Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Si Plin Plan


__ADS_3

Setelah nafsu mereka terpuaskan, Al menggendong Nadia yang sudah nampak lemas tak berdaya ke sofa.


"Apa kau puas Honey?" Al sedikit mel*mat bibir Nadia.


"Kita lihat saja nanti," Nadia terlihat lemas namun senyumannya terlihat sangat mengerikan.


"Ada apa? Tak biasanya kau seperti ini? Apa berkaitan dengan Irfan lagi Nad?" Sepertinya Alfian memang sudah hafal betul sifat Nadia.


"Udah tau pake nanya! Tuh liat foto di meja."


Al mengambil foto yang telah sobek menjadi dua bagian. Foto Irfan dan Arum yang sebelumnya.


"Siapa wanita ini?" Tanya Al sama persis seperti saat Nadia bertanya pada anak buahnya.


"Istrinya," Nadia menjawab dengan datar tanpa ekspresi.


"Hahaha pantas saja, potek kau sayang, Irfan-mu telah di ambil orang," Bukannya menghibur Al malah mengejek Nadia.


Nadia kembali di bakar api kemarahan dan emosinya kembali meledak. Ia bangkit dari tidurnya lalu menghempaskan tubuh Al ke sofa.


Ia kini berada di atas tubuh Al, yaa mereka masih polos tanpa pakaian apapun.


Nadia tersenyum smirk lalu berkata "Jangan main-main denganku, lihat saja pembalasanku!"


Nadia pun melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, mereka bermain lagi di sofa tetapi sekarang Nadia yang memimpin bukan Al, dan hal itu terjadi lagi.


***


Hari sudah malam, sama seperti sebelumnya Irfan belum pulang hingga larut malam. Arum masih tetap setia menunggu kepulangan suaminya itu.


Waktu pun berputar, selama beberapa hari ini Irfan dan Arum jarang bertemu dan berkomunikasi. Saat Arum sudah tertidur, Irfan baru pulang kantor.


Arum pun mengisi waktunya dengan menemani sang Mama yang kadang mengajaknya ke butik dan belanja.


Hari ini weekend, seperti biasa mereka akan berkumpul untuk sarapan bersama. Makan dengan tenang tanpa ada yang mengganggu.


Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga untuk berbincang. Tiba-tiba terdengar suara orang yang mengucapkan salam dari luar.


Masuklah seorang pria yang ternyata itu adalah Rio teman Arum, lebih tepatnya sahabat.


Arum sangat senang Rio bisa menyempatkan waktunya untuk datang, padahal kan sangat jarang seorang abdi negara memiliki waktu luang.


Arum memperkenalkan Rio pada Papa dan Mama, mereka juga senang dengan sifat Rio yang sopan kepada orang tua.

__ADS_1


Tak berapa lama datang lagi seorang wanita yang ternyata Fira, karyawan sekaligus anak angkat Mama Gita.


Ketika Fira masuk, matanya bertemu dengan mata milik Rio. Mereka bertatapan beberapa detik, ada sesuatu yang berdenyut ketika kedua pemilik mata itu bertatapan.


"Wahh Fira tumben sekali kamu datang, apa kamu kangen sama kakak mu yang tampan ini?" Ledek Irfan pada Fira karena memang sudah lama mereka tidak bertemu.


"Yee geer sekali anda kak, Fira kesini tuh mau ketemu Arum. Lagian ga penting juga buat kangen sama kakak," Fira sengaja berkata seperti itu untuk melihat reaksi Irfan.


"Ohh gitu yaa, yaudah jajannya di potong!" Irfan berkata dengan dingin.


"Cielah pake ngambek segala, udah punya istri juga, gimana nanti pas udah punya bayik yaa, ups" Fira menutup mulutnya, emang ceplas-ceplos aja.


Wajah Arum pun memerah mendengar perkataan dari Fira, sementara Irfan terlihat santai seperti tidak terjadi apapun.


"Sudah-sudah kalian berdua ini yaa, ohh iya sayang ini Rio teman sekolah Arum. Rio ini Fira anak angkat bunda," Mama melerai pertikaian kedua anaknya lalu memperkenalkan Fira dan Rio.


Saat Fira dan Rio bersalaman, mata mereka kembali bertemu. Jantung pun berdetak, serasa jatuh cinta pada pandangan pertama mereka ini yaa.


Cukup lama, sampai suara batuk dari Irfan menyadarkan mereka berdua. Fira pun nampak malu sementara Rio berusaha mengontrol dirinya agar tak terlihat gugup.


