Aku Ibu

Aku Ibu
Fandi Wibawa, Juni 2009


__ADS_3

Saat itu usiaku masih 21 Tahun, baru Lulus S1 di STISI BANDUNG jurusan DKV.


Aku punya kekasih dan hubungan ini sudah cukup lama, 2Tahun 8bulan. Kami saling menyayangi dan saling melindungi satu sama lain.


Hari Jumat, sidang tugas akhir kekasihku, Fandi Wibawa. Aku yang sudah di Jakarta sejak kelulusanku, mewajibkan diri untuk datang menemaninya.


(ON Phone)


“Yang, aku sudah di parkiran... kamu sudah siap kah?” Tanya ku.


“Aku sudah dilift babe... tunggu ya” jawab Fandi sambil terdengar bahwa dia sangat tergesa-gesa.


Di parkiran apartemen


“Babe, pakai mobilku saja ya... mobil kamu parkir disini” Fandi sambil membenarkan dasinya menyuruh ku keluar dari mobil.


(Dan aku pun langsung keluar dari mobil tanpa membantah).


20 menit kemudian saat tiba di kampus


Sidang sudah dimulai, dan tinggal beberapa mahasiswa lagi, sampai akhirnya Fandi masuk ke ruang sidang.

__ADS_1


Aku resah dan khawatir.


Sesekali aku mengintip dari jendela melihat proses sidangnya.


Dan akhirnya Fandi keluar dengan senyuman sumringah di wajahnya.


“Thank you babe, I really Love you...” ucapnya lirih sambil memeluku erat.


“I love you too... selamat ya sayang” jawabku sambil memeluknya lebih erat.


Fandi, I Love You...


-Fandi adalah kekasih ku yang sangat kucintai saat itu. Kami melakukan banyak hal bersama, mengerjakan tugas bersama, makan siang bersama, berbagi rokok, berbagi uang saku dan kami banyak melakukan hal-hal gila.-


-Dia, lebih dari apa yang kubutuhkan dari seorang kekasih. Sangat lembut, perhatian dan selalu ada setiap waktu untukku. Hanya dia lah yang mampu mengontrol sifat manjaku. Hanya dia yang tidak pernah marah sepanjang hubungan kami.-


Sampai pada satu ketika aku mulai bosan.


Bosan? Iya, aku lelah. Lelah tidak pernah dibantah, lelah dia selalu memperhatikan ku. Lelah saat dia tidak pernah komentar tentang apapun yang ku kerjakan.


Di Jumat itu, iya di hari sidang skripsi itu. Aku mengajaknya makan di lembang, untuk merayakan kelulusannya, kampung daun.

__ADS_1


Kami menikmati makan malam kami.


Di meja itu hanya kami berdua. Dihiasi lilin dan suasana jadi terasa romantis. Dengan hawa dingin khas Bandung. Suara gemercik air menambah suasana jadi sangat romantis.


Aku mulai pembicaraan, “yang... terima kasih ya, kamu selalu ada untuk ku...”


Sambil mengenggam jemariku Fandi menjawab dengan sangat lembut, “sama-sama sayang... aku yang terima kasih, karena kamu mau temenin aku disini sekarang..:”


“Tapi yang, aku boleh minta sesuatu ga?” Tanya ku.


“Iya sayang, kamu boleh minta apa aja yang kamu mau... memangnya kamu mau apa?” Sahutnya sambil menatap mataku dengan penuh tanya.


“Kayaknya aku butuh waktu untuk sendiri dulu deh yang...” jawabku lirih.


Dia menatapku dengan sangat serius kali ini, “maksudnya gimana yang?”


“Ya aku kan baru lulus kuliah nih, aku mau cari suasana baru, aku mau kerja yang...” jawabku sambil menatap nya sendu.


“Aku ga ngerti...” sahutnya sambil merengut kan alisnya.


Aku langsung menegaskan badanku dan menggenggam erat jari nya sambil berkata “ya maksudku kita udahan dulu yang...”

__ADS_1


Dan malam itu menjadi malam yang sangat aneh bagi kita berdua.


__ADS_2