Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Pulang Ke Bandung


__ADS_3

Semalaman mereka semua berbincang, sembari menghabiskan waktu terakhir mereka bersama Arum disini.


Entah berapa lama lagi mereka akan berjumpa dengan Arum nantinya, di karenakan jarak mereka yang cukup jauh untuk saling bertemu.


Setelah malam cukup larut, mereka juga sudah kelelahan. Akhirnya mereka menghentikan kegiatan lalu kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Keesokan paginya, semua sudah bersiap sembari menunggu Arum yang masih mengemas beberapa barang yang belum selesai di kemas.


Mama Leni menghampiri Arum yang berada di dalam kamarnya. "Arum sayang," panggil Mama Leni dan Arum pun menoleh ke arah asal suara.


"Mama," jawab Arum dengan tersenyum lebar.


"Arum adalah anak kebanggaan Mama dan Papa. Semoga rumah tangga kalian bisa langgeng dan bahagia selalu ya Nak," Mama Leni memeluk Arum dengan penuh kasih sayang.


Arum meneteskan air mata begitu juga Mama Leni yang tak mampu lagi menahan laju air matanya.


Kedua ibu dan anak ini sedang melepas rindu dan saling menguatkan untuk yang terakhir kalinya sebelum Arum pergi jauh.


"Mama tenang saja, Arum bisa jaga diri kok. Mama baik-baik yah bersama Papa disini, Arum akan sangat merindukan kalian semua."


"Iya sayang. Semenjak adik mu pergi, papa dan mama hanya punya kamu seorang, Arum lah anak yang selalu kami banggakan," Raut wajah Mama Leni berubah menjadi lebih sendu lagi.


"Sudah Ma, adek sudah tenang disana. Kita hanya bisa mendoakan semoga Ia berbahagia dan di beri surganya Allah Swt.," Arum kembali memeluk mamanya.


"Sudah selesai kan Nak? Ayo turun, semua juga sudah siap," Mama Leni mengalihkan pembicaraan agar tidak berlarut lagi dalam kesedihan itu.


"Iya Ma sudah, ayo kita turun."


Semua sudah berkumpul di ruang tengah, tinggal menunggu Mama Leni yang sedang menghampiri Arum di kamarnya.


Setelah Mama Leni dan Arum datang, mereka pun pergi menggunakan tiga mobil untuk berangkat ke bandara.


Kini mereka telah sampai di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.



Semua ikut masuk ke dalam bandara untuk mengantarkan Arum beserta keluarga barunya.


Saat berjalan menuju ke arah kursi tunggu, tiba-tiba saja ada suara yang memanggil nama Arum dengan sangat lantang.


Semua orang pun mencari dimana dan siapa orang itu, setelah melihat ke segala arah ada seseorang yang berjalan ke arah mereka sembari melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Ayu!" Pekik Arum terkejut sekaligus kegirangan.


"Iya Arum! ini aku Ayu," mereka berdua pun saling berpelukan dan melakukan cipika cipiki selayaknya saat wanita bertemu.


"Huhuu Arum lama ga ketemu. Oh iya kamu mau kemana? Kok bisa ada disini? Mau pergi keluar kota yaa?" Begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Ayu pada Arum.


"Hihihi kamu masih sama seperti dulu yaa Yu," Arum terkekeh melihat tingkah temannya yang masih sama seperti dulu itu.


Mereka berdua pun mengobrol sebentar. Arum memberitahukan bahwa Ia sudah menikah dan akan ikut pergi bersama suaminya.


Sementara Ayu mengatakan jika Ia baru saja sampai di Makassar karena baru pertama kali lagi pulang kampung setelah sekian lama Ia menuntut ilmu di negeri orang.


Mama dan Papa Arum pun menjelaskan kepada Irfan dan kedua orang tuanya, bahwa Ayu adalah teman sekolah Arum sejak TK. Hanya saja mereka berpisah akibat pendidikan.


Ayu melanjutkan pendidikannya di Tarakan, oleh sebab itu mereka sangat senang bisa bertemu kembali.


Suara pengumuman dari resepsionis pun menghentikan pembicaraan mereka, karena pesawat sebentar lagi akan take off jadi di harap penumpang segera menuju ke dalam pesawat.


Arum berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga pada sahabatnya itu.


