Aku Hanya Milikmu

Aku Hanya Milikmu
Bonus


__ADS_3

Setelah menikah, Ceta pindah kota mengikuti suaminya Gibran yang bekerja di kota sebelah. Mau tidak mau ia berpisah dengan para sahabatnya yang masih berada tetap di kota asalnya.


Para sahabatnya janjian masuk universitas yang sama. Namun ada sebagian yang milih kuliah di kota sebelah.


Tha, Jess, Nana, Yugi, Anty, Ara, dan Opik kuliah di kampus yang sama. Sedangkan Quin memilih kembali ke kampung halamannya.


LDR bukan lah perkara mudah untuk menjalin suatu hubungan. Di perlukan kepercayaan dan kesabaran tingkat dewa untuk mengatasi permasalahan yang di hadapi.


Mereka kini membentuk squad dengan nama Anu. Entah apa yang memotivasi, mungkin mereka memang suka anu, atau sedikit anu, entah lah... Yang jelas sesibuk apa pun mereka masih tetap ada komunikasi meski agak jarang.


*****


Hari-hari yang di lalui Opik terasa berat, kala pasangannya berada jauh disana. Sedangkan Yugi sedang anu-anunya bersama Nana.


Persahabatan mereka yang tinggal berdelapan kini hanya memiliki dua orang laki-laki yang tersisa, yaitu Opik dan Yugi. Kedekatan mereka sungguh dekat dan patut di curigai.


Bukan Yugi namanya kalau tidak jelalatan. Untung aja pasangannya Nana yang kalau ngamuk gunung pun bisa di belah, lautan pun bisa dibakar, pokoknya horor.


Sambil kuliah merek mencari kesibukan. Tha yang pada dasarnya cuek, mencoba mencari pasangan, dan alhamdulillah nggak kekal alias gonta ganti. Lalu Anty sudah bosan dengan tumpukan galon di rumahnya, ia pun menjual semua galonnya.


Ara anak ibu kantin kini ikutan akrab dengan mereka, walau kadang Ara sedikit bikin resah karena suka telat kalau komenin isi chat di Wag.


Jess yang paling rajin di Wag, menjaga chat yang masuk untuk segera di sapa. Apa yang dilakukan temannya-temannya ia selalu nyelip di antara mereka.


*****


Jika kamu penasaran dengan kisah mereka selanjutnya, baca aja Bukan Soulmate di salah satu novel author di aplikasi ini.


*****


POV CETA.


Bahagia rasanya punya suami yang nota bene cinta pertama ku. Karena tidak semua orang cinta pertamanya berakhir di pelaminan. Aku termasuk salah satu dari sekian yang beruntung.


Selama ini aku tidak pernah mengira jika cinta ku berbalas dengan Gibran cowok yang selalu mengisi relung hatiku. Tak perlu aku membalas rasa baper karena cewek yang mendekati Gibran yang bernama Gina. Melihat kami duduk bersanding saja, raut kesal dan cemberut terlihat jelas di wajahnya kala itu.


Begini rasanya pacaran setelah menikah. Semua buaian dan debaran yang kurasa halal sudah untuk melakukan hal yang memabukkan hati.


Jika aku tahu menikah seindah ini, kenapa nggak dari dulu aku coba minta papa untuk menantang Gibran agar lekas melamarku.


Kadang aku heran sama orang yang sudah cukup usia dan juga mapan. Kenapa mereka lebih memilih terus membujang dari pada segera memiliki pasangan? Hanya mereka lah yang tahu.


Menikah muda pun aku masih bisa kuliah. Semua tergantung kesepakatan bersama, dan untung lah suami ku mau mengerti dan malah mendukung aku sepenuhnya. Dan untuk kehamilan ku, masih bisa di program kan setelah aku lulus.


Namun kadang kala juga ada perdebatan karena berbeda pendapat, tapi untungnya Gibran sabar dalam menghadapi aku. Pembawaannya yang dewasa mampu membimbingku untuk menjadi istri yang lebih baik.


Berbeda dengan tetangga sebelah rumah kami yang selalu saja ada hal yang di ributkan. Padahal mereka terbilang pasangan yang sudah berumur.


Suatu hari aku dan Gibran tanpa sengaja mendengar percakapan Pak Wasimin dan Ibu Jumainah dan kami dibuat terkekeh oleh mereka.


"Pak, minta duit buat Ibu beli skin care ya?" ujar Bu Jumainah


"Buat apa sih Bu, lah wong udah mulai keriput juga." Jawab Pak Wasimin.


"Justru itu Ibu mau perawatan biar awet muda Pak."


