
Hari ini adalah weekend, ada yang masih tetap bekerja meskipun itu akhir pekan, ada pula yang libur bekerja seperti halnya orang yang bekerja kantoran.
Irfan dan Arum sudah berada di rumah utama sejak pagi menjelang, karena sebagai kewajiban keluarga Wijaya adalah pada saat sedang libur harus sarapan dan menghabiskan waktu bersama.
Mereka sudah selesai sarapan, kini sedang berbincang santai di ruang keluarga.
"Kalian ga ada acara mau kemana gitu Nak?" Tanya Mama Gita pada Arum dan Irfan.
"Ehm Arum ngikut Abang aja sih Ma, hehe."
"Yasudah, ajak Arum ke taman kota gitu Fan, sekalian jalan-jalan kenalin Arum Kota Bandung gitu," Sarkas Mama Gita.
"Hm, boleh juga. Yaudah yuk kita pergi," Irfan langsung saja menyetujui permintaan sang Ibu Negara.
Arum sangat senang, Ia segera pamit kepada Papa dan Mama di ikuti oleh Irfan yang juga ikut mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Arum dan Irfan keluar rumah utama dan menuju ke garasi rumah kedua untuk mengambil mobil miliknya.
"Mereka berdua serasi sekali ya Pah," Ucap Mama Gita saat melihat Irfan dan Arum yang keluar berdampingan.
"Iya Mah, kita tidak salah pilih menantu," Papa Fadel membenarkan ucapan sang mama.
"Yee bukan kita yang milih Pah, tapi anak kita," Mama sedikit memukul lengan sang papa.
"Hehehe iya gitu maksud Papa Mah," Papa hanya terkekeh dengan jawabannya, mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolan sambil sesekali tertawa.
Meskipun sudah lumayan berumur tetapi mereka berdua masih terlihat seperti anak dua puluhan tahun, awet muda bukan.
Mereka juga di jadikan contoh bagi orang-orang karena memang mereka sangat harmonis, sangat jarang terdengar konflik di antara mereka.
Hanya saja ada salah satu masa lalu kelam yang membuat keluarga Wijaya sedikit goyah dan hampir jatuh, tetapi sudah bisa dilewati.
Mungkin bagi orang yang dulu pernah tau, mereka masih saja memikirkan bagaimana kelanjutan dari kejadian itu.
(Kita bahas lain kali yaa xixixi)
πππ
Arum dan Irfan sudah berada di garasi rumah kedua, Arum melihat itu dengan mata yang berbinar-binar.
"Wahhh, apakah semua ini milik Abang?"
"Iyaa, mau naik apa?" Tanya Irfan yang sedikit gemas dengan tingkah Arum.
__ADS_1
"Ehm motor boleh ga?" Arum menunjukkan baby face nya kepada Irfan yang membuat Irfan salting.
"Boleh aja kok. Tapi nanti kalau hujan gimana hmm?" Irfan mencubit pipi Arum.
"Yaudah mobil aja deh!"
"Tau gitu ngapain nanya tadi," Arum ngedumel dengan suara yang pelan tapi masih di dengar oleh Irfan.
Irfan hanya geleng-geleng kepala dan mengulum senyum saat melihat raut wajah Arum yang kesal tapi terlihat menggemaskan di matanya.
Irfan mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung di dinding sebelah pintu, lalu menekannya. Salah satu mobil disana menyala dan mereka segera masuk ke dalam mobil.
Arum langsung duduk tetapi Irfan segera memakaikan sabuk pengaman pada Arum, tak lupa Ia mengingatkan jika saat mengendarai mobil jangan lupa di gunakan untuk mencegah hal-hal yang mungkin saja bisa terjadi.
Mobil segera keluar dari garasi, Irfan sengaja keluar melalui rumah utama padahal Ia bisa saja langsung menuju gerbang.
Irfan menyalakan klakson mobil, kebetulan orang tuanya sudah berada di teras rumah. Arum melambaikan tangan dan di balas lambaian tangan mereka.
Mobil pun keluar dari gerbang meninggalkan mansion mewah itu.
Irfan bertanya pada Arum, Ia ingin kemana tetapi Arum menjawab kemana saja. Karena memang Ia belum tahu apapun tentang Bandung ini.
