
Hari yang di nanti pun tiba. Arum dan Irfan sudah siap di bandara, tinggal menunggu jet pribadi siap saja.
Mama Gita, Papa Fadel, Pak Toni serta Hans ikut mengantarkan mereka pergi.
Mama Gita menjelaskan pada Arum bahwa mereka memiliki jet pribadi, hanya saja waktu mereka pergi ke Makassar dalam waktu yang lumayan lama, jadi mereka tidak menggunakannya.
Arum pun mengangguk tanda mengerti ucapan mamanya.
Hans datang setelah mengecek persiapan keberangkatan Arum dan Irfan, lalu memberitahukan bahwa semuanya telah siap. Sudah saatnya bagi mereka untuk berangkat.
"Baiklah, Irfan dan Arum berangkat dulu ya, Mah, Pah," Ucap Irfan seraya menyalami kedua orang tuanya, diikuti oleh Arum.
Tak lupa Mama Gita memeluk menantu kesayangannya itu, lalu membisikkan sesuatu yang membuat pipi Arum sedikit merona.
Irfan dan Arum pun berlalu pergi. Beberapa waktu kemudian, jet pribadi milik keluarga Wijayakusuma pun melesat pergi meninggalkan Bandung.
Bertepatan dengan kepergian jet pribadi itu, ada seorang wanita yang terbilang cukup muda baru saja turun dari pesawat.
Ia melihat ke arah perginya jet itu, lalu ia pun bergumam "Itu kan jet pribadi keluarga Wijayakusuma, apa dia sudah pergi? Ah baguslah, nanti ini akan jadi kejutan ketika dia kembali," Ia pun tersenyum tipis.
Ia memakai kacamata hitamnya, lalu lanjut berjalan masuk ke area bandara, banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya.
Sementara Papa Fadel dan Mama Gita sudah pulang duluan bersama Pak Toni yang mengantarkan mereka.
Hans masih berada di bandara, belum kembali ke kantor, karena masih ada beberapa hal yang ingin di lakukannya.
Entah apa yang di carinya, Ia berjalan keliling di bandara sembari memperhatikan banyaknya para manusia yang berlalu lalang, keluar masuk, bahkan hanya sekedar melihat-lihat pun ada, sama seperti dirinya.
Tampaknya, si pria tampan ini sedang gabut yaa, Ia berkeliling tanpa arah dan tujuan.
Hingga tiba-tiba saja, ππ³πΆπ¬π¬... Hans menabrak seorang wanita.
"Aduhh," Wanita itu meringis.
"Ehh! Maaf, aku tidak sengaja," Ujar Hans yang segera berdiri lalu membantu wanita tadi untuk bangun.
Wanita itu membuka kacamatanya lalu berkata dengan acuh, "Ya, tidak masalah. Aku juga yang tidak memperhatikan tadi," Ia menatap Hans dan tersenyum tipis.
"Jika tidak ada hal lain, aku permisi." Lanjut wanita itu lalu pergi meninggalkan Hans yang hanya melongo dan masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, "Menarik!" Gumam Hans seraya tersenyum smirk lalu benar-benar pergi meninggalkan bandara, Ia menuju ke arah parkiran.
Memang benar adanya, realita tak sesuai dengan ekspektasi, seperti halnya yang terjadi dengan wanita ini, wanita yang baru saja bertabrakan dengan Hans.
"Omaigad, untung ganteng! Kalo enggak, udah ku keluarkan uneg-uneg ku. Enak aja main nabrak orang cantik sejagat raya ini. Kalau bukan karena mau jaga image ku di depan orang baru, mana mau aku bersikap seperti tadi. Huhuhu," Ia pun ngedumel sendiri seraya berjalan keluar dari bandara.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru saja tiba di pinggir jalan dan akan menghentikan sebuah taksi, sebuah mobil sport mewah sudah duluan berhenti di hadapannya.
Kaca mobil pun terbuka, tentu saja orang itu adalah Hans yang baru saja keluar dari parkiran, namun Ia melihat wanita yang mampu menarik perhatiannya. Tentu Ia tak mau menyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata ini.
"Eh, kamu," Wanita itu menunjuk Hans lalu kembali bersikap seperti sebelumnya.
"Ya, ini aku. Kamu mau kemana? Biar ku antar, anggap saja sebagai permintaan maafku."
"Ahh, baiklah."
(Ada rezeki di depan mata, siapa yang bisa menolaknya? π€)
Wanita ini pun masuk ke dalam mobil sport milik Hans, setelah itu mobil pun melaju ke arah jalan raya.
Suasana menjadi hening sejak awal perjalanan.
Ketika berada di persimpangan jalan, Hans pun membuka suara, "Kita mau kemana?"
"Lah, terus! Kamu ga mungkin datang ke sini tanpa arah dan tujuan kan?" Hans bertanya dengan mengerutkan dahinya.
