
"Oke boleh juga. Jadi fix, tugas ini Lu yang urus dan semuanya gua percayakan ke Lu." Ge Tom tampak manggut-manggut, dan jawabannya membuatku lega.
"Yaudah gua mau lanjutin kerjaan." balasku.
"Ya silahkan, oh ya Shang gua minta tolong jam sebelas jemput Jeff sama Lilis ditempat les bahasa Inggris ya.! Mamanya gak bisa jemput, demam." ucap Ge tom saat Aku sudah meraih gagang pintu.
"Iya Ge, selanjutnya apalagi?"
"Sekalian ajak makan siang." jawabnya.
" Kan gua ada meeting sama client Ge jam satu ini," ungkapku.
"Lu anterin ke rumah bentar lah abis makan, cukup waktunya." jawabnya.
"Ya deh gampang." Tak enak jika menolak perintahnya.
Jam setengah sebelas Aku sudah meluncur ke Sekolah Harapan Bangsa(SHB), dengan santainya aku menunggu Jeff dan Lilis ditempat angkringan sembari makan gorengan dan es teh manis.
Hingga jam setengah dua belas tak ada tanda-tanda siswa keluar dari gerbang sekolah, aku pun sudah mulai gelisah mengingat ada jadwal pertemuan dengan client.
Lalu teringat ucapan Ge tom untuk menjemput mereka ditempat les bahasa Inggris.
"Berarti bukan disekolah dong? Astaga..!!!!" Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, merutuki kebodohanku. mungkin semua orang diwarung ini akan mentertawakan jika tahu apa yang sudah aku lakukan.
Segera Aku meluncur ke daerah Karawaci menyusul Jeff dan Lilis.
"Ya Tuhan, masih muda udah pelupa.! sepertinya Aku butuh nikah" batinku sambil cengengesan.
Ku parkirkan mobil di area tempat les, baru akan turun tampak Jeff sudah berlari ke arahku diikuti oleh Lilis, gadis lugu itu tetap tersenyum menghadapi tingkah Jeff yang tidak mau diam, sangat aktif.
"Be careful Jeff, jangan lari.!" Ucapku
Jeff hanya tertawa tidak mengindahkan ucapan Omnya
"Dasar anak kecil." gerutu ku.
__ADS_1
"Ayo Om, Om Shang lama banget jemput Jeff. Sampe Jeff ketiduran." ungkap Jeff.
"Iya tadi Om kena macet di jalan." jawabku bohong, gengsi terhadap Lilis jika jujur apa yang sebenarnya terjadi.
"Yuk kita makan nasi Padang aja ya, Om buru-buru nih mau ada meeting." ucapku dengan gelisah.
"Jeff pengen makan mie goreng Aceh." Rajuk Jeff.
"Jeff, nanti Om beliin deh kalo senggang. tapi nggak sekarang om ada meeting, Jeff makan nasi Padang aja ya." pintaku memelas.
Tampak dikaca mobil Jeff dan Lilis berbisik-bisik
"Iyadeh Om, Jeff mau nasi Padang." ungkapnya membuatku lega.
"Nah gitu dong baru ganteng.. nih bentar lagi nyampe." Aku berbelok ke kiri jalan, berhenti didepan restoran nasi Padang.
Aku memesan lima porsi nasi Padang. tiga untukku, Lilis, dan Jeff. yang dua porsi dibungkus dan diantar driver ojek online ke alamat rumahku untuk pekerja yang membersihkan rumput halaman rumah.
Selesai makan siang jam menunjukkan pukul setengah satu siang,
"Jeff sama mbak ikut Om bentar ya."
"Kemana Om?" jawab Jeff.
"Meeting sama client Om, tapi Om Minta Jeff jangan ribut, jangan nakal pas Om masih ngobrol dan diskusi. Jeff duduk aja sama mbak, gak lama kok."
"Iya Om, beneran kan gak lama? Mama Jeff sakit Jeff pengen jagain Mama." ucapnya.
Ada rasa bangga dibenakku kepada Jeff, diumurnya yang baru enam tahun sudah memiliki rasa peduli yang besar.
"Iya, nanti mama kita beliin pir hijau kesukaan mama ya." jawabku.
"Oke Om." balas Jeff.
"Om ini buku apa? Jeff boleh baca?" ucapnya sambil meraih berkas untuk meeting.
__ADS_1
"Boleh baca tapi jangan disobek ya, itu untuk meeting." jawabku.
Lalu ku lirik Jeff dan Lilis membaca berkas tersebut.
"Sudah sampai...! Sopir capek nih" ucapku mengajak bercanda Jeff dan Lilis.
"Jadi berapa bang ojeknya?" jawab Lilis membalas candaanku.
Tak kusangka ia akan buka suara
"Nih lima ribu aja." Jeff menyodorkan uang ke arahku yang membuat aku dan Lilis saling pandang lalu tertawa lepas bersama.
"Hahahaha. Lima ribu cuma dapat bensin setengah liter dong," tawaku sembari mengusap kepala Jeff.
~
"Jadi gimana pak Raka, Ibu Dian? apa berminat menjalin kerja sama dengan perusahaan kami?" tanyaku pada client setelah menjelaskan mengenai perkara.
"Maaf Pak Shang, sepertinya kami kurang setuju setelah mendengar penjelasan saudara. kami takut merugi jika pengeluaran yang akan kita keluarkan tidak sesuai dengan pemasukan jika barang yang akan kita jual tidak diminati oleh banyak orang." ungkap Bu Dian yang membuatku berpikir lumayan lama untuk menjawab.
Lilis yang dari tadi mendengarkan pembicaraan sekarang tampak kembali berbisik-bisik dengan Jeff lalu dibalas anggukan oleh bocah itu.
Kemudian ia duduk di sampingku izin padaku untuk berbicara. Sedikit bingung dengan apa yang dilakukan Lilis. "Memangnya dia paham mengenai project seperti ini?" Batinku.
Sudah kepalang tanggung, tak mungkin ku tolak dan ada ribut-ribut jika aku berbicara pada Lilis. Ku biarkan saja ia menyampaikan informasi.
"Begini pak, Bu. Saya rasa judul iklan dari produk tersebut cukup kolot dan kurang menarik. jadi mungkin ibu dan bapak sempat berpikir bahwa produk tersebut tidak akan banyak diminati oleh pembeli? “ucap Lilis dengan tegas.
Dibalas anggukan oleh dua client tersebut.
"bagaimana kalau kita diskusikan untuk membuat judul iklan yang baru dan kekinian, menggunakan bahasa Inggris contohnya, agar banyak pembeli dari kalangan atas yang minat. Lalu kita naikkan harga produk dua kali lipat, dan kita beri promo dua puluh persen untuk lima puluh pembeli pertama?" sambung Lilis.
"Dan untung yang kita dapatkan pastinya jauh lebih besar dari harga jual awal." Lilis terus meyakinkan dua client di depan kami.
Tampak dua client tersebut saling pandang dan tersenyum, apa artinya mereka setuju dengan yang disampaikan Lilis barusan?
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca☺️