Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
Siapa yang akan menikah?


__ADS_3

Aku membuka akun Instagram. dan mengunggah beberapa foto hasil jepretan beberapa waktu lalu, dengan outfit yang sama namun dengan background yang berbeda.


Tak butuh waktu lama Like pun mulai banyak dan sudah ada beberapa komentar.


[Wuih asyik yang liburan.]


[Ga ngajak-ngajak].


[Koko ganteng kuh]


[Tempatnya bagus, itu dimana?] padahal sudah ku tulis nama tempat dan negara di caption.


Handphone ku berdering, terlihat panggilan masuk dari WhatsApp.


Tertera nama dilayar, Chenchen.


"Kenapa dia menelepon? bukannya semenjak putus dia menghilang?" batinku.


"Halo" Ku angkat telepon darinya.


"Iya halo Shang, kamu dibangkok kan?"


"Iya dari mana kamu tahu?" Aku balik bertanya.


"Lihat postingan mu di Instagram." jawabnya.


"Oh, ada perlu apa?" tanyaku.


"Aku juga liburan ke Bangkok, ini baru sampai hotel Royal ivory nana." jawabnya.


"Berarti Aku satu hotel dengan Chenchen, gawat" batinku.


"Aku juga nginap dihotel royal ivory nana." jawabku jujur.

__ADS_1


"Oh bisa liburan bareng dong, Aku sendiri kesini." jawabnya.


"Gak mungkin kamu sendiri kesini, emangnya Aku belum tahu sifatmu yang selalu bergantung pada orang lain." jawabku tanpa tedeng aling- aling.


"Iya-iya.. Aku kesini bareng asisten ku." jawabnya dengan nada kesal.


"Ya sudah Aku mau lanjut menikmati liburan, aku matikan ya." Malas mengobrol tanpa arah begini.


"Tunggu Aku belum selesai ngomong" Cegah Chenchen.


Terlanjur sudah ku tekan tombol merah mematikan telepon.


Ternyata Lilis sudah online dan membuka pesanku.


[Iya keren ya kak pemandangannya] balasnya.


[Iya mbak. apa kesibukan mbak Lilis dirumah?]


[Banyak. dari mulai makan, Shalat, istirahat, lalu bangun dan kembali melakukan hal yang sama] jawabnya.


[Alhamdulillah semua sehat. sekalian Aku mau ngasih kabar ke kak Shang, Minggu depan ada acara dirumah. acara pernikahan] balas Lilis.


Ku baca pesan dari Lilis berulang kali.


"Acara pernikahan? Lilis mau nikah? secepat itukah?" gumamku, gelisah.


"Loh siapa yang mau nikah? masa mbak Lilis?" ku balas pesannya.


Namun pesan tidak kunjung terkirim. saat diperiksa ternyata jaringan sinyal tiba-tiba hilang. mungkin karena mobil yang ditumpangi oleh kami sedang melewati hutan.


Mataku terus memperhatikan layar hape berharap sinyal segera muncul kembali.


Ci sri rupanya menyadari kegelisahan ku.

__ADS_1


"Kenapa Shang? Lu gak mabuk perjalanan kan?" tanyanya saat melihat wajahku yang mulai berkeringat padahal mobil ini berAC.


"Jangan-jangan kebelet itu si Shang." Celetuk Ge Tom.


Sedangkan Jeff tidur nyenyak di pangkuan ci sri.


Mama yang duduk di samping sopir pun menoleh ke arahku.


"Lilis minggu depan nikah" jawabku jujur.


"Serius? kemarin waktu pulang gak bilang apa-apa. Berarti dia gak balik lagi dong?" ucap ci sri tak percaya.


"Nikah ya biarin, Dia kan orang Islam." ucap Mama. Aku belum mengerti arah pembicaraannya.


"Ngomong gimana Lilis?" sambung Ge Tom.


"Ya dia bilang kalo dirumahnya ada acara pernikahan Minggu depan." jawabku.


"Ya udahlah, niat kita kesini kan mau senang-senang bukan mau mikirin Lilis" sambung ci sri.


Lalu suasana di mobil kembali hening.


"Drrrrttt. Drrrrttt" hape ku bergetar dari dalam saku celana.


Tampak sinyal sudah ada meski belum banyak.


[Ibuku yang nikah Kak. Alhamdulillah setelah menutup pintu hati selama lima tahun ibu kembali membuka hatinya. Tentu sebagai anak Aku senang. Ibu kembali memiliki suami, Aku dan adik-adik ku kembali memiliki Ayah] curhat Lilis dalam pesan yang ia kirim.


[Bagus itu mbak, semoga keluarga mbak selalu bahagia] balasku lega.


[Iya Kak, dan ada satu hal lagi Kak yang mau Aku omongin. jangan kaget ya] kembali pesan dari Lilis.


Belum selesai Aku bertanya Lilis akan bicara apa, sinyal jaringan kembali hilang.

__ADS_1


Rasanya pikiranku tak tenang, apa yang akan Lilis katakan sebenarnya?


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa follow akun author ☺️


__ADS_2