Aku Hanya Milikmu

Aku Hanya Milikmu
Konflik


__ADS_3

Senja mulai menampakkan diri kala itu. Perlahan tapi pasti meninggalkan bumi hingga kegelapan mulai menyelimuti.


Langkah gontai Ceta sudah terasa terseret-seret. Rasa lelah tampak di wajah cantiknya yang mulai terlihat lusuh. Menghempaskan dirinya di sofa, dan mulai larut dalam pikirannya.


Kenapa jadi ribet begini sih, kasihan sekali Quin dan Nana , tadinya ingin senang-senang malah harus pulang dengan mewek.


" Non sudah pulang? mau bibi siapkan air buat mandi? "


Suara bibi menghentikan lamunan Ceta.


" Nggak usah bi, biar aja...Ceta bisa sendiri ".


Berangsur dari tempat duduknya, Ceta mulai bergerak melangkahkan kaki menuju kamarnya.


" Kalo gitu bibi siapin makan malam ya non ".


" Hmmm....", jawab Ceta sekenanya.


Gadis itu berlalu menutup pintu kamarnya lalu segera membersihkan diri masuk kekamar mandi. Air keran shower mulai membasahi seluruh tubuhnya, wangi shampoo dan sabun menyeruak menyelimuti seluruh ruangan kamar mandinya. Setelah beberapa saat dia pun keluar menuju ruang dapur dengan mengenakan piyama bermotif hellokitty nya dan mulai menikmati makan malam yang telah di sajikan oleh pengurus rumahnya.


*****


Malam kian larut menghantarkan rasa lelah dan letih orang-orang yang telah beraktifitas di siang harinya.


Ceta belum juga bisa memejamkan matanya.


Telah berbagai cara dia coba untuk bisa terpejam. Mulai dari mengisi perut sekenyang-kenyangnya, sampai menghitung jumlah domba yang berkumpul dibingkai gambar dinding kamarnya dan tetap saja matanya belum mau terpejam.


Bangun dari tempat tidurnya, gadis itu melangkah keluar menuju halaman di samping rumahnya dan duduk di ayunan dengan ditemani semilir angin malam.


Mata Ceta teralihkan melihat rumah tetangganya.


Lampu ruang tamu dan kamarnya masih menyala. Ternyata dia belum tidur juga. Sedang apa ya dia.


Belum selesai Ceta melamunkan sedang apa tetangganya itu, matanya menangkap pemandangan yang menyesakkan dadanya.


Seorang wanita keluar dari rumah yang lampunya masih menyala itu. Terlihat wanita itu sedang berpamitan lalu masuk kedalam mobil dan berlalu dari pandangannya.


Bukankah itu wanita yang tadi pagi, wah..wah..nggak bisa dibiarin ini.


Tangan Ceta terkepal, dengan langkah seribu gadis itu menerobos masuk ke dalam rumah tetangganya yang nyaris tertutup pintunya.


" Apa-apaan si lo....main nerobos rumah orang ? "


Ucap Gibran sedikit kesal dengan gadis yang ada dihadapannya itu.


Namun emosinya segera mereda dikala tatapan matanya mendapati Ceta yang dengan napas memburu dan tubuh yang terlihat bergetar serta tangan terkepal menatapnya dengan tatapan membunuh.


" Siapa dia? Itu cewek yang tadi pagi kan? Belum cukup waktu pagi ternyata malam pun kalian bersama lagi? "

__ADS_1


Ceta mulai tersulut emosi.


" Apa urusannya sama lo...udahlah, lo pulang aja ni juga dah malem. Bukannya besok lo juga harus sekolah kan. Gih...tidur aja ".


Dengan santai Gibran berkata sambil meraih kedua bahu Ceta dan menggiringnya keluar pintu rumahnya.


" Dah malem...nggak enak dilihat tetangga yang lain. Gua juga masih banyak kerjaan yang belum kelar. Mohon pengertiannya.."


Ceta membalikan tubuh yang terasa sedikit didorong itu. Menghentikan langkahnya dan menatap tajam Gibran.


" Ingat ya bang, hati seseorang bisa saja berubah bilamana dia telah mendapati seseorang yang lebih nyaman disampingnya ."


Gibran terkekeh geli mendengarkan perkataan Ceta. Mata teduh itu menangkap tatapan Ceta yang mulai meredup dari nyala kobaran api tadi.


Sial....kenapa mesti ketawa sih, duh makin gantengnya belahan jiwaku. Udah lama aku nggak lihat tawa manis itu. Heleh...udah meleleh aja ini hati. Dasar lembek...


" Udah malem...tidur lah ".


Tangan Gibran meraih pucuk kepala Ceta dan menepuknya pelan-pelan.


Kemudian segera berlalu meninggalkan Ceta dan menutup pintu rumahnya.


Ceta terpaku sesaat dengan apa yang baru saja Gibran lakukan padanya.


