Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
Menghadiri undangan pernikahan


__ADS_3

"Iya namanya Lilis. Kurang tahu nama lengkapnya wong nama panjang teman sesama jabatan aja saya kadang nggak tahu." Terang pak Joko.


" Pokoknya Lilis orangnya baik, tegas, sedikit pendiam dan tentunya cantik pak. Pakaiannya selalu rapi meski tidak terlalu glamor." pak Joko menceritakan ciri-ciri Lilis yang pernah bekerja di perusahaan yang sama dengannya.


"Ternyata yang bernama Lilis rata-rata orangnya baik, cantik. Nanti kalau anakku perempuan akan ku beri nama yang ada Lilisnya haha." batinku.


Kemudian pak Joko melihat ke arahku saat aku menoleh ke arahnya yang ku balas dengan cengiran.


sepertinya beliau menyadari ekspresi wajahku yang aneh.


"Pak Shang kenapa senyum-senyum? Hayo lagi mikir apa?" Tanya pak Joko yang membuatku sontak menoleh.


"Nggak pak, saya kangen pacar saya." ucapku bohong.


"Ya buruan nikahin dong pak, nanti keburu ditikung sama yang gerak cepat lho." ledek pak Joko dengan tertawa.


Hari yang ditunggu pun tiba, yaitu masa cuti. Aku akan kembali ke Tangerang.


Tak ingin sendirian mengendarai mobil ke Tangerang ku putuskan untuk mengajak pak Joko yang kini menjadi tangan kanan ku di proyek.


Beliau tidak keberatan dengan permintaanku, "Lumayan dapat liburan gratus." ucapnya saat kutawari.


"Ibu saya tinggal cuti dulu ya, ibu boleh sementara pulang kalau kesepian sendirian disini, atau boleh ajak anak ibu untuk menginap disini." ucapku pada Bu Imah saat malam sebelum berangkat.


"Iya pak, saya disini saja. Anak saya satu-satunya sedang kuliah di Jogja." jawab Bu Imah, beberapa waktu yang lalu beliau memang sempat mengatakan bahwa suaminya telah meninggal sejak putrinya masih SMP. Dan untuk membiayai kebutuhan hidup dan sekolah sang anak, Bu Imah biasa menjual sayuran mentah keliling menggunakan sepeda motor peninggalan suaminya. Lalu di sore hari beliau menjadi guru mengaji untuk anak-anak didesa Bu Imah.


Bu Imah memang seseorang yang pekerja keras dan tidak banyak mengeluh, tidak pernah ku dengar keluhan Bu Imah selama bekerja dirumah kontrakan ku.


Bu Imah juga sempat bercerita bahwa putrinya adalah Hafidzah, yang artinya sudah menghafal Al-Qur'an diluar kepala.


Putri Bu Imah menyelesaikan hafalannya ketika menduduki kelas dua SMA atau jika dipondok disebut madrasah Aliyah. Bahkan putri Bu Imah memakai cadar untuk menutup aurat, cerita Bu Imah.


Setelah menjemput pak Joko dikosan para pekerja, Aku dan pak Joko memulai perjalanan dengan mobilku.


Ditengah perjalanan Aku bertukar posisi dengan pak Joko untuk mengambil alih menyetir mobil.


Tentu di perjalanan kami habiskan untuk ngobrol ngalor ngidul.


Ketika tiba di provinsi Lampung, mobilku mengalami pecah ban. Tepatnya dijalan tol sekitaran terbanggi besar.


Aku sama sekali tidak mengenal seseorang pun di Lampung, namun berbeda dengan pak Joko yang tampak menelefon beberapa rekannya yang tinggal di Lampung.


Setelah menunggu akhirnya salah satu teman pak Joko datang membawa ban serep. Ku kira teman pak Joko berusia sama dengan beliau, namun ternyata pria yang datang adalah pria muda yang ku perkiraan berumur dua puluhan tahun.


Segera pria itu mengganti ban mobilku dengan ban yang beliau bawa. Dengan cekatan ia melepas ban lalu memasang kembali ban baru.


"Beres pak." ungkap laki-laki itu yang ternyata bernama Asna ibnu atau biasa dipanggil Ibnu oleh pak Joko.


Aku menyerahkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada pria muda tersebut. Kemudian ia berpamitan untuk pulang.


"Ternyata teman bisnis pak Joko banyak juga ya." Aku kembali membuka obrolan didalam mobil.