Irfan melanjutkan mobilnya, Ia menuju ke arah Taman Hutan Kota Babakan Siliwangi.
Saat setelah sampai, mata kita langsung disuguhkan dengan keindahan dari taman ini.
Tempat yang sejuk dan asri, sangat cocok di jadikan tempat berlibur untuk melepas penat yang melanda.
Arum nampak sangat excited melihat ini, selain karena keindahan, tempat ini juga bisa membuatnya merasa tenang dan damai.
Mereka memasuki taman, namun sebelum itu mereka membayar karcis terlebih dahulu. Karena hari libur dan mereka juga pasangan, jadi di berikan diskon oleh sang penjaga.
Arum dan Irfan berkeliling melewati beberapa pohon besar, ada juga tempat duduk untuk bersantai.
Namun rupanya Arum terlihat tidak kelelahan sama sekali, Ia masih semangat untuk melanjutkan petualangan di taman ini. Irfan pun masih setia menemani dan menjelaskan apapun yang ditanyakan oleh Arum.
Orang-orang disekitar banyak yang memperhatikan mereka berdua karena memang banyak yang mengenal Irfan sebagai pewaris dari keluarga Wijaya.
Mereka hanya berani melihat dan menyimak saja tanpa berani mendekat maupun bertanya, siapakah wanita yang saat ini sedang bersama sang pewaris itu.
Karena memang pernikahan keduanya belum banyak yang tahu, hanya orang-orang terdekat dan yang menghadiri acara pernikahan mereka saja yang sudah tahu tentang hubungan mereka.
__ADS_1
Irfan tahu itu semua, tapi Ia tak peduli dengan omongan orang. Ia acuh saja, dengan gaya cool nya Ia tetap setia menemani sang istri yang memang tidak peka terhadap sekitar.
Setelah cukup lama mereka berkeliling dan sudah menjelajahi taman ini, mereka pergi meninggalkan tempat ini dan lanjut ke tempat selanjutnya.
Irfan mengajak Arum menuju ke Taman Foto.
Lagi-lagi Arum di buat kagum oleh keindahannya. Ia sangat senang dan sudah tidak sabar lagi ingin menuju kesana.
Irfan mengajak Arum memasuki area taman, banyak sekali pengunjung sama seperti Taman Hutan tadi.
Tetapi memang lebih banyak pengunjungnya adalah anak-anak yang seumuran dengan Arum dan Irfan.
Irfan kembali membawa Arum berkeliling dan lagi kejadian yang sama seperti sebelumnya terjadi.
Arum merasa cukup lelah karena belum beristirahat sama sekali, jadi Ia mengajak Irfan untuk beristirahat sementara di bawah pohon rindang yang ada disana.
Arum ingin mengajak Irfan selfie berdua namun Irfan menolaknya karena banyak yang sedang memperhatikan mereka.
Akhirnya Arum memutuskan agar Irfan memotret dirinya saja.
Arum pun memposisikan dirinya pada sebuah pagar kayu yang ada di pinggir jalan kecil, kemudian Irfan mengambil potretnya.
Setelah selesai Arum mengambil kembali ponselnya dan melihat hasilnya, Ia cukup gembira melihat itu.
"Ternyata aku cantik juga, hihihi," Arum terkekeh melihat foto dirinya sendiri.
Sementara Irfan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arum itu.
Arum lanjut memotret beberapa gaya dan lingkungan disana, tak lupa pula Ia membujuk suaminya untuk mengajak berfoto meski kadang hanya bahu, tangan, dan bagian badan saja yang terlihat di foto itu.
Tapi Arum cukup senang, karena Ia mengambil foto Irfan dengan aesthetik pikirnya.
Setelah puas mengambil foto, mereka lanjut lagi berkeliling karena memang tempatnya yang sangat luas jadi masih banyak yang perlu di jelajahi.
π³π³π³
Nah disini untuk warga Bandung dan sekitarnya, mungkin author ada kesalahan kata bisa di benarkan dan beri saran yaa.
Karena ini dunia halu tapi tetap membutuhkan kenyataan seperti halnya tempat dan juga author hanya dapat info dari Mbah Guling lalu author tambahkan sedikit bumbu-bumbu agar lebih terasa seperti perasaan author kepada kalianπ«’ ehh, becanda yaa xixixi
__ADS_1