
Setelah lulus sekolah kembali Ceta melewati hari demi hari dirumah saja. Walaupun dia tidak bisa lagi berkumpul dengan teman-temannya, tetapi ada juga hikmah dari pandemi corona ini. Setiap hari ia dapat menikmati masakan mamanya yang selalu ia rindukan. Setiap hari ia bisa bercanda dengan papanya yang selalu memanjakannya. Dan hikmah paling besar yang ia rasakan adalah melihat Gibran sang pujaan hati disetiap harinya. Akhir-akhir ini Gibran sering bertamu kerumahnya bahkan dengan kakaknya Sonya.
Ya.. Gibran tinggal serumah dengan kakaknya, mereka berdua menggeluti usaha garmen yang ditinggalkan oleh mendiang kedua orang tuanya. Meraka saling bahu membahu mengembangkan usaha itu. Gibran cukup handal di usia mudanya. Bahkan ia mulai dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses. Bersama kedua orang tua Ceta yang menjadi distributornya menjadi kolaborasi mereka kian menguntungkan.
Melihat kedekatan mereka itu membuat Ceta menjadi heran. Tak jarang Ceta mendapati mereka yang sedang berbincang diruang kerja papanya. Dan tentu saja hal ini mengundang tanda tanya besar terhadap Ceta.
" Ma...? Ceta boleh nanya nggak?"
"Hmm... napa sayang?" jawab mama sambil mengiris sayuran mempersiapkan makan siang untuk keluarganya saat itu.
"Ada hubungan apa sih mau papa sama bang Gibran?" tanya Ceta punya selidik.
"Hubungan apa sih nak, papamu itu normal loh?"
"Aih... mama, bukan hubungan yang seperti itu yang Ceta maksud ma. Ceta juga tahu papa nggak mungkin begitu, kan udah ada Ceta ini buktinya".
"Lah... terus?"
"Itu loh... maksudnya sering banget bang Gibran kesini.. kerumah kita, padahal sebelumnya nggak".
"Ooh...harusnya kamu nanyainnya ada urusan apa Gibran sama papa gitu".
"Ya kan kurang lebih begitu maksudnya ma?" Ceta mulai cemberut.
"Zzzraaaasshh...." (suara sayur dioseng)
"Gibran itu join sama papa biasa kok, kalau kemarin-kemarin kami sering video call sama nak Gibran" jelas mama.
"Masa?" tanya Ceta ragu.
"Iya....kan masa pandemi ini mama dan papa nggak keluar kita lagi kerjanya, jadi kami bisa bahas langsung disini dengan nak Gibran".
"O... gitu" jawab Ceta manggut-manggut.
"Mama salut loh dengan nak Gibran, udah ganteng, pinter, mandiri lagi" puji mama bangga.
"Jadi pengen punya mantu kek dia ya ma?" tanya Ceta nyengir.
" Ya... maunya sih, tapi takutnya dia ilfeel sama anak gadis mama satu-satunya ini (sambil melirik ke arah Ceta) sudah bau asem, berantakan lagi rambutnya, sono gih mandi.." ujar mama merintah anaknya.
__ADS_1
" Mama aah... gitu" rengek Ceta sambil memonyongkan mulutnya tapi tetap melangkah an kakinya balik menuju kekamarnya untuk mandi
Tak berapa lama terdengar suara pintu di ketuk. Bi Mimin pun bergegas membukakan pintu itu dan tampak lah wajah rupawan penambah semangat hidup yang berdiri diambang pintu dengan senyum peleleh jiwa.
"Silahkan masuk den Gibran" sapa bi Mimin ramah.
Gibran hanya menjawab sapaan bibi dengan anggukkan kepala. Kembali lagi Gibran bertamu untuk kesekian kalinya kerumah itu. Setelah memberi anggukkan dan senyum manisnya menyapa sang mama Gibran kemudian masuk ke dalam ruang kerja papa Ceta.
"Duduk lah..."sapa papa Ceta begitu melihat Gibran telah rapat menutup pintu ruangannya.
Pemuda itu pun duduk di sofa yang tidak berada jauh dari meja kerja sang papa. Papa meletakkan beberapa berkas yang ada di tangannya dan kemudian berjalan lalu duduk di sofa menghampiri Gibran.
"Jadi gimana?" tanya papa.
"Sudah om.." jawab Gibran ringkas.
"Wow.. cepet ya".
"Alhamdulillah om".
"Apa predikat ya?" kembali papa bertanya.
"Wah... bener-bener salut om sama kamu". Papa menepuk bahu Gibran tanda bangga.
"Jadi apa kamu sudah siap?"
"Jadi apa sudah memungkinkan om?" Gibran balik bertanya.
"Bhahahahaha..." Tawa ledak sang papa memecah keheningan. Pria tua itu manggut-manggut sambil tersenyum lebar. "Bener-bener om suka gaya kamu" puji papa.
