Aku Hanya Ingin Hidup Menganggur

Aku Hanya Ingin Hidup Menganggur
CHAPTER 38 : HUJAN DERAS


__ADS_3

Saat ini di dekat sungai yang mengalir, Aether dan Uriel duduk di tepi tepi sungai.


Mereka berdua duduk memandang aliran sungai yang mengalir deras menabrak bebatuan yang menghalangi Aliran nya.


" Nah, Sekarang kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan " Aether memecah keheningan dan langsung menanyakan inti pembicaraan kepada Uriel.


Uriel terdiam sejenak lalu menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya kemudian dia berkata " Ini tentang Giles Georgo, Beberapa hari sebelumnya.., Giles sepertinya mengetahui tentang kita yang masih berhubungan, Dan hal itu membuat Giles sangat marah, Jadi karena itu mulai sekarang akan menjadi berbahaya, Aku menyarankan agar kamu tak keluar dari rumahmu terlebih dahulu.. " Ucap Uriel panjang lebar dengan wajahnya yang khawatir.


" Dia sudah tahu? Ini merepotkan " Batin Aether sembari menghela napas.


Aether menatap iris mata Uriel kemudian berkata " Yah jika sudah ketahuan maka ini akan menjadi merepotkan untuk seorang pemalas sepertiku " Jawab Aether singkat seakan dia tak peduli.


" Ingatlah, jika kita sudah pulang dari camping, kamu untuk sementara waktu jangan pergi keluar rumah, Giles adalah orang yang kejam " Ucap Uriel menjelaskan kepada Aether, Tersirat kekhawatiran di wajahnya.


" Ya jangan khawatir " Aether mengangguk lalu menjawab Uriel dengan jawaban yang memuaskan agar dia tak khawatir lagi.


Uriel juga mengangguk senang dan tersenyum lega.


" Sepertinya akan lebih baik jika melawan kekuasaan dengan kekuasaan, Tapi untuk membangun kekuasaan ku sendiri sepertinya membutuhkan waktu cukup lama " Batin Aether.


Sebelumnya Aether pernah berpikir, Jika dia tak sengaja menyinggung orang yang memiliki kekuasaan, Maka dia akan membangun perusahaannya sendiri agar bisa menyaingi mereka.


Meskipun ini sangat tidak cocok untuk orang sepertinya, Tapi tak ada hal yang bisa dia lakukan, tidak mungkinkan dia hanya akan diam jika seseorang ingin mencelakainya.


Aether memikirkan untuk membuat sebuah perusahaan Game, Dia sudah mempunyai 1 game bukan? Nah jika dia ingin membuat perusahaan game maka dia akan membutuhkan banyak pekerja yang membantunya.


Pertama Aether memerlukan Seseorang yang dapat mengisi peran paling penting dalam pembuatan game, Yaitu Seorang yang dapat melakukan Game programmer.


Selanjutnya dia juga membutuhkan Audio engineer yang memiliki peran dalam hal seperti audio, percampuran, reproduksi dan banyak lainnya lagi.


Selanjutnya adalah game producers yang akan bertanggung jawab dalam proyek game dan sebagainya.


Video game artis juga di butuhkan oleh Aether, Mereka bertanggung jawab atas semua aspek yang membutuhkan seni visual.


Selanjutnya adalah Game designer yang tak kalah penting agar dapat membuat game menjadi disukai oleh para player, Karena game designer harus bertanggung jawab dalam design game dan konten konten lainnya.


Selanjutnya adalah Tester Game Sebagai peran yang akan memainkan game yang masih dalam tahap pembuatan itu terus menerus untuk mengecek apakah ada sebuah bug atau tidak.

__ADS_1


Dan sisanya yang di butuhkan Aether adalah seorang yang bisa melakukan promosi seperti Jurnalis atau Seorang konten kreator game.


Memikirkan semua hal itu membuat kepala Aether menjadi kewalahan, Dia hanya ingin hidup sesantai mungkin tapi apa ini? Apa ini semua terjadi hanya karena pertemanan biasa?.


".......


Waktu berlalu begitu cepat, Dan hari ini adalah hari Rabu, Jam di handphone Aether menunjukkan pukul 09:33 Pagi.


Cuaca hari ini terlihat tidak cerah, Awan yang gelap nan pekat terlihat jelas di langit, Angin yang nyaman di ganti menjadi angin yang cukup mengkhawatirkan saat ini.


Karena itu para guru mulai menyuruh para murid untuk berkemas agar turun dari gunung lebih cepat dari yang di rencanakan, Rencananya mereka akan turun sore hari ini, Tapi karena cuaca yang tak mendukung mereka akan pulang lebih awal.


