
"Dek ...," Panggil Irfan pada Arum setelah mereka sampai di dalam kamar.
"Ehh! Kenapa Bang?" Arum sedikit terkejut, Irfan tidak seperti biasanya.
Arum masih di ruang ganti dan sedang berganti pakaian sementara Irfan sudah berada di ranjang.
Arum tidak melihat bagaimana ekspresi Irfan saat memanggilnya tadi.
Kembali hening, Arum berpikir mungkin Irfan sudah tertidur, saat Ia keluar dari ruang ganti Arum melihat ternyata irfan belum tidur hanya sedang melamun saja.
"Kenapa Bang?" Tanya Arum lagi.
Irfan pun tersadar dari lamunannya, Ia menatap Arum dari atas sampai bawah. Ia menelan ludahnya, rasanya Ia ingin sekali memakan Arum sampai habis.
Tetapi emang dasar Irfan memiliki ego yang besar, Ia kembali menepis perasaan itu.
"Ehh, gapapa kok. Abang cuman mau ngasih tau, besok Abang mau mulai masuk kantor lagi," Irfan pun mengelak.
"Hm gitu yaa, yaudah gapapa Bang. Besok pagi-pagi Adek buatkan sarapan yaa."
"Iyaa," Hanya itu yang keluar dari bibir Irfan.
Mereka pun tidur dengan tenang tanpa ada yang mengganggu.
Pagi-pagi sekali seperti yang di katakan Arum pada Irfan semalam, Ia sudah memasakkan Irfan sarapan nasi goreng ala Arum.
Selesai menyiapkan sarapan untuk suaminya, tak lupa Arum membawakan untuk papa dan mama juga.
Arum membawa makanan ke rumah utama dan mengatakan pada Bi Eni harus di bagikan juga pada maid yang lain karena memang Arum sengaja membuat sarapan lebih.
Setelah selesai menyiapkan semuanya Arum kembali kerumahnya, Ia tak melihat suaminya itu di ranjang. Ternyata Irfan sudah berada di kamar mandi.
Arum pun menyiapkan pakaian kantor untuk suaminya itu. Setelah itu Arum kembali ke dapur.
Irfan yang telah selesai mandi melihat pakaian yang di siapkan Arum tersenyum kecil, "Seleramu bagus juga Nona," Irfan bergumam.
Irfan keluar dari kamar dan menuju ke arah dapur.
Arum melihat kancing kemeja suaminya, Ia berjalan ke arah Irfan dan membenarkannya.
Mata mereka bertemu, jantung pun kembali berdegup dengan kencang, hampir meledak saja rasanya.
"Nah, ini baru benar," Ucap Arum setelah selesai merapikan baju suaminya.
"Ayo sarapan Bang, malah bengong," Ucapan Arum menyadarkan Irfan.
__ADS_1
Mereka lalu menuju ke meja makan dan Arum ikut menemani suaminya sarapan.
Setelah selesai, Arum mengantarkan Irfan untuk pergi bekerja.
Pak Toni sudah menunggu di depan rumah utama, seperti biasanya memang begitu.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya dan pada istrinya, Irfan pun berangkat menuju kantor dengan di antarkan Pak Toni tentunya.
"Arum sayang, kamu ada kegiatan ga nanti," Mama Gita bertanya pada Arum.
"Ehm ga ada Mah, memangnya ada apa Mah?"
"Nanti ikut Mama ke butik Mama yaa, sekalian Mama mau ngenalin Arum sama karyawan disana."
"Wahh boleh Mah, kalau gitu Arum pulang dulu yaa Mah."
Arum pun mencium tangan papa dan mama lalu kembali ke rumah.
"Memang anak yang berbakti," Ujar Papa Fadel tersenyum melihat kepergian Arum.
"Iya Papa benar. Ohh iya, Papa nanti mau ngapain?"
"Papa di rumah aja Mah, masih ada yang harus di kerjakan."
"Yaudah. Yuk masuk, Mama juga mau bersiap."
***
Sampai di kantor, semua orang menatap mobil yang di naiki oleh Irfan. Mereka hafal betul mobil milik siapa itu.
Para staff langsung berbicara satu sama lain, "Apakah itu Tuan Irfan yang datang?" Tanya salah satu karyawan.
