Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
POV Lilis


__ADS_3

"Kenapa tes nya seperti ini? sebenarnya apa pekerjaan yang akan saya dapatkan setelah ini?" sejauh ini hanya beberapa orang yang masih bertahan mengikuti tes, yang lain memilih mundur. Mungkin memiliki pemikiran yang sama sepertiku.


Akhirnya aku berhenti mengikuti tes, karena aku yakin ini adalah bisnis abal-abal. Karena yang disampaikan hanya teori saja, tanpa tahu lapangan kerja sebenarnya.


Aku tidak memiliki teman dikos, tapi aku punya teman yang bekerja disekitaran Tangerang yaitu teman-teman ku semasa SMP. Tidak banyak, hanya beberapa.


Untunglah Aku bukan tipikal orang yang sombong dengan teman lama, jadi mereka pun bersikap baik padaku. Semasa sekolah pun, aku banyak memiliki teman dan juga dekat dengan para guru.


"Kalau ada loker sekitar Tangerang kasih tahu Aku ya, gak mungkin aku pulang ke Palembang tanpa hasil." ungkapku pada mereka melalui telefon dan pesan WhatsApp.


Tak berapa lama ada salah satu teman yang menelfon dan menawarkan pekerjaan dengan gaji lumayan, yaitu menjadi Baby sitter sekaligus membantu pekerjaan rumah.


Dengan senang Aku terima tawaran itu. Aku tidak merasa harga diriku turun hanya karena dulu bekerja sebagai supervisor sekarang menjadi pembantu, selagi itu halal maka akan ku kerjakan.


"Yang penting halal." batinku.


"Seriusan mau Lis? Secara kamu kan dari keluarga orang mampu. Kalau Aku sih wajar jadi pembantu, hanya lulusan SMP." tanya Rani, temanku yang menawarkan pekerjaan tersebut.


"Gak papa Ran, lagian Aku udah dilatih hidup sederhana sedari kecil. jadi gak gengsi, dan kalau urusan mengurus anak atau beres-beres sudah sering ku lakukan di rumah." Aku mencoba meyakinkan Rani.


"Oke malam ini juga Aku telefon penyalurnya. gak dipungut biaya kok, karena penyalur udah dapat persenan dari majikan. Jadi dia cuma menjadi sarana aja." Terang Rani.


"Iya Ran, makasih banyak ya." jawabku.


Dua hari kemudian Aku sampai ditempat ini, rumah dengan nuansa China meski berada di Indonesia.


Awalnya Aku mengira bahwa orang China itu tidak ramah dengan pribumi. ternyata perkiraan ku salah, disini majikanku amatlah baik, tidak pelit.


Yang membedakan baik buruknya seseorang itu bukan Agama, ras, atau suku. Melainkan sifat dan perilaku dari individu itu sendiri.


Awal bekerja Aku diajari oleh Ama, yaitu mama dari Bu Sri, majikan yang akan menggajiku.

__ADS_1


Ama sedikit cerewet namun Ku makmumi, Karena aku masih baru dan belum mengerti apa yang harus aku lakukan. Lama kelamaan dia semakin ramah.


Lalu Jeff, dia adalah anak yang Aku asuh. umurnya baru enam tahun dan baru masuk sekolah dasar di sekolah elite SHB(sekolah harapan bangsa) didaerah Modernland Tangerang.


Terakhir Bu Sri dan Pak Tom. Mereka adalah orang tua Jeff sekaligus majikan utamaku. Bu Sri dan pak Tom adalah orang yang baik, tidak banyak menuntut Aku harus ini itu. yang penting pekerjaan beres.


"Kok bajumu bagus-bagus semua Lis?" tanya Ama saat Aku sedang membantunya memotong sayuran.


"Iya Ma, kebetulan Aku nggak bawa baju harianku. Karena awalnya aku sempat melamar pekerjaan di PT.xx" jawabku berbohong. Tentu Aku tidak akan memberi tahu mereka tentang asal-usul ku. takut penilaian mereka berubah terhadapku.


"Wah, untung tidak jadi Lis, disana itu bisnis bohong. Bukannya dapat uang malah uangmu yang digerogoti, kerjanya cuma cari Terget baru." Ama sepertinya sudah paham dengan apa yang bisnis itu lakukan.


