Aku Ibu

Aku Ibu
Dia Datang Di Penikahanku.


__ADS_3

Assalamualaikum.... maaf teman baru up lagi episode ini, karena kondisi penulis lagi kurang ok...


Insyaallah hari ini, sudah membaik dan bisa terus up episode selanjutnya...


Karena sudah mulai masuk kedalam konflik, jadi kalian bisa memetik hal baiknya aja ya nanti...


---- Ananda Bestari----


Hari ini, hari pernikahanku. Hari dimana aku memulai hidup


baruku. Benar-benar lembaran yang baru.


Mas Teguh mulai Hari ini 8 Oktober 2009, adalah Suamiku.


Ijab kabul berlangsung sangat Hikmat dan Sakral, perasaanku


sangat campur aduk. Banyak rasa yang kunikmati hari ini.


Yang pasti rasa khawatir menyelimutiku. Aku khawatir aku


tidak cukup baik untuk Mas Teguh.


Tapi perasaan yakin lebih kuat, dan lebih membuatku merasa


bahagia dan membuatku tak ingin mundur.


Pernikahan dilangsungkan secara sederhana di rumah, kami


sepakat hanya mengundang teman dekat dan saudara dekat saja. Dan yang


terpenting adalah akad nikah yang berlangsung dengan sakral.


Di hari pernikahanku, Andy, Wisnu, Elly, Mba Bimbi dan teman


kantor ku yang lain datang memenuhi undanganku. Yang membuat jantungku berdegup


kencang adalah ketika Andy melangkah mendekati pelaminan dengan sangat tenang


dan senyumnya. Perasaan apa ini? Membuat hatiku lebih bercampur aduk rasanya.


Semakin mendekat, jantungku seperti mau copot. Aku bingung


harus mengeluarkan ekspresi apa. Ekspresi tercepat yag bisa ku keluarkan adalah


membalas senyumnya dengan tenang.


“Selamat ya Nda, Semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah


Mawaddah Warohmah... Aamiin.” Ucap Andy sambil berjabat tangan dengan Mas Teguh


dan memandangku dengan senyum.


“Nda, puas-puasin HoneyMoon nya... semetara kerjaan gue yang


handle deh...demi lu...” Wisnu menyela Andy sambil memberikan bingkisan besar


untuk kami.


“makasih ya Wis, ini kado gede banget... lu ga ngadoin bom


kan?” balasku dan semua tertawa.


“yakali, gue ikut mati bareng dong....” sambut Wisnu sambil


tertawa lebar.


“Selamat, ya Ananda... Have fun ya nanti HoneyMoon nya...


saya tunggu dikantor.” Mba Bimbi sambil memberikan 1 buah Amplop putih yang


sudah dilipat.


“Makasih ya Mba Bimbi, insyaallah aku langsung ngantor


kok... “ jawabku sambil menyengir.


“Nda, kado yang gede itu dari gue, Wisnu sama temen2 yang


lain ya... jangan diliat nilainya... tapi dari perjuangan Wisnu yang ribut


banget nyari nya...” Ucap Elly dan semua tertawa terbahak-bahak.


“yawdah kita langsung foto aja yuk...” Mas Teguh sambil

__ADS_1


mengarahkan kameramen untuk mengambil foto kami semua.


Kami semua berfoto dipelaminan, aku melihat raut wajah


semuanya. Mereka tersenyum bahagia. Dan akupun menjadi lega karena semua


berjalan tanpa hambatan.


Perasaanku pada Andy? Iya aku masih menyimpan rasa sungkan


dan merasa bersalah dengan apa yang sudah menjadi keputusanku ini.


Dear Mas Teguh.


Jika kau tau apa yang kurasakan saat ini,


Aku bahagia.


Itu saja yang ingin ku utarakan,


Kamu tidak perlu tahu apa yang membuat ku resah.


Aku hanya ingi kamu tahu,


Aku akan berusaha menjadi Istri yang baik untukmu.


Aku ingin menemanimu,


Menghabiskan sisa hidupku bersamamu.


Membesarkan anak-anak kita.


Penuh dengan suka cita.


Harapanku,


Aku menaruh semua harapanku di pundakmu.


