
Assalamualaikum teman2 pembaca...
JANGAN LUPA VOTENYA YE DEARS
❤️❤️❤️******I love You teman2******❤️❤️❤️
---- Ananda Bestari ----
Perjodohan? Apa iya aku bisa bahagia dengan itu? Apa mungkin
lelaki yang dijodohkan denganku akan menyayangi ku?
Satu hal yang ku yakini adalah apapun pilihan orang tua ku
adalah yang paling baik untukku. Tidak mungkin mereka memilih seseorang yang
tidak baik untukku.
Lalu bagaimana dengan Andy? Apa yang akan kukatakan padanya?
Baru semalam dia menyatakan cintanya, apa aku akan tega menolaknya? Bagaimana
jika dia sangat terluka? Dan akan membenciku selamanya?
**** BBM ****
10.58 WIB
Andy : Assalamualaikum, Nda
Andy : Aku sdh di
dpn nih... masuk dulu apa langsung?
Me : Waalaikumsalam, Ndi
Me : ok, gw kedepan aja kita langsung jalan. Wait.
Andy : ok aku tunggu ya....
Aku yang sudah sedari tadi menunggu Andy di teras rumah
langsung keluar pagar dan menghampiri Andy. Mobil Andy sudah ada tepat di depan
pagar, aku melihatnya dari luar. Dia tersenyum sangat lebar, terpancar di raut
wajahnya sebuah kebahagiaan. Semakin aku tidak tega. Aku bingung, aku takut,
aku merasa aku jahat.
Aku masuk kedalam mobil,
“kita langsung jalan ya Ndi...” sapaku sambil merapikan
kursi mobil.
“ok..” jawab Andy singkat.
Aku sesekali melihat ke arah Andy, dan aku melihat dia
tersenyum terus sejak dari datang.
“ kok kamu senyum-senyum daritadi, kenapa Ndy? Make up ku
aneh ya?” Tanyaku sambil melihat kaca.
“kamu cantik.” Jawabnya “ Gombal banget ya aku...”
sambungnya, sambil trsenyum.
“emang kita mau kemana sih Ndy?” Tanyaku
“hhhmmm... kita ke Dufan” jawabnya lagi sambil menyetir dan
pandangannya kedepan.
“Dufan? Ancol gitu? Kok?” Tanyaku bingung.
“ya dufan ada nya di Ancol dong, Nda...” Ucap Andy tetap
sambil terseyum.
__ADS_1
Aku tidak membalas ucapannya lagi, aku hanya duduk diam
sambil melihat lalu lalang jalanan. Dan aku masih memikirkan kata-kata apa yang
harus kusampaikan pada Andy.
Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri sampai aku tidak
sadar bahawa sudah sampai di pintu masuk Ancol. Dan Andy pun sedang membayar
tiket masuk mobil dan orang.
Ketika masuk ancol kita langsung menuju parkiran didepan
Dufan. Andy langsung mengajakku keluar dari mobil dan mengantre lagi untuk
masuk ke Dufan.
Saat mengantre Andy menggenggam tanganku lagi, kali ini dia
merasa bahwa seolah aku miliknya. Dan sepertinya genggaman itu tidak akan
dilepaskannya.
Tak lama mengantre kami sudah dapat tiket masuknya. Andy
dengan wajah yang sumringah langsung bergegas masuk ke dalam Arena Dufan.
Anjungan yang pertama kami tuju Adalah Arung jeram. What?
Arung Jeram untuk permainan pertama? Basah? Terus gimana? Baju nya? Aku khawatir
tapi tidak berani berkomentar apapun.
“tenang Nda, Aku udah bawa baju loh... nih di tasku.” Ucap
Andy tiba-tiba.
“What? Emang lu tau ukuran gue?” sahutku kaget.
“ ya tau lah, kan waktu pengukuran seragam kantor gw
denger.” Jawabnya penuh percaya diri.
“kalo pas, kamu traktir aku ya... eskrim aja deh. Panas
banget.” Sahut Andy.
Tidak seperti biasanya, aku tidak ingin menjawab dan
berakat-kata apapun pada Andy. Terlalu banyak yang aku pikirkan dan aku terlalu
khawatir. Aku mulai resah dan tidak fokus. Bahkan sesekali aku termenung.