"Iya pak, kebetulan dia pernah menjadi bawahan saya. Tepatnya Ibnu itu salah satu karyawan tetap di PT Pratama Nusantara sakti, sampai sekarang masih bekerja disana. Dan sekarang masih cuti selama dua belas hari, rumahnya berada di Lampung tengah." Jawab pak Joko dengan tetap membawa mobil sedikit kencang dijalan tol.

__ADS_1


"Sepertinya perusahaan tersebut memang cukup besar ya pak? Berapa kira-kira jumlah karyawan di proyek nya pak?" Tanyaku penasaran.


"Disana saya menempati bagian Factory, jumlah pekerjanya sekitar lima ratusan, itu sudah termasuk manager, superintendent, supervisor, dan operator atau karyawan. Belum ditambah jumlah kontraktor dari PT weltes dan PT Nusa raya cipta dan kontraktor liar negeri." Ungkap pak Joko dengan antusias.


"Wah, hebat ya.! Kira-kira kapan proyek tersebut selesai dan mulai memproduksi gulanya?" Ku lanjutkan pertanyaan yang muncul dalam pikiran.


"Maret kabarnya mulai giling pak, tapi saya tidak bisa melihat secara langsung karena sudah resign." jawab pak Joko.


Mobil sudah memasuki pelabuhan Bakauheni Lampung, Aku dan pak Joko masuk ke dermaga satu.


Didalam kapal Aku dan pak Joko menaiki tangga kapal sampai tiba diatas kapal. Kebetulan hari belum gelap jadi Aku meminta pak Joko untuk menjadi fotografer dadakan, yang memfotoku dengan beberapa gaya.


"Gantian saya ya pak Shang tolong fotoin, nanti pengen saya upload di Facebook." ucap pak Joko yang ku tanggapi dengan senang hati.


Selesai berfoto pak Joko mengajakku ke tempat karaoke dalam kapal. Disana suasana lumayan ramai, ada puluhan penumpang dan beberapa biduan lengkap dengan band musiknya.


Cukup terhibur dengan nyanyian anak-anak kuliah yang sedang menyewa band, mereka masih lengkap memakai almamater kampus.


Seorang anak kuliah tersebut naik ke panggung sederhana dan menyanyikan lagu yang liriknya berbunyi


"Jak palas tigoh di teladas


Jak Ranau tigoh mit bengkunat


gunung rimba tiuh pumatang


pulau-pulau di laok lepas..


Panjak wahwah di Nusantara


Tani tukun Sangun jak jebi


Tanoh Lampung ku tanoh Lado." Sangat merdu suaranya dan terlihat sangat menghayati, Mungkin memang asli bersuku Lampung. Dan di samping laki-laki itu ada seorang wanita yang Aku tebak adalah sang pacar, terlihat sangat romantis. Pikiranku jadi melayang memikirkan hal yang tidak-tidak.


Para penumpang yang ada didalam tempat karaoke pun semuanya menoleh ke panggung, melihat pertunjukan mereka. Setelah lagu selesai mereka bertepuk tangan diikuti penonton yang lain, seakan terbawa suasana.


"Indahnya masa remaja." Batinku.


Aku juga sangat menikmati alunan lagu itu, tak terkecuali juga pak Joko. Beliau tengah sibuk merekam.


Satu jam lebih perjalanan air kapal sampai didermaga pelabuhan Merak, Banten.


Kali ini Aku yang memegang kendali menyetir mobil karena pak Joko tidak terlalu paham arah jalan. Pak Joko tertidur pulas, nampak nya beliau kelelahan setelah melewati perjalanan hampir dua hari.


Setelah sampai dirumah Aku membangunkan pak Joko dan menyuruhnya untuk melanjutkan Istirahat dikamar tamu.


Sedangkan tujuan utamaku adalah belakang rumah melihat tanaman ubi jalar yang Aku tanam seminggu sebelum berangkat ke Medan. Tak cukup sulit menanam ubi jalar, cukup siapkan lahan yang telah dicangkul berbentuk gundukan, beri pupuk kompos dan siap tunggu panen.


Aku sangat hobi menanam sayuran, tapi saat tahu akan lama tidak kembali ke rumah Aku hanya menanam ubi jalar. Jika dihitung hingga sekarang, berarti tanaman ubi jalar ku sudah berumur delapan bulan lebih. Sedangkan biasanya Aku memanen ubi jalar saat berumur empat bulan, tentu buah yang dihasilkan akan lebih besar.


