
Aether dan Uriel mendekat kearah batu Itu lalu duduk disana untuk beristirahat.
Aether memandang sekitarnya yang hanya berisi begitu banyak pohon dan angin yang berhembus di sekitar.
Lalu Aether menatap Clea yang sepertinya hanya duduk dan tidak memakan apapun " Mungkinkah dia takut ku tinggalkan? " Batinnya.
" Mengapa kamu tidak makan dulu? " Tanya Aether kepada Uriel yang duduk termenung.
" Ah? Nanti saja, Lagipula aku bisa makan kapanpun kan? " Jawab Uriel dengan nafasnya yang masih memburu.
" Lebih baik jika kamu makan sekarang, Aku akan menunggumu " Ucap Aether kepada Uriel.
' Aku akan menunggumu ' Kata yang di dengar oleh Uriel kali ini membuatnya tersenyum tanpa sadar dan kini mengeluarkan bekalnya untuk dia makan.
Aether tersenyum tipis karena akhirnya Uriel mau makan, Lalu dia sendiri mengeluarkan beberapa camilan untuk dia makan.
Uriel menatap ke arah Aether yang hanya memakan camilan lalu berkata " Kenapa kamu hanya memakan camilan? " Tanya Uriel.
Aether menatap Uriel lalu diam sejenak dan berkata " Karena ini sangat mudah, Jika aku lapar aku bisa memakannya di tengah jalan " Ucap Aether.
" Apakah sudah jadi kebiasaan mu memakan camilan daripada makanan lainnya seperti nasi putih, atau apalah? " Tanya Uriel.
" Ya aku suka camilan, Mungkin mie instan juga enak " Jawab Aether singkat sembari memakan camilan yang dia bawa.
" Bagaimana kamu masih bisa hidup sehat dengan pola makan seperti itu? Hah~ " Ucap Uriel lalu menghela nafas.
Aether hanya diam tak menanggapi karena memang apa yang di ucapkan Uriel itu benar.
" Tidak bisakah kamu meminta siapa saja untuk memasakkan mu begitu? Seperti ibu atau bibirmu " Ucap Uriel.
Aether diam sejenak lalu angkat suara " Kalau masalah itu sih, Semua keluarga sudah mati, Bahkan aku tak memiliki kerabat, Jadi aku hanya hidup sendiri " Ucap Aether dengan mudahnya.
Deg!
Uriel yang mendengar itu menatap tak percaya kepada Aether tapi Aether yang di tatap sama sekali tak merespon dan hanya diam seakan diamnya itu berkata ' Aku serius '.
Uriel mulai merasa Aether adalah lelaki yang hebat, Mungkin dia terlihat begitu malas di sekolah karena lelah bekerja? Yah pasti itu karena Aether harus menghidupi dirinya sendiri.
" Maaf aku tidak tau " Setelah merenungkan ucapannya tadi, Uriel kini bersuara.
" ...., Tak masalah " Jawab Aether singkat.
__ADS_1
" Kamu pasti kesulitan karena harus bekerja di luar sana dan tidak bisa fokus di sekolah karena kelelahan " Ucap Uriel dengan menatap sendu ke arah Aether.
" Huh? Kesalahpahaman apa ini? " Batin Aether dengan wajahnya yang membentuk aneh.
" Ya sudahlah aku tidak tau apa yang dia salah paham kan tapi aku tak peduli selamat itu tak menyusahkan " Lanjut batin Aether dan kini berkata " Ya itu tidak terlalu sulit " Jawabnya.
Uriel kini semakin sedih melihat Aether yang menurutnya berusaha baik baik saja padahal dia Sebenarnya sangat kelelahan.
Uriel memikirkan tentang bagaimana dia harus memikirkan Aether dan sampai pada suatu ide.
Bekal!
" Aku akan memberikannya bekal setiap sekolah!! " Batinnya dengan semangat, Tapi kini memikirkan sesuatu " Bagaimana jika dia tak suka dengan bekal nya? Bagaimana jika tak sesuai dengan seleranya? " Lanjut batinnya dan kini menatap ke arah bekal Miliknya, Kemudian Menatap Aether.
" Kalau begitu aku hanya perlu membuatnya mencobanya kan? Dan aku bisa tau apakah dia suka atau tidak " Batin Clea dengan seringai.
Bulu kuduk Aether Bergidik ngeri lalu mengalihkan pandangannya ke arah Uriel.
