
Tiap ada pertemuan maka ada Perpisahan, bagai hitam dan putih semua adalah takdir tinggal kebijaksanaan kita yang menyikapinya.
Artha lari sekencang-kencangnya, berusaha menyembunyikan diri dibalik dinding sekolah. Napasnya tersengal-sengal, bahunya naik turun sambil sesekali mengintip di balik tembok dia berjongkok lemas sambil tertunduk. Wajahnya memucat air mata terlihat disudut matanya.
" lu kenapa Tha? "
Suara seseorang mengagetkan tha, secepat kilat dia menghapus air mata lalu menarik tangan si pemilik suara untuk berjongkok didekatnya. Dengan kode jari di bibir Tha memintanya untuk tidak bersuara.
Tha kembali mengintip kemudian menghembus napas perlahan tanda lega. Sepertinya keadaan sudah aman pikirnya.
" lu sembunyi dari Leon? Gua liat dia ngejar lu tadi. Lu udah kenal dia ya...? "
" Quin...hah.... " ( Tha menghela napas)
" Dia mantan gua, susah payah gua move on dari dia. Kenapa pake pindah sekolah kesini segala sih ?!"
Sambil meremas rambut dikepalanya tha berkata dengan kesal.
" Kalo lu udah move on, kenapa harus menghindar. Hadapi dia...tunjukkan lu baik-baik aja tanpa dia "
Quin tampak memberi semangat pada Tha.
" Ga semudah yang lu bayangkan Quin..."
Tha menatap sendu Quin. Quin hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
" Lu pasti bisa. Apa mau di hindar seperti ini selamanya? Lu yang paling tau mana yang terbaik buat lu ".
Quin berdiri lalu menepuk pundak sahabatnya itu. Gadis itu pun beranjak perlahan meninggalkan Tha.
" Quin...tunggu! "
Quin berbalik melihat Tha yang teriak memanggil namanya. Senyum pun merekah dibibir Quin saat melihat Tha bergegas menghampirinya.
" Gua laper...yuk kekantin. Siapa itu mantan..gua nggak liat, karena dia sembunyi dibalik tumpukan sampah "
Tha berkata dengan optimis, sambil merangkul bahu Quin dia pun berjalan menuju kantin sekolah.
*****
Di kantin suasana seperti pasar yang tak pernah sepi.
Tampaklah disitu wajah Jess yang di tekuk seribu. Minuman di hadapannya muter-muter bagai segitiga bermuda. Matanya terus melirik ke meja sebelah dan anak ibu kantin.
" gua cabut duluan, mata gua kena radiasi panas disini ".
Meletakan uang 5ribuan di meja, Jess lalu meninggalkan para sahabatnya.
" Jess kenapa lu? "
Pertanyaan Nana sama sekali nggak di tanggapi oleh Jess , dia terus saja melangkah meninggalkan keramaian kantin.
__ADS_1
" Gua tau nih penyebabnya "
Dini lalu beranjak dari tempat duduknya melangkah mendekati meja sebelah dan menggebrak meja itu.
" Braakkk....!!"
Suara nyaring gebrakkan meja lumayan cukup menghentikan riuhnya suasana kantin. Seketika sunyi melanda semua mata mengarah ke asal datangnya suara.
Tangan Dini mengacungkan dua jari ke arah matanya dan ke sosok cowok yang ditatapnya tajam. Lelaki itu mulai terlihat tidak nyaman. Dia pun melihat kearah sekitar lalu berdiri dan bergegas mencari sesorang yang tak lagi ada di sekitarnya.
" Hah...ternyata agung yang buat Jess bete?! "
Ucap Rossa sedikit kesal.
" Kalian ga liat apa dari Jess nyimak lirik-lirikan antara anak ibu kantin ma Agung? "
Ucap Dini yang telah kembali ke posisi duduknya.
" Cantik sih emang...pantesan para buaya mendarat disini ".
Anty berkata sambil menyedot minumannya.
" Siapa sih namanya...aku lupa, kemarin sempat kenalan waktu pulang sekolah kita berpas-pasan sama dia Na?! " Ujar Ceta antusias
" Ara ya kalo ga salah ? " Ucap Nana meyakinkan.
__ADS_1
" Nah iya Ara . Baik kok anaknya, bukan salah dia kalo banyak yang suka . "
Bersambung ya.. mohon bersabar nunggu up berikutnyaš¤