Aku (Bukan) Hanya Pajangan

Aku (Bukan) Hanya Pajangan
Bandung! I'm Coming!


__ADS_3

"Ga usah liat keluar jika takut," Irfan membuka suara saat melihat Arum yang ketakutan tapi masih saja melihat ke arah luar jendela.


"Tapi pemandangannya bagus, sayang jika di lewatkan," Jawab Arum dengan nyengir kuda yang membuat Irfan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Yaudah. Nanti kalo pusing tidur lagi yaa," Sambung Irfan dengan suara yang agak melembut.


"Iyaaa Abang" Tersenyum manis yang membuat Irfan terpesona.


Irfan mengalihkan pandangannya karena pipinya merona melihat senyuman Arum itu.


Sementara itu di kursi belakang, Mama Gita dan Papa Fadel hanya terkekeh melihat tingkah mereka berdua yang menggemaskan.


Mereka kembali berbincang dan sesekali berbisik sambil membicarakan tingkah dari Arum dan Irfan yang agak konyol itu.


Bagaimana tidak, Arum sudah pusing tapi tidak mau di suruh untuk tidur. Ia kekeh masih ingin melihat pemandangan di luar.


Alhasil, Irfan pun ngambek dan tidak lagi memperdulikan Arum. Setelah beberapa drama ikan terbang, akhirnya Arum mau tertidur meskipun hanya untuk sebentar saja sebelum pesawat mendarat.


Beberapa waktu berlalu, kini pesawat telah mendarat dengan selamat sampai dimana tujuan mereka berada.


Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara, Kota Bandung.



Semua penumpang turun dari pesawat tak terkecuali Irfan dan yang lainnya.


Arum yang baru pertama kali menginjakkan kakinya dan melihat langsung bagaimana kota Bandung sangat excited.


Ia dengan semangat meninggalkan area landasan dan menuju ke dalam bandara dengan penuh semangat.


Ibarat para pejuang, semangat 45, Ia melupakan sakit yang melanda kepalanya karena semangat dengan apa yang ada di depannya ini.


Setelah di dalam bandara Ia berteriak, "Bandung! I'm Coming!" Suaranya yang tak terlalu keras namun masih terdengar oleh beberapa orang di sekitarnya.


Hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian saat itu juga karena tingkah konyolnya itu.


Irfan dan kedua orang tuanya agak speechless melihat kelakuan Arum yang seperti itu untuk pertama kalinya.


Mereka meminta maaf kepada orang-orang yang ada di sekitar dan semua orang kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


"Ehm Ma-maaf, Arum malu maluin yaa," Arum agak sedikit takut dan sedih melihat itu terjadi.


"Gapapa sayang, itu udah biasa terjadi kok. Bukan cuman Arum aja yang pernah seperti ini," Mama Gita berusaha menghibur Arum agar tidak kepikiran dengan hal yang baru saja terjadi.


"Iyaa Mah," Hanya itu yang terucap dari bibir Arum karena masih speechless juga.


Irfan menghampiri Arum dan mengusap pucuk kepalanya, tak lupa Ia tersenyum dengan manisnya sambil berkata "Udah, gapapa kok sayang."

__ADS_1


Arum pun bisa kembali tersenyum saat melihat bagaimana suaminya itu menghiburnya.


Mereka menuju ke parkiran, tempat dimana seseorang kepercayaan keluarga Wijaya sudah menunggu. Ia datang menjemput Tuan serta keluarganya dan anggota keluarga baru tentunya.


Mobil pun melaju membelah ramainya para penumpang yang masuk maupun keluar dari bandara.


"Bagaimana keadaan disini selama beberapa bulan ini Toni?" Tanya Papa Fadel kepada orang tersebut yang ternyata bernama Toni.


"Semuanya berjalan dengan lancar Tuan, hanya ada beberapa masalah kecil saja," Jawab Pak Toni.


"Baiklah, kita bahas dirumah nanti."


Mobil pun terus berjalan menuju ke arah mansion keluarga Wijaya.


Di sepanjang perjalanan, Arum tak henti-henti memperhatikan sekitaran yang di laluinya.


