
Keesokan harinya Arum bangun kesiangan mungkin karena kelelahan semalam menunggu Irfan untuk pulang.
"Astaghfirullahal'adzim, aku kesiangan."
Arum bangun dari tidurnya dan terkejut, Ia sekarang berada di ranjang, "Loh kok aku bisa disini sih, apa Abang yang melakukannya. Dan kemana dia? Apa sudah berangkat? Kok tidak membangunkan untuk sholat jamaah tadi sih."
Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, lantas Ia bisa apa. Orang yang di carinya pun sudah tak ada disini.
Arum pun beranjak lalu membersihkan diri. Ia turun ke bawah pergi ke dapur. Arum melihat ada salah satu maid disana.
"Bibi, apa Bang Irfan sudah berangkat?"
"Sudah Nona, Ia berpesan jika Nona bangun nanti langsung sarapan saja. Tuan sangat banyak pekerjaan jadi tidak mau mengganggu Nona istirahat."
"Ehm baiklah, terimakasih yaa Bi."
"Iyaa Nona, saya permisi."
Maid itu pun keluar untuk membersihkan halaman luar. Arum duduk di meja makan dan menyantap makanan yang sudah tersedia.
Selesai sarapan Arum kembali ke kamar, karena bosan Ia pun mencoba berpetualang di dalam kamar suaminya itu, mumpung empunya ga ada pikirnya.
Bukan maksud hati ingin lancang, tetapi sekarang kan Arum sudah menjadi istri Irfan, mungkin Ia bisa mengenal kehidupan Irfan lebih dalam.
Di sudut kamar ada sebuah meja dengan hiasan bunga mawar berwarna putih, entah kenapa Arum sangat tertarik dengan meja itu.
Ia membuka lacinya dan melihat ada sebuah foto, tapi tersimpan terbalik. Arum penasaran foto siapakah yang di simpan suaminya itu.
Ia mengambilnya, perlahan namun masih ragu untuk melihat. Akhirnya agar menghilangkan rasa penasarannya, Arum pun melihat foto itu.
"Seorang wanita?" Kening Arum berkerut, Wanita itu mengenakan pakaian sekolah.
"Siapa gadis ini? Kenapa terasa sangat familiar, tetapi aku lupa dimana dan kapan melihatnya."
Arum masih memandangi wajah gadis itu, mungkin Ia bisa mengingatnya. Namun nihil, Ia tidak bisa mengingat apa-apa.
Tiba-tiba ada suara pintu yang di ketuk, "Nona Muda," ternyata seorang maid yang mencarinya.
Arum pun menyimpan kembali foto itu ke tempat semula, Ia berjalan keluar dan membuka pintu.
"Iya, kenapa Bi?"
"Nyonya memanggil Nona muda."
"Ehm baiklah, makasih Bi," Tak lupa Arum mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Iya Non, saya permisi dulu."
Arum pun keluar dan menuju ke rumah utama, karena ibu negara memanggil.
Sampai disana Arum melihat hanya ada sang mama yang duduk di ruang keluarga sendirian tanpa papa.
"Assalamu'alaikum Mah," Arum mencium punggung tangan Mama Gita.
"Wa'alaikumussalam sayang, sini duduk. Daripada Arum sendirian di rumah, lebih baik temenin mama kita ngobrol."
"Hehehe baiklah Mah. Papa kemana Mah?"
"Papa sedang keluar sama Pak Toni karena urusan kerjaan."
Arum pun manggut-manggut tanda mengerti.
Arum jadi teringat kembali dengan sosok gadis tadi yang dilihatnya.
Ia ingin bertanya namun masih ragu, karena mungkin saja itu privasi suaminya. Akhirnya niat itu pun di urungkannya.
Mama mengajak Arum menonton film di tv sambil sesekali bercerita tentang hal apapun itu.
***
"Siapa wanita ini?" Tanya seorang wanita pada anak buahnya yang memberikan beberapa foto.
"Dia adalah istri Tuan Irfan Nona."
"Benar Nona. Mereka menjalin hubungan sejak setahun yang lalu. Kenal pun di Instagram, hanya saja mereka tidak mempublish hubungannya."
"Tch! Sia*lan! Apa-apaan itu!"
"Aku akan menghancurkan rumah tangga kalian, tidak ada yang cocok bersanding dengan Irfan Wijaya selain aku, Nadia!"