"Nggak perlu perawatan Ibu kan sudah ada Bapak."


"Eeeh... si Bapak, Ibu itu perawatan biar cantik, biar bapak nggak lirik tetangga sebelah!"


"Loh, kata siapa bapak ngelirik Bu?"


"Lah itu aja sekarang lagi ngelirik?!" ucap Ibu sinis yang memperhatikan mata si Bapak ketika mereka sedang duduk di teras.


"Lah ini kan karena mata Bapak begini bu. Ibu lupa kalau Bapak juling?"


"Eh.. Iya ya.... tapi Ibu tetap minta duit untuk skin care Pak."


"Ibu banyak-banyak makan pisang aja. Pisang itu bagus untuk kulit."


"Halah... pisang. Nggak ada fungsinya!"


"Loh kata siapa?"


"Bapak tahu monyet?"


"Ya tahu lah..."


"Monyet makannya apa Pak?"


"Ya pisang lah..."


"Kulitnya gimana Pak?"

__ADS_1


"Banyak bulunya."


"Nah itu, monyet aja banyak makan pisang kulitnya masih buluan, coba kasih skin care pasti mulus itu Pak."


"Hilih, ngomong sama kamu nggak pernah mau ngalah."


Bu Jumainah hanya memonyongkan bibirnya mendengar ucapan suaminya.


Aku terkekeh bersama Gibran saat mendengar perdebatan mereka. Untungnya Gibran selalu memberikan apa yang aku minta asal itu hal positif.


Sesekali aku melihat Wag yang masih beranggotakan para sahabatku. Aku hanya menyimak apa yang mereka bahas karena aku tidak terlalu tahu apa yang sedang mereka bahas karena aku tidak lagi ngumpul bareng mereka.


Sesekali aku tersenyum sendiri membaca chat mereka. Selalu saja Ara yang menjadi komentator terakhir setelah bahasan berlalu entah kemana.


Yang paling lucu menurut aku jika memantau kisah Yugi dan Nana, terlihat sekali jika mereka sedang berselisih Nana akan membuat status galaunya. Tidak ada yang tahu akan hubungan mereka. Tapi aku tetap curiga merek ada sesuatu.


Opik masih setia menunggu Quinnya yang kadang tanpa kabar berita. Aku salut dengannya.


Berapa tahun kami lalui bersama dalam suka dan duka, tak jarang kadang kami juga berselisih paham. Tapi semua kembali baik-baik saja.


*****


POV GIBRAN.


Ceta ku adalah gadis manis yang berani. Saat dia mencuri ciumanku di balik pintu itu, jantungku berdegub dengan kencang dan menghela napas karena aku kalah darinya. Seharusnya aku yang menciumnya lebih dulu.


Andai saja dia tahu aku setengah mati menahan gejolak ini, " sabar Gibran, tunggu halal". Kalimat itulah yang selalu aku tekankan dalam hatiku.


Melihatnya cemburu sungguh mengemaskan. Tapi sifat usil nya tak kalah bikin aku gregertan.


Aku berusaha cuek dan dingin setiap bertemu dengan Ceta. Aku menahan segala keinginan untuk selalu di dekatnya sebelum kami resmi menjadi suami isteri. Hingga tantangan datang orang tua Ceta untuk segera meminang anaknya. Tentu saja aku tidak melewatkan kesempatan itu.


Aku bahagia memilikinya. Dia yang selalu aku rindukan dan menyiksaku dengan segala hasrat ku. Kami memang pasangan muda dan belum banyak pengalaman. Pernah ada kejadian di malam pertama kami setelah akad nikah hari itu.


"Bang, udah belajar?"


"Belajar apa Ceta?"


"Itu..."


"Itu apa...?"


"Gunainnya."


Pikiran ku langsung traveling mendengar ucapan isteriku.


"Tapi kata orang-orang pertama kali sakit bang."


"Iya sedikit, setelahnya nggak lagi. Itu juga kata orang-orang."


"Kok, Ceta ngeri ya bang..."


"Ngapain dipikirin susah..., kalau nggak siap kan nunda juga nggak apa-apa."


"Tapi kan sayang bang, malam pertama lewat gitu aja."


Aku tersenyum menanggapi ucapan Ceta yang dengan wajah seriusnya.


"Jadi kamu mau nya gimana?"


"Bikin yang enak ya bang."


"Iya nanti lama-lama juga enak."


"Janji...?"


"Iya janji."


Setelah lama berdiskusi kami pun memulai acara ritual malam pertama kami.


Ceta tak mengedipkan matanya saat perlahan aku membuka pakaian ku satu demi satu hingga menyisakan pengaman terakhirku. Begitu pula dengan Ceta yang perlahan membuka pakaiannya hingga menyisakan bra dan CD nya.


