
"Ide bagus, baik Bu kalau begitu kami setuju bergabung." Pak Raka sepertinya berubah pikiran.
"Baik terima kasih, Bu Dian dan pak Raka." Jawabku semangat.
"Keluarga yang harmonis. Suami dan istri sama-sama ahli dibidang bisnis." ungkap Bu Dian, sembari menoel pipi Jeff yang mulai Banyak gerak. Aku Tahu dia suntuk dan tak sabar menunggu meeting selesai.
Setelah mereka pergi Aku dan Lilis baru saling tatap, dan hanyut dengan perasaan masing-masing.
Ada rasa senang orang lain mengira aku dan Lilis adalah pasangan, tapi itu tidak mungkin. ada dinding yang tinggi antara aku dan Dia. yaitu perbedaan keyakinan.
"Nggak nyangka mbak sama kamu, jenius banget bisa ngomong begitu. bisa berpikir cepat dikondisi sangat kritis." ucapku saat kami dalam mobil .
"Makasih pujiannya kak, ide itu tiba-tiba muncul." jawabnya kemudian tersenyum.
"Om, jadikan beli buahnya?" tanya Jeff.
"Iya jadi, sama beli mie Aceh kan?"
"Buah aja Om, Jeff udah gak pengen mie Aceh." jawab Jeff .
"Oke Jeff" jawabku .
"Nanti hasil dari bonus perusahaan kita bagi dua mbak, gimanapun juga proyek ini berhasil karena mbak juga" ucapku .
"Ga usah kak, Aku cuma ngomong beberapa kata doang. yang banyak usaha kan kak Shang." jawab Lilis menolak tawaranku .
"Ya nggak bisa gitu mbak, harus terima ya. jangan nolak rezeki." ucapku sedikit memaksa.
Setelah mengantar mereka pulang Aku kembali ke kantor menemui Ge tom, mengabarkan bahwa meeting tadi siang berbuah manis.
Aku mengetuk pintu ruangan kakakku. Meski ini Kantor kakakku, Aku harus tetap bersikap sopan apalagi dikantor.
"Masuk Shang." balasnya .
__ADS_1
"Duduk-duduk. gimana tadi?" tanyanya penasaran .
"Berhasil Ge, akhirnya PT Astra menerima kerja sama yang kita tawarkan." jawabku, yang diikuti wajah lega kakakku .
"Puji Tuhan Yesus.." ia langsung bersyukur .
"Tapi ini bisa berhasil karena berkat bantuan Lilis Ge.." jawabku
"Maksud lu? Mbak Lilis pembantu baru kita?"
"Iya Ge," jawabku.
"Emang sih gua juga kadang heran sama Lilis, kalo lagi ngobrol bareng Jeff diplay ground juga Lilis selalu pake bahasa Inggris dari mulai kata-kata pendek sampe lumayan panjang. sedangkan gua ngomong bahasa Inggris masih belepotan banyak yang terbalik kata-katanya. terus si Jeff nanggepin nya seneng banget, kebetulan dia kan emang ikut les privat bahasa Inggris." ungkap Ge tom.
"Iya Ge, semoga betah kerja dirumah Ge tom. bilangin mama jangan terlalu cerewet, kalo Ci Sri mah gak banyak omong kayak Mama, apalagi kalau mama sudah merepet. Bisa panas ini kuping, inget yang udah udah." Jawabku sembari cengengesan.
"Ya namanya orang tua pasti rada ngomel Shang, tapi Mama kita kan sebenarnya baik. gua liat gak pelit juga ke Lilis." sambung Ge tom .
"Bulan depan jadi kan kita liburan ke Thailand? jadi Acara Imlek kita sekalian disana?" tanyaku pada Ge tom.
"Jeff ikut gak Ge?" tanyaku pada Ge tom, sebenarnya tujuanku adalah Lilis. karena jika Jeff ikut pasti Lilis juga akan ikut.
"Ikutlah, mana mungkin anak semata wayang dan paling ganteng gua ditinggal."
