Aku Hanya Ingin Hidup Menganggur

Aku Hanya Ingin Hidup Menganggur
CHAPTER 39 : LANGKAH AWAL PERUSAHAAN GAME


__ADS_3

Tak lama waktu berlalu, Di tengah hujan deras dan langit yang gelap itu, Bus kini melaju dengan kecepatan sedang, Suhu sekitar menjadi sangat dingin dari sebelumnya.


Aether melihat kesamping dan terlihat Uriel yang juga ikut tertidur, Uriel menyandarkan kepalanya di sandaran kursi miliknya, Terlihat sedikit getaran di tubuhnya.


" Dia kedinginan ya? " Batin Aether menatap Uriel yang tertidur, Aether menatap wajah Uriel dengan intens lalu berkata " Sial ".


Lalu setelah itu dia mendorong kepala Uriel dan membiarkannya bersandar di bahunya, Setelah itu dia mengambil salah satu bajunya yang harusnya dia pakai tapi tidak jadi karena camp di pulangkan lebih cepat dari yang di rencanakan.


Aether melebarkan bajunya itu lalu menyelimuti tubuh Uriel yang kedinginan, Setelah itu dia menatap ke arah luar jendela bus.


Terlihat air hujan terus berjatuhan dengan begitu deras, Mobil berlalu lalang dengan kecepatan sedang agar tak terpeleset, Orang orang berlari mencari tempat berteduh, Tapi ada juga yang hanya berjalan santai karena membawa payung.


Dunia yang di rasakan Aether saat ini sangat damai, Tapi keberadaan mereka yang menindas orang yang di bawah mereka terlalu banyak dan dapat menghilangkan kedamaian yang ada saat ini.


" Hahh, Mengapa dunia ini di ciptakan seperti ini? Tidak bisakah jika dunia ini diciptakan menjadi dunia yang damai tanpa Manusia yang egois ?, Dunia tanpa manusia yang selalu merendahkan? Dunia dimana manusia bisa hidup setara? Yah itu hanya mimpi di siang bolong " Gumam Aether, Lalu dia menyandarkan kepalanya di atas kepala milik Uriel.


Dia menatap ke langit langit bus itu dan secara perlahan lahan dia mulai mengantuk dan tertidur.


Waktu berlalu cukup lama, Hujan sudah tak sederas sebelumnya dan mereka juga sudah sampai di area sekolah.


Uriel yang tertidur, Merasakan sesuatu yang berat di atas kepalanya tapi ada juga sesuatu yang sangat aman dan nyaman yang dia Baringi.


Uriel membuka matanya secara perlahan, Dia menatap siswa siswi lainnya yang juga sepertinya tertidur, Lalu mengintip apa yang sedang menindih kepalanya itu.


" Aether? " Gumamnya lalu melihat jika bahu yang dia tiduri juga bahu Aether.


" Apa? posisi ini terlihat seperi sepasang kekasih yang sedang tertidur bersama di bus atau kereta biasanya kan? " Batin Uriel panik berkeringat dingin.


Dia menatap lekat ke arah Aether yang tertidur pulas, tapi dia harus membangunkannya karena mereka harus turun dari bus sekarang.


Uriel mengangkat kepala Aether lalu meletakkannya di pundak miliknya, Baru setelah itu dia membangun kan Aether.

__ADS_1


Dia menampar Aether dengan lembut 3x lalu berkata " Hei Aether kita sudah sampai, Bangunlah " Ucapnya.


Aether yang mendengar suara seorang wanita yang begitu lembut dan memiliki bau badan yang wangi itu perlahan membuka matanya.


Dia cukup terkejut karena tertidur di bahu wanita yang sangat lemah, sampai sampai jika dia mencengkram nya sedikit kuat saja itu akan patah.


Aether lekas bangun lalu memeriksa Uriel, apakah dia kesakitan atau tidak.


" Apakah kamu lelah? Maaf aku ketiduran " Ucap Aether dengan gugup.


Uriel hanya tersenyum, lalu dia mengembalikan baju Aether yang di gunakan untuk menyelimuti dirinya sendiri tadi dan berkata " Lelah kenapa? Harusnya kamu lah yang lelah, Entah kenapa setiap aku punya masalah., Pasti kamu akan menyelesaikan nya untukku, Karena itu akulah yang harusnya berterima kasih " Ucap Uriel dengan senyum manis di wajahnya.


