Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Tidak Asing


__ADS_3

Mobil pun telah tiba di depan butik yang di maksud Mama Gita.


Mama Gita mengajak Arum masuk kedalam, mereka di sambut oleh seorang security wanita.


Wanita tersebut mengucapkan selamat pagi kepada Mama Gita dan di balas dengan anggukan dan tersenyum ramah.


Saat memasuki butik, mata Arum di sambut dengan pemandangan banyaknya pakaian-pakaian mewah yang terpajang di setiap sudut ruangan.


Mama Gita mengajak Arum berkeliling, banyak karyawan yang menyapanya karena sudah lama tidak kelihatan.


Selanjutnya Mama Gita mengajak Arum naik ke lantai dua, dimana di lantai dua ini dikhususkan untuk pakaian pengantin.


Mata Arum berbinar saat melihat berbagai macam bentuk dan model dari gaun pengantin disini. Ia membandingkan gaun yang disini dengan gaun yang di pakai Arum saat acara pernikahannya.


Memang tak kalah cantik, hanya saja tergantung siapa yang memakai gaun tersebut pikirnya.


Tiba-tiba saja Arum menangkap sesuatu yang sangat tidak asing bagi penglihatannya. Ia mengajak Mama Gita menuju ke salah satu gaun yang terpajang di patung.


"Ehm Mah, siapa yang merancang gaun ini?" Tanya Arum agak ragu.


Mama Gita juga sedikit terkejut sekaligus heran, padahal banyak sekali gaun yang ada disana. Arum malah menanyakan gaun yang satu ini.


"Ohh ini, seseorang merancangnya sayang, karena ini adalah gaun pernikahan impiannya. Jadi Mama hanya membuat saja karena sekarang orang itu telah tiada," Mama Gita menjelaskan.


"Lalu yang satu ini?" Tunjuk Arum pada gaun yang di sebelahnya.


"Ini juga gaun impian seseorang, tetapi orang itu sedang pergi jauh," Mata Mama Gita memancarkan sedikit kesedihan yang mendalam dan Arum tahu itu.


Arum berpikir apakah ini sebuah kebetulan atau memang ada impian orang di dunia ini yang sama persis, sama seperti gaun ini.


Arum pun jadi teringat pada seseorang yang dulu menemani harinya namun sekarang Ia sudah pergi ke pangkuan Sang Pencipta.


Air mata Arum hampir saja menetes, namun Ia segera mengalihkan pandangan dan menenangkan diri sebelum Mama Gita menyadari itu.


Mama Gita lanjut mengajak Arum untuk naik ke lantai tiga, lantai paling atas dari butik ini.


Lantai tiga adalah lantai khusus para karyawan dan pemilik atau staf penting lainnya. Tidak boleh di masuki oleh pengunjung jika tidak di izinkan.


Lantai tiga terdapat beberapa ruangan salah satunya adalah ruangan khusus untuk pemilik butik. Mama Gita mengajak Arum untuk memasuki ruangan itu.


Sebelum masuk Mama Gita mengetuk pintunya terlebih dahulu, setelah ada jawaban "masuk" dari dalam barulah Mama Gita masuk ke dalam.

__ADS_1


"Pagi Fir," Panggil Mama Gita karena orang tersebut masih sibuk memeriksa sesuatu.


Setelah mendengar suara yang sangat familiar, Ia mengangkat wajahnya dan langsung berubah jadi sumringah.


"Ehh Bunda sudah pulang, kenapa ga langsung masuk aja kirain siapa tadi. Maaf yaa Bund Fira ga sadar kalau Bunda yang dateng."


Fira bangun dari duduknya kemudian menghampiri Mama Gita, tak lupa Ia mencium punggung tangan dan langsung saja memeluk Mama Gita.


"Aduh kangen banget yaa sama Bunda hihihi," Mama Gita merasa gemas melihat kelakuan Fira.


"Hehehe iyaa Bunda. Ohh iya apakah ini Kakak Ipar?" Arum sedikit tersentak karena di panggil kakak ipar oleh Fira.


"Iyaa, Ini Arum istri Irfan. Arum kenalin ini Fira anak angkat sekaligus kepercayaan Bunda di butik."


Arum dan Fira saling berjabat tangan dan berkenalan satu sama lain. Mereka pun duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Sedangkan Mama Gita duduk di kursi tempat yang tadi di duduki Fira, karena Ia harus memeriksa beberapa hal.


"Gimana Kakak Ipar? Seneng ga jadi istri Kak Irfan hihihi," Fira merasa geli sendiri dengan pertanyaannya.


