
Karena tak sabar menunggu pesan dari Lilis Aku menelefon nomor Lilis berharap sinyal segera muncul.
Dan benar, tak lama tampak panggilan terhubung ke Lilis.
[Halo] ucap suara dari seberang telepon, yang tak lain adalah suara Lilis.
Aku yang kaget spontan langsung mematikan telepon.
Pikiranku semakin tak karuan, bagaimana aku bisa bersikap kekanak-kanakan seperti ini? Seperti remaja yang tengah dilanda asmara.
Tentu saja Aku belum siap bicara tentang isi hatiku pada Lilis, terlebih jika bicara dalam mobil tentu semua akan mendengar.
"Tidak, tidak! Belum saatnya." gumamku.
[Maaf mbak kepencet] segera ku kirim pesan ke Lilis.
[Oh kepencet] balasnya diikuti emotikon tertawa, mungkinkah ia mengejekku?
[Iya mbak, mbak percaya kan?] tanyaku konyol.
[Percaya tidak ya? Kebanyakan kata-kata laki-laki itu sulit dipercaya sih.] jawab Lilis, semakin memojokkanku.
[Loh mbak Lilis ini arah bahasannya kemana ya] jawabku.
[Hehe, tidak kak. Lanjut yang tadi ya kak] balasnya yang tidak segera memberi tahu apa yang sebenarnya ingin dikatakan. Lama-lama membuatku gemas.
[Iya mbak silahkan] balasku dengan emotikon senyum. Padahal disini Aku menggerutu.
[Saya tidak kembali bekerja dirumah Bu Sri lagi pak] balasnya.
__ADS_1
[Loh kenapa mbak? Kan yang mau nikah ibu mbak bukan mbak?] Aku sepertinya tak rela jika harus kehilangan Lilis.
[Justru itu kak, ibu saya menikah dengan pria pemilik pondok pesantren di Palembang. Jadi saya dan adik-adik akan tinggal disana. Adik-adik juga akan pindah sekolah dan saya akan menjadi guru les bahasa Inggris, sekaligus belajar agama lebih banyak]
[Begitu ya. Ya kalau itu yang terbaik buat mbak dan keluarga saya ikut senang.] Balasku saat bingung akan menjawab, dan hanya kalimat itu yang muncul dari kepala.
"Padahal, Aku belum sempat mengungkapkan perasaan apa pun. Dan dipondok tentu dia akan dijodohkan dengan pria pondok juga, begitu cerita yang sering aku dengar. Hilang sudah harapanku." batinku.
*
Tak terasa sudah sepuluh hari berada di Thailand. Hari ini pesawat sudah mendarat di bandara Soekarno Hatta Tangerang.
Dan benar saja, Lilis memosting beberapa foto distatus WhatsApp nya bersama pengantin yang tidak lain adalah ibunya, mereka tersenyum manis. Disebelah tampak sang pria juga bahagia dan terlihat segar meski sudah berumur.
Difoto itu Lilis menggunakan gamis kebaya berwarna seperti coklat keemasan beserta jilbab lebar senada, yang menambah kesan anggun dan cantik. Nuansa Palembang tampak memenuhi ruangan, cukup megah pesta itu.
[Selamat ya mbak untuk ibumu, dan salam untuknya] Aku mengucapkan selamat melalui foto balasan yang diunggah Lilis.
[Kalau pernikahan biasa mungkin Aku bisa datang, tapi ini terlihat sangat agamis mbak saya tidak berani] balasku saat tahu pernikahan mereka digelar di area pondok pesantren.
[Baiklah kalau menurut kak Shang begitu] jawabnya.
Aku memulai semuanya seperti semula, tanpa adanya Lilis. Kami tak lagi berkomunikasi setelah pernikahan ibunya berlangsung.
WhatsApp Lilis pun tidak kelihatan online beberapa hari ini.
"Kemana kau Lis?" Aku melamun sambil pandanganku mengarah keluar jendela kantor, seperti difilm-film.
*
__ADS_1
Sedikit POV author
Shang mulai merasa ada yang hilang dari hidupnya semenjak kepulangan Lilis. Tapi mau bagaimanapun, ia harus tetap menjalani hari-harinya. Ada banyak hal yang harus ia kerjakan, dan ada masa depan yang harus ia pikirkan.
Sementara dipondok pesantren, Lilis sangat sibuk dengan kegiatannya. Selain menjadi guru les privat bahasa Inggris ia juga melanjutkan kuliah saat ayah tirinya mengetahui kecerdasan Lilis dalam setiap bidang. Ayah Lilis meminta Lilis untuk melanjutkan pendidikan. Lilis kuliah di universitas Sriwijaya Palembang.
*
POV Shang
"Shang, kita punya proyek baru di medan. Yaitu membangun hotel di kecamatan Medan amplas. Lusa kita mulai cek lokasi untuk lihat persiapan pembangunan." ucap Ge tom saat masuk ruanganku.
"Iya Ge. Sudah dapat izin pemakaian lahan?" Tanyaku.
"Sudah Shang, sertifikat tanah juga udah ada ditangan. Kita langsung memikirkan bahan bangunan beserta kuli dan alat berat yang dibutuhkan. Kali ini kita butuh paku bumi karena struktur tanah yang tidak terlalu keras." balas Ge tom.
"Hotel kelas biasa atau hotel bintang Ge? Udah dapetin arsitektur nya?" Aku masih ingin tahu lebih banyak mengenai proyek baru di medan.
"Hotel bintang. Kira-kira hotel akan benar-benar selesai poles itu dua tahun, salah satu dari kita yang akan menetap di Medan untuk melihat setiap perkembangan proyek pembangunan. Untuk arsitektur tadi gua sama tim udah meeting dan siapa-siapa yang diberikan tugas menyusun segala bentuk calon hotel." ungkap Ge tom
"Kenapa tidak meminta pihak lain dikantor Ge buat dipercayakan disana?" Aku cukup keberatan jika nanti harus menetap di kota asing. Mengingat Ge tom sudah memiliki anak dan istri tak mungkin ia diperbolehkan Mama untuk tinggal diluar pulau.
"Lu masih muda Shang, dan sebelum nikah lu harus sukses dulu. Jangan sampe anak bini lu nanti susah, karena setelah makan cinta aja gak cukup." ucap Ge Tom. Di keluargaku memang rata-rata mengedepankan kesuksesan, baru memikirkan soal jodoh dan cinta.
"Iya Ge gua paham." balasku.
"Minimal lu harus punya usaha sendiri. Lu kan udah punya restoran, sekarang coba jadi bos. Lu pasti dapat jabatan tinggi mengenai hotel setelah jadi nanti kalau lu mau sabar." Ge Tom terus menasehati.
Aku mulai mengerti bahwa kali ini aku belum siap memikirkan pernikahan ataupun urusan cinta. Aku masih dua puluh empat tahun, sedangkan kakak-kakak lelakiku menikah diumur Dua puluh tujuh kecuali Alina, kakak perempuanku yang menikah diusia dua puluh lima tahun.
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca cerbung ini ☺️