Tak lupa pula pelukan terakhir kalinya, sampai nanti mereka bisa bertemu lagi.


Arum, Irfan dan kedua orang tuanya sudah memasuki sebuah ruangan yang akan menuju ke arah landasan pesawat.


Sampai di dalam pesawat, Arum duduk berdampingan dengan Irfan. Posisi Arum yang berada di dekat jendela pesawat.


Sedangkan orang tuanya berada tepat di kursi belakang mereka berdua.


Beberapa waktu kemudian, setelah semua penumpang memasuki kabin pesawat, pramugari pun menyampaikan beberapa informasi dan tata cara apa saja yang harus di lakukan saat pesawat hendak lepas landas sampai akan mendarat nantinya.


Pesawat pun perlahan-lahan bergerak maju dan kemudian melesat terbang dengan laju yang perlahan bertambah kencang.


Arum yang baru pertama kalinya menaiki pesawat pun agak takut, terlihat dari bagaimana Ia memegang erat baju miliknya.


Irfan yang menyadari itu langsung mendekap Arum ke dalam pelukannya.


Perasaan hangat yang dirasakan oleh Arum membuat Ia tanpa sadar tertidur di dalam dekapan Irfan. Setelah Arum tertidur Irfan mengusap pucuk kepala Arum.


Irfan juga merasakan hal yang sama, akhirnya Ia ikut tertidur bersama Arum. Tentu saja mereka tidur sambil saling mendekap.


Setelah terbang cukup lama, pesawat kini mendarat di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

__ADS_1



Arum dan yang lainnya turun untuk melakukan transit yang akan menuju ke arah Bandung.


Karena pesawat akan terbang nanti siang, jadi mereka memutuskan untuk mencari tempat makan siang terlebih dahulu.


Setelah melihat beberapa restoran yang ada di bandara ini, mereka memutuskan untuk makan di Urban Food Market.



Disana, Irfan bertemu dengan teman lamanya juga yang ternyata bekerja di restoran tersebut.


Temannya tidak menyangka, bahwa Irfan bisa juga mendapatkan seseorang dan langsung menjadikannya istri.


Karena Irfan di kalangan mereka, terkenal dengan sifat dingin dan sombongnya. Banyak yang ingin menjadi kekasihnya tapi di tolak mentah-mentah oleh Irfan. Sungguh arogan bukan😐


Mereka berbicara panjang lebar sembari menghabiskan waktu, tentu saja semua ikut bergabung dalam pembicaraan yang sudah ngaler ngidul itu.


Arum kini menjadi tau lebih banyak, bagaimana seorang Irfan dulunya.


Ia juga bangga pada dirinya karena bisa mendapatkan suami seperti sosok Irfan yang sangat menghormati seorang wanita.


Karena di zaman sekarang ini, sudah sangat jarang ada pria yang bisa menjaga pandangan dan sikapnya terhadap wanita.


Tak terasa waktu berlalu, jika sudah menyangkut pembicaraan dan gosip, cepat sekali rasanya waktu berputar πŸ€¦πŸ»β€β™€οΈ


Irfan dan yang lainya berpamitan kepada Doni, tak lupa mengucapkan banyak terima kasih karena makanan ini di gratiskan olehnya. Ia juga membawakan bingkisan sebagai oleh-oleh dari Bali.


Mereka pun meninggalkan restoran itu dan menuju ke arah landasan pesawat.


Pesawat pun take off dan melesat ke arah Bandung berada.


Saat pesawat sudah stabil, Arum yang takut ketinggian pun kembali bergetar ketakutan. Karena sebelumnya Ia tidur, jadi Ia tidak tahu apapun yang terjadi.


"Ga usah liat keluar jika takut," Irfan membuka suara saat melihat Arum yang ketakutan tapi masih saja melihat ke arah luar jendela.


"Tapi pemandangannya bagus, sayang jika di lewatkan," Jawab Arum dengan nyengir kuda yang membuat Irfan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


🐰🐰🐰🐰


Oh iya, soal penerbangan ini, karena author pun belum pernah bepergian jadi ini hanya dapet info dari Mbah Guling dan beberapa juga dari nonton video/film.

__ADS_1


Mungkin jika ada yang salah bisa di koreksi dan memberi saran, terimakasih πŸ˜ŠπŸ™πŸ»


__ADS_2