"Ehm jangan panggil Kakak dong, sepertinya Arum lebih kecil daripada Mbak Fira."


"Sepertinya sih iya, yaudah Mbak panggil Arum aja berarti."


Tahu lah yaa jika wanita sudah berkumpul, meskipun itu baru saja kenal beberapa menit yang lalu, tetap saja obrolan mereka akan nyambung.


Mama Gita yang memperhatikan interaksi keduanya cukup senang, karena mereka bisa cepat berbaur satu sama lain.


Setelah siang harinya, Mama Gita dan Arum pamit untuk pulang ke rumah untuk menyelesaikan makan siang bagi para suami.


Fira ikut mengantarkan Mama Gita dan Arum untuk keluar. Baru sampai di lantai dua, Arum kembali memandang gaun yang tadi di tanyakan pada Mama Gita.


Ia kembali memastikan gaun itu, apakah gaun itu yang sama persis dengan gaun yang pernah di lihatnya dulu dan mengingatkan dirinya pada seseorang.


Arum berhenti sejenak, Fira yang menyadari Arum tidak ada di sampingnya pun segera berbalik ke belakang untuk melihat.


Ia memanggil Arum dengan sedikit berteriak karena jarak mereka yang sudah lumayan jauh, Arum yang mendengar namanya di panggil segera tersadar dan menoleh.


Ia langsung bergegas menyusul Fira dan Mama Gita. Sementara Mama Gita tidak menyadari itu semua.


Setelah berada diluar sudah ada Pak Toni yang menunggu untuk kembali mengantar Arum dan Mama Gita pulang.

__ADS_1


Fira melambaikan tangannya dan di balas juga oleh Arum. Setelah mobil meninggalkan pelataran butik barulah Fira kembali masuk kedalam.


Fira melewati gaun yang tadi, "Sebenarnya apa hubungan Arum dengan gaun ini, apakah dia mengetahui sesuatu," Pikir Fira sebentar lalu kembali berjalan menuju ke lantai atas.


***


Di kantor Irfan dan Hans masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk. Mereka melupakan jam makan siang kerena terlalu serius membahas pekerjaan.


Hingga suara alarm dari ponsel milik Hans mengagetkan mereka berdua.


"Heh! Pake alarm segala, ngagetin aja tau gak," Irfan memukul lengan Hans.


"Hehe sorry Fan, soalnya biasanya aku suka lupa waktu kalo kerja, makanya pake alarm."


"Bener juga, yaudah pesen makan gih."


"Huft, iyaa iyaa Tuan Muda," Hans mengatakan itu namun muka sedikit masam. Irfan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Hans itu.


Hans pun memesan makanan melalui telfon di meja kerjanya, setelah mengatakan apa yang di inginkan Ia menutup telfon itu.


Di sisi lain sekertaris yang menerima telfon itu segera mengatakan pada salah satu staf untuk membelikan pesanan Hans dan Irfan.


Setelah siap Ia menuju ke lantai atas, lalu mengetuk pintu. Tapi sebelum itu Ia sedikit membuka bagian atas bajunya dan buah dada miliknya sedikit kelihatan.


Mendengar jawaban dari dalam Ia segera masuk, lalu matanya berbinar ketika melihat Irfan yang sedang serius.


"Ini Pak makanannya," Ia menaruh nampan di meja, Hans dan Irfan segera melihatnya namun mata mereka menangkap sesuatu yang tidak wajar.


Si wanita ini pun dengan sengaja berlama-lama membungkukkan badan, berniat menggoda kedua pria tampan ini.


Irfan segera membuang mukanya kesamping dan wajahnya berubah kesal sementara Hans masih setia memandangi wanita ini.


Bukan apa yang di pandangi Hans, Ia menatap dengan tajam mata wanita ini.


"Sudah selesai Jes?" Tanya Hans dengan sedikit nada tinggi, Jesika pun langsung tersadar dan berdiri tegak.


"Su-sudah Pak," Jawabnya agak malu. (Padahal emang ga tau malu🗿)


"Lalu, tunggu apalagi? Mau saya paksa keluar dari sini?" Nada dingin pun keluar dari bibir Hans.


"Enggak Pak, permisi."

__ADS_1


Jesika segera keluar ruangan, baru saja menutup pintu Ia langsung mendengus kesal dan menghentakkan kakinya dengan penuh amarah.


"Huh! Pura-pura aja nolak, coba kalo di kasih yang polosan, langsung tuh di sosor!"


__ADS_2