Karena aku ingin menjadi Istri yang selalu mengikuti setiap


langkahmu.


Karena aku tidak ingin kamu berpaling dariku.


Karena aku ingin kita mencinta karena Allah.


sesosok pria bertubuh tinggi, kulit putih bersih berpakaian sangat rapi dan


wangi tiba berjalan kearah pelaminan kami.


Fandy Wibawa, dia datang ke acara pernikahanku. Sudah lama


kami tidak berkomunikasi seolah dia hilang ditelan bumi. Tapi, hari ini dia


datang dengan mengenakan kemeja batik yang bagus dengan membawa satu bucket


bunga mawar merah.


Sosoknya semakin mendekat ke arah ku. Aku pun tidak bisa


melepaskan pandanganku. Air mata jatuh membasahi pipiku. Ini lebih aneh dari


saat Andy datang memberika ucapan selamat.


Fandy, bagaimana dia bisa berada disini? Kenapa harus datang


hari ini?


“selamat ya Nda, maaf aku hanya bisa membawa satu bucket


mawar merah untukmu.” Sambut Fandy.


“saya Fandy, teman kuliah Ananda Di Bandung. Selamat By The


Way.” Ucap Fandy pada Mas Teguh.


Aku langsung teringat bahwa aku mengundang Semua teman-teman


kuliah ku dari Bandung, meski aku tidak mengundang Fandy secara pribadi. Tapi Fandi


adalah bagian dari itu.


Fandy menggenggam tangan ku dengan erat sambil tersenyum,

__ADS_1


lalu dia langsung berlalu dan turun dari panggung pelaminan tanpa berfoto dan


itu sangat singkat. Dia berjalan menuju kumpulan teman-teman yang lain.


Mas Teguh melihatku heran, dia langsung mengambil tisu dan


mengusap air mata yang jatuh tadi.


“kamu kenapa? Sakit?” tanya Mas Teguh padaku.


“Ngga apa-apa mas, kayaknya bulu matanya buat ga nyaman deh.”


Jawabku sambil memalingkan wajahku dari nya.


Sesekali aku melihat Fandy dari kejauhan, dan semua


ingatanku bersamanya muncul perlahan dan semakin jelas. Aku merindu.


Aku berdosa, aku sudah menjadi Istri Mas Teguh. Tapi aku


merindu dengan pria yang jelas bukan muhrimku. Aku tersadar dan segera mencoba


membuyarkan ingatan-ingatan itu.


“temen-temen kuliah kamu ga sekalian foto bareng?” tanya Mas


Teguh sambil Tersenyum.


“iya boleh mas...” aku menjawabnya sambil mencari dimana


Fandy berada.


Sang fotografer pun memanggil teman-temanku dan mulai mengatur


posisi agar foto terlihat bagus dan rapih. Fandy, berdiri tepat disampingku. Sambil


memandang kedepan, dia memberikan sepucuk surat untukku dan dia menatap mataku


dengan lembut dan tersenyum.


 Sesi foto berlangsung


cepat, semua perlahan meninggalkan pelaminan. Dan aku masih menggenggam kertas


yang Fandy berikan paddaku sambil terus melihat nya berjalan menjauh dari ku. Dan


tatapanku seolah tak ingin berhenti untuk melihatnya.


Aku penasaran dengan apa yang Fandy tulis di kertas ini,


tapi aku tidak ingin Mas Teguh tahu. Aku mulai resah. Dan berharap acaranya


segera berakhir.


Akhirnya Acara nya selesai dan aku segera berjalan menuju


kamarku. Membuka kerta itu perlahan dan membacanya.


Air mata deras membanjiri pipiku. Ada rasa sakit yang sangat


perih di hatiku. Aku tidak tahu persis perasaan apa ini. Apa ini yang disebut


penyesalan?



Ya Allah,


aku tidak ingin


diselimuti perasaan seperti ini.


Buatlah aku yakin bahwa Mas Teguh lah yang terbaik untukku.


Ya Allah,


Hentikanlah kebodohanku.


Aku sadar ini dosa.


Tolong hentikan perasaan sesal ini.


Aku ingin tulus mencintai Suamiku.

__ADS_1




__ADS_2