
Panas matahari yang begitu terik tak menyurutkan semangat seorang gadis menggapai harapannya.
Adelia Ceta, seorang gadis remaja yang duduk di bangku SMA kelas 3, sedang meraih mangga muda milik tetangganya. Dengan penuh harap, gadis yang biasa dipanggil Ceta itu bisa meraih mangga yang sudah berada di ujung jari-jemarinya.
" uhh....dikit lagi, ayo semangat Ceta jan nyerah ". Gumam Ceta pada diri sendiri. Dengan bertumpu pada kaki kanan didahan besar, serta kaki kiri didahan yang kecil. Tangan kanan memegang dahan lain, dan tangan kiri yang berusaha meraih mangga yang memang menggiurkan untuk dirujak.
" krakk...." suara dahan dikaki kiri Ceta patah.
" ya Allah....ya Rabbi....nyaris aja ".
Ceta berkata sendiri sambil mengelus-elus dadanya karena panik, dengan sebelah tangan yang masih berpegang erat pada dahan yang lain.
" non Cetaaaa..?! "
teriakan bi Mimin tak kalah membuat lebih panik. Bibi yang sudah lama bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumah Ceta tampak pucat melihat anak majikannya bergelantungan di atas pohon. Sedangkan Ceta segera mencari arah datangnya suara.
" astagfirullah....,turun non? ngapain disana nanti non bisa jatuh. Mangga muda banyak non dipasar, bibi bisa pergi belikan buat non Ceta ".
Urat kecemasan wanita paruh baya itu semakin menambah seni keriput diwajahnya.
Ceta masih saja bergelut diatas pohon, gadis itu memang pantang menyerah.
" elah...bibi, pake didoain jatuh segala lagi. Nanggung bi...dikit lagi "
Ceta teriak tanpa menoleh ke arah bibi. Tangan kirinya terus berusaha meraih mangga.
" ahh...akhirnya...,dapat bi ?! "
Ceta berseru bahagia dengan menampakkan deretan giginya dan senyumnya yang merekah mengembang. Bibi pun ikut tersenyum meski hatinya tetap saja cemas. Ceta kemudian berusaha turun menginjakkan kakinya perlahan antara dahan satu ke dahan yang lain.
" krak...aaaaa...brukk..brakk !! "
" noooon.....!! "
apa yang di cemasi bibipun terjadi. Bibi mendekati Ceta dengan penuh kepanikan. Terlintas di kepalanya apa yang akan majikannya katakan karena lalai menjaga putri kesayangan mereka. Bibi bergidik ngeri.
Sementara itu, seseorang yang sedari tadi memperhatikan aksi Ceta dari balik jendela balkon kamarnya bergegas turun tangga dan berlari keluar rumah. Dia segera menghampiri Ceta dengan wajah cemasnya.
" aduh...."
Ceta merintih kesakitan, terus mengusap bokongnya bolak-balik sambil berguling-guling di tanah. Terseyum tipis disudut bibir tipisnya ketika melihat lelaki tampan yang lari terbirit-birit menghampirinya dengan wajah yang tampak cemas.
" elo nggak apa-apa?!"
Ceta membalas pertanyaannya dengan wajah cengengesan.
Lelaki itu kemudian membantu gadis itu untuk bangkit berdiri.
" den Gibran ? "
Ucap bibi pada lelaki ganteng itu sambil ikut membantunya memapah bangun tubuh Ceta.
" sakit bang..."
Ceta terua merintih sambil mengelus tiap bagian tubuhnya yang sakit dan melihat ke arah lengan serta lututnya yang lecet.
" masih bisa bangunkan? "
__ADS_1
Gibran bertanya sambil memastikan kalau-kalau ada bagian tubuh Ceta yang terlihat patah. Bibi mundur kebelakang, melepaskan papahannya dari tubuh Ceta. Gibran memutar-mutarkan tubuh Ceta memperhatikan dengan seksama.
" apaan sih bang? nggak apa-apa kok. Masih hidup juga akunya. Cuma ini nih yang sakit "
Ceta menunjuk kebagian tubuhnya yang lecet.
" bener nggak apa-apa? nggak ada yang patah? "
" jadi abang mau bagian tubuh aku ada yang patah? ya udah...aku manjat lagi nih ! "
Baru saja Ceta membalikkan tubuhnya hendak memanjat kembali.
" e...jangan! "
Dengan gesit Gibran menangkap pergelangan tangan Ceta.
" Biar saya saja yang mengobati dia dirumah saya bi ?"
" oh iya den...silahkan. Bibi juga mau lanjutin perkerjaan bibi "
Bibi kemudian melangkah menuju rumah majikannya. Bibi sudah mengenal baik Gibran. Sebelum bekerja pada orang tua Ceta, bibi terlebih dahulu bekerja di rumah Gibran, sewaktu Gibran masih kecil. Jadi bibi sudah hafal betul sifat kedua anak itu. Semenjak kedua orang tua Gibran meninggal 5 tahun yang lalu, keluarga gibran memutuskan tidak lagi memakai jasa pembantu untuk mengurus rumah mereka. Gibaran yang saat itu duduk di bangku SMA kelas 1, memutuskan ingin hidup mandiri bersama kakak perempuannya.
Kemudian bibi pun berhenti bekerja di keluarga Gibran tetapi mulai bekerja pada keluarga Ceta yang merupakan tetangga sebelah rumah Gibran. Ceta saat itu masih duduk dikelas 2 SMP, dan memiliki abang yang baru menempuh masa kuliah di luar negeri.
