
Hari berlalu begitu cepat sudah 6 hari Reisya menginap dirumah Neneknya di Palembang.
Tetapi Reisya masih saja belum memberi kabar pada Eza. Eza pun kembali mulai khawatir dan kemabli berusaha mencari dimana keberadaan Reisya. Sampai akhirnya Eza kembali mendatangi rumah Lala.
~Sesampai dirumah Lala.
"Assalamualaikum" Ucap Eza sambil mengetuk pintu rumah Lala.
"Waalaikumsalam" Jawab Lala.
"La, udah 6 hari Reisya belum ngabarin aku. Bantu aku mencari Reisya La. Aku udah gak tau lagi mau cari dia kemana, semua sosial media aku diblokir La" Bujuk Eza.
"Firasat aku Reisya ada di Palembang Za" Kata Lala.
"Kamu tau dimana rumah nenek nya yang ada di Palembang?" Tanya Eza pada Lala.
"Setau aku sih di Kecamatan Bukit Kecil, tapi aku gak tau nama desa nya pasti di kecamatan itu" Jawab Lala.
"Kalau kamu gak keberatan aku mau ngajak kamu ke Palembang untuk mencari Reisya. Apa kamu bisa La?" Tanya Lala.
"Yaudah aku bakal nemenin kamu tunggu sebentar aku mau ganti baju dan berpamitan sama Mami dan Papi" Jawab Lala.
Setelah selesai bersiap-siap dan berpamitan Eza dan Lala pun langsung berangkat menuju ke Palembang. Eza melaju mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang. Hening dan sangat sepi keadaan di dalam mobil. Eza dan Lala serasa canggung ingin berbicara.
"La, kamu udah lama bersahabat sama
Reisya?" Tanya Eza memulai perbincangan.
"Hmm... Aku dan Reisya berteman dari umur 8 tahun. Papi ku seorang TNI dan harus pindah dinas ke Jakarta dan mau gak mau aku dan Mami harus ikut Papi ke Jakarta. Kebetulan aku dan Reisya satu kelas disekolah dasar dan kebetulannya lagi kita duduk bersampingan. Dari situ lah aku dan Reisya sangat dekat dan itu sampai sekarang" Jawab Lala yang mencoba menjelaskan kepada Eza.
"Lumayan lama ya" Jawab Eza.
Dan akhirnya mereka pun sampai di Palembang dengan perjalanan 6 jam jarak tempuh antara Jakarta dan Palembang. Eza pun langsung menuju ke Kecamatan Bukit Kecil. Eza dan Reisya berhenti di sebuah warung kecil yang ada di Kecamatan tersebut.
"Assalamualaikum Pak" Salam Eza kepada bapak-bapak yang sedang asyik bermain catur diwarung tersebut.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka berbarengan.
"Maaf Pak saya mengganggu waktu Bapak saya mau bertanya. Apa Bapak tau dimana rumah Nenek Salma" Tanya Eza.
__ADS_1
"Apa mungkin Nenek Salma yang punya perkebunan kelapa sawit?" Tanya salah seorang Bapak.
"Iya benar Pak, Nenek Salma pemilik perkebunan kelapa sawit di Palembang" Jawab Lala.
"Oh kalau begitu rumah Nenek Salma ada di Desa seberang, Desa Talang Semut. Rumah Nenek Salma berwarna putih dan rumah beliau bisa dikatakan rumah paling mewah di desa itu" Jawab salah seorang Bapak.
"Terimakasih Pak" Ucap Eza dan Lala berbarengan.
Mereka pun langsung menuju ke desa Talang Semut tersebut. Mereka mencari rumah berwarna putih yang mewah.
"Sepertinya itu deh rumahnya" Kata Lala sambil menujuk ke arah rumah yang sangat mewah di depan.
Mereka pun langsung turun dari mobil dan mereka langsung menuju rumah tersebut.
Ting..... Tong.....
Eza sangat bersemangat menekan bel rumah itu karena Eza sudah tak sabar ingin berjumpa dengan kekasihnya.
Tante Ika pun membukakan pintu
"Assalamualaikum" Ucap Eza dan Lala berbarengan.
"Maaf Tante, apa benar ini rumah Nenek Salma?" Tanya Eza kembali kepada tante Ika.
"Iya benar ini rumah nenek Salma kalian ada perlu dengan siapa disini?" Tanya Tante Ika kembali.
"Saya Lala Tante. Saya sahabat Reisya dari Jakarta. Saya dan Eza kesini bermaksud ingin berjumpa dengan Reisya Tante" Kata Lala yang mencoba menjelaskan pada Tante Ika.
"Apa Reisya ada disini Tante?" Tanya Eza.
"Kalau begitu mari masuk" Ajak Tante Ika.
Mereka pun di persilahkan duduk oleh Tante Ika.
"Kalian tunggu disini ya, Tante mau manggilin Reisya dikamar" Kata Tante Ika.
"Baik tante" Jawab Eza dan Lala serentak.
Tak lama Reisya pun datang menghampiri Eza dan Lala yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Sayang?" Panggil Eza sambil berjalan mendekati Reisya.
Reisya tak berbicara sepatah kata pun, dia hanya terdiam melihat Eza yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku minta maaf atas kejadian di cafe malam itu. Aku gak mau kamu bersikap dingin kayak gini sama aku. Aku rindu kamu dan aku sayang kamu Ca" Kata Eza sambil memeluk Reisya.
Reisya pun mulai menangis. Reisya sadar apa yang dilakukanya ini tak akan menyelesaikan semua masalah dalam hubungan mereka.
"Iya, aku udah maafin kamu kok. Maafin aku juga ya udah pergi tanpa ngabarin kamu. Aku bingung dan aku takut Za. Pikiran aku bercampur aduk" Jelas Reisya.
"Kamu gak usa takut sama Shella Ca ada aku yang bakal selalu melindungi kamu" Kata Eza yang mencoba menenangkan Reisya.
"Ca, kamu udah dewasa. Plis, sifat ini harus kamu ilangin, Eza benar-benar menyayangi kamu ca. Dia hampir setengah mati gak ada kamu" Kata Lala.
Reisya pun memeluk Lala.
"Iya La aku tau apa yang telah aku lakukan ini salah" Kata Reisya dengan penuh penyesalan.
Tak lama datang lah seorang perempuan paruh baya dan menghampiri mereka.
"Oh ada teman-teman kamu ca, udah lama kalian sampai?" Tanya Nenek kepada Eza dan Lala.
"Udah 30 menitan Nek" Jawab Eza.
"Nek, ini Lala sahabat Reisya. Dan ini Eza Nek pacar Reisya yang insyaallah bakal jadi suami Reisya nanti" Jelas Reisya pada Nenek.
Eza dan Lala pun segera menyalami tangan nenek Salma.
Nenek sangat senang dengan kedatangan Eza dan Lala. Reisya pun sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah ini.
Ternyata benar, jangan pernah mengambil tindakan disaat sedang emosi dan marah.
•
•
•
Ibarat api jika api bertemu dengan api maka api tersebut akan semakin membesar. Sementara, jika api diberikan air maka api tersebut akan padam. Begitu pula dengan amarah, jika amarah ditambah dengan amarah maka akan terjadi kesalah pahaman. Sementara, jika amarah diberikan celah untuk diperbaiki maka semua masalah akan selesai.
__ADS_1