Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Rencana Ke Bali


__ADS_3

Dokter pun masuk setelah ada jawaban dari dalam. Dokter langsung saja memeriksa keadaan Nisa.


Akbar masih dengan setia menemani Nisa yang masih tak sadarkan diri.


Setelah selesai dokter memeriksa, Akbar langsung bertanya bagaimana kondisinya namun dokter mengajak Akbar untuk berbicara di luar agar tak menganggu Nisa.


"Jadi bagaimana keadaan Nisa, Dok?" Akbar langsung saja bertanya dengan tak sabar, padahal pintu kamar baru saja di tutup belum duduk dengan nyaman mereka.


"Kita duduk dulu Bar," Jawab sang dokter tersenyum dengan menepuk pundak Akbar.


Akbar pun mengajak dokter untuk turun ke bawah dan duduk di ruang tamu.


"Jadi bagaimana Dok?" Tanya kembali Akbar, karena dokter masih diam saja.


"Tenang Bar. Keadaan Nisa sudah pulih sembilan puluh persen. Bisa saja suatu saat nanti dia akan kembali mengingat masa lalu itu."


Dokter lanjut memberi beberapa penjelasan tentang Nisa jika nanti hal ini terjadi lagi.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, tapi Arum belum bisa memejamkan matanya. Ia pun membuka sebuah aplikasi baca yang berisi banyak novel dan komik.


Asik membaca novel kesukaannya, Arum tidak menyadari kedatangan Irfan yang membuka pintu kamar dengan perlahan. Irfan pun sedikit terkejut karena tidak biasanya Arum masih belum tidur jam segini.


"Dek, tumben belum tidur?" Sapa Irfan sambil menutup pintu.


"Ehh Abang, Arum ga bisa tidur jadi baca novel aja siapa tau nanti bisa ngantuk."


Arum meletakkan ponselnya di atas nakas lalu bangun dari ranjang dan menghampiri Irfan untuk mencium tangannya.


Irfan mengelus pucuk kepala Arum dan itu membuat Arum tertegun.


"Yaudah tidur sana, udah jam segini, jangan gadang ga baik. Abang mau mandi dulu," Irfan berlalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Arum yang mematung.


"I-iya Abang," Hanya itu yang terucap dari bibir Arum karena Ia masih speechless.


Arum pun mematuhi perkataan suaminya, Ia kembali naik ke ranjang lalu mulai memejamkan matanya. Dalam sekejap, Arum sudah berada di alam mimpinya.

__ADS_1


🌼🌼🌼


Pagi hari yang cerah, secerah suasana hati seorang wanita yang sepertinya baru saja bermimpi tentang kebahagiaan dalam hidupnya.


Wanita ini sedang memasak untuk dirinya dan sang suami. Hari ini Ia terlihat sangat ceria tidak seperti biasanya, Ia sangat bersemangat karena bisa kembali sarapan bersama sang suami.


Karena beberapa waktu berlalu dan suaminya yang sibuk dengan urusan kantor, jadi mereka jarang bertemu maupun untuk makan bersama.


Baru saja selesai menghidangkan sarapan, muncullah seorang pria tampan dengan mengenakan setelan jas kerja, terlihat berwibawa dan memancarkan aura kepemimpinan nya.


"Mau sarapan dulu Bang?" Tanya wanita tadi yang tak lain adalah Arum.


"Iya, kan kamu udah selesai masak juga. Nanti sebelum berangkat kita ke rumah Mama dulu yaa."


Irfan menuju ke meja makan lalu duduk di kursinya, Arum mengambilkan sarapan untuk Irfan.


"He'em, Arum ngikut Abang aja."


Mereka lanjut sarapan dengan tenang, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.


Selesai sarapan, kini mereka telah berada di rumah utama, sepertinya Irfan akan menyampaikan sesuatu hal yang penting.


Irfan pun menjelaskan, dalam tiga hari nanti Ia ada proyek dengan klien barunya yang ada di Bali. Irfan akan bekerjasama dengan seorang pemilik restoran yang cukup terkenal di Bali.


"Lalu, apa masalahnya?" Papa Fadel pun belum mengerti dengan maksud dari anaknya itu.


"Yaa, Irfan mau pamitan Pah. Biar Irfan aja yang kesana, nanti yang disini seperti biasa, kan ada Hans yang mengurusnya," Jelas Irfan.


