
Suara dering telepon membangunkan Ceta diminggu pagi yang cerah. Padahal dia telah memiliki scedul mager seharian ini, namun nyatanya semua itu kandas begitu saja. Mata yang terpejam itu mendadak membulat, tubuh yg tadinya terbaring tiba-tiba langsung duduk bersila. Rupanya kabar diseberang sana membuat Ceta kehilangan rasa kantuknya. Bergegas dia bangkit dari tempat tidurnya dan berlari mencari bi Mimin pengurus rumahnya setelah telepon diseberang sana dinyatakan mati.
" Bi...bi..bi...?! " Teriak Ceta kesana kemari menciptakan kegaduhan seluruh isi rumah.
Mang Joko yang sedang menyirami tanaman dikebun spontan meletakkan selang airnya begitu saja dan bergegas berlari mencari nona mudanya di dalam rumah.
" Non...non...non Ceta ada apa non?! " Tanya mang Joko panik.
" Mang..., mamang lihat bibi ? "
" Bi mimin...? Kan belum pulang dari pasar non. Ada apa ya non? Apa ada yang bisa mamang bantu ?"
" Oh....nggak ada apa-apa mang, Ceta hanya mau minta bibi belanja lebih karena mama dan papa mau pulang."
Senyum sumringah Ceta mengembang.
" Oalah...kalau itu mamang sama bibi sudah tahu non, non tenang saja. "
" Oh...begitu ya mang, sukurlah. Tapi kenapa mamang sama bibi udah tau duluan sih? Mama sama papa lebih sayang mamang sama bibi dari pada Ceta." Ucap Ceta pura-pura sendu.
" Bukan non....bukan begitu. Kemarin tuan ada nelpon kerumah ngabari akan pulang. Dan katanya non sengaja belum di kabari supaya supris katanya, gitu..."
Ujar mamang panjang lebar.
__ADS_1
" Hahahaha....surprise mang." Ledek Ceta terkekeh.
" Iya lah itu non, begitu maksud mamang."
" Iya....iya mang....Ceta paham." Sambil berlalu Ceta masih terkekeh geli meninggalkan tukang kebunnya.
Hari yang ingin dilewati Ceta dengan kemalasan berubah menjadi hari yang penuh kesibukan serta keceriaan. Begitu sampainya bi Mimin pulang dari pasar, dia ikut membantu membawakan barang belanjaan bibi. Meskipun ia tidak tahu memasak tapi Ceta ikut andil membersihkan sayuran serta mengupas bawang.
"Hiks...hiks...hiks...., huuaaaaaa......."
" Non....non Ceta ada apa? Tangan non terluka? Aduh non....sudah bibi bilang non...biar bibi saja. " Ujar panik dan sambil memeriksa tangan anak majikannya.
" Huaaaa......Ceta baru tahu bi, ternyata bawang sekejam ini, mata Ceta perih bi. " Rengek Ceta.
" Maafkan Ceta ya bi...cukup sampai disini Ceta nggak sanggup lagi. "
"Heleh non...bahasanya kayak orang lagi putus cinta saja. "
Bibi tersenyum melihat tingkah anak majikannya, sedangkan Ceta memilih untuk bersantai ditaman belakang rumahnya.
Duduk di ayunan sambil terisak menghilangkan sisa perih di matanya.
" Kenapa jadi begini sih, hiks...hiks...hiks...perih."
__ADS_1
Terus saja Ceta menggerutu mengomeli matanya yang perih. Tapi dilain sisi, seseorang pemuda tanpa sengaja memperhatikan Ceta dari kediamannya merasa terenyuh hatinya melihat gadis itu menangis. Karena dia tau gadis itu tak mudah menjatuhkan air mata. Ingin rasanya dia menghampiri gadis itu dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi tentu saja, niat itu diurungkan mengingat janji yang telah dia buat.
Bersabarlah....karena semua akan indah pada waktunya....
Pemuda itu lalu melangkahkan kakinya hendak mamasuki rumahnya. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti, kemudian berbalik arah dan berjalan mendekati Ceta. Karena halaman belakang rumah mereka tiada pembatas , dengan mudahnya pemuda tadi menghampiri Ceta.
" Kenapa mewek disini?"
Wajah Ceta yang tadinya tertunduk mendadak mengadah keatas. Jantungnya berdetak kencang, dan mulailah rona pipinya bersemu merah setelah mendengar suara pemuda tadi.
" Abang...?!"
" Elo nggak apa-apa? Napa nangis?"
" Ini bang....mata Ceta perih habis ngiris bawang tadi. Bang Gibran...makasih ya udah perhatian sama Ceta. " Tersenyum sipu Ceta menatap kearah Gibran.
" Hah ! "
Gibran melengos, ternyata karena bawang dan bukan karena sesuatu yang lain. Pemuda itu pun beranjak membalikan badan dan meninggalkan Ceta tanpa sepatah kata dan membuat Ceta akhirny melongo melihat sikap Gibran.
" Abaaaaaangg ?! Ish......dasar manusia kutub !! "
#next up..😊
__ADS_1