Orang tua Ceta sering keluar kota untuk urusan pekerjaan, jadi bibi diminta bekerja pada keluarga Ceta sambil menjaga Ceta.
Dulu Ceta dan Gibran sangat akrab, bahkan terlihat seperti sepasang sandal jepit kemana-mana selalu berdua. Mereka seperti tidak ingin dipisahkan. Bahkan orang tua Ceta dan Gibran juga sangat dekat. Orang tua Ceta sudah menganggap Gibran seperti anak sendiri, demikian juga orang tua Gibran terhadap Ceta. Tapi sosok Gibran mulai berubah menjadi cowok yang pendiam setelah kepergian kedua orang tuanya karena kecelakaan pesawat.
Gibran mendorong pintu rumahnya dengan berjalan perlahan menuju ruang tamu dan mendudukan Ceta di sofa empuknya.
" tunggu disini bentar, gue ambilin lu obat ".
Ceta balas tersenyum dengan menampakkan deretan putih giginya. Di amatinya seisi ruang tamu itu dengan seksama. Nggak ada yang berubah gumamnya dalam hati. Tersenyum Ceta mendapati barisan foto-foto keluarga yang masih di pajang di antara susunan rak-rak pajangan. Pandangannya kemudian teralihkan mendapati Gibran yang berjalan sambil membawa kotak obat menuju ke arahnya. Jantungnya berdegub kencang memandang wajah putih tampan dengan hidung bangir itu semakin mendekat ke arahnya.
Gibran berjongkok di hadapan Ceta, kemudian mengeluarkan kain kasa serta alkohol untuk membersihkan luka-luka di lengan dan lutut Ceta agar tidak terinfeksi.
" ini sedikit perih, elo tahan ya "
" hmm...."
jawaban yang terlalu lirih dari Ceta hingga maksa Gibran mendongakkan wajahnya menatap Ceta, memastikan tanda setuju dari pemilik badan yang terluka.
Tapi yang ada malah wajah Ceta yang mulai merona merah mendapati wajah tampan yang begitu dekat menatap dirinya. Bagaimana dia bisa mendengar apa yang Gibran katakan jika perhatiannya lebih tertuju pada bulu mata yang panjang dan halus menutupi bola mata hitamnya. Serta alis tebal bagai barisan semut yang berderet rapi yang semakin menunjukan jejak ketampanannya. Sekilas Ceta langsung memalingkan wajahnya. Dia menyadari bahwa sosok tampan dihadapannya ini semakin membuatnya terpesona. Sosok cowok masa kecilnya kini telah menjadi lelaki tampan yang dewasa.
Gibran yang melihat tingkah Ceta lalu bergegas menundukkan wajahnya fokus mengobati luka Ceta.
" abaaaaaang....!!! "
teriak Ceta terkejut manakala Gibran baru saja mulai menyeka luka di lututnya. Dan lebih parah lagi dengan gerakan refleks Ceta menendang Gibran hingga lelaki itu terjungkal kebelakang.
" hadeh....mau jadi bini david beckham aja lo ya, main tendang aja sembarangan "
Gibran mengelus perutnya yang kena tendangan tadi.
" sakit bang? maaf ya bang reflek tadi nggak sengaja sumpah... dan juga bini david juga bukan pemain bola kali bang, penyanyi dia mah "
" heleh....bisa aja lo ngelesnya. Kan tadi gua udah bilang tahan "
__ADS_1
" kaget aja Ceta bang...tiba-tiba perih gitu. Kata abang perihnya dikit, ini sih bukan dikit tapi kebanyakan pake banget ?! "
wajah Ceta mulai cemberut.
Gibran segera membenarkan posisinya kembali berjongkok di hadapan Ceta.
" tahan nih..jan kaya' tadi "
Gibran melirik Ceta, Ceta yang tertangkap mata oleh Gibran segera berpaling menatap ke arah samping.
Dengan perlahan Gibran mulai menyentuh luka Ceta kembali.
" uhh...perih banget "
Ucap Ceta lirih menahan sakitnya. Gibran melirik sekilas kemudian melanjutkan lagi mengobati bagian luka lecet yang lainnya. Terukir senyum tipis di ujung sudut bibir Gibran, setiap terdengar erangan kesakitan yang keluar dari mulut Ceta.
" udah selesai ".
Gibran mengemasi obat-obatnya ke dalam kotak P3K nya.
" makasih bang. Bang...sakit nggak Ceta tendang tadi? "
" menurut elo? "
" yah...balik nanya. Enggak.."
Jawab Ceta asal
" peletakk..."
Gibran menjektikkan jari di jidat Ceta.
" aww...gila ya, sakit tau bang?! "
(Ceta sambil mengusap jidatnya)
" menurut lo...kalo ditendang sakit kaga ? "
Gibran beralih posisi duduk di samping Ceta lalu meraih ponselnya. " udah selesai, buruan sana pulang ".
" ini belon bang? "
Ceta mengusap bokongnya yang kesakitan.
Gibran meraih bantal sofa kemudian melempar ke arah wajah Ceta. Dengan gerakkan reflek Ceta sigap menangkap.
" udah belajar kungfu aja lo ya, pulang sono. Minta gosok minyak urut sama bibi "
" tega banget sih bang "
" ya udah, sini...buka celana lo ?! "
Dengan tatapan serius Gibran memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Sekejap Ceta menjadi kikuk dan kaget, kemudian menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
* ups...jan tegang ya readers, sampe disini dulu ntar kita sambung lagi.
__ADS_1
jan lupa kalo demen ma cerita ini tinggalin jejak like, komen atau vote juga ga apa-apa hehehe