Mama Gita yang sedang bercengkrama dengan Arum pun membuka suaranya, sementara Arum hanya mendengarkan dengan seksama.


"Kamu harusnya pergi bareng Arum dong, sekalian bulan madu gitu Fan."


"Ahh iya benar apa kata Mama mu, kalian berdua saja yang kesana," Papa pun menimpali ucapan sang istri.


Arum hanya tersipu lalu menundukkan wajahnya sementara Irfan masih memikirkan sesuatu.


"Apalagi yang kamu pikirkan Fan? Udah, ajak Arum, awas aja kamu ga ngajak menantu Mama ini yaa!" Mama Gita melotot ke arah anaknya, sementara yang di tatap hanya bisa menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, jika Ibu Negara memberi titah, hamba bisa apa," Jawab Irfan dengan pasrah.


"Ehm, kalau abang memang sibuk, lebih baik Arum ga usah pergi aja Pah, Mah. Arum takut nanti malah mengganggu pekerjaan Abang disana."


Irfan pun menjawab dengan cepat, "Udah, gapapa kok. Lagian Abang cuman mau bertemunya terus tanda tangan kontrak, ga akan repot."


"Iyaa sayang, gapapa. Mama cuman bercanda aja kok tadi. Mama juga yakin, meski Mama ga maksa Irfan, dia juga bakalan ngajak kamu," Mama Gita mengelus punggung tangan Arum.


Arum menatap suaminya itu yang hanya di balas anggukan dan senyuman yang bisa membuat Arum merasa sejuk ketika melihatnya.


Selesai berbincang, Irfan harus segera ke kantor karena Hans sudah datang untuk menjemputnya.


Irfan berpamitan pada Papa, Mama dan juga istrinya. Tak lupa pula mereka mengantarkan kepergian Irfan dan menyuruh Hans untuk berhati-hati dalam mengemudi.


Selepas kepergian Irfan dan Hans, Mama Gita, Papa Fadel dan Arum kembali masuk ke rumah.


Sebenarnya Arum sudah berpamitan juga untuk pulang, namun Papa dan Mama memintanya untuk masuk dulu karena ada beberapa hal yang akan di bicarakan.


Suasana terasa tegang, Arum menjadi gugup dan panas dingin karena entah kenapa situasinya terasa mencekam sekarang ini.


"Arum sayang, Mama tau kok apa yang selama ini kamu rasakan," Mama Gita membuka pembicaraan setelah beberapa waktu mereka terdiam.


Arum terperanjat kaget dan tidak mengerti maksud dari mamanya itu, Ia pun menjawab, "Maksud Mama Apa? Arum ga ngerti?"


"Iya sayang, kami tau bahwa Irfan belakangan ini ga pernah memberikan waktu untuk kalian berdua kan?" Kini Papa Fadel yang berbicara.


"Ehm, jadi selama ini Papa sama Mama tau?"


Mama Gita mengusap punggung tangan Arum untuk menenangkan gadis itu, "Iyaa, kami tau kok. Makanya tadi kami minta Irfan buat ngajak kamu ke Bali, yaa meskipun kami tau, Irfan emang bakal ngajak kamu juga sayang," Jelas Mama Gita seraya tersenyum.


"Irfan emang dingin orangnya, tapi percayalah, di balik itu, dia sangat menyayangimu kok," Lanjut Mama Gita.


"Iya, benar apa kata Mama mu. Irfan itu gengsinya besar, cuek, tapi sayangnya dia ke kamu itu dia sembunyikan. Tidak semua hal harus di ungkapkan melalui lisan, kita bisa melihatnya juga dari tindakan," Jelas Papa Fadel.


"Iya sayang. Jadi nanti pas di Bali, kamu harus bisa mengambil hatinya yaa. Buat dia bertekuk lutut sama kamu dan tidak bisa jauh darimu," Sambung Mama Gita seraya tersenyum menggoda dan mengedipkan sebelah matanya pada Arum.


Arum hanya tersenyum malu mendengar itu, tentu saja dia paham apa yang di maksud mamanya.

__ADS_1


Papa Fadel hanya menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari istri yang di cintainya itu.


Selesai membahas masalah ke Bali, mereka kini berbincang ringan. Mama Gita juga membagikan beberapa pengalamannya dulu ketika menaklukan suaminya yang tentu saja, sifat Irfan menurun dari papanya.


__ADS_2