Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
Kembali bertemu Lilis


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya mereka mau mengantarku.


"Bisa pak, kebetulan kita pulang nanti melewati daerah rumah Lilis. Tapi sampai batas kami melewati saja ya pak, tidak bisa mengantar sampai ke pondok. Karena mobil yang kami pakai adalah mobil dinas, dan waktu kami terbatas. Hanya karena perwakilan dari perusahaan saja kami kesini." ungkap pak Hamid dengan senang hati.


Aku merasa lega, akhirnya Aku akan bertemu lagi dengan Lilis.


Setelah lama berbincang-bincang, kami langsung meminta pengantin untuk foto bareng sebagai bukti bahwa kami benar-benar menjalankan tugas.


Aku mengikuti mobil dinas berwarna hitam didepanku, tentu didampingi oleh pak Joko.


"Kenapa pak Shang ingin bertemu Lilis? Kan Lilis sudah lama tidak bekerja lagi dirumah si bos." tanya pak Joko di dalam mobil.


"Saya menyukai Lilis pak, bukan karena semenjak tahu siapa Lilis yang sebenarnya. Tapi saya mulai tertarik dengan Lilis sejak saya bertemu dengannya." Jawabku jujur.


"Ini beneran Pak? Kan setidaknya banyak wanita-wanita sukses di luar sana? maaf nih pak, dan yang satu keyakinan dengan pak Shang." Tanya pak Joko.


"Saya akan mengikuti agama Lilis, yakni saya akan masuk Islam menjadi seorang mualaf." jawabku yakin dan tak memikirkan hal kedepannya.


"Wah kalau begitu saya tidak ikut campur pak, biar pak Shang yang memutuskan sendiri. Semoga yang pak Shang lakukan adalah yang terbaik untuk pak Shang sekarang dan ataupun kedepannya." pak Joko terlihat serius menanggapi ucapan ku.


Sekitar beberapa jam perjalanan akhirnya mobil dinas yang dinaiki pak Hamid dan rombongan menepi di pinggir jalan.


Aku mengikuti mobil didepan dengan ikut parkir didepan toko swalayan tak jauh dari mobil dinas tersebut.


"Sampai sini saja ya pak, setelah ini ikuti maps untuk sampai dipondok pesantren. Maaf sekali lagi," ungkap pak Hamid.


"Iya pak tidak papa, justru saya berterima kasih kepada semuanya karena sudah banyak membantu saya." ucapku.


"Kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan perjalanan." pak Hamid menjabat tanganku dan pak Joko.


"Hati-hati dijalan pak Hamid, salam untuk yang lain" ucap pak Joko.


"Iya pak Joko, pasti saya sampaikan." pak Hamid kembali memasuki mobil.


Aku dan pak Joko melanjutkan perjalanan menuju lokasi.


Tak lupa Aku mencari masjid terdekat saat mendengar adzan, karena pak Joko seorang muslim yang wajib menjalankan ibadah shalat.


Akhirnya kami sampai disebuah pondok pesantren Indralaya, pondok Al ittifaqiah.


Kami sampai pada pukul setengah sembilan malam, kurang lebih empat jam dalam perjalanan. Mobil ku parkirkan dipinggir jalan depan halaman pondok lalu berjalan menuju gerbang pondok.


Di gerbang kami disambut oleh santri putra yang penasaran dengan kedatangan kami.


"Permisi, dipondok pesantren ini ada yang namanya Lilis nggak ya? Anak dari istri baru pemilik pondok?" Tanya pak Joko pada salah satu santri.


"Ada pak, ada perlu ya?" Balas santri muda tersebut.


"Iya, bisa antar saya bertemu pemilik pondok ini?" Sambungku.


"Bisa pak, mari." beberapa santri mengantar kami menuju rumah yang cukup besar dihalaman pondok.


"Assalamualaikum." seorang santri mengetuk pintu dengan mengucapkan salam.


"Waalaikumussalam." sebuah suara perempuan dari dalam rumah. Sepertinya Aku kenal dengan suara itu.


"Ceklek.." pintu terbuka, seorang gadis keluar dari balik pintu. Menggunakan rok plisket hijau army dan baju berwarna kuning mustard dengan motif jilbab senada, dilengkapi kacamata. sangat cantik, bahkan lebih cantik dari beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Pak Joko? Pak Shang?" Tampak ekspresi terkejut dari mukanya.


"Lilis, masyaallah." ucap pak Joko.


Lilis tampak tersenyum,


"Mari masuk, ngobrol diruang tamu." tawar Lilis.


Aku dan pak Joko mengikuti Lilis dan duduk di ruang tamu.


"Tunggu sebentar saya panggilkan Ayah dan ibu." ungkap Lilis.


"Iya Lis, kebetulan bapak ingin ngobrol dengan teman lama bapak." jawab pak Joko.


Lilis masuk kedalam,


Tak lama keluar seorang wanita dan laki-laki paruh baya, belum terlalu tua.


"Pak Joko." ucap wanita itu yang Aku tebak adalah ibunya Lilis, ada sedikit kemiripan.


Dan pria tersebut menyalamiku dan pak Joko. Sedang ibunya Lilis menangkupkan kedua tangannya.


"Mari duduk." ucap pria tersebut dengan ramah.


"Nama saya Aji Mubarak, Ayah sambung Lilis." pria tersebut mengenalkan diri, ternyata bernama pak Aji.


