Aku Ibu

Aku Ibu
Ternyata Belum Berakhir.


__ADS_3

Minggu pagi setelah aku putus dengan Fandi.


Pagi yang cukup terik, matahari langsung masuk menyinari seisi kamarku yang ku desain minimalis Room. Denga tembok berwarna putih tulang, kasur ukuran single bed yang ber sprei warna putih serta meja belajar berwarna putih dilengkapi dengan kaca rias yg juga berwarna putih dengan lampu riasnya.


Mataku terasa amat berat untuk terbuka, aku ingin sebentar lagi bermesraan dengan guling kesayangan. Tapi, ponselku terus berbunyi sehingga aku bulatkan tekad untuk bangun dari tempat tidur, dan langsung memeriksa ponselku.


#nada BBM#


09.30 WIB


-Missed call from Riri-


-Missed call from Riri-


09.45 wib


📱Riri : Nda, lu udh di Jakarta?


📱Riri : kalo, iya gw ke rumah lu ya nda? Kangen gw...


📱Riri : woi.... masih Idup kan lu?


10.15 WIB


📱saya : iya... yawdah maen sini, bawa makanan yang banyak...


📱saya : nyokap bokap lagi kondangan, dirumah ga ada makanan.


📱Riri : Alhamdulillah Temen gw masih idup


📱Riri : otw...

__ADS_1


30menit setelah Chat, Riri sampai ke rumah.


Aku sangat hapal suara motor Riri, ketika dia sampai depan gerbang aku langsung lari membukakan pintu gerbang untuk nya. Seperti biasa tanpa banyak kata2 Riri langsung memarkir motornya disamping mobilku dan langsung masuk ke dalam rumah.


“Ngapa lu, muka kusut bener kayak cucian kering?” Tanya Riri sambil mengeluarkan bungkusan makanan dari tas kain bertuliskan save the world.


“Apaan tuh? Mpek-mpek? Enak ga?” Balasku sambil menaruh piring di dekat Riri.


“Dih, ngeles... eh gw temenan ama lu udah lama kayak Belanda jajah Indonesia.... masih aja kaku” ucapnya sambil menuangkan cuko ke mangkuk putih di samping piring yang tadi ku ambil.


“Gw putus sama Fandi... mau kawin aja ama cowok mapan... ga neko-neko” aku menjawab sambil membawa mpek-mpek dan langsung berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan TV.


“Salah minum obat lu?”


Riri menghela napas cukup kencang sambil menaikkan alisnya.


Riri sangat paham diriku, di saat seperti ini dia tidak banyak berkomentar. Kami hanya diam sambil makan dan nonton acara komedi di TV. Sesekali kami tertawa terbahak-bahak.


Lega? Iya... aku merasa lega, karena aku lelah dengan hubungan yang datar. Kebebasan yang Fandi berikan membuatnya terlihat tidak peduli dengan ku. Terasa bahwa aku bukan wanita yang berarti baginya.


Sebagai seorang wanita, aku ingin sekali dicemburui ketika ada teman lelaki yang mengajak pergi keluar bersama, ingin sesekali dilarang saat aku belanja yang tidak dibutuhkan dan sesekali ingin diberikan kejutan kecil di hari-hari biasa.


Mungkin aku kurang bersyukur.


Tapi aku benar sudah tidak merasakan lagi getaran-getaran cinta saat bersamanya.


Fandi maafkan aku, maafkan ke egoisanku.


#Nada BBM#


15.30

__ADS_1


📱my love : neng, kamu lagi apa?


📱my love : aku Merindukanmu...


📱my love : aku datang ke Jakarta ya besok.


15.46


-missed call from my love-


📱my love : neng sayang, angkat telepon aku dong...


15.57


-missed call from my love-


-missed call from my love-


-missed call from my love-


“Woi.... angkat tuh telepon berisik!!!” Teriak Riri sambil melihat handphone ku yang tergeletak di meja ruang keluarga.


Aku tau, Fandi pasti masih akan menghubungiku, tapi aku tidak mau memberi nya harapan lagi.


Aku tidak ingin membuatnya semakin kecewa.


Biarlah aku diam seperti ini, biarlah aku yang kejam.


Aku sadar aku kejam, maka tolong jangan pertahankan aku.


Segeralah lupakan aku.

__ADS_1


Meski bagimu ini belum berakhir.


__ADS_2