Aku Ibu

Aku Ibu
Akhir Sebelum Memulai


__ADS_3

Assalamualaikum teman2 pembaca...


JANGAN LUPA VOTENYA YE DEARS


❤️❤️❤️******I love You teman2******❤️❤️❤️


 


---- Ananda Bestari ----


 Perjodohan? Apa iya aku bisa bahagia dengan itu? Apa mungkin


lelaki yang dijodohkan denganku akan menyayangi ku?


Satu hal yang ku yakini adalah apapun pilihan orang tua ku


adalah yang paling baik untukku. Tidak mungkin mereka memilih seseorang yang


tidak baik untukku.


Lalu bagaimana dengan Andy? Apa yang akan kukatakan padanya?


Baru semalam dia menyatakan cintanya, apa aku akan tega menolaknya? Bagaimana


jika dia sangat terluka? Dan akan membenciku selamanya?


**** BBM ****


10.58 WIB


Andy     : Assalamualaikum, Nda


Andy     : Aku sdh di


dpn nih... masuk dulu apa langsung?


Me         : Waalaikumsalam, Ndi


Me         : ok, gw kedepan aja kita langsung jalan. Wait.


Andy     : ok aku tunggu ya....


Aku yang sudah sedari tadi menunggu Andy di teras rumah


langsung keluar pagar dan menghampiri Andy. Mobil Andy sudah ada tepat di depan


pagar, aku melihatnya dari luar. Dia tersenyum sangat lebar, terpancar di raut


wajahnya sebuah kebahagiaan. Semakin aku tidak tega. Aku bingung, aku takut,


aku merasa aku jahat.


Aku masuk kedalam mobil,


“kita langsung jalan ya Ndi...” sapaku sambil merapikan


kursi mobil.


“ok..” jawab Andy singkat.


Aku sesekali melihat ke arah Andy, dan aku melihat dia


tersenyum terus sejak dari datang.


“ kok kamu senyum-senyum daritadi, kenapa Ndy? Make up ku


aneh ya?” Tanyaku sambil melihat kaca.


“kamu cantik.” Jawabnya “ Gombal banget ya aku...”


sambungnya, sambil trsenyum.


“emang kita mau kemana sih Ndy?” Tanyaku


“hhhmmm... kita ke Dufan” jawabnya lagi sambil menyetir dan


pandangannya kedepan.


“Dufan? Ancol gitu? Kok?” Tanyaku bingung.


“ya dufan ada nya di Ancol dong, Nda...” Ucap Andy tetap


sambil terseyum.

__ADS_1


Aku tidak membalas ucapannya lagi, aku hanya duduk diam


sambil melihat lalu lalang jalanan. Dan aku masih memikirkan kata-kata apa yang


harus kusampaikan pada Andy.


Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri sampai aku tidak


sadar bahawa sudah sampai di pintu masuk Ancol. Dan Andy pun sedang membayar


tiket masuk mobil dan orang.


 Ketika masuk ancol kita langsung menuju parkiran didepan


Dufan. Andy langsung mengajakku keluar dari mobil dan mengantre lagi untuk


masuk ke Dufan.


Saat mengantre Andy menggenggam tanganku lagi, kali ini dia


merasa bahwa seolah aku miliknya. Dan sepertinya genggaman itu tidak akan


dilepaskannya.


Tak lama mengantre kami sudah dapat tiket masuknya. Andy


dengan wajah yang sumringah langsung bergegas masuk ke dalam Arena Dufan.


Anjungan yang pertama kami tuju Adalah Arung jeram. What?


Arung Jeram untuk permainan pertama? Basah? Terus gimana? Baju nya? Aku khawatir


tapi tidak berani berkomentar apapun.


“tenang Nda, Aku udah bawa baju loh... nih di tasku.” Ucap


Andy tiba-tiba.


“What? Emang lu tau ukuran gue?” sahutku kaget.


“ ya tau lah, kan waktu pengukuran seragam kantor gw


denger.” Jawabnya penuh percaya diri.


“kalo pas, kamu traktir aku ya... eskrim aja deh. Panas


banget.” Sahut Andy.