"Saya Joko pak, dulu rekan kerja lama Bu Kusuma. Dan ini pak Shang, teman Lilis." ucap pak Joko. Ntah kenapa pak Joko mengatakan bahwa Aku adalah teman dari Lilis.


"Oh, baik-baik. Sepertinya pak Shang dan pak Joko bukan berasal dari sini ya?" Tanya pak Aji.


Lilis menuju ruang tamu membawa nampan, kemudian menyuguhkan teh serta camilan.


"Silahkan dicicipi pak camilannya dan tehnya." tawar ibunya Lilis.


Aku dan pak Joko mengangguk.


"Ikut duduk sini Lis." ucap pak Aji.


"Iya yah, Lilis taruh nampan sebentar." jawab gadis itu.


"Oh jadi begitu, dan pak Shang ini katanya teman Lilis?" Ucap pak Aji kemudian menatapku.


Ku lihat Lilis menunjukkan ekspresi bingung.


"Iya pak, saya temannya Lilis. Kami kenal di Tangerang" jawabku.


"Lilis dulu kan pernah kerja pembantu Yah. Yang pernah Lilis ceritain itu, Keluarga pak Tom. Nah, ini adik kandungnya pak Tom" sambung Lilis.


"Oh, iya-iya Ayah ingat." jawab pak Aji.


Kemudian ada seorang wanita menuju ruang tamu, "Abah, udah siap." ucap wanita tersebut.


"Yuk mari kita makan dulu pak Joko, pak Shang." ucap pak aji, menawarkan kami untuk ikut makan malam.


"Pak kami sudah makan dipesta tadi." ucap pak Joko.


"Udah ayo mari, jangan sungkan-sungkan" balas pak Aji.

__ADS_1


Kami menuju meja makan dan makan bertiga termasuk pak Aji.


"Bagaimana kalau pak Joko dan pak Shang menginap disini saja? Sudah hampir malam, dan jarak dari sini ke Muara Enim lumayan jauh" ungkap pak Aji.


"Terimakasih pak, saya sudah terbiasa berlama-lama mengendarai mobil. Dan waktu kami terbatas karena harus segera pulang ke Tangerang lalu ke kota Medan amplas untuk menyelesaikan proyek." tolakku pada pak Aji, tentu aku kurang nyaman berada dilingkungan yang sangat agamis.


Selesai makan malam kami melanjutkan ngobrol diruang tamu. Sedangkan Lilis dan perempuan tadi membereskan meja makan.


"Pak Aji, sebenarnya saya kesini ingin menyampaikan maksud kedatangan saya." ungkapku dengan berusaha tetap tenang padahal sangat deg-degan.


"Apa ada hubungannya dengan Lilis?" Tanya pak Aji.


"Iya pak, ini mengenai Lilis juga." jawabku.


"Sebentar saya panggil Lilis agar ikut mendengarkan." jawab pak Aji.


Pak Aji masuk ke dalam dan keluar diikuti Lilis dan ibunya.


"Boleh dilanjutkan pak bicaranya." ungkap pak Aji.


"Saya ingin masuk Islam dan menjadi mualaf." ucapku.


Kulihat kekagetan dari semua yang berada dalam ruangan. Termasuk Lilis,


"Apakah pak Shang yakin dan sudah mempertimbangkan ini sebelumnya?" Tanya pak Aji padaku.


"Saya sudah memikirkan hal ini sejak lama pak, dan puncaknya setelah bertemu Lilis dan saya berniat untuk melamar Lilis setelah memeluk agama Islam." jawabku.


"Jadi pak Shang ingin masuk Agama Islam karena cinta dan wanita? Bukan niat karena Allah?" Tanya pak Aji.


"Degggg"


Pertanyaan pak Aji seperti menusuk jantung dan menggoyahkan keberanian yang sedari tadi Aku kumpulkan.


"Saya tidak melarang pak Shang untuk menjadi seorang muslim, tapi ada baiknya pak Shang luruskan niat terlebih dahulu." lanjut pak Aji.


"Baik pak, maafkan saya." ucapku.


Jika perkataan bisa ditarik ulang dan diralat, tentu Aku tak ingin kata-kata tadi keluar dari mulutku. Ternyata Aku memang belum benar-benar niat semata-mata karena Tuhan.


Pak Joko tidak ingin ikut campur, beliau hanya diam menyimak.


Waktu terus berjalan hingga sudah lewat jam sepuluh, Aku minta izin untuk pulang kepada keluarga Lilis. Tentu dengan perasaan yang campur aduk.


"Biar saya saja yang nyetir pak, karena pak Shang pasti sedang tidak konsen untuk menyetir." ucap pak Joko yang langsung ku iyakan.


Tak banyak obrolan antara Aku dan pak Joko dalam mobil, semua hanyut perasaan masing-masing.


"Sabar pak, berjuanglah kalau pak Shang betul-betul ingin meminang Lilis. Saya lihat Lilis menyimpan perasaan pada pak Shang, terlihat dari sorot matanya." ucap pak Joko.


Aku hanya menarik nafas, enggan menjawab.


Dinihari baru sampai hotel dan kami langsung istirahat, Aku hanya memesan satu kamar.


Baru saja memejamkan mata, handphone ku bergetar diiringi lagu dari Imagine dragon yang berjudul bad liar. Tertera di layar, Ge tom.


Terimakasih sudah membaca ☺️

__ADS_1


__ADS_2