"Terimakasih om, tapi bukan pujian yang saya harapkan" jawab Gibran tersenyum sambil menatap serius sang papa.
"Ya... Ya.. Ya.., silahkan om tunggu" jawab papa dengan santai.
"Bulan depan ya om,.. semakin cepat semakin lebih baik. Tapi apa nggak masalah om?"
"Yah.. anak muda jaman sekarang ya, memang selalu ingin cepat saja. Nggak masalah, urusan ke depan masih bisa di atur kembali. Yah.. bisalah kan sambil menggapai cita-cita" ujar sang papa menanyakan.
"Bisa om.., saya nggak akan melarang untuk itu. Justru saya sangat mendukung" jawab Gibran tegas.
__ADS_1
"Oke 3 bulan lagi, tepatnya awal bulan biar nggak terlalu mendadak" tegas papa.
"Siap om" jawab Gibran tanpa ragu sambil tersenyum. Tampak sedikit kelegaan di wajahnya, setelah pembicaraan yang cukup serius kepada lelaki paruh baya itu. Mereka lalu berbicara santai kembali membahas bisnis yang mereka lakukan.
*****
Sementara itu, di lain tempat.
"Hallo..."
"Assalamualaikum... "
"Wa"alaikumsalam..."
"Jangan bicara ya, dengerin aku sampe selesai".
"Kenapa? Ada apa?"
"Dengerin aja dulu" kata si penepon di seberang sana yang terdengar menarik napas dan mengeluarkannya perlahan.
Sang panerima telpon menelan ludah seperti seakan-akan ada sesuatu yang akan ia dengar dan ini bukanlah hal yang mudah. Kening ya berkerut dan pikirannya mulai gelisah menanti apa yang akan disampaikan oleh gadis yang sedang meneleponnya.
"Maafkan aku, aku hanya bisa mengecewakan mu... (sejenak kata-katanya terhenti dan terdengar perlahan isak tangis yang ditahan), dengan berat hati aku harus mengakhiri hubungan kita. Abah ingin aku menikah dengan lelaki pilihannya. Ternyata aku udah dijodohkan tanpa aku tahu ". Jelas gadis diseberang sana dengan suara bergetar menangis sambil tekekeh kecil menggambarkan kondisi hatinya yang berkecamuk.
Deg, hati si penerima telpon tiba-tiba terasa sesak yang sangat menghampiri. Napasnya menderu, hatinya mulai kacau, lidahnya terasa kelu dan mulut nya terasa terkunci tak bisa berkata apa-apa. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, dengan sigap ia mendongak ke atas agar air mata itu tak tumpah membasahi pipinya. Perlahan ia mulai mengatur napas, menjernihkan pikirannya dan mencoba untuk tenang menyikapi prahara yang baru saja menimpa dirinya.
"Apa keputusan mu udh nggak bisa dirubah lagi?"
"Maafkan aku Yugi... andai aku bisa, aku juga nggak ingin kita berakhir seperti ini. Aku... aku...(ucapnya mulai tertahan) hiks...hiks...hiks...aku udah dilamar" berkata dengan tangisan yang tak terbendung lagi.
Hati Yugi luruh lanta, ia terduduk lemas di atas kasurnya. Sirna sudah harapan yang ia bangun selama ini. Perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkan hati Rossa kini hanya menjadi kenangan yang belum lama ia ukir . Yugi menguatkan hatinya mencoba untuk menanggapi setenang mungkin, mengatur kata-kata agar tak melukai hati Rossa yang lebih rapuh dari dirinya.
"Sudah lah... jangan menangis. Mungkin ini emang udah takdir, saya juga nggak bisa menjanjikan apa-apa. Saya belum siap melamar mu, karena yah... kamu juga tahu kita baru saja tamat sekolah. Mungkin dia lebih baik dari saya karena dia lebih siap memberikanmu kebahagiaan. Saya cukup sadar dan nggak ingin egois, karena saya belum jadi apa-apa dan pastinya belum bisa bahagiakan kamu sepenuhnya. Belajarlah menerima dia, dan pupuklah rasa sayang dan cinta dengan perlahan. Dan semoga kamu selalu bahagia Ross. Apa ini yang menyebabkan kamu pulang lebih dulu kemaren?" ucap Yugi panjang lebar dengan suara sendu menahan rasa yang begitu berkecamuk dalam hatinya.
" Iya... hiks.. hiks... maaf, hiks.. hiks.. maaf dan selamat tinggal. Tut.. Tut.. Tut.. "
Suara telpon diseberang sana terdengar telah terputus, seperti hubungannya yang terputus begitu saja.
# 😊 sekian lama ga ngetik dan berpikir jadi lelah. Masih banyak kesalahan penulisan ya, tolong dimaklumi😂.
__ADS_1