Aku sedikit gugup dan malu dilihat oleh Ceta yang tampak terpesona oleh tubuhku. Dan aku pun terpesona melihat kemolekan tubuh mulus yang tersaji di depanku.


Namun saat Ceta melihat ke arah bawah pusarku, tampak kening isteriku berkerut melihat gundukan ku. Dalam hati ku pun mulai bertanya-tanya, apa yang sedang di pikirkan oleh isteriku Ceta.


"Bang, emang segede itu ya kalau belum bangun?"


Aku terkekeh melihat reaksi isteriku.


"Bang tunda aja, itu aku takut sakit jadi belum siap rasanya."


Aku melengos mendengar ucapan isteriku yang di sertai dengan memakai kembali baju tidurnya.

__ADS_1


"Loh kok, gitu?"


Astaga, Ceta...


Tahu nggak kalau aku selama ini udah nahan. Begitu sah aku harus nunggu lagi?!


*****


POV QUIN


Rasanya berat meninggalkan seseorang yang berarti di sana. Tapi mau gimana lagi, demi masa depanku. Kalau emag jodoh nggak akan kemana.


Aku di kampung, di sini susah sinyal. Komunikasi ku dengan Opik mulai merenggang. Aku tahu dia selalu menantikan kabar ku di sana.


Aku hanya bisa berdoa, dan tak banyak yang ku pinta. Aku berharap dia selalu sehat dan selalu bahagia.


*****


POV OPIK


Untung saja di sini ada para sahabat yang selalu mengibur dengan kelakuan mereka. Mengubur rasa rindu yang kadang kala menghampiri tanpa aku bisa menolaknya. Semoga dia baik-baik saja di sana, dan tercapai segala cita-citanya. Bagi ku itu paling penting.


*****


POV NANA


Berakhirlah sudah semua kisah ini


Dan jangan kau tangisi lagi


Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali kepadamu


Sejuta kata maaf terasakan percuma


Sebab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya


Begitulah rasa ku saat itu. Di saat aku di khianati dengan kekasihku yang anu anu (ojin). Sampai hati ini tidak akan pernah akan aku buka lagi rasa trauma itu begitu membekas. Tapi, setelah semua telah berlalu dengan tidak di sengaja aku telah menaruh hati kepada orang yang aku anggap kakak selama ini. Kami pun akhirnya menjalin hubungan tanpa ketahuan teman-temanku (backstreet).


*****


POV ANTY


Jantung ku tiba-tiba berdetak kencang saat aku tahu di depan ku, ada seseorang yang aku sukai ingin rasanya berlama-lama aku di anterin itu.


Mau deketin langsung aku bingung. Aku nggak nyangka ternyata Jo tetangga nya Tha. Ah, akan aku buang predikat galon ini, mumpung orangnya lagi ada di barisan didepan ku, nggak ada salahnya kan di coba.


*****


POV JESS


Aku tidak berhenti tertawa saat melihat nana memakai pakaian aneh itu. Aku kira dia akan mengajak aku berburu Alien di planet mars.


Mantel hujan itu menutup seluruh tubuhnya. Lucu... Ku suruh aja dia buka, karena aku membawa sanitizer.


*****


POV THA


Sebel kadang nebeng sama si Jo. Kalah telat aku juga kena hukuman mulung sampah di lapangan. Tetangga ku itu lumayan juga, sampai salah seorang sahabatku melirik padanya.


Aku terpana saat melihat siswa yang baru pindah itu, dia mantanku.


Untung saja rasanya ya biasa aja, soalnya kami bubar baik-baik semua, walaupun ada yang nyakitin juga tapi akunya biasa aja. Intinya aku nggak pernah dendam kesumat sama mantan.


*****


POV YUGI


Sebenarnya saya gak mau nulis ini. Tapi di paksa sama othornya. Bingung mau nulis apaan. Jangan salahin saya ya..


*****


POV ARa


Aku ketinggalan, pada bahas apa sih?


*****


POV AUTHOR


Terima kasih buat karakter pendukung yang telah sedikit berbagi ungkapan hati mereka dalam menyelesaikan episode BONUS ini.


Apa yang di ceritakan di novel ku, ku angkat dari ke anuan para karakternya di dunia Halu. Mungkin tidak banyak yang mengerti, tapi ada segelintir yang paham. Semoga semua ini bisa menghibur hati untuk mengenang masa-masa silam.

__ADS_1


Sekali lagi ku ucapkan terima kasih untuk para Anu.


END.


__ADS_2