Ia sungguh kagum dengan keindahan Kota Bandung ini.


Kurang lebih tiga puluh menitan waktu yang di tempuh untuk sampai dari bandara ke arah mansion.



Pintu gerbang terbuka, nampaklah mansion yang besar nan indah. Lebih mirip seperti sebuah istana saja pikir Arum.


Setelah memasuki gerbang, tampak para pekerja mansion itu yang menyambut hangat kedatangan Tuan dan Nyonya mereka yang sudah lumayan lama pergi.


Satu rumah lagi adalah tempat tinggal Irfan, kadang kala di gunakan sebagai tempat pertemuan keluarga. Lebih ke rumah pribadi saja.


Mama Leni menjelaskan semuanya kepada Arum, Ia nampak manggut-manggut saja mendengarnya.


Mobil berhenti di depan Rumah pertama, mereka semua turun.


Para pekerja di rumah sedang berbaris rapi menyambut kepulangan mereka.


"Selamat datang kembali Tuan, Nyonya, Tuan Muda dan Nona Muda," Ucap mereka semua secara serentak.


Arum lagi-lagi di buat kagum oleh mereka.


Irfan pamit untuk istirahat kepada Mama dan Papa di ikuti oleh Arum.


Karena waktu sudah menjelang malam, mereka memilih untuk beristirahat karena kelelahan di perjalanan tadi.


****


Di belahan bumi yang lain.


"Apa? Ja-jadi dia sudah menikah?" Terkejut seorang wanita yang mendapatkan telfon dan laporan dari anak buah kepercayaannya.

__ADS_1


Terdengar seseorang di seberang sana menjelaskan sesuatu dengan sangat hati-hati agar tidak membuat emosi wanita ini berubah.


"Ohh."


"..."


"Baik. Aku paham," Tutt.. Wanita ini langsung saja memutus telfonnya secara sepihak.


"Ternyata dia sudah menikah, bagus sekali. Siapa wanita yang beruntung itu."


"Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya, baiklah tunggu beberapa bulan lagi dan aku akan pulang."


Wanita ini langsung menuju ke dalam kamarnya.


Ia mengambil sebuah foto dari dalam laci di meja samping ranjangnya.


Terlihat di dalam foto itu, foto sebuah keluarga. Dengan anggota empat orang dan salah satunya sudah di pastikan adalah si wanita ini.


"Aku merindukan kalian. Sudah lama kita tidak bertemu," Ia mengusap foto itu dan tanpa terasa air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya yang indah.


"Aku sudah sembuh, aku sudah sehat. Tunggu dan nantikan aku pulang, Mah, Pah, Kak," Tersenyum manis namun air mata masih mengalir di pipinya.


Wanita ini menyimpan kembali foto itu ke tempat semula.


Ia kembali keluar menuju balkon rumahnya, menghadap langit yang sedang mendung namun tak terlihat akan hujan.


Sepertinya langit tahu bahwa ada seseorang yang sedang bersedih kala mengingat keluarganya yang lama tidak bertemu.


Ia merenung dan matanya menerawang jauh, lama kelamaan langit mulai menggelap.


Air hujan perlahan menetes membasahi bumi. Pelan namun pasti, semakin lama semakin deras airnya yang turun.


Hingga si wanita ini basah karena kehujanan, sepertinya Ia sedang menikmati hujan ini.


Tiba-tiba ada seseorang yang memakaikan jaket untuknya, Ia tak bergeming. Masih setia merasakan hujan di sore ini.


"Ayo masuk, aku sudah dengar semuanya."


"Katanya mau pulang, kalau sakit lagi gimana hmm."


Wanita ini tersadar dan menoleh ke arah orang itu.


"Terimakasih untuk semuanya Bar, kamu memang yang paling mengerti aku," Ia membalas perkataannya dengan tersenyum dan melangkah pergi meninggalkan Akbar yang menatap kepergiannya.


"Apapun itu, ku lakukan demi kamu Nis," Akbar menjawab tetapi Nisa sudah tidak mendengarnya karena Ia langsung pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Akbar pun pergi keluar meninggalkan kamar Nisa.

__ADS_1


__ADS_2