Aether terpesona sesaat tapi dia membuang pikiran itu lalu menerima kembali bajunya dan berkata " Tetap saja terima kasih " Ucap Aether dengan senyumnya.


" Hei! Kalian mau bermesraan sampai kapan? Ayo kita turun bus sekarang! " Ucap Bastian dari belakang yang terlihat mengendong Ariana yang tertidur.


" Bermesraan? Kami hanya berbicara seperti biasanya " Jawab Aether tak terima dengan ucapan Bastian.


Uriel sendiri wajahnya malah memerah, Jantungnya berdegup kencang, Sampai sekarang dia tak tau tentang apa yang terjadi pada tubuhnya.


Aether memiliki motornya sendiri jadi dia dapat langsung kembali, Tapi karena teman temannya.., dua memutuskan untuk menemani mereka terlebih dahulu.


" Kamu tidak duluan? " Tanya Uriel pada Aether.


" Mau ku tinggal? " Jawab Aether sekaligus pertanyaan.


Uriel hanya bisa menggelengkan kepalanya, Dia cukup takut jika akan terjadi penculikan sekali lagi, Dia tak ingin hal seperti itu terulang.


Jadi karena menurutnya Aether adalah tempat teraman saat ini.., Maka dia akan berada di sekitarnya saja agar lebih aman.


Tak lama jemputan Bastian sudah datang, Dan kini Bastian pamit pada Aether dan Uriel agar dia segera pulang kerumahnya sekaligus mengantar Ariana yang tertidur.

__ADS_1


Mobil penjemput milik Bastian kini melaju meninggalkan Halte Bis itu, Tersisa beberapa murid termasuk Aether dan juga Uriel.


Namun dalam beberapa menit kemudian, Datang Mobil yang akan menjemput Uriel, Dan yang menjemputnya adalah ayahnya sendiri.


Ayah Uriel Felipe, Turun dari mobilnya dan kini menghampiri Uriel, Adapun Uriel kini langsung tersenyum lebar dan berlari kecil memeluk ayahnya.


" Bagaimana camping mu? Apakah menyenangkan? " Tanya Felipe kepada putrinya.


Uriel megangguk " Ya ini menyenangkan, Aku juga tidak lelah karena bantuan Aether " Ucapnya lalu menatap ke arah Aether yang nampak sudah bergegas ingin pergi.


" Aether? Kamu akan pulang kerumahmu dengan jalan kaki? Bagaimana jika aku antar kamu pulang kerumahmu saja? " Tawar Felipe kepada Aether.


" Tidak perlu, Lagipula aku memiliki motor yang ku parkirkan tak jauh dari sini " Jawab Aether.


" Benarkah? Sebaiknya kamu tidak perlu berbohong dan aku akan mengantarmu sekarang " Ucap Felipe memaksa Aether.


" Aku tak berbohong, Aku menyimpan motorku tak jauh dari sini, Mungkin hanya perlu 10Menit jalan kaki saja " Jawab Aether dengan sorot mata yang lelah.


" Kalau Begitu, aku akan menemanimu untuk melihat apakah kamu benar benar mempunyai motor " Ucap Felipe yang masih tak percaya pada Aether, Dia melihat putrinya yang sepertinya sangat suka berada di dekat Aether, Jadi dia akan melihat apakah Aether layak atau tidak?, Dia bukannya memandang rendah Aether hanya saja dia ingin agar putrinya bisa bahagia.


Aether berpikir sejenak, " Mungkin tak masalahkan? Nah sebagai gantinya aku akan meminta bantuannya untuk mencarikan staff untukku agar bisa memulai sebuah perusahaan " Batin Aether.


Setelah beberapa peperangan di otak Aether untuk mempertimbangkan apakah dia akan sedikit memberikan informasi tentang dirinya pada Felipe atau tidak perlu.


Kini Aether memutuskan memberitahunya sedikit, Ya hanya sedikit saja, Dia tak akan memperlihatkan wajah aslinya sama sekali.


" Baiklah, Kalau begitu ayo kita pergi " Jawab Aether kepada Felipe, Dan Felipe mengangguk sembari tersenyum.


Felipe menatap ke arah putrinya dan berkata " Tunggu saja di mobil oke? " Ucapnya dan Uriel hanya mengangguk setuju.


- BERSAMBUNG.

__ADS_1


HARI RABU.


JAM PUKUL 12:33


__ADS_2