Omaigod...dia nepuk kepalaku. Bagaimana ini...ini lampu hijaukan. Dia mulai perhatian lagi sama akukan. Cih...dasar hati lembek, baru digituin aja aku udah melayang kemana-mana. Dih....seneng banget aku. Eh...tapi harus stay cool.


Teriak Ceta di balik pintu yang telah tertutup rapat.


******


Tiga hari telah berlalu dengan waktu yang terasa berat di lewati Nana dan Quin. Berbeda dengan Dini yang bahagia telah menjadi kekasih xavier. Kedua gadis itu tampak tak bersemangat mengikuti pelajaran dikelasnya.


Nana mengatakan bahwa dirinya tak lagi bersama Ojin. Lelaki itu telah menduakannya selama beberapa bulan terakhir tanpa dia sadari. Sekalipun Ojin masih saja mengirim pesan bahkan mendatangi Nana disekolah namun hatinya terlalu terluka untuk memaafkan Ojin. Sedangkan Quin masih perang dingin terhadap Taufik.


Sering kali Taufik menatap Quin didalam kelas namun tak sekalipun tatapan itu dibalas oleh Quin setelah kejadian di Mall waktu itu.


Hingga waktu istirahat tiba Taufik segera menarik tangan Quin dan membawanya ke taman belakang sekolah. Suara anak-anak seketika riuh melihat keduanya berlalu meninggalkan kelas.


" Kemana mereka? "


Tanya Artha pada para sahabatnya.


" Paling juga taman belakang nyelesain masalah mereka ". Ucap Anty sambil menggandeng lengan Jess.


" Biarin aja lah...mereka kelarin masalahnya dulu, kita jan ikut campur ". Ujar Ceta.


" Hooh...kuy ke kantin ". Rossa mengajak semua para sahabatnya.


Mereka pun berjalan menuju kantin. Nana yang terlihat tak bersemangat di gandeng Ceta melangkah bersama menyusul teman-temannya.

__ADS_1


" Ross...?! "


Suara Yugi menghentikan langkah kaki Rossa bersama teman-temannya. Namun setelah tau siapa yang manggil merekapun melanjutkan langkah kakinya ke arah tujuan.


" Nah...lo juga jan lupa tu anak orang jan di gantung mulu kek jemuran ". Ledek Jess kepada Rossa sambil berlalu.


" Heleh...."


Ucap Rossa sambil melototi Jess yang meledeknya dari jauh.


Perlahan Yugi mulai mendekati Rossa. Belum juga jarak itu berkurang banyak Rossa telah menghentikan langkah Yugi.


" Maaf...aku nggak bisa nerima kamu. Aku belum siap terluka bagai teman-temanku. Kita cukup berteman saja. Dan fokus belajar menata masa depan ". Ucap Rossa penuh penegasan.


" Apa ini gara-gara Nayla? Dia bukan siapa-siapa gua dan..."


" Bukan...bukan karena Nayla ato siapa lah, aku cuma ingin fokus belajar saat ini itu aja ".


Rossa tampak menghembuskan napas beratnya kemudian mendekati Yugi dan mengulurkan tangannya untuk di jabat.


" Kita berteman saja...kurasa itu lebih baik ".


" Hmm....potek gua. Mau gimana lagi kalo lo yang minta begitu. Yang penting lo seneng gua juga ikut seneng ".


Dengan berat tangan Yugi pun menjabat tangan Rossa.


******


Sementara itu, ditaman belakang sekolah tampak sepasang sejoli yang sedang berdebat.


" Aku dan dia nggak ada apa-apa Quin, tolong percaya sama Aa ".


" Aku harus percaya dengan kata-katamu atau harus percaya dengan mataku ? " Ujar Quin menyela ucapan Taufik dan terlihat bulir bening mengalir di sudut ujung matanya.


" Aku udah bilang jangan pernah sekalipun buat aku terluka. Aku nggak mampu menanggung perih itu ". ( sambil menyeka air mata dengan jarinya)


" Dia hanya sekedar teman Quin...kami dulu satu kelas semasa SMP. Tapi aku dari dulu nggak pernah menanggapinya lebih dari sekedar teman " . Jelas Taufik panjang lebar meyakinkan Quin.


" Buaya mana yang mau ngaku keburukkannya. Udah ada tu...lagunya ngaku pecinta wanita tapi nggak mau di panggil buaya ". Jawab Quin jutek dan tak mau menatap ke arah Taufik.


" Astagfirullah Quin....aku nggak gitu. Tolong percaya Quin...." Ujar Taufik dengan tatapan sendu yang terlihat sedikit memelas.


" Maaf...kita akhiri saja sampai disini. Aku nggak mau terluka lebih dalam ".


Jederrr....bagai di sambar petir Taufik terpaku mendengar kata-kata Quin. Sedangkan Quin telah berlari meninggalkan Taufik dalam kebungkamannya.


# maaf masih banyak terdapat Typo dan kesalahan dalam penulisannya.


Terima kasih sudah mau baca. Jangan lupa tinggalin jejaknya ya😊🙏

__ADS_1


__ADS_2