"Kita lihat saja nanti apakah Tuan besar atau Tuan Muda," Jawab karyawan lain.
Irfan pun keluar dari mobilnya setelah di bukakan pintu oleh Pak Toni. Dengan sikap arogan yang mendominasi membuat pesonanya semakin terpancar.
Para karyawan yang melihat Irfan segera berbaris rapi, mereka serentak mengucapkan "Selamat datang Tuan Muda," Irfan hanya berlalu begitu saja, hanya anggukan kepala sebagai jawaban.
Wajah tanpa ekspresi sudah biasa di lihat oleh orang-orang kantor, mereka mengenal dengan jelas sikap dari pemimpin kantor Wijayakusuma yang sekarang ini.
Irfan menaiki lift khusus untuk para petinggi kantor dan menuju ke lantai paling atas tempat ruangan direktur berada.
Sampai di ruangannya, Ia segera di suguhkan pemandangan seseorang yang sedang menunggunya untuk datang.
"Selamat datang kembali PENGANTIN BARU," Ia menegaskan kalimatnya lalu berbalik menghadap ke arah Irfan.
__ADS_1
"Yoo, apa kabar bro," Ia langsung menghampiri Irfan dan bersalaman versi pria. (Author pun tidak mengerti gimana salaman versi priağŸ˜)
"Makin keren aja kamu Hans," Sindir Irfan pada temannya itu.
"Silahkan duduk dulu Tuan Muda."
"Tch! Sejak kapan!"
Irfan pun duduk di sofa diikuti oleh Fathan. Irfan menanyakan tentang kantor selama Ia tidak ada.
Hans pun menjelaskan semuanya, sesekali Ia juga mengejek Irfan yang sudah menjadi seorang suami.
Yaa, mereka berdua adalah sahabat sejak masa sekolah dulu. Hans sudah menjadi kepercayaan keluarga Wijaya sama seperti Pak Toni.
Pak Toni adalah sahabat Papa Fadel, sedangkan Hans sahabat Irfan. Mereka berdua termasuk dalam tangan kanan keluarga Wijaya.
"Aku dapat kabar dari Akbar tentang dia," Seketika itu juga suasana menjadi tegang.
Hans merasakan hawa dingin yang munusuk, dinginnya mampu membekukan seluruh kantor ini pikirnya.
Hans melihat raut wajah Irfan, masih sama tanpa ekspresi setelah mendengar ucapannya.
"Baiklah kita bahas itu nanti, masih banyak pekerjaan yang harus di urus," Hans mengalihkan perhatian Irfan dengan pekerjaan.
Soal pekerjaan tidak usah ditanya lagi, Irfan sangat disiplin mengenai hal ini. Ia tidak mau masalah pribadi di campur adukkan dengan hal kantor.
Mereka pun mulai serius untuk membahas masalah kantor. Banyak sekali dokumen yang perlu di periksa lagi oleh Irfan, mungkin mereka bisa lembur malam ini.
***
Arum dan Mama Gita sudah siap untuk berangkat. Sebelum itu mereka berpamitan pada Papa Fadel, tak lupa pula untuk mencium punggung tangan Bapak Negara.
Mereka di antar oleh Pak Toni, yang tadinya langsung pulang setelah mengantar Irfan ke kantor.
Jarak dari mansion ke butik milik Mama Gita lumayan jauh, jadi mereka bisa bersantai dan mengobrol dengan leluasa.
Sepanjang perjalanan, Mama Gita menjelaskan beberapa hal mengenai butik miliknya itu.
Butik milik Mama Gita ini bernama Butik Wijayakusuma, sama dengan kantor milik keluarga Wijaya.
Wijayakusuma merupakan kesatuan dari nama Mama Gita dan Papa Fadel, properti apapun yang di miliki oleh keluarga Wijaya selalu di namakan dengan Wijayakusuma.
Usaha keluarga Wijaya pun terkenal hingga keluar negeri, tak jarang orang luar ingin bekerja sama dengan keluarga Wijaya yang di kenal dengan keluarga yang jujur serta tegas dalam menangani masalah.
Ada pula yang iri dan benci dengan kejayaan keluarga Wijaya, tetapi tetap saja mereka akan kena karma dari perbuatan mereka sendiri.
Mobil pun telah tiba di depan butik yang di maksud Mama Gita.
__ADS_1