" Ada apa? " Tanya Aether sembari melihat Uriel yang sedari tadi terus menatapnya.
Uriel tersenyum dan menyodorkan bekalnya " Maukah kamu memakannya setengah? " Tanya Uriel.
" Nggak " Jawab Aether singkat padat dan jelas.
" Tidak tidak, Aku tidak mau " Jawab Aether sembari menyilangkan tangannya.
Uriel merasa sepertinya ini sulit, Mata Uriel menjadi berkaca kaca dan rasanya dia terlihat seperti ingin menangis.
Aether yang melihat itu jadi merasa bersalah " Ah sial kenapa dia mau menangis? Apa yang harus kulakukan sekarang ? sial!! jangan menangis!! " Batin Aether berteriak.
" Hah.., Baiklah akan ku makan setengah tapi jangan menangis " Ucap Aether sembari memijat pelipisnya.
Uriel yang mendengar itu kini menjadi ceria karena yang tadi itu hanyalah akting wlee.
Uriel dengan ceria dan senang hati menyodorkan bekalnya ke arah Aether.
Aether sendiri mengambil kotak bekal itu dan mulai menyendok demi sendok bekal itu.
" Hehe akhirnya aku berhasil, " Ucap Uriel sembari menatap Aether yang memakan bekal miliknya dengan sendok miliknya juga,. Eh? Ya? Sendok?.
" Tidak!! Aku lupa jika itu sendok milikku!! Itu sendok bekasku " Batin Uriel menyerang membuat wajah Uriel memerah padam, didalam matanya tampak terjadi sebuah pusaran yang sangat memusingkan baginya.
__ADS_1
Aether melihat Uriel bersikap aneh dan kini menatapnya dan berkata " Ada apa? Apa terjadi sesuatu? " Tanyanya.
" Ah itu anu- Tidak ada masalah, La-lanjutkan saja " Ucapnya dengan wajah gugup yang terlibat sangat merah.
" Wajahnya memerah? Apakah dia sakit? Jika dia sakit maka itu bisa menjadi masalah untukku, Lebih baik aku pura pura tak tau saja " Batin Aether lalu melanjutkan makannya.
Tak lama Aether sudah selesai menghabiskan setengah nya lalu mengembalikan kotak bekalnya pada Uriel.
" Apakah enak? " Tanya Uriel kepada Aether.
Aether mengangguk lalu menjawab " Yah, Ini enak ". Aether sendiri memang sangat jarang memakan makanan seperti itu karena dia hanya memakan makanan yang bisa dibuat dengan mudah seperti mie instan pop mie atau memakan camilan saja.
Dia bisa memasak, Hanya saja ya begitulah dia sangat malas hanya untuk menyisihkan waktunya untuk memasak, Dia merasa lebih baik menggunakan waktu itu untuk bersantai membaca novel atau tidur.
Uriel yang mendengar ucapan Aether kini merasa senang " Benarkah? Apa ini benar enak? " Tanya Uriel dengan mata berbinar.
" Ya itu enak " Jawab Aether sekali lagi dengan bingung.
Uriel yang sangat senang kini tiba tiba berdiri, Kakinya tak sengaja tersandung di batu lalu terjatuh.
Brukk.
" Aw, " Ucap Uriel sembari kembali berdiri membersihkan pakaiannya.
Aether yang melihat itu bergegas mendekati Uriel dan berkata " Apa kamu tidak apa apa? Mengapa kamu tiba tiba tersandung seperti itu? " Tanya Aether kepada Uriel.
" Ah, Maaf aku terlalu kesenangan karena ada yang bilang masakan ku enak " Ucapnya dengan tersenyum canggung.
" Hahh..~ Yang benar saja " Jawab Aether dan kini membantu Uriel untuk kembali duduk di batu itu.
" Apa ada yang sakit? " Aether bertanya kepada Uriel.
Uriel menggelengkan kepalanya lalu berkata " Sepertinya tidak ada, Aku baik baik saja " Jawab Uriel kepada Aether.
" Begitu, Baiklah jika kamu merasakan sakit di suatu tempat katakan saja padaku, Kita akan istirahat sebentar lagi " Ucap Aether.
Uriel mengangguk setuju.
~ BERSAMBUNG.
HARI SENIN.
__ADS_1
JAM PUKUL 08:40