
Assalamualaikum.... maaf teman baru up lagi episode ini, karena kondisi penulis lagi kurang ok...
Insyaallah hari ini, sudah membaik dan bisa terus up episode selanjutnya...
Karena sudah mulai masuk kedalam konflik, jadi kalian bisa memetik hal baiknya aja ya nanti...
---- Ananda Bestari----
Hari ini, hari pernikahanku. Hari dimana aku memulai hidup
baruku. Benar-benar lembaran yang baru.
Mas Teguh mulai Hari ini 8 Oktober 2009, adalah Suamiku.
Ijab kabul berlangsung sangat Hikmat dan Sakral, perasaanku
sangat campur aduk. Banyak rasa yang kunikmati hari ini.
Yang pasti rasa khawatir menyelimutiku. Aku khawatir aku
tidak cukup baik untuk Mas Teguh.
Tapi perasaan yakin lebih kuat, dan lebih membuatku merasa
bahagia dan membuatku tak ingin mundur.
Pernikahan dilangsungkan secara sederhana di rumah, kami
sepakat hanya mengundang teman dekat dan saudara dekat saja. Dan yang
terpenting adalah akad nikah yang berlangsung dengan sakral.
Di hari pernikahanku, Andy, Wisnu, Elly, Mba Bimbi dan teman
kantor ku yang lain datang memenuhi undanganku. Yang membuat jantungku berdegup
kencang adalah ketika Andy melangkah mendekati pelaminan dengan sangat tenang
dan senyumnya. Perasaan apa ini? Membuat hatiku lebih bercampur aduk rasanya.
Semakin mendekat, jantungku seperti mau copot. Aku bingung
harus mengeluarkan ekspresi apa. Ekspresi tercepat yag bisa ku keluarkan adalah
membalas senyumnya dengan tenang.
“Selamat ya Nda, Semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah
Mawaddah Warohmah... Aamiin.” Ucap Andy sambil berjabat tangan dengan Mas Teguh
dan memandangku dengan senyum.
“Nda, puas-puasin HoneyMoon nya... semetara kerjaan gue yang
handle deh...demi lu...” Wisnu menyela Andy sambil memberikan bingkisan besar
untuk kami.
“makasih ya Wis, ini kado gede banget... lu ga ngadoin bom
kan?” balasku dan semua tertawa.
“yakali, gue ikut mati bareng dong....” sambut Wisnu sambil
tertawa lebar.
“Selamat, ya Ananda... Have fun ya nanti HoneyMoon nya...
saya tunggu dikantor.” Mba Bimbi sambil memberikan 1 buah Amplop putih yang
sudah dilipat.
“Makasih ya Mba Bimbi, insyaallah aku langsung ngantor
kok... “ jawabku sambil menyengir.
“Nda, kado yang gede itu dari gue, Wisnu sama temen2 yang
lain ya... jangan diliat nilainya... tapi dari perjuangan Wisnu yang ribut
banget nyari nya...” Ucap Elly dan semua tertawa terbahak-bahak.
“yawdah kita langsung foto aja yuk...” Mas Teguh sambil
__ADS_1
mengarahkan kameramen untuk mengambil foto kami semua.
Kami semua berfoto dipelaminan, aku melihat raut wajah
semuanya. Mereka tersenyum bahagia. Dan akupun menjadi lega karena semua
berjalan tanpa hambatan.
Perasaanku pada Andy? Iya aku masih menyimpan rasa sungkan
dan merasa bersalah dengan apa yang sudah menjadi keputusanku ini.
Dear Mas Teguh.
Jika kau tau apa yang kurasakan saat ini,
Aku bahagia.
Itu saja yang ingin ku utarakan,
Kamu tidak perlu tahu apa yang membuat ku resah.
Aku hanya ingi kamu tahu,
Aku akan berusaha menjadi Istri yang baik untukmu.
Aku ingin menemanimu,
Menghabiskan sisa hidupku bersamamu.
Membesarkan anak-anak kita.
Penuh dengan suka cita.
Harapanku,
Aku menaruh semua harapanku di pundakmu.
