Aku Ibu

Aku Ibu
Kenapa kamu tidak membalas pesanku?, Ananda.


__ADS_3

-Fandi Wibawa-


Sampai hari ini, minggu ke 3 di bulan Juni 2009. Ananda belum juga menghubungiku.


Apakah dia sungguh pergi?


Kenapa sayang?


Kenapa kamu pergi? Apa salahku? Apakah aku menyakitimu?


Aku mencoba untuk bangkit dari kasurku. Meski aku menahan sakit yang luar biasa di dadaku. Dan aku berhasil pindah ke bangku makan yang ada disudut ruangan kamar RS ini.


Aku membuka laptop ku, yang ku minta mama membawakannya untukku. Aku hanya bolak balik melihat notifikasi twitter. Berharap ananda memberiku kabar, sedang apa dia? Sedang dimana dia? Apakah dia baik-baik saja?


Foto-foto di galeri laptopku sungguh membuatku lebih merindukannya.


Aku rindu senyumnya yang manis, tatap matanya yang lembut dan suara nya yang lemah lembut.


Ananda, aku Merindukanmu.


Merindukanmu kini adalah hal yang cukup menyakitkan. Aku tak sanggup, Ananda.


Berkali-kali aku mengecek BlackBerry ku, berharap ada pesan darinya. Hari ini, adalah yang terberat bagiku. Aku hanya duduk diam, bahkan aku tak sadar berkali-kali perawat keluar masuk ruangan untuk mengecek tensi ku , menaruh sarapan dan makan siangku di meja, hingga akhirnya sore tiba.


“Aa, udah enakan?” Tiba-tiba adikku muncul dari balik pintu, membuatku terkejut.


“Lumayan, kapan bisa keluar dari RS?” Jawabku sambil jalan santai menuju tempat tidur.


“Malam ini juga boleh keluar, tapi A’... aku bawa berita duka. Supir yang nabrak Aa meninggal dunia siang tadi” ucap adikku sambil menatapku dengan sendu.


“Innalillahi, terus keluarga nya gimana? Istrinya? Aa, nanti mau langsung kerumah duka” jawabku sambil menatap balik adikku dengan lembut.


“Aa, jangan merasa bersalah ya... almarhum menyupir dengan pengaruh alkohol dan sedang bertengkar dengan istrinya dalem mobil, jadi mobil tidak seimbang dan keluar jalur.” Adikku menjelaskan supaya aku tidak khawatir.

__ADS_1


“Sudah di BAP polisi? Tetap saja Aa merasa bersalah. Nanti temani Aa kerumah duka.” Seru ku sambil melihat BlackBerry ku yang sedari tadi tidak ada satupun notifikasi pesan dari Ananda.


“Aa... dari tadi liatin hp terus... mang kak nanda ga kasih kabar?” Tanya adikku penasaran.


“Ih kepo... udah Aa mau mandi... kamu urusin admin nya ya... terus langsung kita cabut.” Perintahku sambil mengambil handuk dan baju bersih yang sudah disiapkan mama sebelum dia pergi pagi tadi.


Setelah mandi badanku terasa sangat segar dan lebih cerah rasanya saat aku bercermin.


Dalam diam aku merapihkan dan mengemas baju-baju kotor ke dalam tas, memasukan laptop dan kabel-kabel charge serta earphone kedalam tas khusus laptopku.


Lalu lagi dan lagi aku mengecek BlackBerry ku, belum juga ada notifikasi dari Ananda.


Apakah aku harus yang memulai terlebih dahulu?


Apakah dia akan membalas pesanku?


Setelah banyak ke khawatirkan muncul, aku mencoba untuk mengiriminya pesan terlebih dahulu.


15.30


📱me : aku Merindukanmu...


📱me : aku datang ke Jakarta ya besok.


16menit berlalu tapi belum juga dapat balasan, aku mencoba menelepon nya. Seperti yang sudah ku bayangkan, dia tidak mengangkat telepon ku.


15.46


📱me : neng, angkat dong telepon aku...


Dan berkali kali aku mencoba menelepon nya. Namun tetap tidak diangkat.


