
Arum dan Lala sudah kembali ke ruangan. Tak berapa lama muncul Nadia dengan penampilan yang agak berbeda dari sebelumnya.
Nadia kembali merapikan dirinya dan menambah sedikit make up karena kejadian sebelumnya.
Mereka kembali bercengkrama mengenai berbagai hal. Dan kini Nadia menjadi agak kalem dari sebelumnya, ia tidak lagi mencari perhatian Irfan.
Setelah di rasa puas mengobrol, Irfan pun pamit untuk segera pergi. Karena waktu juga menunjukkan sudah saatnya untuk melaksanakan ibadah sholat dzuhur.
Doni pun mengerti, temannya ini memang dari dulu sangat taat beribadah. Tidak pernah sekalipun ia meninggalkan sholatnya.
Setelah kepergian Irfan dan Arum, Nadia juga pamit undur diri karena memang sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan.
Sesampainya di hotel tempatnya menginap, ia langsung saja menghancurkan barang apapun yang ada di hadapannya.
Alfian yang melihat Nadia seperti itu menjadi kebingungan, entah apa yang terjadi pada Nadia sebelumnya hingga membuatnya murka seperti itu.
Alfian mencoba bertanya tentang apa yang terjadi pada Nadia, namun rupanya wanita ini sudah kesurupan. Ia tidak mendengarkan ucapan Alfian sama sekali. Masih sibuk menghancurkan semua barang yang ada.
Alfian pun menyerah, ia membiarkan Nadia untuk sementara melampiaskan kemarahannya. Alfian keluar menuju balkon dan menyalakan sebatang rokok guna menenangkan pikirannya.
Sepuluh menit berlalu, tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang. Rokok yang di hisap nya pun sudah habis. "Sudah lebih baik?" Ucap Alfian sambil berbalik badan dan memeluk Nadia.
"Maafkan aku, Al. Aku terbawa emosi dan tidak menghiraukan mu."
"It's oke, honey. Maukah bersenang-senang bersamaku?" Alfian mengangkat dagu Nadia lalu memainkan bibir wanita itu dengan jarinya.
Nadia menggigit jari Alfian dan menggodanya. Tak tinggal diam, Alfian pun mengangkat tubuh Nadia dan membawanya ke kamar mandi. Kemudian mereka pun bersenang-senang disana seperti yang di katakan Alfian barusan.
(Ekhem, cukup mereka yang tau, bagaimana bersenang-senang di dalam sana🤫)
***
"Bosen juga di hotel mulu. Jalan-jalan keluar enak kali yaa," Mitha sedang bersiap untuk pergi keluar, karena memang ia belum kemana-mana sejak kedatangannya.
__ADS_1
Namun ia juga tidak tau ingin kemana, akhirnya ia memilih untuk berjalan di sekitar hotel. Mungkin saja di daerah sini ada tempat yang bagus pikirnya.
Saat sedang berjalan, ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Ia mengambil ponselnya dan melihat ternyata Arum yang menelpon.
Ia pun jadi panik seketika, karena Arum melakukan panggilan video. Maksudnya adalah ia ingin memberikan kejutan kepada Arum nanti, kalau Arum melihat dimana ia sekarang, tentu saja Arum akan mengetahui semuanya.
Karena terlalu lama tidak di angkat, panggilan itu pun berakhir. Mitha pun jadi lega karena berhasil menghindari Arum. Ia kembali berjalan tanpa arah dan tujuan.
Sementara Arum, ia keheranan karena tidak biasanya si kakak tidak mengangkat telpon darinya. Jadi ia tidak menelpon lagi karena mungkin si empunya sedang tidur.
Arum melirik Irfan yang sedang sibuk menelpon di balkon kamar. Ia pun menjadi bosan dan tidak tau ingin melakukan apa. Baru saja ingin membuka aplikasi baca novel, Irfan sudah kembali dan selesai menelpon.
Arum pun bertanya pada Irfan, apakah pekerjaannya disini sudah selesai. Karena memang Irfan kesini hanya untuk tanda tangan kontrak kerja dengan Doni, pemilik restoran yang ingin bekerjasama sama dengannya.
Irfan pun berpikir, memang sudah selesai. Namun sudah berada disini, sekalian saja ia ingin mengecek cabang perusahaan milik keluarga Wijaya yang ada di Bali. Jadi ia memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari lagi. Juga, kerjaan di kantor pusat yang ada di Bandung tidak terlalu menumpuk lagi.
Arum pun hanya ikut saja bagaimana keputusan suaminya itu. Hitung-hitung bisa menghabiskan waktu bersama dan melihat suasana Bali.
Beberapa hari mereka disana, di habiskan dengan Irfan yang mengajak Arum untuk berkunjung ke setiap perusahaan cabang.
Di rumah utama, kini sedang ramai para pekerja yang sibuk mendesain mansion keluarga Wijaya dengan sangat megah.