“Are you ok, Nda?” Tanya Andy khawatir. “kamu kok tiba-tiba
keliatan pucat?” sambungnya
“i’m okay , Ndy. Kita makan siang aja yuk... atau kita masuk
istana boneka yuk.” Pintaku pada Andy.
“ok kita cari makan siang dulu, solat terus ke istana boneka”
Jawab Andy dan langsung menarikku untuk keluar dari antrean arung jeram.
Disaat kita sudah duduk di kursi salah satu restauran aku
memperhatikan wajah Andy yang mulai terlihat panik.
“kamu yakin gak apa-apa kan?” Tanya Andy lagi.
“iya aku gak apa-apa...” Jawabku.
Akhirnya setelah makan aku memutuskan untuk menikmati hari
itu bersama Andy, setelah Sholat Dzuhur, kami menuju istana boneka dan beberapa
anjungan permainan lainnya. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Kami pun pergi ke musolah umum dan
melakukan Sholat Ashar setelah itu kami lanjut lagi menaiki kincir angin yang
terbesar diJakarta.
__ADS_1
Didalam kincir Angin aku ingin mengungkapkan semua pada
Andy. Ingin kukatakan bahwa, aku bukanlah wanita yang bisa menemaninya.
“Ndy, bagus banget ya pemandangannya... apalagi kalo malem”
Ucapku sambil melihat ke arah danau.
“iya, aku mau nanti kita kalo lagi berantem kesini ya...
biar tenang.” Balas Andy.
“maksudnya? Kok berantem? Emang kenapa harus berantem?”
Jawabku.
“ oh iya kamu belum jawab loh, pernyataan cintaku.” Andy
mengalihkan pertanyaanku.
“ Ndy, memang lu berani denger jawaban gue?” tanyaku.
“aku sudah siap dengan semua jawaban kamu, Nda. Meski kita
tidak berjodoh. Aku akan selalu ada untuk kamu.” Jawab Andy sambil mengenggam
tanganku.
“ kenapa? Kok bisa kamu jawab begitu?” Balasku.
“karena aku benar-benar menyayangimu, aku ingin kamu
bahagia. Meski kamu bukan milikku.” Jawab Andy teduh.
“Andy, gue dijodohin.” Sela ku.
Andy spotan langsung menatapku tajam, seolah ingin
dijelaskan lebih dalam.
“malam ini, orang yang akan dinikahkan denganku akan datang
kerumah.” Sambungku.
Andy seketika terdiam, mukanya memerah dan aku takut menatap
matanya. Aku hanya menundukan kepalaku. Suasana berubah menjadi aneh. Kami hanya
diam dan Andy tidak lagi menatap ku dengan wajah yang sumringahnya.
Kami memutuskan untuk pulang, meski hanya diam Andy tetap
menggandeng tanganku dengan lembut. Bahkan didalam mobil pun. Sesekali Andy
menggenggam tanganku. Dan kami pun tiba dirumah.
“Nda, percaya sama aku... aku menyayangi mu tulus dari dalam
hatiku.” Ucap Andy sebelum aku beranjak keluar dari mobil.
“kecewa? Iya... tapi demi kebahagiaan orang yang kusayangi. Aku
merelakanmu.” Sambung Andy.
“Ndy, maafin aku ya... sebenarnya aku ingin sekali mencoba
menjalin hubungan dengan mu... tapi aku tidak ingin membantah orang tua ku.” Balasku
dan memberanikan diri menatap matanya.
“serius, Nda... aku gak apa-apa, bila memang kita jodoh
pasti Allah akan pertemukan kita lagi kok. Untuk sekarang, kamu aku kita...
kita jalani saja yang ada didepan mata kita. Aku menyayangi mu. Tapi aku yakin
Allah lebih menyayangi mu Nda.” Ucap Andy sambil mengenggam tanganku dengan
erat seolah dia ingin sekali meyakinkanku.
Aku tidak tahu, terlintas bagaimana hancurnya perasaan Andy.
Maaf kan aku Andy.
__ADS_1