“A’... udah rapih? Yuk pulang...” panggil adikku saat masuk ke kamar dan aku pun mematikan telepon ku.

__ADS_1


Kami berjalan dilorong RS menuju parkiran, dalam perjalanan itupun aku merasa resah. Aku takut dan benar-benar takut Ananda akan sungguh-sungguh ingin berpisah dariku.


Saat aku masuk mobil, entah kenapa aku merasa pusing yang luar biasa. Dan memori ku di saat kejadian malam kecelakaan itu tiba-tiba muncul. Dada ku terasa sakit, sulit bernapas dan mulai mengucurkan keringat dingin. Perasaanku mulai tidak karuan. Tapi aku ingin sembunyikan ini dari Mariana adikku. Karena aku takut dia akan merujuk untuk kembali di rawat.


Dalam perjalanan menuju rumah duka, aku berusaha untuk tenang dengan memejamkan mataku. Dan mulai terasa lebih tenang, perlahan aku bisa mengatur napasku.


Setibanya di rumah duka, aku melihat bendera kuning dengan nama “alm. Budiono” yang tertancap di sudut pagar bambu rumah itu.


Dari luar aku mendengar suara isak tangis seorang wanita dan seorang anak kecil yang terus menyerukan “Abah...Abah bangun...”


Hatiku mulai terdentak, aku ikut merasakan sedih dan luka dihati.


Ketika aku masuk kerumah itu, semua mata tertuju padaku seolah-olah mereka sedang menghakimiku. Tapi aku berusaha untuk tenang, perlahan aku duduk disamping wanita yang sedari tadi menangis tersedu lalu aku memulai pembicaraan.


“Selamat sore, saya Fandi... saya turut berduka cita atas wafatnya bapak...” ucapku sambil menyodorkan tangan untuk berjabat dengan wanita itu.


“Sore, saya siti... istri almarhum” jawabnya sambil menjabat tangaku.


“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang terjadi... dan jika ibu merasa saya harus bertanggung jawab, silahkan katakan apa yang harus saya lakukan...” kataku sambil menundukkan kepala, dan benar merasa bersalah.


“Terima kasih sebelumnya, tapi pak Fandi tidak perlu repot, ini salah suami saya yang hobi mabuk-mabukan. Justru saya yang harusnya bertanggung jawab atas kecelakaan kemarin.” Jawabnya sambil membalikkan badannya dan sekarang kami duduk berhadapan. Tiba-tiba bu siti membungkukkan badannya, dan menangis “tapi yang bapak lihat, ini kondisi kami... kami, tidak punya cukup uang untuk mengganti rugi kerusakan mobil bapak... saya rela bekerja apapun untuk bapak, asal bapak memaafkan suami saya.


“Ya Tuhan, bu siti jangan berpikir seperti itu... saya sudah memaafkannya dan saya tidak meminta apapun dari ibu” jawabku sambil menatapnya dengan lembut.


“Iya bu siti, kami kesini justru mau membantu ibu... apa yang kira nya bisa kami bantu?” Sahut adikku sambil memeluk bu siti yang masih juga menangis.


Jenazah akan langsung dimakamkan malam ini, dan aku pun mengikuti proses pemakaman sampai dengan selesai.


“Bu siti, kami izin pulang dulu... besok kalo ibu sudah enakan, silahkan datang kerumah saya ya... kita ngobrol-ngobrol dirumah nanti.” Pamitku pada bu siti.


Bu siti hanya membalas dengan anggukan, dan aku melihat wajahnya yang sudah kelelahan karena menangis sedari tadi. Aku melambaikan tangan perpisahan pada bu siti dan anak kecil yang digendong ya lalu masuk kedalam mobil. Bu siti tersenyum dan anak itu membalas lambaian tanganku.


Didalam mobil aku masih melihat mereka sampai mereka tidak terlihat lagi dari kaca spion. Hatiku benar - benar merasakan duku yang mendalam.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, aku yang duduk disamping adikku yang sedang menyetir lagi-lagi mengecek BlackBerry ku. Berharap Ananda membalas pesanku. Tapi tidak, dia hanya membaca nya dan tidak membalasnya.


__ADS_2