"Keluar kau!"
"Ba-baik Nona, permisi."
Nadia menampakkan wajah seperti seorang pshyco, Ia menatap satu persatu lembaran foto yang ada di atas meja.
"Arum, tunggu dan lihat saja, aku akan merebut Irfan-ku kembali. Tidak ada yang boleh memilikinya selain NADIA!"
Ia merobek foto itu menjadi dua, memisahkan gambar Irfan dan Arum yang telah di potret secara diam-diam oleh anak buahnya.
"Memangnya kenapa jika aku adalah sepupu mu? Wajar saja bukan, kita tidak memiliki hubungan darah apapun. Hahahahaha," Tertawanya begitu keras dan melengking.
Hanya saja tertawa itu bukan seperti tertawa orang pada umumnya, siapapun yang mendengarnya pasti akan bergidik ngeri. Mereka dapat membayangkan bahwa hal buruk akan dilakukan oleh wanita ini.
__ADS_1
"Tunggu tanggal mainnya," Ia tersenyum sinis.
Setelah itu Ia memasuki sebuah ruangan yang menjadi ruangan rahasia. Tidak ada orang lain yang tahu selain dia.
Di sana terdapat banyak foto Irfan yang terpampang di setiap sudut ruangan, lebih tepatnya dinding ruangan itu di penuhi dengan foto Irfan.
Entah itu foto sedang di kantor, di rumah, saat Irfan sedang mandi pun ada disana, sangat nyata😳
"Kamu sangat seksi sayang, aku tidak sabar untuk bermain-main dengan mu baby," Nadia mengusap salah satu foto yang menampakkan keperkasaan Irfan saat sedang mandi.
Raut wajahnya kembali berubah, wajah yang penuh dengan hasrat dan keinginan. Tubuhnya penuh keringat dingin, wajahnya memerah.
Ia segera menghubungi seseorang di telfon dan mengatakan pada orang itu bahwa Ia sedang ingin melakukannya, orang yang di seberang pun dengan semangat menjawab dan akan tiba dalam beberapa menit.
Nadia keluar dari ruangan itu menuju ke ruang tamu, Ia tidak sabar menunggu seseorang untuk datang.
Benar saja, tak butuh waktu lama orang yang dicarinya itu sudah ada di depan pintu rumahnya.
Suara bel rumah berbunyi, Nadia membukakan pintu. Tampaklah seorang pria dengan paras cukup tampan datang menemuinya. Ia masuk lalu segera menutup pintu dan menguncinya.
Ia segera membalikkan badan Nadia ke arah dinding dan mendekapnya. Nadia yang sudah kesurupan pun langsung mengeksplor bibir si pria.
Pria itu tak tinggal diam, Ia melepaskan seluruh pakaian yang ada di tubuh Nadia dan sekarang tubuh Nadia sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Nadia melepaskan tautan bibirnya lalu berkata dengan nafas yang sudah memburu "Cepatlah Al, aku sudah tak tahan lagi!" Ia kembali menyambar bibir Al.
"Of course, Honey."
Al pun membuka seluruh pakaiannya, di angkatnya sebelah kaki Nadia lalu memasukkan pedang miliknya dan menghunuskan pedang itu ke dalam tubuh Nadia.
Nadia menjerit lalu mencakar punggung Al, "Akhh, mari kita bersenang-senang sayang."
"Baiklah jika itu maumu," Al pun perlahan menambah ritme gerakannya, Nadia melenguh dan meracau tak karuan.
Tangan Al yang satu di gunakan untuk menahan kaki Nadia yang ada di atas sementara tangan yang lainnya Ia gunakan untuk memainkan buah dada milik Nadia.
Mereka pun melakukan hal itu di ruangan yang terbuka, meski di dalam rumah tapi itu bukan di kamar. Untung saja Nadia hanya tinggal sendiri tanpa ada maid hari ini.
Mungkin Ia memang sudah merencanakan ini, sehari sebelumnya Ia menyuruh para pekerja untuk cuti.
Di ruangan itu, terdengar suara-suara yang horor, membuat yang mendengar bergidik.
Setengah jam lamanya, mereka bermain hingga akan mencapai puncaknya, "Sedikit lagi Al, ayoo sayang!"
"Ayo bersama Honey."
"Arrghhh ALFIAN!"
__ADS_1
"NADIAAA!!"
Dan hal itu terjadi begitu saja.