Aether dan kawan kawannya sudah selesai mengemas barang barang mereka, Aether dan Bastian juga sudah merobohkan tenda dengan hati hati.


Setelah itu, Para murid berkumpul dan mulai menuruni gunung di pagi hari yang terasa gelap karena mendung.


'Tik Tik Tik'


" Gerimis? " Gumam Aether yang merasa jika tubuhnya terkena air setetes demi setetes.


" Apa yang akan kita lakukan sekarang? Ini hari yang sangat sial " Uriel juga angkat suara.


" Haruskah kita berlari? " Tanya Bastian, Uriel dan Ariana menatap lekat Bastian yang benar benar berpikir akan lari.


Mau bagaimana lagi, Bastian dan Aether bisa berlari dengan cepat tapi tidak dengan mereka, Apalagi jalanan begitu licin.


Terlihat murid lainnya sudah mulai berlarian turun kebawah, Adapun para guru yang menyuruh para murid untuk bergegas.


Aether merasa usulan Bastian itu lebih baik " Mungkin memang lebih baik jika kita berlari saja " Ucap Aether.


" Benarkan? " Bastian merasa senang karena Aether menyetujui ucapannya.


" Bagaimana dengan kami? Kami tidak bisa berlari secepat kalian " Rengek Ariana.


" Mungkin lebih baik jika aku dan Bastian menggendong kalian saja, Itu akan lebih cepat " Ucap Aether, Bastian setuju kapan lagi dia bisa di peluk oleh pacarnya itu?.


" Eh? Tapi bukankah itu akan sangat berat? " Tanya Uriel dengan ragu.

__ADS_1


" Berat? Kau ringan seperti kapas, Saat kemarin saja aku tak kelelahan " Ucap Aether, Wajar bukan? Karena setiap hari dia menginvestasikan pointnya agar kekuatannya semakin bertambah, Tak lama lagi dia akan mencapai masa primanya.


Mendengar hal ini membuat Uriel menjadi merasa terhina, dia berniat memarahi Aether saat ini.


" Aether ka- " Belum sempat Uriel menyelesaikan ucapannya dia sudah diangkat oleh Aether.


" Baiklah ayo kita lari sekarang " Ucap Aether yang melihat Bastian dan Ariana yang sudah menempel duluan.


" Tu-Tunggu seben- Kyaaa " Uriel menjerit ketika Aether mulai berlari, Aether berlari mengimbangi kecepatan Bastian agar terlihat seperti siswa normal lainnya.


" Jangan teriak dan tutup saja matamu ketika kamu takut " Ucap Aether kepada Uriel, Uriel yang takut tentu saja mulai menutup matanya.


Sedangkan di sebelah terlihat Ariana yang menikmati kecepatan berlari milik Bastian, Dia tak perlu lelah menuruni gunung lagi karena dia di gendong oleh pacarnya.


Aether dan Bastian berlari sekitar 1 Jam, Dan kini akhirnya mereka sampai di bawah, Terlihat bus yang sudah menunggu di bawah sana, Tapi karena bus itu akan menunggu siswa lainnya, mau tak mau Aether dan Bastian akan menunggu di bus terlebih dahulu.


Mereka memasuki bus yang sama karena telah melupakan nomor kursi mereka Sebelumnya.


" Uriel kita sudah sampai " Ucap Aether kepada Uriel yang masih memeluk erat Aether.


Uriel mulai membuka matanya, Hal pertama yang dia liat adalah wajah Aether dengan kacamata.


Hal itu membuat Uriel terkejut dan kini mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, Kini terlihat jika dia sudah berada di dalam sebuah bus.


Kini Uriel perlahan turun dan tentu saja Aether membiarkannya turun dari Gendongannya " Umm terima kasih " Ucap Uriel tak terlalu keras.


Aether hanya mengangguk sebagai jawaban lalu duduk di sebuah kursi, Uriel juga mengikuti Aether lalu duduk di sebelahnya, Entah kenapa dia merasa jika di sekitar Aether itu lebih aman.


Terlihat banyak murid yang masih jalan menuruni gunung, Kini langit mulai menjatuhkan air hujan dengan lebih cepat, Tak lama hujan deras kini menghantam daerah sekitar.


Beruntung Aether dan kawan kawannya sudah berada di dalam bus, Terlihat Bastian yang tertidur karena kelelahan di pundak Ariana.


- BERSAMBUNG.


HARI RABU.


JAM PUKUL 11:03.

__ADS_1


__ADS_2