Karena aku ingin menjadi Istri yang selalu mengikuti setiap
langkahmu.
Karena aku tidak ingin kamu berpaling dariku.
Karena aku ingin kita mencinta karena Allah.
sesosok pria bertubuh tinggi, kulit putih bersih berpakaian sangat rapi dan
wangi tiba berjalan kearah pelaminan kami.
Fandy Wibawa, dia datang ke acara pernikahanku. Sudah lama
kami tidak berkomunikasi seolah dia hilang ditelan bumi. Tapi, hari ini dia
datang dengan mengenakan kemeja batik yang bagus dengan membawa satu bucket
bunga mawar merah.
Sosoknya semakin mendekat ke arah ku. Aku pun tidak bisa
melepaskan pandanganku. Air mata jatuh membasahi pipiku. Ini lebih aneh dari
saat Andy datang memberika ucapan selamat.
Fandy, bagaimana dia bisa berada disini? Kenapa harus datang
hari ini?
“selamat ya Nda, maaf aku hanya bisa membawa satu bucket
mawar merah untukmu.” Sambut Fandy.
“saya Fandy, teman kuliah Ananda Di Bandung. Selamat By The
Way.” Ucap Fandy pada Mas Teguh.
Aku langsung teringat bahwa aku mengundang Semua teman-teman
kuliah ku dari Bandung, meski aku tidak mengundang Fandy secara pribadi. Tapi Fandi
adalah bagian dari itu.
Fandy menggenggam tangan ku dengan erat sambil tersenyum,
__ADS_1
lalu dia langsung berlalu dan turun dari panggung pelaminan tanpa berfoto dan
itu sangat singkat. Dia berjalan menuju kumpulan teman-teman yang lain.
Mas Teguh melihatku heran, dia langsung mengambil tisu dan
mengusap air mata yang jatuh tadi.
“kamu kenapa? Sakit?” tanya Mas Teguh padaku.
“Ngga apa-apa mas, kayaknya bulu matanya buat ga nyaman deh.”
Jawabku sambil memalingkan wajahku dari nya.
Sesekali aku melihat Fandy dari kejauhan, dan semua
ingatanku bersamanya muncul perlahan dan semakin jelas. Aku merindu.
Aku berdosa, aku sudah menjadi Istri Mas Teguh. Tapi aku
merindu dengan pria yang jelas bukan muhrimku. Aku tersadar dan segera mencoba
membuyarkan ingatan-ingatan itu.
“temen-temen kuliah kamu ga sekalian foto bareng?” tanya Mas
Teguh sambil Tersenyum.
“iya boleh mas...” aku menjawabnya sambil mencari dimana
Fandy berada.
Sang fotografer pun memanggil teman-temanku dan mulai mengatur
posisi agar foto terlihat bagus dan rapih. Fandy, berdiri tepat disampingku. Sambil
memandang kedepan, dia memberikan sepucuk surat untukku dan dia menatap mataku
dengan lembut dan tersenyum.
Sesi foto berlangsung
cepat, semua perlahan meninggalkan pelaminan. Dan aku masih menggenggam kertas
yang Fandy berikan paddaku sambil terus melihat nya berjalan menjauh dari ku. Dan
tatapanku seolah tak ingin berhenti untuk melihatnya.
Aku penasaran dengan apa yang Fandy tulis di kertas ini,
tapi aku tidak ingin Mas Teguh tahu. Aku mulai resah. Dan berharap acaranya
segera berakhir.
Akhirnya Acara nya selesai dan aku segera berjalan menuju
kamarku. Membuka kerta itu perlahan dan membacanya.
Air mata deras membanjiri pipiku. Ada rasa sakit yang sangat
perih di hatiku. Aku tidak tahu persis perasaan apa ini. Apa ini yang disebut
penyesalan?
Ya Allah,
aku tidak ingin
diselimuti perasaan seperti ini.
Buatlah aku yakin bahwa Mas Teguh lah yang terbaik untukku.
Ya Allah,
Hentikanlah kebodohanku.
Aku sadar ini dosa.
Tolong hentikan perasaan sesal ini.
Aku ingin tulus mencintai Suamiku.
__ADS_1