"Yaudah Ge gua pulang duluan sekalian mandiin mobil ke carwash" Aku berpamitan pada Ge tom.
"Iya hati-hati." jawabnya.
Hari terus berlalu. kedekatan antara Shang dan Lilis semakin terlihat dan diketahui oleh keluarga ge tom, sang kakak sekaligus majikan Lilis.
Tak ada komentar negatif atau larangan yang muncul untuk hubungan keduanya.
Tentu Shang sudah mulai jatuh cinta pada Lilis, sementara Lilis.. entahlah, hatinya sulit ditebak.
__ADS_1
*
"Jadi Lilis gak ikut ke Thailand Ge?" tanyaku pada Ge tom setelah ia bercerita.
"Nggak ini kan acara non muslim, tentu dia gak mau ikut. lagian dia takut dengan kabar virus Corona itu." jawabnya.
"Terus dia ditinggal dirumah sendiri?" tanyaku penasaran. sebenarnya agak kecewa mendengar kabar Bajwa Lilis tidal ikut.
"Sehari sebelum kita berangkat dia pulang ke Palembang, kangen ibunya katanya. lagian ngapain disini sendirian, pasti dia takut." ungkap Ge tom.
"Oh, yah gak semangat dong gua liburan haha." Jawabku spontan. Ku lihat ekspresi Ge tom yang kaget. Kali berubah biasa kembali.
"Dasar lu, Chenchen lu kemanain?" tanya Ge tom. Sepertinya is hanya menganggap kata-kataku barusan sebagai candaan, untunglah.
"Ga bisa gua Ge sama Chenchen, bisa-bisa mati muda nurutin kemauannya." Aku memang belum cerita perihal Aku sudah putus dengannya, lagian itu bukan hal yang pending until diceritakan.
"Hahahaha, iya bener Shang kelihatan dari cover nya. Lu sih, gak cari tau bibit bobotnya Dulu. Liat yang cantik dikit, langsung sikat." Ge tom justru memojokkanku.
"Terus kalo gua sama Lilis gimana Ge?" Lagi-lagi mulutku mengucapkan kalimat spontan.
Tampak Ge tom menatapku tajam, seperti memikirkan sesuatu.
"Emang lumau sama Lilis? selain dia cuma pembantu dia juga orang Islam Shang. kata yang gua pernah denger, kalo orang muslim dan non muslim itu tetap maksa nikah, selama pernikahan itu sama saja dengan zina." ucap Ge tom.
"Kalo Lilis kita bawa masuk Kristen gimana Ge?" tanyaku ngawur.
"Gak mungkin dia mau! secara ilmu agamanya itu tinggi, terlihat dari penampilan, sikap, sama dia kalo udah dengar azan langsung ke kamar. gak lama kemudian dia baca kitabnya, Al Qur'an. Omongan lu makin ngawur Shang, gak ngerti gua sama arah pembicaraan lu" lanjut Ge tom.
"Kalo gitu gua yang masuk Islam Ge, ini bukan cuma karena Lilis, gua emang udah lama mencari tahu tentang Islam. karena kemarin jaman kuliah teman gua mayoritas muslim jadi mau ga mau kan gua tetap ikut andil, nah gua pernah ngalamin kejadian yang bikin gua sangat kagum dengan Agama Islam, yaitu dengar teman gua mengaji. deg-degan terus pengen nangis." ucapku jujur pada kakakku yang paling dekat dengan ku, meski sedikit takut dengan responnya.
"Lebih baik lu pikirin matang- matang dulu Shang, gua tahu kalo masalah cinta itu harus rela berkorban. kayak waktu gua dapetin Ci sri dulu, secara dia orang medan dan gua keturunan cina. banyak Lika liku." jawab Ge tom.
"Asal jangan sampe lu salah jalan, apalagi ngecewain keluarga. Terutama Mama." Imbuhnya.
__ADS_1
Ucapan Ge tom Ada benarnya juga, tak semudah itu menyelesaikan suatu problem jika sudah menyangkut dengan keyakinan.
Terimakasih sudah membaca ☺️