandi.


Arum masih deg degan akibat dari kejadian yang barusan terjadi.


"Astaga apa yang aku lakukan!" Irfan pun mulai mandi dengan mengguyur tubuhnya di bawah shower.


"Ini juga, ngapain pake bangun sih!" Irfan pun ngomel-ngomel tidak jelas sambil melanjutkan mandinya.


Setelah Irfan selesai mandi kini giliran Arum yang mandi.


Mereka berdua masih malu untuk saling menatap ataupun berbicara satu sama lain.


Irfan melihat ke arah ranjang, ternyata pakaian untuknya sudah di siapkan oleh Arum. Irfan hanya tersenyum tipis dan berganti pakaian.


Sambil menunggu Arum selesai mandi, Irfan duduk di sofa dengan memainkan ponsel miliknya.

__ADS_1


Arum yang sudah selesai mandi mengintip keluar dan di lihatnya sang suami yang duduk di sofa menghadap ke arah balkon.


Arum pun segera bergegas keluar dan berlari menuju ke arah ruang ganti.


Setelah semuanya selesai mereka berdua pun turun untuk sarapan bersama keluarga yang lain yang memang sudah menunggu mereka sejak tadi.


Sarapan berlangsung dengan khidmat, tak ada yang berbicara, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu.


Setelah selesai sarapan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil menungu tamu yang akan berkunjung.


Tak lama mereka duduk dan berbincang, terdengar suara dari luar rumah yang menandakan tamu yang mereka tunggu-tunggu sudah sampai.


Ternyata yang datang adalah kerabat jauh dari Arum, karena pada saat acara pernikahan Arum berlangsung, mereka tidak sempat hadir karena masih sibuk-sibuknya.


"Arum!"


"Icaa!"


Arum sangat bahagia melihat sepupunya itu datang hari ini.


Ica berlari ke arah Arum lalu mereka berdua langsung berpelukan, sudah seperti saudara kandung saja.


"Huhuu Arum maaf yaa, Ica ga bisa dateng kemarin."


"Iya gapapa Ca, lagian hari ini juga kita ketemu kan."


Mereka berdua akhirnya berbincang dan melupakan apa pun yang ada di sekitar mereka.


"Manis juga," Batin Irfan melihat pemandangan itu.


Para orang tua pun berkumpul dan saling berbincang sementara para anak mereka sudah berpencar entah kemana.


Arum bersama dengan Ica berbincang di kolam renang yang ada di belakang rumahnya.


Irfan ditaman bersama Zul, kakak Ica.


"Gimana kalian bisa kenal bro?" Zul membuka percakapan.


"Kami kenal pertama di Instagram, cukup lama juga."


"Hebat! Arum memang bisa di bilang ceria, tetapi dia tidak mudah akrab dengan orang lain apalagi yang baru di kenalinya."


"Kamu berhasil mendapatkannya berarti kamu orang beruntung dan istimewa yang pernah ku temui. Selamat bergabung di keluarga kami."


"Ya, terimakasih."


Mereka berdua lanjut berbicara panjang lebar, tentu saja tak kalah dengan para wanita yang sedang heboh ini.

__ADS_1


"Wah Arum, si Irfan tampan juga. Kamu beruntung banget dapetin orang seperti dia."


"Ah kamu bisa aja Ca, banyak kok pria tampan lainnya di luaran sana hihihi," Arum terkekeh melihat kehebohan sepupunya ini.


Para ciwi pun melanjutkan obrolan mereka, kadang kala tertawa, saling mengejek, memukul bahkan mereka kejar-kejaran layaknya anak-anak yang sedang bermain.


Tanpa mereka sadari, ada yang sedang memperhatikan tingkah mereka berdua.


"Itulah sisi lain dari Arum yang jarang dia perlihatkan ke orang lain Fan."


"Hah, maksudnya Bang?" Irfan tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Zul padanya.


Ternyata mereka berdua lah yang menjadi pemantau dari Arum dan Ica, entah sejak kapan mereka berada disitu.


Mereka pun kembali berbincang sambil memperhatikan kekonyolan dari Arum dan Ica.


Irfan sedikit menyunggingkan senyumnya kala melihat pemandangan itu.


Sementara di ruang keluarga, para orang tua pun tak kalah heboh dengan anak-anaknya. Disini mereka terbagi menjadi dua kubu, para wanita dan pria.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang, para wanita sudah berkumpul di dapur untuk menyiapkan makan siang.


Sementara para pria berkumpul di ruang tengah tak terkecuali anak-anaknya.


Setelah makan siang, mereka beristirahat di kamar masing-masing karena cukup kelelahan juga meski hanya berbincang.


Malam harinya, mereka semua mengadakan barbeque dadakan, karena jarang-jarang mereka semua berkumpul seperti ini.


Tentu saja tambah ramai karena adanya keluarga baru yang semakin menambah keseruan di saat seperti ini.


Acara berlangsung penuh canda tawa, tak jarang Irfan terlihat ikut tertawa karena keseruan keluarga Arum.


Mereka berdua juga saling curi pandang, tapi tidak ada yang menyadari salah satunya.


"Oh iya besan, kapan kalian akan kembali ke Bandung?" Seketika itu juga semua orang terdiam dan berhenti melakukan aktivitasnya karena terkejut juga penasaran dengan jawaban dari besan mereka.


"Hm kalau itu saya serahkan kepada Irfan besan, karena saya juga tidak bisa memaksanya."


"Yasudah. Nak Irfan bagaimana?" Tanya kembali Papa Sul.


"Ehm, bagaimana jika besok Pah? Irfan banyak kerjaan juga yang menumpuk karena sudah lama belum kembali."


"Bagaimana Arum? Kamu sudah siap pergi nak?"


"I-iya Pah. Siap tidak siap Arum harus tetap ikut kemana suami Arum akan pergi. Karena sekarang Arum sudah memiliki rumah tangga sendiri," Arum sedikit sedih ketika mengutarakan itu semua.


Semua orang pun tahu itu, karena terlihat dari wajahnya yang agak sendu tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo kita makan, semuanya sudah siap."


Mereka pun menyantap makanan yang sudah di siapkan sembari kembali berbincang mengenai masalah besok, saat Arum akan pergi mengikuti kemana suaminya melangkah.


__ADS_2