Fira pun ikut bergabung dan bercengkrama, kadang kala mereka akan tertawa dan saling mengejek menambah ramai di dalam rumah itu.


Sejak hari itu, Fira mulai dekat dengan Rio, Rio pun mulai bisa menerima Fira dan mengikhlaskan Arum.


Mereka pun jarang bertemu, karena Irfan pulang ke rumah saat larut malam dan Arum sudah tertidur.


Mereka bertemu hanya saat weekend untuk makan bersama mama dan papa. Selebihnya Rio full bekerja.


Arum mengisi rutinitasnya dengan ikut mama Gita ke butik, jalan bersama Fira, Ia juga kadang di rumah hanya mengobrol bersama kakak online nya melalui ponsel.


Seperti hari ini, mereka sedang melakukan video call untuk yang kesekian kalinya.


"Jadi gimana rumah tangga kalian Dek? Baik baik aja kan?" Tanya sang kakak di seberang sana.


"Ehm yaa gitu deh kak, kita jadi jarang ketemu. Ketemu pun saat weekend aja, selebihnya abang di kantor."


"Emang kalian ga bulan madu gitu?"


Wajah Arum bersemu merah saat mendengar pertanyaan dari sang kakak.


"Ehh kenapa kamu? Apa jangan-jangan kalian belum belah duren yaa?" Sang kakak jadi penasaran dengan hal ini.


"Be-belum hehehe" Arum menutup mulutnya karena malu.

__ADS_1


"What?! Astaga! Kalian, bisa-bisanya-" Ia tak melanjutkan perkataannya, tak habis pikir dengan pasangan Arum dan Irfan ini.


"Terus waktu malam pertama kalian ngapain aja Dek?" Tanyanya lagi dengan penuh selidik.


"Tidur aja" Arum nyengir kuda seperti tak bersalah sama sekali.


"Astaghfirullahal'azim, kakak ga habis pikir sama kalian berdua ini. Gimana mau harmonis, orang belum saling sentuh menyentuh, ehh ups!"


"Aish kakak ga boleh gitu, mau gimana lagi coba orang si abang sibuk."


"Iya tau, tapi sekarang dia sudah punya istri harusnya bisa membagi waktu dong buat rumah tangganya, kerja mulu! Emang nanti dia sakit kerjaan itu yang bisa sembuhin dia? Kan enggak malah sebaliknya!"


Si kakak pun mulai lagi ngomel-ngomel pada Arum yang hanya bisa mengangguk dan diam saat di ceramahi.


Begitulah setiap hari, Arum hanya menahan semua dan menumpahkan keluh kesahnya pada sang kakak, meski hanya kakak angkat dan virtual pula, tapi Arum sudah menganggapnya sebagai kakak kandung.


Arum tak mau mengatakan pada mama Gita, bukan berarti Ia tak mempercayainya, hanya saja Arum tak mau nanti terjadi keributan yang di sebabkan oleh dirinya.


Ia hanya bisa memendam semuanya seorang diri, kadang kala Ia akan meyakinkan dirinya untuk tidak boleh bersedih dan berputus asa karena suatu saat nanti bahagia pasti akan datang.


🌹🌹🌹


Di Kantor.


Saat ini Irfan dan Hans baru saja selesai meeting bersama klien baru mereka dari Bali.


"Jadi gimana Fan? Kamu atau aku aja yang mau ke Bali nanti?"


"Aku aja deh, kamu ngurus yang disini Hans"


"Terus Arum gimana? Ga di ajak tuh sekalian bulan madu gitu."


Raut wajah Irfan pun berubah, Ia menatap tajam pada Hans.


"Apaan dah!" Hans bingung melihat perubahan Irfan yang secara tiba-tiba itu.


"Bulan madu! Apa yang kamu tau heh!"


"Yaelah Fan, Fan. Udah beberapa bulan tuh Arum kamu anggurin, nanti di ambil orang nangis!"


"Ehh ngadi-ngadi kamu! Arum tuh milik Irfan seorang!" Jawab Irfan dengan bangganya sambil menepuk dadanya.


Hans hanya bisa geleng-geleng kepala melihat hal itu, Ia tak habis pikir dengan kelakuan Irfan.

__ADS_1


Istrinya di rumah di biarkan begitu saja, padahal Ia sangat menyayangi Arum namun tak di tampakkan di permukaan.


__ADS_2