"Tin.. tin... tin.." suara klakson motor dari luar gerbang rumah.


"Mbak Lis tolong bukain pintu gerbangnya ya, Adik saya mau masuk." perintah pak Tom saat Aku baru selesai membantu Ama didapur.


"Iya pak" jawabku, dan segera menuju gerbang.


Ku tutup kembali pintu gerbang dan segera masuk ke rumah melanjutkan menonton acara lawak klub dikamar. Aku tidak suka menonton film sinetron.


Diruang tamu ramai dengan obrolan pak Tom, Bu Sri, Jeff dan adik pak Tom.


Selesai acara Aku masuk ke kamar dan mandi.


Tak lama pintu kamarku diketuk diikuti suara Jeff yang mengajakku menemaninya bermain ke Mall.


Aku segera keluar mengikutinya.


Aku, Jeff dan adik pak Tom berangkat menuju Mall.


Di mobil adik pak Tom bertanya beberapa hal tentangku dan ku jawab seperlunya. Karena prinsip kami tak mudah akrab dengan orang baru.

__ADS_1


Saat kami akan menaiki eskalator pandanganku tak sengaja menangkap puluhan jilbab pashmina bermotif tulisan Arab berjejer. Pikiranku melayang karena sudah lama Aku menginginkan jilbab itu, di Palembang aku belum sempat membeli nya.


Aku ragu, tetap melangkah ke eskalator atau menuju tempat jilbab dan membelinya sebentar. Mengingat Aku tidak bebas keluyuran, akhirnya ku urungkan niat untuk membeli jilbab dan melanjutkan perjalanan mengikuti Jeff dan adik pak Tom yang ternyata bernama pak Shang. Kuputuskan memanggilnya pak.


Tujuan utama adalah Timezone. Karena Jeff ingin bermain game disana. Aku yang sudah terbiasa mengajak adik-adikku bermain di Timezone tampak senyum-senyum sendiri mengingat kelucuan mereka saat main game.


Aku memang tersenyum melihat Jeff dan pak Shang sangat ribut memainkan game motor GP. Tapi pikiranku sedang memikirkan adik-adikku.


Saat Aku sadar dan benar-benar menatap Jeff dan pak Shang. Ku lihat pak Shang sedang melihatku.


"Eh, kok gitu? Kenapa pak Shang juga ngliatin aku?" batinku malu, seraya menundukkan pandangan.


*


Setelah beberapa hari Aku menjalani pekerjaan sebagai pembantu, pihak perusahaan memberi kabar bahwa Aku tidak terbukti bersalah.


Beberapa pihak meminta maaf dan memintaku untuk kembali bekerja sebagai supervisor administrasi.


[Maaf, saya sudah mendapatkan pekerjaan baru. Jadi pihak perusahaan boleh mencari pengganti saya sebagai supervisor administrasi. Dan tolong usut siapa dalang yang sudah ingin mencemarkan nama baik saya] ucapku, dalam telefon saat pak Hamid menelefon menggunakan nomor kantor.


[Kami sangat minta maaf atas kejadian ini, dan untuk pelaku sudah kami temukan dan sudah kami keluarkan langsung dari perusahaan] jawabnya.


[Jadi siapa pak?] tanyaku penasaran.


[Bu Nita dan pak Rafi. Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan Lilis dengan cara menggelapkan setengah barang yang pengeluaran nya dihitung oleh supervisor administrasi agar pihak perusahaan mengira Lilis lah yang menggelapkan dana] jawabnya.


[Baik pak terima kasih. Semoga orang-orang seperti itu tidak ada lagi di sekitar kantor. Assalamualaikum] jawabku lalu mematikan telepon setelah mengucapkan salam.


Akhirnya aku lega. Karena yang terbukti bersalah bukan aku, dan pelaku sebenarnya sudah diketahui. Tapi untuk kembali kesana rasanya sudah tak minat lagi, lebih baik melanjutkan pekerjaan disini, yang jauh dari lingkungan toxic.


Terimakasih sudah setia membaca cerbung ini☺️

__ADS_1


__ADS_2