Aku Ibu

Aku Ibu
Ananda, I Love You


__ADS_3

-Fandi Wibawa-


Malam ini aku merasa seperti tersambar petir, kekasihku ananda pergi jauh dari ku.


Saat aku menyetir mobil, aku tidak lagi peduli dengan sekitar sampai pada akhirnya mobilku beradu banteng dengan mobil box dari arah depanku, di daerah perempatan Dago.


Suara ban yang berdencit sangat keras, sangat jelas cahaya yang begitu menyilaukan bahkan serpihan kecil kaca mobil yang bertebar juga terlihat.


Saat itu, aku tidak merasakan apa-apa. Yang ku ingat hanya lah wajah ananda. Dan air mata pun terjatuh dengan sendirinya. Aku pun berhasil keluar dari airbag mobil ku, tapi kaki ku lemas dan terjatuh dipinggir jalan.


Orang mulai berkerumun mengelilingi ku, namun aku tak punya daya untuk bangun dari posisiku.


Aku mendengar lirih orang-orang mulai panik dan mencari bantuan. Yang kurasakan adalah ada banyak cairan yang mengalir di bawah telingaku, dan perlahan aku tidak bisa melihat apa-apa.


Akhirnya mobil ambulans tiba di lokasi kejadian.


Petugas medis 1 : pak, ini pendarahan nya sangat hebat.


Petugas medis 2 : segera lakukan pertolongan pertama dan kita bawa ke Rumah Sakit.


Petugas medis 1 : siap, laksanakan...


Petugas medis 2 : apakah ada korban lainnya? Dan adakah saksi untuk ceritakan kronologi nya?


Seorang wanita yang tadi ada didalam mobil box itu, saat kecelakaan dia loncat dari mobil box.


“Pak tolong... su...suami saya masih terjepit di mobil.... tolong pak...” serunya dengan suara yang gemetar, serta banyak luka di tangan kirinya yang masih mengeluarkan darah.


Para medis dan polisi segera bergegas menghampiri mobil box itu dan mengeluarkan supir pria dari mobil itu.


Namun kondisi pria itu sudah tidak sadar dan lukanya sangat parah.

__ADS_1


Malam itu, hari Jumat dimana hari itu adalah hari aku berpisah dengan Ananda. Hari putus cintaku.


Aku tergeletak lemas di UGD RS St. Borromeus.


“Fandi... nak, ini mama... apa kamu masih tertidur?” Suara mama ku sangat lembut berbisik di telingaku.


Aku pun langsung membuka mataku, saat itu mama tersenyum dan menggenggam tangan ku erat.


“Fandi ngga apa-apa Ma... mama jangan khawatir ya... Fandi kan kuat” ku katakan pada mama dengan senyum lebar.


“Iya, mama tau kamu kuat... jadi semua arahan dokter harus kamu turuti ya... biasanya kamu itu bandel.” Seru mamaku.


“Bandel gimana ma?” Jawabku.


“Ya bandel, kamu ga teratur minum obatnya, kamu pasti Males dengerin omongan dokter...” balas mama ku sambil mengusap lembut kepala ku.


Dan di saat itu Mariana Wibawa, adikku. Datang ke tempat tidurku yang ada dipojokkan ruang UGD, dengan baju dokternya.


Itu karena aku yang sempat berkali-kali cuti kuliah sampai akhirnya aku bertemu dengan Ananda. Ananda lah yang memberiku semangat untuk menyelesaikan kuliah ku sambil membantu bisnis distro ku. Kuliahku lancar dan bisnisku pun sesuai dengan harapanku.


“Ma... Aa Fandi sudah bisa dipindah keruang rawat inap...” Mariana berkata sambil memeriksa cairan infusku.


“Aa... udah enakan belum?” Sabungnya.


“Iya, udah enakan. Aa laper... boleh makan kan?” Jawabku sambil mencoba duduk.


“Bandel... siapa yang nyuruh duduk?” Seru Mariana sambil melebarkan matanya.


“Aku capek, mau duduk...” jawabku singkat sambil menahan sakit di bagian punggungku.


“Mama... lihat deh, Si Aa kan kebiasaan... sotoy” balas adikku sambil bermanja dengan mama.

__ADS_1


“Hhmmm... kalian ngga di rumah, ngga diluar kerajaannya berdebat... terus. Sudah, Fandi kali ini kamu harus nurut sama adikmu... dia pasti merawat mu dengan baik.” Ucap mama ku sambil mengelus tangan Mariana dengan lembut.


“Iya ma... iya, aku nurut sama adikku tercinta ini.” Jawabku


“Tercinta? Kan Aa cuma cinta sama Ananda... setiap hari yang diomongin Ananda.... terus... kayak ngga ada orang lain di dekat Aa” ejek Mariana padaku.


Dan saat itu tiba-tiba aku berpikir, apakah Ananda perlu tahu kondisiku? Atau biarkan dia tidak perlu tahu agar tidak khawatir?


Hatiku sakit saat mengingat dia memutuskan ku, tapi aku akan bersabar. Mungkin dia hanya butuh waktu untuk memulai hidup nya yang baru setelah lulus kuliah.


-**Sabtu Pagi-**


Di kamar ini, aku melihat matahari bersinar sangat cerah. Di jendela kamar aku melihat ada 3 burung gereja yang seolah-olah mereka sedang berbicara satu sama lain. Suasana pagi itu sangat indah.


“Kamu sudah bangun nak?” Tanya mama ku ketika dia masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi makanan.


“Iya Ma, itu makanan Fandi?” Balasku.


“Iya tadi... pas mama mau masuk kamar kebetulan diantar, jadi mama yang bawa masuk deh... nih kamu makan ya... mama mau mandi dulu.” Sahut mama sambil membawa handuk dari tas dan menuju kamar mandi yang terletak dekat pintu masuk.


Aku mulai menyantap sarapanku yang sudah disiapkan RS untukku. Menu pagi ini, bubur ayam lengkap dan rasa nya sungguh nikmat untuk standar rumah sakit.


“Nak, sudah habis bubur nya?” Tanya mama yang baru saja keluar dari kamar mandi da sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


“Sedikit lagi ma... ini langsung minum obat nya kan ma?” Jawabku dengan memegang obat-obatan yang sudah disiapkan mama di meja makanku.


“Iya... nak, kok nanda ga kesini? Kamu ga kasih tau dia ya?” Sahut mama dengan tatapan curiga.


“Iya, dia ga perlu tau ma... kasian dari Jakarta kesini kan lumayan ma...” jawabku.


Didalam hatiku, aku merasa sangat sedih. Seharusnya, Ananda kekasihku ada disini bersamaku. Mendampingi ku saat aku benar-benar merasa sakit. Biasa nya dia yang sangat paham dengan kemauanku.

__ADS_1


Aku masih ingin memeluknya, mencium keningnya, sambil mengatakan “I Love You”.


__ADS_2