Aku Ibu

Aku Ibu
Flash Back on


__ADS_3

Assalamualaikum teman2 pembaca...


*Aku senang sekali... ternyata cerita “**Aku Ibu**” sudah mulai digemari teman2 pembaca❤️❤️❤️*


—Cerita “Aku Ibu” ini based oN true Story


...Aku bakalan sedih banget kalo ada diantara kalian yang plagiat/meniru kisah “Aku Ibu”...😭😭😭


—Teman setelah baca kasih aku bintang ya


— Dukung aku juga dengan kasih vote nya


— Dan tolong di share ya ke Medsos Teman2 biar Aku makin semangat numpahin isi pengalaman hidupku di kisah ini.


🥰🥰🥰Terima Kasih ya dears🥰🥰🥰


❤️❤️❤️I love You teman2❤️❤️❤️


---- Ananda Bestari ----


Aku berdiri didepan toko, dan melihat mobil Andy melanjutkan


perjalanannya. Aku berpikir bahwa rumahnya pasti kearah Depok jadi dia tidak


putar balik kearah Lenteng Agung. Ok, paling tidak ada teman kantor yang rumah


nya searah denganku. Aku masuk ke dalam toko dan mem beli sebungkus rokok dan


beberapa cemilan dan minuman ringan, aku berniat malam ini, akan mempelajari


beberapa desain yang di buat oleh Wisnu agar aku tau bagaimana selera


desainnya.


Dan sesekali aku masih melihat Handphoneku, namun teap tidak ada


notifikasi dari Fandi hari ini.


Apa benar dia sudah mulai terbiasa tanpaku?


 Sampai detik ini aku masih menunggu pesan darimu, Fandi.


 Sulit bagiku melupakanmu, tapi aku terlalu egois. Aku yang melukaimu,


aku yang memutuskan untuk pergi, namun aku yang berharap kamu kembali. Sungguh


aku adalah wanita yang kejam.


 Malam ulang tahunku aku mengahabiskannya dengan belajar desain milik


Wisnu dengan memakan cemilan dan minuman ringan yang tadi kubeli.


 Aku juga sudah menghabiskan setengah bungkus rokok.  Bagiku, yang tidak punya banyak teman, rokok


menjadi salah satu pelampiasanku.


 Aku termasuk orang yang tidak mudah mempunyai teman dekat.  Tapi aku juga bukan seorang Introvert.  Aku cukup menyukai keramaian, meski dalam


keramaian aku hanya diam. Tapi aku menyukainya. Aku juga bukan tipe orang yang

__ADS_1


bisa dengan mudah menceritakan masalahku pada orang lain, bagiku masalah


pribadi ku adalah sesuatu yang bukan untuk konsumsi banyak orang. Terlebih lagi


bagi ku, jika aku menceritakan masalah pribadi belum tentu orang lain bisa


menerimanya dan bisa memberikan solusi secara obyektif.


Karena menurut pengalamanku selama ini, orang akan menilai cerita


temannya atau orang lain berdasarkan penilaian subyektif dan menggunakan


pandangan “Like or Dislike”.


Sejak lahir aku tinggal bersama Ibuku, Ayah tiriku, Eyang Uti dan Eyang


Akung. Aku mendapat banyak kasih sayang dari mereka. Aku tidak pernah merasa


sendirian atau kesepian. Dan bisa dikatakan aku tidak pernah menghadapi


kesulitan ekonomi sejak aku lahir, alhamdulillah semua kebutuhanku terpenuhi. Tetapi


ada bekas luka yang amat mendalam hingga kini aku menjadi orang sulit curhat


atau sulit bercerita pada orang lain.


 ---- Flash Back ----


Aku terlahir dari orang tua yang divorce, Ayahku pergi meninggalkan


Ibuku saat aku masih ada dalam kandungan. Ibuku berjuang sendiri membesarkanku


membesarkanku bersama Eyang Akung dan Uti serta Adik-adik Ibu. Mulai saat itu


aku serasa menjadi anak bontot Eyangku. Aku mendapat banyak sekali kasih


sayang. Lalu saat usia ku 4 tahun Ibu menikah Lagi dengan Ayahku yang sekarang,


dan saat aku berusia 5 tahun aku resmi jadi kakak. Lahirlah Lani.


 Semua berjalan normal, saat itu aku pun tidak tahu dan belum mengerti


bahwa Bagas Sastro Redjo adalah ayah tiri. Yang ku tahu beliau ya Ayah


kandungku. Sampai pada satu hari, aku mengetahui semua ceritanya.


Saat itu berada di kelas 4 SD, aku memiliki 2 sepupu yang juga


bersekolah di sekolah yang sama. 1 sepupu laki-laki yang 1 kelas dengan ku dan


1 sepupu perempuan yang 2 kelas lebih tinggi dariku.


Setiap hari kami pulang bersama-sama karena rumahku tidak jauh dari


sekolah. saat perjalanan pulang sepupuku April mengatakan dengan jelas bahwa


pak Bagas bukan lah Ayahku, dia adalah ayah tiri. Aku lupa bagaimana cerita


jelasnya, namun saat itu saat usiaku masih 9 tahun, menegetahui bahwa selama

__ADS_1


ini orang yang ku anggap adalah ayah terbaik, dan ku anggap ayah kandungku,


ternyata beliau hanya ayah tiri. dalam benaku saat itu adalah, kenapa semua


orang dewasa membohongiku? Kenapa hanya aku yang tidak tahu? Kenapa harus ayah


tiri? kenapa? Dan kenapa? Itulah dalam benak anak usia 9 tahun saat menghadapi


kenyataaan.


 Aku tidak mengerti, ternyata moment itulah yang menjadi titik hitam


hidupku. Menjadi awal mula aku menjadi Ananda yang seperti ini.


Ananda yang tidak suka bercerita tetang masalah apapun kepada orang


lain. Ananda yang lebih senang mengerjakan apapun sendiri. Ananda yang keras


kepala dan egois.


---- Back on Story ----


Saat ini ketika hidupku mulai terasa hampa, aku mencoba untuk


menikmatinya sendiri. Meski aku yakin akan terasa sulit. Selama 2 tahun kemarin


aku sudah sangat terbiasa dengan Fandi, sudah sangat terasa nyaman dengannya. Sekarang,


karena keputusanku sendiri, aku harus siap menghadapinya. Aku harus mencoba


untuk menikmati nya sendiri.


 Andy, Wisnu dan Elly adalah teman-teman baruku, mungkinkah mereka bisa


menyebuhkan luka ku?


Aku berharap mereka bisa benar-benar menjadi temanku.


Aku akan berbuat baik pada mereka, berusaha sebisa mungkin untuk


menjadi teman yang mereka butuhkan.


 By the way, aku baru teringat bahwa sabtu ini ada 1 teman SMA ku yang


akan menikah dan aku diundang ke acara resepsi itu. Sebenarnya aku malas untuk


menghadiri acara itu. Karena aku memang tidak suka ke acar pernikahan. Namun,


aku cukup dekat dengan dia, Melisa.


Jadi mungkin aku akan hadir ke acara itu, meski aku bingung aku harus


datang sendiri atau aku mengajak salah satu temanku. Atau aku datang di hari


minggunya? Datang langsung ke rumah nya dan memberikan ucapan selamat secara


langsung?


 Huft... bagiku untuk hadir adalah dilema yang cukup memusingkan.

__ADS_1


__ADS_2