
-Ananda Bestari-
Senin, 29 Juni 2009
Pagi ini, di temani mentari yang menyinari sebagian bumi.
Aku mencoba menjadi diriku yang baru, mencoba menikmati hariku.
Aku ingin menikmati diriku sendiri.
Menikmati masa-masa sendiriku.
“Hari ini ngapain ya...” gumamku sendiri sambil membuka jendela kamarku.
Entah apa yang terjadi pada diriku, aku merasa setiap langkahku begitu ringan. Bahkan bernapas pun aku merasa amat lega.
Aku membuka kamarku, menuju ke ruang makan karena sedari tadi aku mendengar suara adikku Lani Bestari yang seperti sedang membuat sesuatu.
“Ngapain sih berisik banget pagi-pagi?” Tanya ku sambil mengintip isi kulkas yang terletak tidak jauh dari meja makan.
“Buat donat, enak deh pokoknya...” jawabnya sambil memperlihatkan adonan yang sudah mengembang sempurna.
“Ooooooh....” sahutku singkat.
Aku berlalu dari ruang makan menuju ruang keluarga dengan membawa sebungkus roti coklat dan segelas susu cair yang tadi ku ambil dari kulkas. Aku duduk di sofa besar yang menghadap ke televisi yang sudah menyala dengan acara berita gosip, mengambil remote AC dan ku nyalakan. Menikmati sarapan sederhanaku. Terasa sungguh nikmat. Inilah caraku menikmati pagiku.
***nada BBM***
10.15 WIB
📱Fandi : pagi neng, hari ini Aa otw ke Jkt ya...
📱Fandi : Aa kerumah ya neng...
Aku membaca pesan tersebut dan sungguh bingung. Perasaanku tidak karuan. Aku harus mengatakan apa?
10.17 WIB
📱aku : pagi, kita ketemu di luar aja.
📱aku : jam 1 siang di margocity
📱Fandi : akhirnya kamu bales BBM ku...
📱Fandi : oke... Aa langsung ke margocity ya...
📱Fandi : I miss you❤️
——Sementara_Float——
Sementara, teduhlah hatiku
Tidak lagi jauh
Belum saatnya kau jatuh
Sementara, ingat lagi mimpi
Juga janji-janji
Jangan kau ingkari lagi
Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Jangan henti di sini
__ADS_1
Sementara, lupakanlah rindu
Sadarlah hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan sementara, akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua
Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Oh laraaa, oh la laaa
Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Percayalah hati
Lebih dari ini pernah kita lalui
Takkan lagi kita mesti jauh melangkah
Nikmatilah lara
Untuk sementara saja
Untuk sementara saja
Aku terlalu takut untuk mencoba melintasi tembok itu.
Aku yakin ini adalah keputusan yang tepat.
Ini adalah yang terbaik untuk kita, Fandi.
#margocity 12.45#
Aku sudah sampai terlebih dahulu, aku masuk ke coffee shop. Starbucks. Ditemani iced caramel macchiato, aku duduk di pojok dekat kaca yang mengarah pemandangan di dalam mall. Entah kenapa aku sangat senang melihat orang yang berlalu lalang di dalam mall. Membuatku tenang.
Didalam shop diputar lagu yang bener-benar membuat ku mengenang Fandi.
— —Ari Lasso_Hampa——
Mungkin itu yang dirasakan kami berdua, merasa hampa jika kita tidak bersama. Aku juga Merindukanmu a’, aku masih mencintai mu, I love you.
Waktu sudah menujukan pukul 13.20 WIB, tapi Fandi belum juga sampai. Aku khawatir, apa terjadi sesuatu dengannya? Fandi, kamu baik-baik saja kan?
#13.56#
Aku melihat Fandi jalan dari lobby menuju Starbucks. Sosoknya benar-benar tidak pernah berubah, badannya yang tinggi, tidak gemuk dan selalu menggunakan hoodie. Keren. Kali ini dia mengenakan topi Gucci yang pernah ku hadiahkan padanya, saat ulang tahunnya tahun lalu.
“Maaf ya neng. Tadi lumayan macet pas keluar tol di Tanjung barat” sapa Fandi langsung dudu didepan ku.
“Aa mau minum apa? Americano? Nda pesenin ya...” sahutku dan langsung berdiri.
__ADS_1
“Iya boleh neng, iced ya...” jawabnya sambil memberikan kartu kredit dari dompetnya.
Tapi aku langsung jalan dan tidak mengambil kartu yang disodorkannya.
Sambil menunggu iced americano di pick up bar sesekali kami bertatapan dan tersenyum.
Ketika kopi sudah siap, aku jalan menuju meja kami sambil terus menatap nya. Fandi tiba-tiba berdiri dan langsung memelukku. Ya benar, dia tidak malu memelukku di muka umum.
“I miss you neng...” ucapnya lembut sambil mencium Ubun-Ubun kepalaku.
-Fandi Wibawa-
Saatku menciumnya, aroma shampoo favorit nya membuatku merasa lega. Wangi yang sangat lembut, kubelai rambutnya perlahan dan ku peluk dengan erat. Tolong, tetap seperti ini. Jangan pergi lagi.
-Ananda Bestari-
Aku merindu, aku menggila.
Aku ingin memiliki mu.
Tapi aku takut, aku benar-benar takut terluka.
Iman adalah pemisah kita.
Bagiku, jika sakit sekarang mungkin aku bisa cepat menyembuhkan luka ini sendiri.
Aku tidak bisa semakin dalam dari ini.
Aku selalu berharap kita 1 dalam Iman.
Tapi aku hanya manusia biasa, aku tidak ingin memaksa apa yang kamu percayai.
Iman adalah dasar hidupmu.
Maafkan aku.
Kami berpelukan cukup lama, kami seolah tidak akan melepaskan pelukan ini.
— -Seolah waktu terhenti sesaat.- —
“ neng, Aa mau kerumah ya... mau ngelamar neng nanda...” ucap Fandi sambil menatapku dan menghisap iced americano kesukaannya.
“Ngga a’... ga akan bisa” jawabku singkat.
“Karena kita beda server?” Sahutnya
“Itu alasan kamu kemarin minta putus kan? Kamu bukan bosan sama Aa, tapi kamu takut kan?” Lanjutnya.
“Aa, tolong terima kenyataan nya... kita ga akan bisa satu. Nda bosan a’...” jawabku sambil menatap bola mata nya yang indah.
“A’, nda bosan karena Aa selalu mengalah untuk nda... nda cape A’... nda cape Aa selalu membiarkan nda dengan ke egoisan,nda.” Lanjut ku
-Fandi Wibawa-
Ku terkejut mendengarnya, aku mengalah hanya untukmu. Tapi ternyata itu yang membuatmu tak nyaman. Ternyata pandangan tentang mencintai kita berbeda. Karena aku terlalu takut kehilanganmu, Ananda.
“Nda, Aa akan berubah... jadi kita balikan ya neng...” pintaku.
“Aa akan belajar pelan-pelan untuk mengerti neng.” Sambung ku.
“Maaf a’, ini sudah final.” Jawabnya.
Hatiku sakit neng, aku terluka. Aku begitu egois yang sangat menginginkan dirimu.
Bisa kah semua kembali seperti dulu. Aku tak mampu pergi darimu.
Aku tak mampu ditinggalkan oleh mu.
__ADS_1
Tapi aku akan memberimu waktu, aku akan mencoba untuk menunggumu.
Tapi di sisiku yang lain, aku terima keputusanmu. Ini final, akhir kita.