 Tidak seperti biasanya, aku tidak ingin menjawab dan


berakat-kata apapun pada Andy. Terlalu banyak yang aku pikirkan dan aku terlalu


khawatir. Aku mulai resah dan tidak fokus. Bahkan sesekali aku termenung.


“Are you ok, Nda?” Tanya Andy khawatir. “kamu kok tiba-tiba


keliatan pucat?” sambungnya


“i’m okay , Ndy. Kita makan siang aja yuk... atau kita masuk


istana boneka yuk.” Pintaku pada Andy.


“ok kita cari makan siang dulu, solat terus ke istana boneka”


Jawab Andy dan langsung menarikku untuk keluar dari antrean arung jeram.


Disaat kita sudah duduk di kursi salah satu restauran aku


memperhatikan wajah Andy yang mulai terlihat panik.


“kamu yakin gak apa-apa kan?” Tanya Andy lagi.


“iya aku gak apa-apa...” Jawabku.


Akhirnya setelah makan aku memutuskan untuk menikmati hari


itu bersama Andy, setelah Sholat Dzuhur, kami menuju istana boneka dan beberapa


anjungan permainan lainnya. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul  5 sore. Kami pun pergi ke musolah umum dan


melakukan Sholat Ashar setelah itu kami lanjut lagi menaiki kincir angin yang


terbesar diJakarta.

__ADS_1


Didalam kincir Angin aku ingin mengungkapkan semua pada


Andy. Ingin kukatakan bahwa, aku bukanlah wanita yang bisa menemaninya.


“Ndy, bagus banget ya pemandangannya... apalagi kalo malem”


Ucapku sambil melihat ke arah danau.


“iya, aku mau nanti kita kalo lagi berantem kesini ya...


biar tenang.” Balas Andy.


“maksudnya? Kok berantem? Emang kenapa harus berantem?”


Jawabku.


“ oh iya kamu belum jawab loh, pernyataan cintaku.” Andy


mengalihkan pertanyaanku.


“ Ndy, memang lu berani denger jawaban gue?” tanyaku.


“aku sudah siap dengan semua jawaban kamu, Nda. Meski kita


tidak berjodoh. Aku akan selalu ada untuk kamu.” Jawab Andy sambil mengenggam


tanganku.


“ kenapa? Kok bisa kamu jawab begitu?” Balasku.


“karena aku benar-benar menyayangimu, aku ingin kamu


bahagia. Meski kamu bukan milikku.” Jawab Andy teduh.


“Andy, gue dijodohin.” Sela ku.


Andy spotan langsung menatapku tajam, seolah ingin


dijelaskan lebih dalam.


“malam ini, orang yang akan dinikahkan denganku akan datang


kerumah.” Sambungku.


Andy seketika terdiam, mukanya memerah dan aku takut menatap


matanya. Aku hanya menundukan kepalaku. Suasana berubah menjadi aneh. Kami hanya


diam dan Andy tidak lagi menatap ku dengan wajah yang sumringahnya.


Kami memutuskan untuk pulang, meski hanya diam Andy tetap


menggandeng tanganku dengan lembut. Bahkan didalam mobil pun. Sesekali Andy


menggenggam tanganku. Dan kami pun tiba dirumah.


“Nda, percaya sama aku... aku menyayangi mu tulus dari dalam


hatiku.” Ucap Andy sebelum aku beranjak keluar dari mobil.


“kecewa? Iya... tapi demi kebahagiaan orang yang kusayangi. Aku


merelakanmu.” Sambung Andy.


“Ndy, maafin aku ya... sebenarnya aku ingin sekali mencoba


menjalin hubungan dengan mu... tapi aku tidak ingin membantah orang tua ku.” Balasku


dan memberanikan diri menatap matanya.


“serius, Nda... aku gak apa-apa, bila memang kita jodoh


pasti Allah akan pertemukan kita lagi kok. Untuk sekarang, kamu aku kita...


kita jalani saja yang ada didepan mata kita. Aku menyayangi mu. Tapi aku yakin


Allah lebih menyayangi mu Nda.” Ucap Andy sambil mengenggam tanganku dengan


erat seolah dia ingin sekali meyakinkanku.


Aku tidak tahu, terlintas bagaimana hancurnya perasaan Andy.


Maaf kan aku Andy.

__ADS_1


__ADS_2