"Iya juga sih, carikan saja aku hotel untuk menginap. Aku baru pertama kali kesini, jadi tidak tahu apa pun," Jelasnya.
Hans pun mengangguk mengerti, setelahnya Hans menuju ke arah dimana Ia akan mencari sebuah hotel untuk wanita ini.
Setengah jam kemudian, sampailah mereka di sebuah hotel bintang lima. Hotel Wijayakusuma, ya, hotel milik keluarga Irfan.
Wanita ini terkejut melihat kemana Ia di bawa oleh Hans, Ia jadi berpikir ada hubungan apa Hans dengan Irfan, atau ini hanya kebetulan saja karena mungkin hotel ini terkenal.
Hans mengajaknya masuk, seorang penjaga di depan pintu hotel terkejut melihat kedatangan Hans.
Ia segera membukakan pintu lalu menyapa Hans yang di balas dengan anggukan saja olehnya.
Setelah Hans masuk bersama si wanita, penjaga itu pun bergumam, "Siapa wanita itu? Dia bisa dekat dengan seorang Hans?! Ini kejadian yg langka, sangat jarang Pak Hans mau berjalan dengan seorang wanita, kecuali Nyonya Besar!"
Ia tak mau pusing dan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain, jadi Ia tetap positif thinking dan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sementara di dalam hotel, Hans langsung menuju resepsionis lalu memintanya untuk menyiapkan sebuah kamar, kamar yang bisa di bilang kamar untuk kalangan orang atas.
Hans pun bertanya pada wanita ini tentang siapa namanya, karena sejak awal mereka bertemu, mereka belum saling mengenal.
"Aku Mitha. Aku kesini untuk mencari seseorang, hanya saja, aku belum tahu dimana dia sekarang ini."
"Apakah itu pacar mu yang pergi meninggalkan mu?" Tanya kembali Hans dengan mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum mengejek.
"Huh! Bukan urusanmu!" Jawab Mitha dengan ketus.
"Baiklah, ini kartu namaku. Jika butuh apapun hubungi saja aku. Jangan geer, ini hanya bentuk rasa kasihan dariku untukmu!"
Mitha pun menjadi kesal, namun Ia tetap mengambil kartu nama yang di berikan oleh Hans dengan kasar seraya berkata, "Up to you!"
Hans hanya menanggapi dengan tersenyum sinis, Ia pun berkata dalam hati "Wanita yang menarik!"
Beberapa saat kemudian resepsionis pun mengatakan pada Hans, bahwa kamar yang di mintanya sudah siap, Hans pun mengangguk mengerti.
Hans lalu memanggil salah satu karyawan disana untuk mengantarkan Mitha ke kamarnya, Ia juga langsung pamit untuk pergi karena masih ada pekerjaan di kantor.
Mitha mengikuti kemana Ia akan di bawa oleh karyawan tersebut.
Dengan menggunakan lift, Ia di bawa menuju lantai paling atas di hotel ini. Lantai tempat para orang-orang kalangan atas biasa menginap.
Setelah menunjukkan kamar Mitha dan memberikan kunci, karyawan tadi pamit undur diri.
Mitha membuka pintunya, Ia pun melongo melihat kamar yang begitu mewah. Kamar yang cukup besar, lebih mirip apartemen saking besarnya kamar hotel ini.
Ia merebahkan dirinya di ranjang yang berukuran jumbo lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Fathan Wijaya. Irfan Wijaya, apa hubungan orang ini dengan suami Arum? Apakah dia saudaranya? Ahh sudahlah untuk apa aku memikirkan ini, nanti kan aku bisa bertanya pada Arum. Tapi orang ini menarik juga, hihihi," Mitha pun berbicara sendiri seperti orang yang tidak waras.
(Kata orang, bicara sendiri itu ga waras, padahal sebenernya ga gitu, lebih enak bicara sendiri ketimbang ngajak bicara orang lain tapi malah di kacangin.π€«)
Beberapa saat kemudian Mitha tersadar dari apa yang baru saja di katakan nya, "Astaga! Apa yang aku pikiran! Dia itu cowok yang ga mungkin bisa aku gapai. Huhuu apalah aku yang hanya remahan rengginang ini."
"Aish, baru sampai udah jadi gila! Aku harus mandi untuk menyegarkan diri dari pikiran-pikiran ini lalu selanjutnya aku akan bocan agar lebih fresh, hahaha."
Mitha pun bangkit dari rebahan lalu melakukan apa yang sudah di rencanakan olehnya sebelumnya.
π₯π₯π₯
__ADS_1
Sepertinya ada yg saling mengagumi sejak pertama bertemuπ€
Intinya, jika jodoh, ga akan kemana dehhhπ€«ππΌββοΈππΌββοΈ