Mama Gita dan Papa Fadel sudah merencanakan untuk membuat resepsi pernikahan Arum dan Irfan. Mereka tidak mau menunda waktu lagi.
Mereka juga tidak ingin menantu kesayangan mereka selalu bersedih akibat ulah Irfan yang selalu mengabaikan Arum. Juga, mereka ingin semua orang mengetahui bahwa putra mereka sudah menikah dan mempunyai istri sesempurna Arum.
Hans juga di minta untuk tidak memberitahu apa-apa pada Irfan. Biarlah ini menjadi sebuah kejutan untuk mereka.
Mama Gita sudah menghubungi keluarga Arum dan mengatakan akan membuat resepsi pernikahan putri mereka. Mama Leni yang mendengarnya tentu saja sangat bahagia dan bersyukur mempunyai besan sebaik mama Gita.
Sehari setelah di beritahukan semua rencana kejutan ini, keluarga Arum langsung terbang ke Bandung. Zul dan Ica ikut serta, orang tua mereka saja tidak ikut dikarenakan mengurusi pekerjaan.
Sampai di Bandung, keluarga Arum di paksa untuk menginap di mansion. Mereka menolak pun percuma, karena sudah seperti ini akhirnya mereka pasrah saja dengan semuanya.
__ADS_1
Banyak desas-desus yang membicarakan keluarga Wijaya yang sedang menyiapkan sebuah pesta. Berita yang muncul di internet pun segera di tekan agar tidak tersebar luas.
Dan sampai sekarang, masih belum banyak orang luar yang tahu mengenai acara ini. Hanya orang sekitaran Bandung saja yang mengetahui, akibat dari berita yang tersampaikan dari mulut ke mulut.
Tak terkecuali Mitha, ia juga sudah mendengar kabar mengenai keluarga Wijaya yang sedang menyiapkan pesta pernikahan. Ia berpikir, tumben si adik tidak memberitahukan kabar bahagia ini. Biasanya hal sekecil apapun itu akan selalu di ceritakan pada dirinya. Ya, kecuali saat Arum menikah dulu.
Sejak saat itu, Arum tidak menyembunyikan apapun lagi darinya. Tapi sekarang, saat akan ada pesta besar-besaran, Arum tidak memberi kabar apapun.
Mitha kembali berpikir, keluarga besar seperti keluarga Wijaya sedang mempersiapkan pesta mewah. Biasanya akan selalu ada berita yang seliweran di internet, tapi ini tidak ada sama sekali.
Akhirnya Mitha mengerti. Pesta ini adalah pesta kejutan untuk Arum dan suaminya yang masih di Bali sampai saat ini.
"Astaga! Pantas saja anak itu ga ada ngasi tau apapun. Ya, aku paham sekarang. Beruntung sekali kamu Dek. Semoga kamu bahagia selalu yaa. Akak turut bahagia dengan dirimu," Doa Mitha untuk adik kesayangannya.
"Aamiin," Suara orang yang meng aamiin kan doa Mitha.
Mitha tersentak mendengar suara yang tiba-tiba itu. Ia melihat sekeliling, "Kamu!" Tunjuk Mitha pada seorang pria yang sudah berada di depannya.
"Ya, ini aku. Masih ingat aku kan? Nona Miftahul Khamila."
"What?! Kamu kok bisa tau nama asli ku?!" Mitha kembali di buat terkejut oleh pria ini.
Pria itu pun tersenyum smirk. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Mitha. "Apa sih yang seorang Hans ga tau?!" Ucapnya sambil menaik turunkan alisnya di hadapan Mitha.
"Hadeh. Baiklah, cepat katakan apa mau mu?" Mitha tak mau banyak basa basi lagi, karena jika tidak, ia akan menjadi tidak waras jika berada di hadapan Hans.
"Kamu cukup pintar juga. Kamu bisa menebak kalau ini adalah pesta kejutan untuk Adik mu. Jadi, apa kau tidak akan memberi kejutan juga pada Adik mu?"
"Apa maksud mu?" Mitha tak paham dengan ucapan Hans.
"Yaa, kau kan kesini untuk menemuinya. Sampai kapan kau akan bersembunyi darinya. Inilah saat yang tepat. Kau bisa memberinya kejutan, dengan datang secara tiba-tiba di pesta pernikahannya," Jelas Hans yang membuat Mitha baru tersadar.
Mitha menepuk jidatnya seperti orang linglung. Hans hanya menggelengkan kepala melihat Mitha yang menurutnya sangat konyol.
__ADS_1
Hans pun menjelaskan bagaimana rencananya nanti, yang akan memberikan kembali kejutan lain pada istri bos sekaligus sahabatnya itu.
Akhirnya setelah hari ini, Hans dan Mitha menjadi lebih mengenal dan lebih akrab lagi satu sama lain.