Tanaman ubi jalar hasil panen biasanya ku bawa ke usaha restoran milikku untuk dijadikan es krim. Sangat diminati oleh para pengunjung karena rasanya yang lembut dan manis tentu sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Jika tanaman ubi jalar yang Aku tanam belum panen biasanya karyawan restoran ku akan membelinya di pasar-pasar tradisional.


"Halo Rudi." Aku menelefon salah satu karyawan restoran,

__ADS_1


"Halo pak, gimana pak?" Jawab suara dari seberang telepon.


"Besok ke rumah seperti biasa, bantu saya memanen ubi jalar. Nanti akan ada uang tambahan juga seperti biasanya" jawabku.


"Iya pak, besok jam delapan pagi saya kesana" jawab Rudi.


"Oke." Ku matikan telepon.


Saat Aku membalikkan badan sudah ada pak Joko yang menungguku, "pak toilet dimana ya?" Tanya beliau seperti menahan sesuatu.


"Oh itu pak ada didekat dapur, samping tangga. Dari sini metu kono belok kiri lurus wae." jawabku dengan tangan memberi arahan. Pak Joko tampak memerhatikan gerakan tanganku.


"Ealah kok malah nyanyi pak-pak, lagu ambyar lagi." ucap pak Joko dengan tertawa kemudian menuju arah yang aku maksud.


Aku hanya cengar-cengir, paham lagu itu juga dari para pekerja yang menghidupkan musik saat bekerja, mungkin agar tidak suntuk dan sepi.


Hasil panen ubi jalar kali ini cukup memuaskan dengan buah yang cukup besar, ubi jalar diangkut dengan mobil pickup langsung menuju restoran.


"Mari pak kita ke rumah kakak saya" ajakku pada pak Joko setelah beliau selesai mengerjakan Shalat Ashar.


"Ayo pak, saya juga sudah tidak sabar ingin bertemu kembali dengan si bos." jawab pak Joko dengan senang.


Tak membutuhkan waktu lama kami sudah sampai dirumah Ge tom.


"Tin. tin. tin." Ku bunyikan klakson mobil dari luar gerbang, tak lama nampak seorang wanita paruh baya berjalan tergesa-gesa menuju gerbang dan membukanya.


"Jadi ini pembantu baru Ge tom." batinku.


Setelah masuk kerumah Ge Tom, Kami habiskan waktu untuk berbincang-bincang mengenai proyek dan banyak hal. Mama pun ikut nimbrung, tentu pak Joko menjadi ketua dalam setiap obrolan, karena pengetahuannya dalam bidang bangunan sangatlah luas.


"Shang, perusahaan kita dapat undangan pernikahan nih dari salah satu teman gua dari PT Waskita, rumahnya di Palembang. Gua gak bisa berangkat karena kalo kesana kan pasti lebih dari satu hari, kantor gak bisa ditinggal." ucap Ge tom seraya menunjukkan undangan yang berada di meja.


"Pasti mewah tuh Ge tom pestanya, jabatannya tinggi kan?" Tanyaku.


"Yoi, dia nempatin jabatan manager, lu mau berangkat gak? Lumayan kan sekalian liburan ke Ampera, kan Instagramable, sesuai dengan hobi lu yang suka selfie." Ge tom menawarkan agar aku yang mewakili perusahaan.


"Kapan itu Ge? Gua sih oke-oke aja, kan ada pak Joko yang nemenin di perjalanan jadi gak boring." jawabku.


"Lusa, jadi ya kalo mau lu berangkat besok kalo sekaligus liburan. Kan mesti mesan hotel." ucap Ge tom.


"Gimana pak Joko? Mau nggak capek-capekan dijalan lagi?" Tanyaku kepada pak Joko, merasa tak enak. Takut ia keberatan.


"Ya nggak papa pak, di Palembang teman saya juga lebih banyak." Jawab beliau tetap dengan ekspresi senang.


"Yaudah Ge lusa gua berangkat." Aku menoleh kearah Ge tom,


"Ya semoga aja gak sengaja ketemu si Ono" ejek Ge tom, tentu yang ia maksud adalah Lilis.


Pak Joko yang tidak paham hanya tersenyum.


Kemudian azan Magrib berkumandang, pak Joko meminta izin untuk menunaikan kewajiban sholat magrib di masjid didekat rumah Ge tom.


Terimakasih sudah membaca ☺️

__ADS_1


__ADS_2